Kick and Dash!

Kick and Dash!
Episode 4



Bel tanda waktunya pulang telah berbunyi. Beberapa kelas terdengar riuh sesaat. Tidak lama kemudian bunyi decitan kursi, meja, pintu bersahutan satu persatu. Lorong yang tadi sepi sekarang penuh dengan siswa-siswi. Ada yang hendak pulang ke rumah segera, jalan-jalan untuk main atau berbelanja dengan teman, dan melaksanakan kegiatan klub.



Sonia sendiri langsung kembali bersemangat setelah bel berbunyi dan terbebas dari rasa bosan. Setelah membereskan semua barangnya, ia berniat memberitahu Utami dulu kalau ia akan melihat latihan klub sepakbola. Melihat Jasmin yang masih beres-beres, Sonia mendapat ide.



“Min, mau ikut lihat latihan klub bola nggak?” sayangnya, Jasmin tersenyum kecut sambil menggeleng mendengarnya.



“Sori Son, aku mesti bantu ibu di warung. Bapak masih belum sembuh.” Sonia merasa tidak enak mendengarnya.



“Oh, maaf aku nggak tahu Min,” Jasmin tersenyum lebar sambil menggeleng.



“Kan aku aja yang belum pernah cerita Son. Santai aja. Ya udah, aku duluan. Kabar-kabari ya nanti.”



Jasmin berbalik pergi meninggalkan kelas. Sonia seperti diperlihatkan sedikit sosok yang disembunyikan Jasmin melalui senyum dan keramaiannya. Mungkin dia begitu karena hanya di luar rumahnya saja bisa melepas penat sejenak.



“Kapan-kapan aku mampir ke warungnya deh.”



Sonia berjalan menuju kelas B, kelasnya Utami. Di sana ia melihat Utami yang masih asyik mengobrol dengan teman sekelasnya. Sambil mendekat, ia menangkap pembicaraan mereka.



“Utami, yuk main bareng. Ada tempat main baru di JT Mall.”



“Nonton aja gimana? Kebetulan pas aku kosong nih.”



Satu persatu dari mereka berusaha mengajak Utami. Utami sendiri kelihatan berusaha menolak ajakan mereka, tapi ia merasa tidak enak langsung bilang tidak.



“Tam, jadi lihat latihan klub nggak?” suara Sonia membungkam semua orang yang ada di sana. Melihat sahabatnya datang, Utami menjadi lega dan menjelaskan ke semuanya,



“Ah maaf. Hari ini aku udah janji sama Sonia mau cek ekskul olahraga. Aku jadi nggak enak ngelihat kalian antusias ngajak, jadi nggak tahu mau bilang apa.”



“Anu nggak apa-apa kok, kita yang mestinya minta maaf karena main maksa aja padahal Utami udah ada janji,” salah seorang mewakili yang lain meminta maaf, yang diikuti anggukan dari semuanya.



“Tapi, kalau kapan-kapan boleh kok. Nanti bisa kita atur waktunya,” mendengar itu, teman sekelas Utami menjadi ceria lagi. Utami mengedipkan mata kepada Sonia sambil membisikkan ‘terima kasih’. Sonia memalingkan muka sambil cemberut dan pergi, membuat Utami syok seperti orang yang baru saja diabaikan pacarnya.



---



“Makasih ya Sonia! Duh, susah banget mau bilang nggak. Aku mau aja, tapi lagi nggak mood.”



“Belajar bilang nggak sana. Kamu berpotensi jadi orang php ntar.”



“Php? Sendirinya, tadi pagi setuju bakal bareng terus. Pas istirahat kutungguin ke mana kamu?”



“Ghk...” balasan Utami tepat sasaran ke hati Sonia. Sebenarnya saat istirahat ia tak berniat keluar sama sekali, tetapi malah menemani Jasmin ke kantin.



Melihat Sonia yang jadi diam, Utami memicingkan matanya.



“Kamu pergi sama siapa? Hah?”



