
Catur tidak pernah bermain serius dalam seumur-umurnya main sepakbola. Dengan kemampuan mereka yang melebihi anak-anak pada umumnya, kemenangan bisa dipastikan menjadi milik mereka setiap saatnya. Cukup dengan mendominasi dan menjatuhkan semangat lawannya, yang perlu dilakukan Catur adalah memastikan angka yang sudah dicetak kakaknya agar tidak bersandingan dengan angka lain selain 0.
Tapi hari ini berbeda. Kali ini, ia berhadapan dengan orang yang membuatnya tertarik. Seseorang yang membuat dirinya sampai ingin menjajal hal yang tidak biasa dilakukannya. Namanya Sonia. Gadis yang rela mengorbankan waktu bermainnya agar timnya tidak diberhentikan. Catur tidak mengerti. Tindakan itu bodoh sekali menurutnya. Kalau memang ia sebanding dengan salah satu dari para kembar, berarti semisalnya tim diberhentikan pun, ia bisa main di tim luar dengan bebas.
Gadis ini bertanggung jawab bagi pertama kalinya tim yang ada dirinya, dibobol. Ia tidak terima dipermainkan dengan strategi sesimpel itu. Napasnya memburu dan tidak sabar mendengar peluit wasit dibunyikan.
Tepat saat peluit dibunyikan, Catur menendang pelan bola hingga melambung di depannya. Saat yang lain sibuk berpikir, Catur melompat dan menendang keras bola itu. Bola terbang bebas menuju gawang Fireflies. Sayangnya, bola melengkung jauh hingga Risma merasa tidak perlu mengejar bola yang akan keluar lapangan tersebut.
“Wew, Catur! Lumayan juga tendangan barusan!” Eka memuji dengan tulus. Catur menoleh sekilas dengan tatapan yang bertujuan meminta Eka untuk tutup mulut. Eka buru-buru sembunyi di belakang Dwi, yang hanya bisa tertawa paksa.
Risma langsung mengembalikan bola ke tengah. Sonia menerima bola lagi, lalu melirik ke arah Gita dan Ayu. Dengan gerakan kepala yang pelan, mereka berdua maju meninggalkannya.
“Oi, mereka maju.”
“Kejar!”
Dwi dan Eka langsung mengejar kedua pemain barusan. Sekarang, Sonia berhadapan satu lawan satu dengan Catur. Sonia berniat menggunakan dribble gravitasi rendah seperti Dwi untuk melewati Catur. Catur dengan sigap ikut merendahkan tubuhnya sambil memblokir jalur maju Sonia. Sonia mencoba menggunakan tipuan kanan-kiri, yang justru membuat bolanya direbut paksa oleh Catur dengan adu badan.
Pak Dani menghentikan pertandingan ketika Sonia terjatuh. Catur diberi peringatan karena dianggap kasar. Catur hanya menggeleng sambil mengambil posisi agak jauh supaya Sonia bisa mengambil tendangan bebas. Sonia berniat mengoper jauh pada Ayu, tapi dengan cepat dipotong oleh Catur.
“Jangan berpikir kalau urusanmu sudah selesai denganku!” Catur berteriak sambil berlari menuju Sonia. Rekan setimnya kaget melihatnya.
“Catur! Pertahanan terbuka, maju!”
“Berisik!” Dwi terkejut mendengar adiknya berkata seperti itu. Catur terbawa emosi dan tidak berpikir jernih seperti biasanya. Memanfaatkan guncangan tiba-tiba tersebut, Ayu langsung melarikan diri dari penjagaan Dwi.
“Celaka!”
“Dasar!” Tidak memedulikan penjagaannya pada Gita, Eka ganti yang mencegah Ayu meloloskan diri. Namun, Gita tidak semudah itu membiarkannya pergi.
“Hei, lawanmu di sini.”
“Ugh!”
Eka menggigit bibirnya. Melihat Dwi belum kembali fokus dan Tri berada jauh di belakang, ia tidak bisa apa-apa selain mencoba meloloskan diri. Sementara itu, Catur menantang Sonia lagi dengan memanfaatkan kekuatan fisiknya untuk membuatnya menghindar, tapi Sonia tidak mau kalah. Seraya memiringkan tubuhnya, ia mengaitkan kakinya pada bola.
