
Saat itu masih pukul 05:30, dan kebanyakan orang baru saja bangun atau ada yang masih terlelap. Namun derap sepatu Sonia mengisi kesunyian pagi ketika ia berlari menuju sekolah. Sepulangnya dari belanja kemarin, ia menerima pesan dari Risma yang berisi ajakan latihan pagi bersama. Tentu saja Sonia menerimanya dengan senang hati dan tidur lebih cepat dari biasanya agar tidak kesiangan.
Kabut tipis masih menyelimuti area sekolah. Sonia menghirup udara sejuk lalu dihembuskannya perlahan. Kemudian ia berjalan menuju ruang ganti sebelum menuju lapangan. Belum ada satupun yang tiba di sana ketika Sonia datang, tetapi suara gadis terdengar memanggil namanya dari belakang.
“Yo, rajin juga kamu udah nyampe,” tegur Risma untuk menyapa. Risma sudah mengenakan pakaian bebas. Sonia lega karena setidaknya orang yang mengajaknya datang awal juga. Sonia balik menyapa Risma.
“Ya kapten, selamat pagi.”
“Udah lama kamu di sini?”
“Nggak kok, baru aja.”
“Hm gitu ya. Pemanasan dulu yuk,” ajak Risma.
“Nggak nunggu yang lain kapten?” tanya Sonia yang dibalas oleh gelengan dari Risma.
“Nanti keburu siang kalau nunggu yang lain. Ntar mereka tinggal ikut aja,” terangnya dengan santai. Sonia merasa tidak enak jika meninggalkan yang lainnya, tapi memang kendala dari latihan pagi adalah batas waktu jadi ia menurut saja. Sonia mengambil posisi di samping Risma.
“Satu... Dua...”
“Kapten, mau peregangan bersama nggak?” Sonia berpikir ia bisa mengenal Risma lebih dekat jika berlatih bersama seperti ini. Beruntung, Risma mengacungkan jempolnya.
“Sebentar ya.”
Sesudahnya keduanya melakukan peregangan bersama. Risma kagum akan kelenturan Sonia, yang tidak kesakitan sama sekali saat menekuk tubuhnya.
“Berapa lama kamu main sepakbola Son?” tanya Risma penasaran sambil menarik kedua tangan Sonia.
“Hmm, 3 tahun mungkin ya. Saat kelas 4 SD, saya mulai mencoba main sepakbola dengan anak-anak sekitar perumahan. Baru kelas 5 saya masuk klub sepakbola.”
“Hoo, kamu dulunya main di klub. Pantesan fisikmu kebentuk.”
“Maksud kapten?”
“Staminamu lebih tinggi daripada aku, kamu juga lincah saat latih tanding kemarin, dan sepertinya pemanasan semacam ini masih biasa-biasa saja buatmu.”
Keduanya mengubah posisi jadi tukar menukar menggendong dengan punggung mereka saling berhadapan. Sonia yang mengangkat Risma lebih dulu.
“Yah, di klub dulu kami dilatih oleh pelatih dan pemain profesional, jadi porsi latihannya lebih banyak dibanding tim biasa. Cuma nggak beda-beda jauh kok sama yang kita lakuin sekarang.” Risma manggut-manggut. Lalu, pikirannya tergelitik untuk menanyakan soal alasannya bergabung.
“Loh? Dulu aku sudah pernah bilang ‘kan, kapten?” Risma mendengus, lalu menggeleng.
“Ayolah. Pasti ada yang lainnya. Kamu dulu main di klub didikan profesional dan sekarang malah masuk ke tim sepakbola sekolah biasa. Apa terjadi sesuatu?”
Sonia terdiam sesudah mendengar pertanyaan Risma. Ekspresinya meredup. Risma menegak ludah. Apakah aku baru saja menginjak ranjau? pikirnya dalam hati.
“Ya.”
Jawaban lirih Sonia mengingatkan Risma pada dirinya sendiri untuk tidak menanyakan lagi soal itu lain kali dan juga memberitahu yang lain. Sesudah itu keduanya lari 3 putaran dengan harapan menunggu yang lain datang. Seusai pemanasan, jam di pinggir lapangan sudah menunjukkan pukul 06:00 dan sayangnya belum ada yang hadir lagi selain mereka berdua.
“Yang lain kok lama ya...” kata Sonia gelisah sambil mencari-cari keberadaan teman setimnya yang belum datang. Namun, Risma bersikap biasa saja.