Napas Utami sekarang menyentuh kening Sonia, tapi tidak ada aura sayang sama sekali dari situ. Sonia bingung sebaiknya menjawab apa agar Utami tidak salah paham, tapi akhirnya ia memilih jujur saja.



“Aku nemenin temen sekelasku ke kantin, terus kita jalan-jalan keliling sekolah.”



“Sonia... teganya kamu, meninggalkan daku sendirian untuk yang lain. Kamu mempermainkan perasaanku, lalu kamu hancurkan begitu saja,” Utami berpura-pura sakit hati mendengar jawaban Sonia, tapi Sonia tidak terpengaruh sedikitpun.



“Lebay kamu. Jangan nonton sinetron terus, belajar.”



“Hiks... nggak usah galak gitu dong.”



Sonia merasa ucapannya yang terakhir tadi berlebihan juga karena Utami bicara dengan nada yang kecil sekali.



“Tam, marah ya? Maaf aku kebablasan yang terakhir,” tanya Sonia sambil memegang lengan baju Utami.



“Nggak kok,” Utami masih belum menunjukkan muka pada Sonia.



“Kalau masih marah, aku nggak bakal begini,” Utami menggelitik pinggang Sonia hingga Sonia tertawa terus-menerus.



“Hahaha! Geli, Tam! Ahhaha, udah!”



“Belum! Belum puas!” Utami tidak mendengarkan sama sekali, dan semakin menjadi-jadi.



“Tam... udah... aku... udah nggak kuat...” melihat Sonia yang lemas, Utami tersenyum puas dan tertawa jahat.



“Hahaha! Makanya jangan tinggalin aku sendirian Sonia! Ini belum seberapa!” Utami berhenti tertawa dan mengulurkan tangan pada Sonia. Ekspresinya kembali ke ekspresi Utami yang murah senyum.



“Teman?” Sonia menatap tangan itu, tapi ia justru menyikut Utami.



“Teman.”



Keduanya tertawa bersama setelah bersenang-senang barusan. Namun, mereka berdua berhenti setelah mendengar suara tawa ketiga. Perhatian mereka teralih pada seorang gadis yang sedang tertawa. Merasa curiga apakah ia manusia atau bukan, keduanya bersiap mengambil langkah seribu.



“LARI SON!”



“AAAAH!!”



Keduanya berlari sekencang-kencangnya meninggalkan gadis itu. Ia berhenti tertawa dan mulutnya melengkung muram, kecewa karena ditinggalkan.



“Ah, mereka lari. Mm, padahal aku mau ngobrol sama mereka,” Ia melirik ke jam tangannya, lalu matanya membelalak.



“Aku terlambat!” Gadis itu juga lari meninggalkan tempat itu. Angin bertiup pelan, di tengah kesepian sesudah keramaian.



---



Sonia dan Utami akhirnya berhenti dengan napas tersengal-sengal. Setelah memastikan bahwa mereka tidak diikuti, mereka beristirahat di bangku sambil menarik napas sejenak. Tubuh mereka basah oleh keringat dan suhu yang masih cukup tinggi meski sudah mulai sore tidak menolong mereka untuk mendinginkan diri.



“Kayaknya udah aman Son. Kaget aku.”



Sonia hanya mengangguk saja tanda ia setuju. Ia membuka tasnya untuk mengambil minum, kemudian diteguknya air itu perlahan-lahan. Sensasi dingin dalam kerongkongan membuat tubuhnya tenang kembali.



“Hah! Segar. Eh?” Utami memasang wajah memelas di samping Sonia. Sonia langsung menawarkan botol minumnya dan langsung dihabiskan oleh Utami.



“Fuh! Lega...”



“Air minumku...” Sonia sedikit menyesali keputusannya untuk membagi minumnya sebelum mengingatkan Utami untuk tidak menghabiskan air itu.



