Kick and Dash!

Kick and Dash!
Episode 11



Pertandingan babak kedua dimulai dengan bola di sisi Dragonflies. Tidak seperti biasanya, Cindy tidak buru-buru mengoper pada Nindi; yang sedang dijaga ketat oleh Ayu. Setelah mengutarakan pendapatnya pada tim, Risma setuju untuk mengganti strategi dengan memberikan penjagaan pada Nindi.



“Wah, Nindi ditempel sekarang!”



“Hei lihat! Cindy juga.” Pendukung Dragonflies terkejut melihat apa yang terjadi di lapangan. Cindy sendiri dijaga oleh Gita. Berapa kali ia mencoba melakukan tipuan, Gita mampu menempelnya dengan ketat tanpa celah. Sonia menyarankan keduanya untuk melakukan man-marking yang sama saat bertanding dengannya kemarin. Cindy akhirnya mengoper bola ke belakang dan terus mencoba melepaskan diri. Tanpa kedua pemain andalan mereka, Dragonflies kesulitan mencari cara menyerang.



“Ayo Fireflies, mereka tak bisa menyerang seperti biasa. Rebut gol lagi!” Utami meneriakkan dukungan.



“Fireflies! Fireflies!” Jasmin memulai koor yang diikuti pendukung lainnya. Lambat laun permainan mereka pulih seperti semula dan lebih mengalir. Sementara itu, Rian memperhatikan pertandingan dengan seksama tanpa berbicara. Matanya tidak lepas dari salah satu sosok yang berlari ke sana kemari.



“Sonia!” Nike memberikan bola pada Sonia yang mundur ke posisi gelandang.



“Hentikan dia! Jangan biarkan dia memegang bola terlalu lama!” seru Cindy pada pemain Dragonflies. Sonia tidak menggunakan trik atau semacamnya, melainkan hanya menerobos maju ke depan gawang. Zakia dan Hera berada di posisi bagus. Sonia memberikan umpan lambung yang dieksekusi oleh Zakia dengan sundulan kepala, tapi masih melebar di atas jaring gawang.



Sekarang alur permainan ada di kaki Fireflies. Zakia, Hera, dan Nike berulang kali mampu mencari celah di pertahanan lawan, tetapi belum ada satupun yang berbuah gol. Babak kedua sudah setengah jalan, dan sekarang Dragonflies mendapat goal kick. Namun, pertandingan dihentikan dulu karena Dragonflies meminta pergantian pemain. Dua penyerang Dragonflies diganti, dan Fireflies terkejut dengan yang mereka lihat.



“Apa?” pekik Sonia melihat Nindi dan Cindy maju menjadi penyerang. Pemain Fireflies melihat Sonia; menunggu keputusan apakah tetap menjaga mereka berdua dengan Ayu dan Gita. Tiba-tiba Risma memberi isyarat pada Ayu dan Gita untuk kembali ke posisi semula. Wati dan Reni yang menggantikan mereka menjaga Nindi dan Cindy.



Dragonflies meminta kita mengambil keputusan sulit, tapi apa tidak apa-apa menyerahkannya begitu saja pada pemain belakang?



Meskipun mengakui kemampuan Ayu, Gita, dan Risma, hal serupa tidak dilakukan pada rekan setimnya yang lain. Hatinya masih diselimuti keraguan. Biarpun ia ingin meyakinkan diri, rasanya sulit sekali.



“Loh? Yang masuk ngegantiin penyerang kok malah jadi gelandang?” tanya Jasmin.



“Tidak ada masalah, pergantian pemain diperbolehkan untuk posisi manapun dan oleh pemain posisi manapun juga. Yang penting dia terdaftar sebagai pemain yang turun di pertandingan, dan pergantian posisi juga biasa menyesuaikan strategi permainan. Tuh, yang rambut cokelat juga tadi malah ke tengah,” terang Rian menanggapi pertanyaan Jasmin. Kedua gadis di samping Rian bersiul mendengarnya.



“Eh, ternyata nonton juga. Kak Rian paham sepakbola ya,” puji Jasmin sambil cengar-cengir.



“Kak Rian main bola juga?” tanya Utami, tetapi dibalas oleh gelengan dari Rian.



“Sekarang sih nggak.” Nadanya santai, tapi pandangan matanya sekaligus tidak inginnya ia melakukan kontak mata, memberikan tanda pada Utami untuk tidak bertanya lebih lanjut. Sekarang pun, ia lebih memilih fokus mendukung sahabatnya.



“Ayo Fireflies!”



Kembali ke pertandingan, perebutan bola yang sengit terjadi di lini tengah setelah pertandingan dilanjutkan. Ayu gagal menjangkau bola tendangan kiper. Dragonflies kali ini yang mendapat kesempatan untuk menyerang. Bola dikirim ke area pinalti melalui umpan lambung. Mata Risma kali ini fokus pada Cindy dan Nindi, memperkirakan apa yang akan dilakukan keduanya. Saat bola menukik, Wati melompat untuk menghalau. Cindy ikut melompat, dan keduanya beradu sundulan hingga bola terpental. Risma bereaksi cepat untuk meninju, tapi matanya mengerjap oleh warna perak yang berkilauan dan wajah pemiliknya yang terbalik. Dengan tendangan salto yang mendahului Risma, Nindi membawa Dragonflies unggul 2-1.