“Mereka paling kesiangan. Nanti sore kita tetep latihan bareng kok. Aku biasa latihan pagi sendiri.” Risma mengencangkan sarung tangannya lalu mengambil keranjang berisi bola. Ditendangnya satu bola yang ditahan oleh kaki Sonia.
“Serius?” Sonia terkejut mendengarnya setelah Risma mengangguk. Sonia meletakkan jempol dan telunjuknya di dagu, berpikir akan situasi sekarang. Tidak ada anggota tim yang ikut latihan pagi kecuali kapten. Belum lagi, lapangan berbagi dengan tim putra. Oh ya, pelatih kita mana? Apa tidak apa-apa?
“Son? Kenapa ngelamun? Ayo latihan sama aku. Kamu tendang bolanya ke posisi manapun, terus aku coba tangkap.” Panggilan Risma membuyarkan lamunan Sonia. “Oke kapten.”
Sonia menerima bola, kemudian mengambil ancang-ancang. Sonia menembakkan tendangan bebas atau pinalti, lalu Risma yang menangkap atau menghentikannya. Berbeda dengan saat ujian masuk tempo hari, Risma kali ini benar-benar siap dan serius. Tak ada bola yang bersarang di gawang. Sonia mengagumi ketangguhan kaptennya ini, tetapi tidak bisa bilang hal yang sama mengenai rekan-rekannya. Dari kejauhan, suara ramai siswa yang mulai datang menghentikan aktivitas keduanya. Mereka segera merapikan peralatan dan berganti baju sebelum masuk ke kelas.
---
Sekolah berjalan seperti biasa, hanya saja kali ini Utami ikut bergabung dengan Sonia dan Jasmin untuk makan siang. Mereka menemukan kucing yang ikut makan siang bersama Olivia kemarin, akan tetapi batang hidung gadis berambut merah itu tidak terlihat. Sepulang sekolah, Sonia kembali datang untuk berlatih. Kontras dengan tadi pagi, kali ini semua sudah hadir di lapangan kecuali Risma. Sonia melihat beberapa anggota masih mengeluarkan keranjang bola. Ia lalu memutuskan menyapa mereka semua.
“Sore kak,” sapanya dengan ramah pada dua kakak kelas yang tengah menyiapkan cone. Keduanya menoleh padanya dan melemparkan senyum sekaligus membalas salamnya. Hal itu ia lanjutkan sampai ia selesai menyapa semuanya. Tidak lama setelah ia selesai, Risma datang tergopoh-gopoh. Melihatnya, beberapa cekikikan sedangkan Risma sendiri hanya menggaruk-garuk kepalanya dan pergi ke ruang ganti. Setelah Risma bersiap-siap, ia meminta semuanya berkumpul dulu.
“Teman-teman, hari ini aku mau berterima kasih atas kehadiran kalian semua. Kalian sukses bikin aku malu karena kerajinan kalian. Hari ini kita akan latihan dribbling dan passing. Untuk passing karena jumlah pemain lapangan ada 13, ada yang latihannya bertiga. Untuk pasangannya siapa saja akan kusebutkan...” Risma menyebutkan satu persatu anggota tim yang berpasangan. Juga karena bola terbatas, beberapa dipisah untuk dribbling dan yang satunya untuk passing, setelah itu nanti mereka bertukar.
Sonia dipasangkan dengan Gita dan Ayu. Gita bermain di posisi gelandang tengah yang terkadang mundur jadi gelandang bertahan, dan Ayu merupakan pasangannya sebagai gelandang tengah. Bedanya Ayu tidak menjadi gelandang bertahan maupun penyerang. Mereka berdua adalah dua orang yang menyiapkan cone tadi.
“Kak Gita, kak Ayu mohon bantuannya ya,” kata Sonia sambil mengepalkan tinju. Gita mengangguk, begitu juga Ayu.
“Tolong ya Sonia,” ucap Gita sambil mengedipkan mata.
“Mohon kerjasamanya.” Ayu mengangguk.
Sonia kemarin langsung ikut di latih tanding saja, jadi tidak sempat mencoba latihan kecil seperti ini. Ketiganya mengambil sebuah tempat di tengah lapangan dan membentuk segitiga. Ketiganya saling mengoper secara berputar, mulai dari Sonia. Sonia mengamati kedua kakak kelasnya selama mereka berlatih.
Gita mampu mengoper bola dengan cepat setelah menerima bola, tapi akurasi operannya masih kurang. Ayu justru sebaliknya. Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk memberitahu ini pada mereka nanti. Kemudian mereka beralih ke latihan menggiring.