“Ah... maaf. Nanti kuganti oke! Ya? Ya?” Sonia menerima maaf dan tawaran Utami dengan anggukan lemah. Berusaha untuk membuatnya semangat lagi, Utami teringat akan tujuan awal mereka.



“Oh ya Son, mending kita ke lapangan sekarang. Ntar mereka udah bubar aja.”



Sonia mengangguk semangat dan bangkit dari duduknya.



“Ayo!”



Setibanya di lapangan, tim sepakbola putri masih pemanasan. Ada yang berlari keliling lapangan, melakukan peregangan, dan ada juga yang menyiapkan peralatan. Keduanya mengambil posisi yang nyaman untuk menonton latihan. Mereka berlatih dengan saling mengoper dengan masing-masing dua orang dan satu bola. Kemudian lari melewati cone, dribbling, dan menembak.



Pikiran Sonia mengambang di lautan nostalgia. Setiap sore berlatih bersama, bersiap untuk bertanding, menang dan kalah, menangis dan tertawa. Rasanya sudah lama sekali. Melihat gadis-gadis itu di lapangan, membuatnya iri.



“Kalau saja, hal itu tidak terjadi...” gumamnya dengan pelan hingga tidak ada orang lain yang mendengar.



Sonia tidak menyadari ada bola yang melambung tepat ke wajahnya. Meskipun satu lapangan sudah berteriak, ia tetap belum sadar.



“SONIA!”



“Eh?” Bola tadi dihentikan oleh Utami yang memanfaatkan jangkauan panjangnya dengan menepis bola itu.



“Kamu kenapa Son? Kok diem aja?” tanya Utami dengan cemas bercampur kesal. Sonia terkejut, lalu menggeleng cepat.



“Bu-Bukan apa-apa. Aku melamun saja tadi. Makasih ya Tami.”



“Kirain kamu sakit, ati-ati nanti kesurupan lho. Jadi impas ya kita.”



“...hm.”




“Maaf ya, tadi aku yang menendang terlalu keras. Kamu baik-eh tunggu dulu,” Ia berhenti bicara, kemudian menunjuk mereka berdua. Sonia dan Utami saling bertukar pandang karenanya.



“Ah! Kalian berdua yang tadi kabur setelah ketawa!”



“Kamu kan, yang tadi ikutan ketawa!”



“Loh, kakak yang berlumuran krim?”



Pandangan semuanya berpaling ke arah Sonia. Gadis itu seolah menyadari sesuatu juga, kemudian bertanya.



“Kamu yang tadi ketemu pas istirahat kan? Temenmu mana?” Gadis itu sepertinya tertarik pada Jasmin, akan tetapi jawabannya Sonia memupuskan harapannya.



“Ah, dia sudah pulang. Ada keperluan pribadi.”



“Begitu ya? Sayang sekali.”



“Anu kak...” Sonia hendak bertanya sebelum dipotong oleh gadis itu.



“Risma. Namaku Risma. Kamu berdua?” tanya Risma sekaligus memperkenalkan diri.



“Sonia kak. Salam kenal.”



“Namaku Utami.”



“Maaf ya sekali lagi soal tadi. Apa kalian ke sini mau lihat latihan kami?” Keduanya mengangguk, lalu Sonia bertanya lagi.



“Kalau begitu saya boleh ikut kak?”



“Hm? Maksudnya?” Risma tidak paham pertanyaan Sonia, sehingga Sonia memperjelas pertanyaannya.



“Boleh saya bergabung dengan tim ini?”



Risma diam sejenak, berpikir. Lalu, menawarkan bola tadi pada Sonia.



“Lawan aku dulu. 1 lawan 1. Jika kamu bisa mencetak gol, aku izinkan bergabung,” tantangnya pada Sonia.



Sonia kalang kabut karena tidak siap atas jawaban itu, dia melirik ke arah Utami yang hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi yang mengatakan ‘terserah kamu sekarang’. Sonia ingin bermain sepakbola lagi. Kalau ini maksudnya untuk menguji apakah niatnya serius atau tidak, maka ia tidak akan menghindar.



