
Lapangan latihan sore itu lebih ramai dari biasanya. Bukan hanya pemain tim sepakbola saja yang hadir, melainkan beberapa siswa dan siswi ikut memenuhi penjuru luar lapangan. Dari mulut mereka tak henti-hentinya membicarakan soal apa yang akan terjadi. Tidak hanya itu, beberapa guru pun ikut penasaran karena lapangan sepakbola biasanya tidak sepadat ini.
Semua bermula dari pengumuman tadi pagi di mading. Sore di lapangan sekolah, akan diadakan pertandingan antara tim ekskul bola Putri melawan 4 bersaudari. Mereka memang populer di kalangan sekolah. Pintar, cantik, dan serba bisa. Kepribadian mereka yang beragam pun menjadi daya tarik tersendiri.
Tentunya para penggemar dari masing-masing gadis tertarik untuk melihat keempatnya beraksi. Pertama kalinya mereka mendengar kalau ternyata keempatnya main sepakbola di luar sekolah. Bahkan nama kakak mereka ikut dibahas, tidak aneh jika mereka mengerti soal sepakbola dari kakaknya. Semua rasa penasaran ini menarik minat semua orang pada tim sepakbola yang terlibat insiden di pertandingan hari Minggu.
Di lapangan, Sonia bersama Risma, Wati, Ayu, Gita tengah pemanasan. Keempatnya dihubungi secepatnya semalam oleh Sonia. Mereka sempat terkejut karena tiba-tiba, tetapi setelah dijelaskan situasinya, mereka mengerti betapa pentingnya pertandingan ini. Pemain yang lain turut hadir juga. Tim Putra tampak tidak senang karena harus memberikan waktu untuk pertandingan yang di luar kesepakatan mereka, tetapi Rangga berhasil melunakkan mereka dan pelatih. Dalam hati sejujurnya, mereka tertarik melihat penampilan gadis yang berhasil membuat mereka kewalahan tempo hari.
Di sisi lapangan satunya, 4 bersaudari sedang merenggangkan tubuh mereka bersama-sama. Beberapa siswa bersiul sambil memanggil mereka. Mereka hanya menyahut dengan senyum sebelum fokus pada pemanasan lagi. Namun, ada yang menceletuk melihat jumlah pemain di lapangan.
“Hei! Tim Putri kok ada 5? Masa’ 5 lawan 4?” Satu persatu akhirnya ikut memprotes situasi ini. Sonia sendiri tidak mengerti soal kenapa 4 bersaudari meminta 5 lawan 5, sementara mereka cuma berempat. Tiba-tiba, ia dikejutkan oleh seseorang yang berteriak dari bangku pemain.
“DIAM! Soal itu aja ribut semua! Oi, bocah-bocah! Kalian punya pemain kelima apa nggak?” Semua terdiam melihat satu sosok yang asing di antara pemain Fireflies. Pria itu mengenakan jaket klub Eropa dan celana bahan warna coklat. Sepatu ketsnya tampak lusuh, sepertinya karena sering digunakan dan jarang dicuci. Kacamata hitam dan rambut poni yang menjadi ciri khasnya membuat Utami dan Jasmin yang berdiri tidak jauh dari situ segera mengenali dan memanggilnya.
“Bang Rian!” Rian terkejut sambil pelan-pelan menoleh ke arah dua siswi yang menghampirinya.
“Kalian berdua kenal sama paman ini?” tanya Lili yang beberapa kali menjaga jarak dari Rian. Utami mengangguk.
“Kami ketemu dengannya saat pertandingan lawan Dragonflies. Bang Rian kenapa ada di sini?” Utami bertanya sambil memiringkan kepalanya di samping Rian. Rian berdeham, lalu menjawab.
“Soal itu nanti kuceritain. Hei, ada nggak pemain kelima kalian?” teriaknya lagi pada 4 bersaudari. Mereka saling bertatapan lalu semuanya mengalihkan pandangan pada Catur. Catur menghela napas sebelum berlari ke arah bangku pemain.
“Kebetulan, pemain kelima kami dateng juga. Kamu, cepetan ganti baju sama pemanasan. Kamu jadi kiper kami.” Dengan seenaknya, Catur menunjuk Utami yang sontak dibalas oleh reaksi marah oleh para pemain.
“Hei, jangan bercanda kamu!”
“Iya, masa’ kamu asal tunjuk aja!”
“Lagian dia bukan pemain sepakbola.”
“Justru itu.”