Sonia mampu melewati cone sambil menjaga bola tetap di dekat kakinya tanpa kesulitan. Gita bisa menjaga bola, tapi tidak cukup cepat. Ayu dapat menggiring bola sambil berlari cepat. Hanya saja saat ia perlu mengubah arah, keseimbangannya kacau. Napas mereka tersengal-sengan di tiap percobaan. Sonia berusaha menyemangati keduanya.
“Tidak apa-apa kak. Ayo coba lagi!” Niatnya menyemangati tersampaikan pada Gita dan Ayu. Kekecewaan di wajah mereka hilang sedikit dan keduanya mencoba lagi. Sonia juga mengikuti keduanya. Dari jauh Risma memperhatikan. Sesekali ia menghela napas, lalu menatap langit sore.
“Oke semua cukup!” seru Risma untuk menghentikan latihan. Semuanya menghela napas lega.
Semua berkumpul kembali di bangku cadangan sambil beristirahat. Sonia tengah mengusap keringat di wajahnya dengan ujung bajunya sebelum dihentikan oleh Ayu.
“Jorok loh begitu Sonia. Ini handuk bersih,” tegur Ayu sambil memberikan handuk.
“Ini air putih.” Gita menghampiri mereka berdua dengan 3 botol air minum. Ketiganya minum bersama sambil meluruskan kaki mereka.
“Ah! Serasa hidup kembali,” ujar Gita setelah meneguk setengah isi botolnya.
“Emangnya kamu zombie apa Git, fufufu,” sahut Ayu sambil tertawa kecil. Keduanya lalu asyik bercakap-cakap dan berbalas candaan. Sonia lalu bertanya, “Kak Gita sama Kak Ayu teman dekat ya?” keduanya berhenti berbicara, saling bertatapan, lalu mengangkat bahu masing-masing.
“Mungkin begitu? Aku masuk tim bersamaan dengan Ayu. Dulu kami pemain cadangan karena kakak kelas sudah ada yang menempati posisi kami sekarang,” jawab Gita.
“Hmm, kalau boleh tahu kenapa kakak berdua masuk tim sepakbola?” tanya Sonia penasaran. Gita meneguk sisa air minumnya sebelum menjawab.
“Sebenarnya, aku masuk ke tim ini karena mereka butuh anggota tambahan dan kebetulan klub teater saat itu tidak banyak kegiatan, jadi untuk menjaga kebugaran aku masuk tim sepakbola,” terang Gita.
“Aku juga masuk ke tim ini karena alasan yang sama, tapi aku dari klub atletik. Aku lebih sering jadi pemain cadangan hingga tahun kemarin, makanya sekarang aku mau lebih aktif di sini kalau bisa,” timpal Ayu.
“Lalu, tadi pagi kenapa kalian tidak ikut latihan?” Gita dan Ayu menundukkan kepala, menyembunyikan wajah mereka yang memerah. Pada akhirnya, Ayu angkat bicara juga.
“Maaf Sonia. Rumahku cukup jauh dari sekolah, jadi begitu sampai sekolah waktunya sudah mepet. Ini saja misalnya latihan selesai kesorean, aku bisa sampe rumah malam.”
“Aku nggak bisa bangun pagi. Hehe.” Gita tertawa gugup setelah membeberkan alasannya.
Sonia mengangguk. Ia berpikir sulit jika tim tidak memanfaatkan waktu berlatih yang terbatas tiap minggunya. Meskipun begitu, ia tidak bisa menyalahkan keadaan mereka juga. Risma kemudian memberitahu kalau latihan sudah selesai untuk hari ini. Gita dan Ayu mengajak Sonia pulang bersama, tapi ia menolak dengan halus. Selain karena arah yang berlawanan, ia juga sudah berjanji akan pulang bersama Utami.
“Wah sayang sekali ya. Kalau gitu, ati-ati di jalan Sonia.” Gita dan Ayu berpamitan dengan Sonia. Berharap mereka bisa bermain bersama nanti di pertandingan.
---
Sonia mendengar decit sepatu yang bergesekan dengan lantai lapangan. Ia mengira tim basket sudah selesai lebih dulu. Ia masuk melalui pintu depan dan melihat beberapa pemain masih berlatih sendiri. Matanya menerawang lapangan sampai menemukan orang yang dicarinya. Utami tengah berlatih menembak three point. Sonia terpukau setiap kali bola masuk dengan cantik. Sonia tidak pernah melihat Utami bermain basket sebelumnya, dan ia tidak menyangka Utami mahir sekali dalam menembak. Sonia bertepuk tangan untuk menunjukkan apresiasi yang menyebabkan semua orang di situ menoleh. Sonia segera berhenti ketika sadar perhatian semuanya tertuju padanya.
