Kick and Dash!

Kick and Dash!
Episode 2



Sekolah memasuki minggu kedua setelah berakhirnya masa orientasi. Tidak ada lagi siswa-siswi yang berjalan menuju sekolah dengan atribut unik masing-masing selain mengenakan seragam sekolah yang telah ditentukan. Sonia pun demikian. Berbalut seragam putih, rok panjang berwarna biru, ini adalah kali pertama ia mengenakan seragam layaknya siswi SMP. Sonia masuk ke SMP Melati, yang merupakan sekolah terkenal di kotanya. Belum lagi tempat tinggalnya yang tidak jauh dari sana menjadi faktor pendukung kuat untuk masuk ke sana.



“Oi, Sonia!”



Seorang gadis berambut hitam pendek melambaikan tangan sambil berlari menghampiri Sonia. Baru saja ia hendak menoleh, gadis itu sudah menghempaskan tubuhnya ke punggung Sonia. Hampir saja ia terjerembab.



“Ah! Tami, berat nih! Jangan nubruk tiba-tiba gitu dong!” Gerutu Sonia sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan gadis itu. Bukannya menurut, ia justru makin erat memeluknya.



“Hihihi, guling pelukku. Aku kangen sekali. Ah, sensasi yang menyejukkan hati.” Mendengarnya, Sonia merasa geli dan ingin cepat-cepat pergi agar tidak disangka aneh-aneh oleh orang yang lewat.



“Siapa juga yang mau! Perasaan kita udah ketemu minggu lalu deh.”



“Nggak cukup! Aku kekurangan asupan Soniadium 2 hari! Jadi, hari ini kita bareng terus ya.”



Sonia menghela napas sambil berusaha berjalan dengan menyeret tubuhnya. Dalam hati ia bersyukur sebenarnya masih bisa satu sekolah dengannya, meskipun tidak satu kelas.



“Ngomong apa sih kamu? 3 tahun kan? Sekarang kita bisa sekolah bareng, Tam!” Napas Tami seolah terkecat. Ia terharu hingga air matanya keluar dan semakin erat memeluk Sonia dengan senyum bahagia.




“Tami! Jangan keras-keras!”



Utami atau biasa dipanggil Tami adalah teman Sonia saat les menjelang ujian kelas 6. Mereka beda sekolah, tetapi sering mendapat kelas di jam yang sama sehingga mereka cepat berteman. Dulu dia bermain bola juga, tetapi bola basket. Berbanding terbalik dengan Sonia, sehingga tiap kali mereka mengobrol sambil berdiri pandangan mereka tidak pernah lurus.



Setelah memasuki gedung, Sonia memperhatikan sekelilingnya. Siswa-siswi baru bertukar sapa dengan satu sama lain atau kakak kelas, ekskul olahraga yang sering latihan pagi, juga suasana sekolah yang berbeda dari tempatnya dulu. Tidak banyak teman satu SDnya yang masuk kemari, jadi ia agak kesepian.



“Son? Kenapa ngelamun?” Utami menatapnya dengan bingung. Sonia buru-buru menggeleng dan bergegas masuk.



“Bukan apa-apa!”



“Hei! Tunggu!”



Dari jauh, gadis berambut kuncir kuda tengah menguyah roti coklat sambil menyaksikan interaksi keduanya. Tawa kecil keluar melalui bibir mungilnya. Setelah membuang sampahnya ke tempat sampah dengan tepat sasaran, ia ikut masuk gedung seiring berbunyinya bel masuk.