Kick and Dash!

Kick and Dash!
Episode 12



Esoknya sepulang sekolah, Sonia memutuskan untuk datang dan bicara empat mata dengan Risma. Memanfaatkan waktu yang ternyata bukan hari latihan, ia berniat mengutarakan pendapatnya soal tim. Akan bermasalah seandainya ia terlalu blak-blakan di depan semuanya. Oleh karena itu, ia pikir sebaiknya ia bicarakan dulu dengan Risma.



Sepulang pertandingan kemarin, ia menumpahkan rasa kecewanya pada Utami dan Jasmin. Keduanya pun juga mengomentari beberapa kekurangan dalam pertandingan. Sonia memberikan penjelasan sedikit mengenai anggota tim. Sontak Utami dan Jasmin terkejut. Keduanya lalu mendukung keputusan Sonia untuk berbicara dengan Risma.



Risma mengajak Sonia untuk bertemu di ruang klub saja. Dalam perjalanan menuju ke sana, ia melihat tim putra yang tengah berlatih operan. Ia takjub akan koordinasi yang baik dari para pemain. Mereka mampu menempatkan diri di posisi yang mudah maupun tepat untuk menerima dan melanjutkan bola. Dan mereka berusaha untuk memastikan bola tak tersentuh lawan, tapi juga tidak asal mengoper.



“Hebat. Benar-benar tim juara nasional,” gumamnya kagum. Pandangannya beralih pada pelatih tim putra. Namanya Pak Dani. Tidak banyak yang ia tahu tentangnya selain info kalau beliau adalah mantan pemain tim sekolah ini. Lebih tepatnya, anggota ‘Generasi Emas’. ‘Generasi Emas’ adalah julukan tim Fireflies yang bukan hanya menjadi juara nasional waktu itu; mereka juga menjadi juara liga kota dan turnamen provinsi. Dua pemain mereka masing-masing meraih pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak tahun itu. Pak Dani adalah pencetak gol terbanyak yang dimaksud.



Dari kejauhan, Pak Dani menginstruksikan para pemain sekaligus mencatat sesuatu di buku sakunya. Matanya tak pernah berhenti memperhatikan tiap pemain. Sonia juga baru menyadari kalau jumlah pemain tim putra hampir sama dengan tim putri.



Pemain tim putra pasti sering dirotasi, dan bukan tidak mungkin mereka punya tim A dan tim B sendiri.



Pikiran Sonia melayang entah ke mana membayangkan hal itu. Seorang pelatih yang bisa mengarahkannya dan teman-temannya. Tidak perlu jauh-jauh dulu, yang penting tim bisa kompak dan siap bermain. Akhirnya Sonia tiba di depan ruang klub, tetapi tangannya berhenti saat hendak membuka pintu lebih lebar.



“Ma! Mau sampai kapan kamu tetep main di klub ini? Buang-buang waktu aja!” Sonia sedikit bergidik mendengar suara anak perempuan bernada tinggi dari dalam. Meskipun tidak baik, ia menyelipkan diri di antara celah pintu.



Di dalam, Risma tengah duduk sambil bersedekap. Di hadapannya, berdiri perempuan berambut merah muda dengan emosi menyelimuti wajahnya. Tangannya berada di atas meja menjadi tumpuan baginya yang tengah mendekatkan wajahnya pada Risma. Risma sendiri hanya memejamkan mata, seolah pasrah saja.



“Jauh-jauh ke sini cuma itu yang mau kamu bilang, Erika?” Risma membalas dengan nada santainya yang khas. Perlahan ia membuka matanya sambil menyunggingkan senyum. Ia berdiri sambil mengarahkan tangannya pada kursi kosong di sisi Erika.



“Duduk dulu lah. Kita ngobrol-ngobrol santai. Udah lama ‘kan, kita nggak berdua aja gini?”



“Aku datang ke sini bukan mau santai-santai!” sergahnya sambil menggebrak meja. Risma tetap bergeming. Tidak terintimidasi sama sekali oleh sikap Erika. Yang ia lakukan justru sebaliknya.



“Ayo dong, Ika. Bentar aja ya? Ima kangen nih.” Risma menggesekkan pipinya dengan Erika sambil memasang ekspresi menggoda, yang dengan refleks melompat mundur sambil menggosok pipinya.