“Eh Sonia. Udah selesai latihannya?” Utami berhenti sejenak dan menghampiri Sonia.
“Tembakan bagus. Kamu jago juga ya.” Sonia memuji dengan tulus. Utami tersenyum lebar sambil menempelkan kedua tangannya di pipinya.
“Kyaa! Sonia melihat aksiku, duh senangnya!” Dan dalam sekejap kekaguman Sonia berguguran layaknya daun kering.
“Haha. Latihanmu masih lama ya?” tanya Sonia. Utami menggeleng.
“Nggak kok. Aku iseng latihan three point karena kamu belum dateng terus yang lainnya juga ada yang masih latihan. Jadi aku pikir daripada nganggur, latihan lagi aja. Sekalian manasin mesin,” jawab Utami sambil berpose memamerkan otot lengan.
“Oh gitu. Rajin bener. Terus mau pulang sekarang?”
“Oke! Bentar ya, aku ganti baju dulu.” Utami memberitahu salah satu rekan timnya, dan dia menoleh pada Sonia. Gadis itu mengangguk, lalu Utami mengambil tasnya untuk ganti baju. Beberapa menit kemudian Utami kembali, dan melakukan tos dengan teman-temannya sebelum menghampiri Sonia lagi.
“Yuk?”
“Yuk.”
Utami tampak berseri-seri sepanjang perjalanan pulang. Ia terus bercerita soal teman setimnya yang menerimanya dengan hangat dan latihan terasa menyenangkan. Lalu, ia berhenti bercerita dan melirik Sonia.
“Terus latian bolanya gimana? Asyik?” tanya Utami penasaran. Sonia menengadah dan menyunggingkan senyum tipis.
“Lumayan. Aku bisa kenal sama dua kakak kelas yang ramah. Semoga kita bisa jadi reguler bareng-bareng,” jawab Sonia. Utami sedikit bingung dengan jawaban Sonia yang tidak sesemangat dirinya, tapi ia berpikir kalau Sonia hanya lelah.
“Bagus kalo gitu. Yuk kita lakuin yang terbaik,” ujar Utami sambil mengepalkan tinju ke arah Sonia. Sonia melakukan hal yang sama dan membenturkan tinjunya.
“Ya.”
---
Sonia menghabiskan waktunya saat tidak latihan dengan belajar dan mengerjakan tugas. Sesekali ia mampir untuk melihat Utami latihan. Di suatu hari saat latihan, tim putri menjajal latihan tanding sekaligus mencoba formasi. Sonia satu tim dengan Gita dan Ayu, tapi ada satu hal mengganjal dari komposisi timnya.
“Tim kita tidak punya kiper selain kapten?” Sonia bertanya pada Ayu yang tengah pemanasan bersamanya.
“Kiper tim kita dulu ada tiga. Kapten adalah kiper utama tim semenjak kelas 7, dan dua kiper cadangan lainnya adalah kakak kelas 9 yang sudah lulus sekarang.”
“Terus kalau kapten cedera atau kena akumulasi, yang gantiin siapa dong kak?”
“Salah satu dari kita, terpaksa,” jawab Ayu sambil menghela napas.
Sonia memiliki firasat tidak enak. Bisa dimengerti karena sebagai pemain, kita tidak pernah tahu kapan insiden akan terjadi. Terlebih cedera atau larangan bermain, bagi tim yang kekurangan pemain di posisi tertentu ini adalah kerugian. Lalu ia ingat satu hal lagi.
“Aku tahu tim kita punya pembina kak, tapi apa tidak ada pelatih?” tanya Sonia lagi. Ayu menggaruk pipinya sebelum menjawab.
“Dulu ada, Sonia. Beliau sudah tua dan pensiun akhir tahun ajaran kemarin. Sekarang tim putra aja yang punya pelatih.”
Informasi ini membuat Sonia membeku. Pertama tidak ada cadangan kiper, sekarang tidak ada pelatih? Ayu lalu memberitahunya kalau selama ini mereka mengikuti instruksi dari Risma, yang ternyata berasal dari instruksi pelatih sebelumnya. Sekolah tidak mencarikan pelatih baru untuk mereka, dan ini menjadi solusi sementara. Selama latih tanding, Sonia ditempatkan di posisi penyerang. Pemain cenderung langsung menyerbu bola sekalipun di luar posisi, dan bola cepat sekali bertukar pemilik baik tim maupun pemain.
