Kick and Dash!

Kick and Dash!
Episode 1



Malam itu, Sonia tidak bisa tidur. Bukan karena kopi maupun pagi harinya adalah awal tahun ajaran baru di sekolahnya. Melainkan karena apa yang sedang ia saksikan melalui layar televisi. Spanduk dukungan menghiasi stadion, dengan suporter masing-masing tim menyorakan dukungan sekeras-kerasnya. Pertandingan itu adalah final kejuaraan sepakbola Asia antara Indonesia melawan Jepang. Pemenang dari pertandingan ini akan mendapat label tim terkuat Asia sebelum bertolak ke Piala Dunia.



Awalnya Sonia tidak tertarik dan menonton hanya karena ibunya menyalakan televisi supaya tidak sepi. Ibunya tidur lebih awal sebelum meminta Sonia untuk tidur juga. Nyatanya diam-diam ia menonton di kamarnya dengan volume sekecil mungkin.



Di lapangan, Indonesia mendapat peluang untuk mencetak gol kemenangan melalui tendangan penalti. Waktu sudah habis, dan hanya waktu tambahan saja yang tersisa. Gol berarti trofi dan medali emas, gagal berarti pertandingan akan dilanjutkan ke perpanjangan waktu. Tim Indonesia tengah memilih siapa yang akan menjadi algojo. Setelah wasit meminta mereka untuk tidak mengulur waktu, akhirnya pemain nomor 27, Arianto maju ke titik putih.



Suporter mengelu-elukan namanya, Arianto sang jagoan. Wajahnya basah oleh peluh dan air hujan yang mengguyur sepanjang pertandingan. Diletakkannya bola di atas titik putih dan mengambil ancang-ancang. Suara penonton memelan sedikit, semua menahan napas. Para pemain berkonsentrasi, bersiap merebut bola mentah jika meleset.



Sonia mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menutup matanya. Tegang, tak berani, tapi ia tetap ingin memberi dukungan. Mulutnya komat-komit membisikan do’a hingga peluit ditiup.



Dan…



“GOOOOOOOOOOOOOL!!!!” Seluruh pendukung Indonesia melompat, berteriak, meluapkan kelegaan dan kebahagiaan. Para pemain berhamburan menghampiri Arianto. Wajahnya kaku, mulutnya menganga. Akhirnya ia tersadar, dan berlari hingga ke pinggir lapangan merayakan gol di depan para pendukung. Sesudah itu peluit panjang dibunyikan tanda selesainya pertandingan, lalu dilanjut dengan upacara penghargaan.




“Berjuang sampai akhir. Bersama-sama dengan teman-teman semua. Sonia, mau yang seperti itu!” Kepalan tangannya menguat hingga dirinya tak kuasa menahan diri untuk mengungkapkan isi hatinya.



“Aku... mau main sepakbola!”



Sejak hari itu, Sonia belajar bermain sepakbola. Main dengan anak laki-laki, masuk ke sekolah sepakbola, hingga akhirnya menjadi juara nasional tingkat anak-anak bersama klubnya.



'Jalan untuk menjadi nomor satu, tidak hanya satu'. Begitu yang selalu dicamkannya.



“Aku akan terus main sepakbola. Selama tujuanku belum tercapai, aku tidak akan berhenti!” 1