“Jijik tahu nggak Ma! Ah, serah dah!” Erika menhentakan kaki ke lantai sambil menggeleng kesal. Risma tertawa kecil, menikmati reaksi Erika. Erika menggerutukan kata-kata yang tidak jelas sebelum meraih tasnya dan pergi menuju pintu. Sonia bergegas menjauh dari pintu dan sembunyi. Erika keluar dari ruang klub sambil membuka pintu dengan kasar tanpa menutupnya lagi. Setelah memastikan ia pergi, Sonia masuk ke ruang klub.



“Ah Sonia, kamu datang.” Risma dengan tenangnya menyapa Sonia. Sonia mengangguk dan meminta izin duduk di depan Risma, tetapi Risma menghentikannya.



“Son, mau cari minum sekalian nggak?”



---



Keduanya pergi meninggalkan gedung sekolah dan pergi ke depot jus di area pujasera dekat sekolah. Selain mereka, beberapa siswa juga ada di situ. Mengobrol, bercanda, bermain kartu, kegiatan umum bagi mereka yang tidak ikut ekskul.



“Ini jusmu.” Risma menyodorkan jus lemon pada Sonia, sedangkan dia sendiri membeli jus pisang. Setelah duduk, Risma langsung menyedot jus itu sejenak dan tampak berseri-seri.



“Enak! Bener kata temenku, mestinya aku kemari lebih cepat.” Risma terus meminum jusnya sampai Sonia meminta perhatian padanya.



“Anu kak?”



“Hmm?”



“Saya mau bicara sesuatu.”



Risma meletakkan gelas jusnya. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, lalu mempersilakan Sonia untuk menyampaikan apa yang dia mau.



“Sebenarnya aku mau bicara hal yang lain, tapi boleh ceritakan dulu kak tentang siapa cewek yang tadi keluar dari ruang klub?”



“Kamu nguping omongan kami?”



“Eh itu...”



“Nggak apa-apa. Aku nggak masalah soal itu kok.” Risma meneguk jusnya lagi. Sonia berpikir mungkin ini kenapa Erika tidak tahan lama-lama ngobrol dengan Risma.



“Dia itu teman lamaku. Sama-sama anggota klub sepakbola,” terang Risma sambil menopangkan dagunya pada telapak tangannya yang bersandar di meja.



“Aku, Erika, dan Olivia. Ya ada satu lagi sebenarnya, tapi mengingat kelakuannya, dia pasti lagi tidur nyenyak di suatu tempat.” Disebutnya nama Olivia membuat Sonia teringat akan seorang Olivia yang ia kenal.



“Kak, soal kak Olivia...” Sonia menceritakan soal pertemuannya dengan Olivia beberapa waktu yang lalu. Risma hanya menggeleng pelan mendengarnya.



“Ya. Pasti dia. Dulu sebelum kamu, hanya dia saja yang bisa membobol gawangku semenjak menjadi pemain utama. Kami bertiga masuk sekolah ini, supaya bisa bermain sepakbola bersama lagi. Tadinya begitu.” Risma lanjut menyedot jusnya.



“Lalu, apa yang terjadi kak?”



“Biar kumulai dari awal ya cerita kami bertiga.” Risma melepaskan sedotan dari bibirnya sambil memejamkan mata sejenak sebelum bercerita.



---




Erika itu orangnya dari dulu seperti itu. Tegas, sering blak-blakan untuk menyebutkan kejelekan orang, dan tidak mau kalah. Hanya saja, aku mempelajari kalau ia sebenarnya cukup perhatian dengan orang sekitarnya. Dia sering meminjamkan peralatannya semisal ada yang kehilangan atau lupa, dia mau menerima makanan teman-teman yang tidak mereka sukai, dan mau menjadi ketua kelas kita. Tidak aneh kalau dia jadi ketua OSIS sekarang.



Olivia dulu anak yang lebih bersemangat. Dia itu kelebihan energi kalau menurutku. Tidak bisa diam, selalu berteriak paling keras kalau ada permainan di luar, dan makannya banyak sekali. Erika dan Olivia dulu sering bertengkar, dan di situlah aku masuk.