“Sonia!” Gita berhasil merebut bola dan diopernya pada Sonia. Sonia segera dijaga oleh 2 pemain belakang, tapi ia hanya melakukan tipuan kecil dan keduanya seolah membiarkannya lewat. Sekarang ia berhadapan dengan kiper yang diisi oleh Sabrina. Sonia langsung menembak keras ke sudut kanan gawang dan merebut angka pertama.
“Bagus Son!” puji Gita seraya menepuk pundak Sonia. Sonia tersenyum, tapi ia tidak puas.
Di tengah-tengah, ia dipindah ke tim yang ia bobol. Bola cepat diberikan padanya. Sonia tidak menunggu lama untuk bergerak menuju gawang. Namun, Gita dan Ayu menghalanginya.
“Tidak semudah itu, Sonioso.”
“Eh?” Konsentrasi Sonia buyar sekilas karena panggilan aneh dari Gita. Ayu langsung menjegal Sonia dan merebut bola darinya.
“Dapat!”
“Enak saja!”
Sonia segera membetulkan posisinya dan menyambar bola secepat kilat. Mata Ayu dan Gita membelalak, tapi Sonia segera menggiring cepat meninggalkan mereka.
“Hyaah!” Sonia melepaskan tembakan ketika tiba di area pinalti. Namun, Risma mampu menangkap tembakannya. Ia mendecakkan lidah dan segera kembali setelah Risma menendang bola ke tengah lapangan.
Sepanjang sisa pertandingan, Sonia hanya berhasil membobol Risma satu kali. Juga Ayu dan Gita cukup agresif dalam mengikuti dan berusaha merebut bola dari Sonia membuatnya kewalahan. Sepertinya Risma yang menginstruksikan keduanya untuk mengawal Sonia. Sonia berusaha meminta bantuan teman-temannya, tetapi tidak bekerja.
“Teman-teman, ada info sebentar.” Risma memanggil semua pemain seusai latih tanding. Di tangannya ada selembar kertas.
“Untuk pemanasan sebelum turnamen tingkat kota, aku berencana mengadakan latih tanding dengan tim lain. Kita akan bertanding dengan Anggrek Dragonflies.” Seketika semua pemain kecuali Sonia dan Risma ribut. Ekspresi mereka seolah tak percaya dengan ucapan kapten mereka. Sonia sendiri kaget sebenarnya mendengar mereka akan bertanding secepat ini, tapi kenapa reaksi yang lainnya lebih kaget darinya membuatnya bingung.
“Kenapa sama Dragonflies kak?” Ayu menoleh dan memberikannya ekspresi seolah Sonia datang dari luar kota.
“Mereka itu tim terkuat di kota di antara tim sepakbola sekolah. Dan juga...” Ayu menelan ludah, lalu menepuk kedua bahu Sonia. “Dragonflies dulu membantai tim kita dengan telak.”
Sonia terkejut. Ia merasa tim ini perlu lawan yang lebih setingkat dengan keadaan mereka saat ini. Ia berniat bertanya soal keputusan kapten memilih Dragonflies sebagai lawan mereka. Namun, Risma belum selesai memberikan pengumuman.
“Tenang sebentar, aku mau ngasih tahu yang main siapa aja. Kiper aku sendiri; beknya Mona, Reni, Wati, Luci; gelandang Nike, Gita, Ayu, Hera; penyerang Zakia sama Sonia. Sisanya cadangan.” Semuanya bertepuk tangan, tapi suasana masih terasa suram. Semuanya bubar dan mengambil barang masing-masing.
“Oh ya. Kita tanding besok jam 10 di Lapangan Rakyat. Jangan telat ya. Semangat!” Risma memberi tahu sebelum meninggalkan lapangan dengan senyum. Beberapa membalasnya dengan sorakan lemas.
Sonia menggeleng. Ia menekan dahinya sebagai wujud ketidakpercayaan. Ayu mengelus punggungnya untuk menunjukkan kalau ia paham yang Sonia rasakan. Untuk pertama kalinya semenjak ia bermain sepakbola, Sonia tidak tahu harus bagaimana sebelum pertandingan.
“Aduh...” Sonia hanya bisa menghela napas sambil berharap besok bukan sebuah pembantaian.