“Kerja bagus Nin! Tadi itu luar biasa!” Cindy memuji Nindi atas permainan cemerlangnya sambil memeluknya. Nindi hanya tersenyum, lalu melambaikan tangannya pada pendukung Dragonflies. Mereka bertepuk tangan dengan riuh sebagai apreasiasi. Cindy melewati Ayu dan Gita yang mematung dengan seringai khasnya. Tentu ia merasa kemenangan sudah di tangan dengan begini. Nindi melewati mereka dengan ekspresi dingin. Hilang sekejap aura cerahnya dari merayakan gol barusan.



“AH!!” Utami dan Jasmin memegang kepala mereka dengan kecewa.



Sonia menggeleng berulang kali. Ia terkejut akan perkembangan yang ditunjukkan oleh Nindi. Dari yang tadinya hanya menciptakan peluang menjadi yang memaksimalkan peluang. Sedangkan dirinya sendiri, apa yang sudah ia kembangkan?



Tiupan peluit mengembalikan konsentrasinya ke pertandingan. Sonia mengoper pada Gita, lalu bergerak maju ke posisinya. Gita mengoper pada Hera, tapi Cindy dengan cepat memotong operan itu.



“Cih! Gampang dibaca!” Berdua dengan Nindi, mereka saling bertukar operang melewati lini tengah dan pertahanan Fireflies. Sampai depan gawang pun, keduanya masih terus bertukar operan. Nindi lalu melakukan ancang-ancang untuk menembak yang membuat Risma melompat untuk mencegah, tetapi bola berpindah ke Cindy yang menyarangkan gol ketiga.



“Yah, udah capek ya? Ga seru nih,” keluh Cindy sambil mendengus. Risma menggeram, buru-buru mengambil bola dan mengembalikannya ke tengah. Waktu yang tersisa tinggal 5 menit lagi. Sonia menatapa bola lekat-lekat. Ditengoknya sekilas teman setimnya. Napas mereka sudah tak beraturan.



Semua sudah mencapai batasnya. Aku harus membuka peluang sendiri!



Begitu pertandingan berjalan kembali, Sonia tidak mengoper pada temannya. Ia justru menggiring bola sendirian menuju pemain Dragonflies.



“Sonia! Apa yang kau lakukan?” Semua pemain maupun pendukung Fireflies memprotes, tapi Sonia sudah membulatkan tekad. Kalau ia tidak menciptakan peluang sendiri, mereka bisa kalah telak.



“Udah putus asa ya? Biar kuladeni kamu!” Cindy dengan gencar mengikuti Sonia. Tipuan demi tipuan, kontak demi kontak, Sonia terus berusaha meloloskan diri. Namun, akhirnya Sonia sendiri pun mencapai batasnya.



“Milikku!”



“Sonia sini!”



Seolah terhipnotis, Sonia mengayunkan kakinya ke arah bola dan mengirimkannya pada pemilik suara tersebut.



“Semuanya! Jangan sia-siankan perjuangan Sonia! Pertandingan belum selesai!”



“YA!” Derap sepatu Fireflies yang kencang meramaikan lapangan dipimpin oleh Ayu. Mereka sebenarnya sudah benar-benar kelelahan, tetapi melihat Sonia yang tidak pasrah sampai detik terakhir menggugah hati mereka.




“Belum selesai, kejar!” Bermodalkan semangat, semua pemain Fireflies berjuang merebut bola. Dragonflies juga tidak mau kalah. Meskipun unggul 2 angka, sebuah fakta di pertandingan profesional pernah membuktikan membalikkan kemenangan di saat-saat terakhir itu mungkin.



Gita berhasil meraih bola, dan langsung disundulnya ke belakang.



“Sonia! Masukkan!” Sonia meluncur lebih cepat daripada Cindy. Sambil melompat, kakinya sudah mengambil ancang-ancang. Kiper berhasil menangkap bola, tapi kekuatan bola yang lebih besar membuatnya lepas dari genggaman. Kedudukan menjadi selisih satu angka.



“Hore! Gol!” Sonia melompat sambil mengangkat tinjunya, lalu disambut oleh Gita. Satu persatu semuanya menghampiri. Mulut Sonia melengkung lebar. Ia seakan teringat akan satu hal yang dulu dikatakan oleh pelatihnya.



Kamu tidak bisa main sepakbola sendirian.



Benar. Meskipun yang lain tidak bisa menyamai permainanmu, bukan berarti kamu harus melakukan semuanya sendiri. Terkadang, kita yang harus menyesuaikan dengan keadaan. Walaupun, Sonia tahu itu sulit.