“Baik. Aku terima tantangannya.”



Senyum penuh percaya diri mengembang di wajah Risma. Dari sikapnya, ia tidak tahu Risma itu pemain seperti apa. Hal itu membuat Risma menjadi tertarik untuk mencoba kemampuan Sonia.



---



Setelah dipinjamkan sepatu oleh salah satu anggota, Sonia membawa bola itu ke titik putih. Ia melakukan sedikit peregangan, melompat beberapa kali, lalu mengambil jarak. Ia menarik napas panjang sebelum mengambil posisi yang baik untuk menembak.



Di tepi lapangan, Utami mendengar dari anggota tim bahwa Risma adalah kapten sekaligus pemain andalan tim. Sejauh ini, rekor kebobolannya cukup rendah. Paling banyak ia hanya kebobolan 2 gol dalam 1 pertandingan.



“Anak kelas 7 itu berani juga nerima tantangan kak Risma. Selain kak Olivia, di klub ini belum ada yang bisa ngebobol gawang kak Risma,” terang salah satu anggota.



Mendengar informasi tambahan itu, Utami menegak ludah. Dalam hati, ia berharap temannya bisa membobol gawang Risma. Namun, itu sebelum ia mendengar soal Risma lebih banyak.



“Sonia! Berjuang!” Teriaknya untuk menghapus ketegangan dalam dirinya sendiri dan juga Sonia. Sonia cukup membalasnya dengan mengacungkan ibu jarinya.



“Temanmu ngedukungnya semangat sekali. Sampe iri aku.”



“Hehe, Tami memang begitu orangnya. Kalau ada dia, semangatku naik jadi 200%!”



“Ho? Ya udah, kita lihat sekarang apa semangatmu bisa membantumu membobol gawangku.” Risma membenturkan kedua tinjunya sebelum bersiap. Ia memberi isyarat pada temannya untuk meniupkan peluit.



“Baiklah!” Sonia mengangkat kaki kanannya, lalu diayunkannya hingga bola yang diam di titik putih terbang menuju gawang. Bola itu bergerak lurus tepat ke arah Risma.



“Ah! Gagal!” Utami berteriak putus asa, tapi senyum Sonia membuat Risma waspada. Sesaat sebelum tiba di hadapannya, bola itu berbelok ke kiri bawah. Risma menurunkan lengannya, berharap bisa menepisnya. Namun, kecepatan bola meningkat dan melesat ke pojok gawang.



“Gol!” Sonia merayakan sendiri keberhasilannya memasukkan bola. Utami berlari dan menepuk punggungnya dengan keras; ikut dalam selebrasi, sedangkan anggota tim sepakbola diam seribu bahasa. Mereka tidak menduga pelindung mereka bisa ditembus seperti itu, bahkan menggunakan tendangan yang berubah arah secara tiba-tiba.



“Kapten... kebobolan?”



“Tendangan barusan, tiba-tiba belok dan tambah cepet?”



“Tidak disangka...”



Risma memandang bola yang sekarang diam di tepi gawang. Ia meremehkan lawannya sehingga kewaspadaannya berkurang. Pelan-pelan ia ambil bola itu dan dilemparnya kembali ke arah Sonia.



“Eh?” Sonia tidak mengerti kenapa Risma melakukan itu. Lalu Risma berteriak padanya,



“Sonia! Tadi itu masih belum apa-apa. Latihan yang sebenarnya baru akan dimulai. Hei semua! Jangan bengong ambil posisi masing-masing.”



“Terus kak? Aku diterima apa gimana?”



“Hahaha, masih tanya juga. Menurutmu kenapa aku kasih kamu bola itu? Ketika kiper memberikan bola kepada pemain, ia menyampaikan pesan untuk mencetak gol. Dan itu adalah tugasmu mulai sekarang. Jadi Sonia, kamu diterima!”