Aku coba mengenali kebiasaan mereka, mengikuti hobi mereka, hingga keduanya mau mempercayaiku. Sampai akhirnya mereka berdua malah memperebutkanku jadi pasangan mereka. Kemudian, aku menawarkan bagaimana kalau kita main bertiga saja. Keduanya awalnya tidak suka, tapi demi aku mereka mau belajar menerima masing-masing. Dan akhirnya, sebelum lulus TK, mereka berdua sudah dibilang akrab. Ya, intinya Erika menegur Olivia dan Olivia tidak mengindahkan ucapan Erika.



Di SD pun, kami masih tetap dekat dan di sana kami mengenal olahraga sepakbola. Bermula dari kami menonton pertandingan klub lokal. Aku kagum sekali dengan permainan yang kusaksikan waktu itu. Tegang, keras, intens, apapun itu. Aku mengepal keras pada tiang besi sambil meneriakkan dukungan. Sepulangnya dari situ, aku memutuskan untuk mencoba main sepakbola. Erika dan Olivia menertawakanku, tapi melihatku yang tidak tertawa mereka terdiam.



Pada akhirnya, aku selalu menendang bola sendirian. Sampai suatu hari, Olivia menahan bolaku yang terlepas. Di belakangnya, Erika menceramahiku yang tidak pernah mengajak mereka bermain lagi. Olivia mengoper bola padaku dan mengajak bermain bersama. Kami hanya bermain bebas dengan anak-anak lain, tapi itu semua menyenangkan. Aku yang menjaga gawang, Erika yang menjadi eksekutor tendangan bebas, dan Olivia menjadi pencetak gol.



Di SMP, kami masuk sebagai pemain baru dan cadangan. Kami tetap bertahan di posisi yang sama. Namun, saat itu adalah era di mana kelas 7 tidak bisa menjadi starter. Entah kenapa, tapi kami hanya bisa diam dan terus berlatih hingga diakui oleh pelatih.



Suatu hari, kesempatanku tiba. Saat final kejuaraan daerah, kiper utama tim cedera. Aku sebagai satu-satunya cadangan kiper dimasukkan. Napasku berat. Kakiku gemetar tak mau diam. Hingga suara kedua sahabatku menyingkirkan itu semua.



“Kamu bisa Risma! Ayo, tunjukkan hasil latihanmu!”



“Kalau kita sampai kebobolan, awas kamu!”



Entah kenapa, aku jadi lebih fokus. Tendangan pinalti dan tendangan bebas dari lawan bisa kuhentikan. Kami menang dan melaju ke turnamen nasional. Semenjak saat itu, aku menjadi kiper utama tim meskipun masih kelas 7. Semuanya bangga padaku, karena aku bisa memecahkan dinding aturan tak terlihat itu dengan permainan gemilang. Akan tetapi, itu tidak berlangsung selamanya.



Di turnamen yang sama setahun kemudian, aku menyarankan pada pelatih agar Erika dan Olivia diturunkan. Pada pertandingan persahabatan beberapa kali, mereka bisa tampil baik dan tidak kalah dari pemain reguler. Pikirku, akan lebih baik jika kita bisa merotasi pemain. Ternyata aku salah.



Selain aku, tidak ada satupun pemain kelas 7 maupun 8 yang diturunkan. Semuanya adalah kelas 9. Pada pertandingan 3, jelas bahwa banyak yang kelelahan dan perlu istirahat. Namun pelatih masih bersikeras untuk tidak mengganti pemain. Hasilnya, kami tersingkir di babak penyisihan. Erika yang tidak tahan, mengadu pada pelatih soal keputusannya. Pelatih melihat kakak senior lebih berpengalaman, tanpa menyadari tim ini memiliki batas. Tidak setuju, akhirnya Erika keluar dari tim.



Aku berusaha membujuknya, tapi bukannya berhasil, Olivia juga keluar dari tim. Bedanya, Olivia tidak mengucapkan apa-apa selain memberikan pandangan bersalah padaku. Setelah itu, Erika menjadi ketua OSIS dan Olivia tidak pernah bergabung dengan klub manapun lagi. Satu persatu kakak kelas meninggalkan tim karena sudah dekat dengan ujian nasional. Yang tersisa dari kelas 8 pun tinggal aku dan segelintir orang. Pada akhirnya, mereka pergi juga.