Pertandingan dilanjutkan kembali, tetapi tidak gol tambahan. Pertandingan berakhir dengan skor 3-2 untuk Dragonflies. Kedua tim saling berjabat tangan untuk menunjukkan sportivitas. Pendukung kedua belah pihak memberikan apresiasi pada kedua tim dengan meriah. Sebelum bubar, Cindy dan Nindi menghampiri Sonia.



“Tadi itu luar biasa, Sonia. Menyenangkan sekali bisa bertanding denganmu lagi,” ucap Nindi dengan tulus.



“Kamu sendiri Nin, makin jago aja ya. Sekarang bisa jadi pencetak gol gitu, aku ngerasa ketinggalan,” sahut Sonia sambil menggaruk-garuk kepalanya. Cindy tidak berkata apa-apa selain menatap Sonia dengan pandangan kasihan.



“Cindy? Ada yang mau dikatakan?” tanya Sonia. Cindy mengalihkan pandangan pada Fireflies yang masih berbincang-bincang dengan masing-masing dan pendukung mereka yang kebanyakan terdiri dari keluarga mereka sendiri.



“Beruntung.”



“Eh?” Sonia tidak mengerti apa maksud ucapan Cindy.



“Hari ini kami tidak bermain dengan pemain inti, karena mereka sedang ada training camp Junior Youth. Seandainya mereka ada, kalian pasti kalah telak.” Cindy mengucapkannya dengan tenang. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya pada Sonia.



“Pada akhirnya Sonia, hanya kamu sendiri yang kemampuannya sebanding dengan kami. Aku ragu kamu bisa menang di pertandingan sebenarnya dengan tim ini.” Cindy langsung berbalik pergi tanpa bicara lagi. Seketika, sesuatu di dalam diri Sonia seperti hancur berantakan. Biarpun ia hendak memprotes, kata-kata Cindy benar sekali. Ia pun jadi berpikir bila memang pemain inti Dragonflies ikut bermain, bahkan dirinya sekalipun tak akan bisa mencetak gol.



“Kakak! Sonia, jangan terlalu dimasukkan ke hati ya. Kakak sebenarnya khawatir akan keadaanmu. Kamu tahu? Kakak nggak berhenti bicara soal kamu selepas pertandingan final. Tadinya ia tertarik masuk klub kalau ada kamu.” Sonia kehilangan kata-kata. Nindi bukan orang yang bisa berbohong, jadi ia percaya. Hanya saja, Cindy memikirkan keadaannya seperti bukan Cindy saja.



“Hei! Aku tinggal lho kalau lama!”



“Sebentar! Nanti lagi ya Sonia ngobrolnya. Kamu punya nomor yang bisa dihubungi?”



“Oh ada.”



Keduanya bertukar kontak sebelum berpamitan. Tentu saja Sonia sangat menantikan saat bisa bermain dengan mereka lagi. Namun ia pun tahu mana saja yang perlu dibenahi dari tim ini. Besok sebelum latihan, ia akan menyampaikannya pada Risma.



Sementara itu, Utami dan Jasmin bersiap untuk menjemput Sonia. Rian masih duduk sebelum dipanggil oleh Utami.



“Kak Rian, pertandingannya sudah selesai.”



“Ah, iya.” Ia berdiri sambil menepuk debu dan rumput yang menempel. Ia kembali mengenakan kacamata hitamnya sambil meregangkan tubuhnya.



“Terima kasih ya, kalian berdua. Buat makanan sama minumannya. Nih.” Ia mengeluarkan dua lembar uang 50 ribu dan menyodorkannya pada Utami.



“Eh apaan ini? Jangan-jangan, kak Rian ini om-om yang seneng modus ke cewek-cewek muda ya?” Jasmin mengomentari dengan ekspresi tidak percaya sambil memegang tangan Utami dan menyeretnya mundur.



“Hei! Aku ini berniat balas budi tahu! Malah diarahin ke situ. Dasar.”



“Jasmin! Ah, nggak usah makasih. Kak Rian simpen aja, toh maksud kami nawarin tadi itu ikhlas kok.”



“Tam-” Utami mencubit Jasmin dengan keras hingga ia meringis. Rian tidak paham apa yang terjadi, tapi ia menggeleng.



“Heh, udahlah terima aja. Aku orangnya ga enak kalau terima sesuatu gratis gitu aja.” Dengan paksa, ia menaruh dua lembar uang itu di tangan Utami.



“Sampai jumpa. Ati-ati di jalan.” Rian berjalan pergi tanpa memberi kesempatan sama sekali bagi mereka berdua untuk menolak lagi. Setelah tiba di luar, Rian merogoh saku celananya. Ia mengangguk seolah memastikan uangnya masih cukup. Ia menghentikan taksi untuk mengantarkannya ke tempat tinggalnya. Pikirannya belum lepas dari permainan sepak bola barusan.



“Dia bener-bener butuh kalian berdua ya...” gumamnya pelan sambil melihat pemandangan kota yang ramai di Minggu siang.