Sonia dan Utami berpelukan sambil tertawa gembira. Risma menggeleng melihatnya, tapi tahu kalau targetnya tahun ini bisa tercapai dengan adanya Sonia. Setelah latihan, Sonia memperkenalkan diri kepada semuanya dan mulai ke depannya mereka adalah rekan setim.



“Mohon bantuannya kakak-kakak semua!”



“Mohon bantuannya juga!”



Kemudian Sonia mengobrol dengan mereka tentang tendangannya yang berhasil membobol gawang Risma. Kerinduannya akan suasana ini selama beberapa bulan terbayar sudah. Meskipun, di lubuk hatinya ia berharap beberapa temannya juga ada di sini.



Di sisi lain, Risma tengah berbicara dengan Utami. Sepertinya, keahlian Utami dalam menghadang bola tadi memberikan kesan baik padanya. Ia berniat merekrut Utami sebagai pemain belakang atau kiper.



“Aku main sepakbola? Hmm, maaf ya kak. Aku berniat masuk ekskul basket. Aku ke sini cuma ingin nemenin Sonia aja.”



“Kelihatan sih dari posturmu itu, kamu pasti main basket dulunya sama kayak Sonia yang main bola ‘kan?” Utami mengangguk. Risma menghela napas.



“Sayang ya. Padahal aku mau kamu jadi anggota barisan pertahanan tim ini, tapi aku juga nggak mau maksa,” Risma meluapkan kekecawaannya, tapi nada bicaranya penuh pengertian akan keputusan Utami. Utami jadi lega dibuatnya.



“Terima kasih pengertiannya kak.”



“Tapi kalau misalnya kamu mau gabung tanpa perlu main, kita buka lowongan manajer kok,” ucap Risma seraya menatap Utami dengan pandangan menggoda. Utami buru-buru berpaling dan itu membuat Risma tertawa kecil.



Di kejauhan, 2 gadis tengah sedang memperhatikan interaksi di lapangan sepakbola. Salah satu berniat pergi, sebelum dihentikan oleh yang satunya.



“Nggak nyambut anak baru itu?” tanyanya pada gadis yang memunggunginya. Gadis yang berniat pergi tadi menghela napas dan menggaruk kepalanya. Lalu ia menguap cukup keras hingga gadis satunya tak bisa menahan untuk menepuk kepalanya.



“Aw sakit!”



“Nggak sopan.”



“Dih. Udah ya, kalau mau kamu aja yang ke sana. Aku ngantuk, mau pulang.”



“Hei!” Tidak mengindahkan panggilan temannya, gadis tadi hanya mengangkat tangan kanannya sambil berjalan pergi. Gadis yang ditinggal mendengus, sebelum melihat lagi ke lapangan.



“Risma...” bisiknya pelan sambil berbalik pergi mengikuti temannya barusan.



---



Sesampainya di rumah, Sonia segera mengabari Jasmin soal keberhasilannya menjadi anggota tim. Balasan dari Jasmin pun berisi dukungan dan selamat. Sonia lega karena Jasmin kembali ke sifatnya yang ceria. Mereka mengobrol beberapa saat sebelum Jasmin pamit untuk tidur duluan. Sonia kaget melihat jam sudah menunjukkan pukul 22:00. Ia buru-buru mematikan lampu dan bersiap-siap tidur. Sebelum terlelap, ia melihat pada foto berbingkai di dinding.



Di situ wajahnya terlihat bahagia sekali saat mengangkat piala, dikelilingi teman setimnya. Ada 2 sosok yang menarik perhatiannya di foto itu. Gadis yang tersenyum di sisi kanan Sonia sambil memasang pose peace dan gadis lain di samping gadis itu yang berpose dengan mengepalkan tangan. Senyumnya tipis, tapi selalu menyejukkan hati tiap melihatnya. Kelopak matanya mulai berat, dan perlahan Sonia diserbu rasa kantuk yang kuat. Sebelum beranjak ke alam mimpi, dari mulutnya keluar 2 nama.



Anna...



Dorothee...