Erika tidak pernah berhenti mengajakku keluar setelah itu, apalagi pelatih tiba-tiba pensiun sesudah musim selesai. Biarpun begitu, bukankah tidak benar pergi ketika tugas kita belum selesai? Erika terkejut mendengar jawabanku. Sejujurnya aku tahu ia mau main sepakbola lagi. Hanya saja, sejarahnya dengan tim ini sudah meninggalkan kesan buruk di hatinya. Olivia, aku tidak tahu. Kami masih saling sapa jika bertemu, tapi ya itu saja.



Sekarang di tahun terakhirku, aku ingin meninggalkan bukti. Bukti bahwa aku pernah bermain di sini. Bukti kalau aku berhasil membangkitkan kejayaan Melati Fireflies Putri. Kalau bisa, bersama mereka berdua.



---



Risma menghabiskan jusnya, lalu tersenyum pada Sonia. Sonia tak tahu harus membalas apa. Kepalanya masih mencerna informasi dari Risma yang diberikannya secara runtut. Ia akhirnya mengerti kenapa tim ini berada di kondisi seperti sekarang. Meskipun begitu, Risma tidak seharusnya menanggung beban seorang diri.



“Kapten, saya rasa tepat jika meminta waktu kakak untuk bertemu sekarang.”



“Kenapa begitu?”



“Untuk bisa mewujudkan impian kakak, tim Fireflies harus berubah!”



“Maksudmu?”



“Lihat pertandingan kemarin! Bukankah kita kurang persiapan? Lawan kita jauh lebih kuat, dan jika bukan karena pemain utama mereka absen, kita bisa dijadikan bulan-bulanan! Dan juga, tim kita tidak punya pelatih, manajer, maupun pemain yang benar-benar prioritas ekskulnya adalah sepakbola!” Sonia menumpahkan seluruh frustasinya di depan Risma. Tatapannya bisa dibilang mirip dengan Erika saat di ruang klub tadi.



“Terus mau bagaimana lagi? Aku sudah minta pada sekolah agar kami diberikan pelatih baru. Mereka malah terus-terusan cari alasan. Soal manajer, tidak ada yang mau mengurus tim kita. Pemain baru, ya cuma kamu. Satu lagi, kita mau latihan di mana kalau bukan lapangan sekolah?”



“Ada lapangan bola dekat sini ‘kan? Kita bisa izin pinjam tiap hari kita tak bisa pakai lapangan sekolah. Jika tidak boleh, kita cari tempat lain.



“Soal pelatih aku juga tidak mengerti bagaimana, tapi kita bisa mengusahakan untuk mencari pemain baru dan manajer. Ayolah kak, tim ini tidak akan bisa bangkit jika hanya kakak dan aku saja yang peduli!”



Risma seolah tersadar. Benarkah ia terlalu mengandalkan diri sendiri? Apakah ia terlalu yakin keputusannya selalu yang terbaik? Apakah ia bisa mempercayai teman-teman setim yang bukan memprioritaskan klub?



“Kapten.” Mata Risma bertemu pada bola mata hitam gadis berambut coklat yang bermandikan cahaya mentari senja. Teduh dan tak ada kekesalan seperti tadi.



“Percaya padaku, teman setim juga. Biarpun tidak terlihat begitu, ada yang peduli lho soal tim ini. Kapten sudah menanggung beban seorang diri selama ini. Tolong, kali ini biarkan orang lain yang bekerja, ya?” Risma tidak menyadari kalau pandangannya berembun. Setetes demi setetes air matanya bercucuran. Sonia berpindah untuk menutupi wajahnya sambil mengusap kepalanya.



“Tidak apa-apa untuk mengandalkan orang lain sesekali kok.” Risma sesegukan beberapa kali sambil mengangguk. Sonia memejamkan mata selagi membiarkan kaptennya mencurahkan isi hatinya selama ini. Setelah Risma lebih tenang, mereka memesan jus lagi dan kembali mengobrol.



“Jadi rencanamu apa Son? Caraku cuma berhasil menggaet kamu.” Risma mengakui sambil menghela napas. Sonia mengayunkan jari telunjuknya.



“Hm hm hm. Saya punya rencana kak. Kita akan laksanakan itu lusa,” ucapnya sambil bersedekap. Risma terkejut mendengar Sonia sudah memikirkan sampai situ.



“Memangnya kamu mau apa?” tanyanya penasaran. Sonia meneguk jusnya, lalu mengedipkan mata sambil menjawab.



“Pokoknya lihat saja, hehe.”