“Itu lagi? Percuma.” Catur memandang Sonia dengan senyum mengejek, tapi senyumannya lenyap ketika Sonia tidak panik sedikitpun. Kebingungan Catur terjawab ketika dari samping kaki panjang Ayu menyapu bola keluar.
“Sekarang giliran kami.” Ayu tanpa membuang waktu segera berputar dan maju ke arah gawang lawan. Bersama dengan Gita, mereka berdua bertukar umpan sambil menghindari Eka dan Dwi yang kerepotan. Tri akhirnya ikut turun tangan sebelum bola dioper lagi ke belakang. Sonia bersiap menyambut datangnya bola, sebelum berkata pada Catur.
“Sepakbola tidak bisa dimainkan sendirian.”
Catur serasa disengat listrik oleh kata-kata Sonia. Dilihatnya gadis itu sudah maju lagi meninggalkannya. Sendirian. Bodoh, kutuknya dalam hati sambil menginjak rumput kuat-kuat. Dilihatnya ketiga kakaknya yang tengah berjuang untuk merebut bola.
“Hentikan dia! Jangan sampai gol lagi!”
“Rebut, terus kita kasih ke Catur!”
“Oi Catur, tunggu saja! Bolanya bakal kukasih!”
Dwi, Tri, dan Eka masing-masing meneriakkan pemicu semangat untuk mereka semua. Tidak mau kalah, Sonia dan teman-temannya juga ikut berteriak.
“Jangan remehkan Fireflies ya!”
“Asal ada teman-temanku, aku nggak akan kalah!”
Penonton pun akhirnya ikut meneriakkan dukungan tanpa henti untuk kedua belah pihak. Saling berebut, saling beradu, berjuang demi kemenangan masing-masing sekuat tenaga. Catur tertegun melihat wajah mereka. Penuh peluh dan kotoran, tapi mereka tampak menikmati permainan. Catur menunduk. Tubuhnya bergetar sambil menggigit bibir.
Apa yang aku lakukan? Dia benar. Aku kebawa emosi sampe lupa hal yang dasar dari sepakbola. Apa berarti, aku nggak pantas main sepakbola?
“CATUR!” penyesalan Catur dihentikan paksa oleh teriakan dari pinggir lapangan. Matanya yang basah menatap sang kakak yang berdiri persis di samping garis sekarang.
“Kenapa diam saja? Pertandingan belum selesai!”
Ah, iya benar. Kenapa aku...?
“Jangan biarkan musuh mencetak angka! Kamu lupa peranmu di lapangan sebenarnya apa?”
Peranku. Peranku...
“Duo katrol tidak akan berfungsi kalau hanya satu saja yang bekerja!”
Ya. Aku dan kak Tri adalah duo katrol. Kami yang menjaga gawang.
“Cepat bantu mereka dan cetak gol kemenangan! Lalu, rayakan bersama-sama!”
Mengerti kak Rangga. Baiklah!
Catur menggerakkan kakinya menuju kerumunan yang tengah bergumul berebut bola. Kehadirannya yang tiba-tiba mengejutkan Sonia yang sekarang menguasai bola.
“Catur!”
“Ah!”
Sonia berputar untuk menghindar, tapi Tri sudah bersiap menunggu.
“Sonia!” Teriakan seseorang dari belakang membuat Sonia bereaksi untuk membuang bola. Rupanya Wati telah maju sampai area pertahanan tanpa disadari.
“Tembak!” Tanpa pikir panjang, Wati melepaskan tembakan jarak jauh. Utami terkejut dengan munculnya bola di depannya, dan refleks menutup wajahnya dengan memposisikan kedua tangannya di depan wajah. Bola mengenai kedua tangannya dan melambung tinggi di depan gawang.
“Bagianku!”
“Haaah!”
Eka dan Ayu berlomba mengejar bola muntah itu, tapi seseorang sudah lebih dulu mencapainya dan menyundulnya langsung ke dalam gawang.
“GOOOOOOOOL!” Peluit panjang tanda pertandingan berakhir dibunyikan. Fireflies berhasil membalikkan situasi dan unggul selisih satu angka. Sonia menghirup napas dalam-dalam, lalu melompat sambil bersorak.
“YEEEEEEES!”