Semuanya dibuat bingung oleh balasan tenang dari Catur. Matanya naik turun melihat Utami, sebelum akhirnya tersenyum.
“Karena dia bukan pemain sepakbola, maka tidak akan ada sabotase untuk pertandingan ini yang membuat kami akan kalah.”
“Eh? Aku beneran nggak bisa main bola lho. Terus, aku temennya Sonia.” Utami menerangkan alasan yang kuat untuk menolak, tapi Catur tidak menyerah.
“Tapi kamu tetep atlit juga ‘kan? Kamu mesti paham soal saling berhadapan sama teman sendiri. Buktikan kalau kamu serius soal mendukungya. Bagus juga buat kalian berdua untuk pengembangan mental.” Utami terdiam mendengar penjelasan Catur. Memang ia tidak pernah main sepakbola sebelumnya, tapi ia sendiri akhir-akhir ini mulai mencari tahu soal sepakbola agar bisa mendukung Sonia tanpa terkesan seperti penonton karbitan.
Utami melihat ke arah semuanya. Semuanya memberikan tatapan yang berkata ‘semua terserah padamu’. Hingga ia melihat ke arah Sonia. Sonia menempelkan kedua tangannya seperti memohon. Akhirnya, Utami menghela napas dan meminta perlengkapan kiper dan seragam pada tim. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan wajah merah.
“Ohoho.” Reaksi Catur cukup mewakilkan reaksi orang-orang. Pakaian yang digunakan oleh Utami adalah milik Risma. Ukurannya yang lebih kecil dari Utami memberikan kesan yang ‘mengalihkan’ bagi yang melihat. Karena kasihan, akhirnya tim putra menawarkan untuk meminjamkan pakaian yang lebih sesuai. Setelah urusan itu selesai, Utami dan Catur bergabung dengan rekan setimnya.
Masing-masing kubu menyusun strategi sebelum bersalaman di tengah lapangan. Yang menjadi wasit adalah Pak Dani. Kick-off akan dilakukan oleh Fireflies. Risma sudah bersiap di depan gawang seperti biasa. Wati menjadi bek tunggal, sementara Gita dan Ayu mengisi lini tengah, dan Sonia menjadi striker. Formasi tim lawan tidak jauh berbeda.
Utami sebagai kiper, Tri dan Catur di belakang, Dwi di tengah, dan Eka menjadi penyerang tunggal. Sonia menoleh ke arah teman-temannya di pinggir lapangan. Dalam hatinya, ia menyemangati dirinya untuk menang dan meyakinkan keempat lawannya untuk bergabung. Dengan segenap kemampuannya.
---
Peluit pertandingan dimulai telah ditiup bersamaan dengan sorakan dan tepuk tangan dari penonton. 15 menit yang menentukan berkurang tiap detiknya. Sonia masih terdiam di lingkaran tengah. Ayu dan Gita bersiap maju bersamaan dengan Sonia, begitu juga Eka dan Dwi. Namun yang dilakukannya mengejutkan semua orang.
“HAAH!!” Sonia menembakkan bola dari tengah lapangan. Eka dan Dwi langsung memutar kepala mereka ke arah gawang sesaat setelah bola terbang melewati wajah mereka. Kedua pemain bertahan pun terlambat bereaksi dan sekilas kepanikan menyeruak di wajah mereka.
“Celaka!” Tapi bola berhenti tepat di pelukan Utami. Di debut sepakbolanya, ia berhasil mencegah timnya kebobolan.
“OOOOOO! Hebat!” Sorakan pujian menggema dari penonton, membuat Utami terkejut. Sedetik kemudian, ia langsung melempar bola pada Catur. Catur melihat ke arah Sonia, lalu kembali pada Utami. Ia tersenyum. Ia mengerti kenapa Sonia melakukannya.
Ia ingin membuat Utami rileks tanpa perlu memikirkan apakah hubungan mereka bisa terputus karena pertandingan ini. Bagi Sonia, pertandingan tetap pertandingan. Urusan pribadi tidak perlu dilibatkan. Dan yang terpenting, ia ingin menguji permainan temannya sendiri.
“Kak Gita, Kak Ayu!”
“YA!”
Dengan satu komando dari Sonia, Gita dan Ayu masing-masing bergerak menghadang Dwi dan Eka. Berdasarkan informasi dari Sonia, mereka memahami kemampuan keduanya. Dwi yang mahir memanfaatkan giringan yang mampu menjaga keseimbangan sambil menguasai bola, serta Eka yang memiliki daya pegas. Untuk itu, mereka berdua adalah lawan yang cocok dalam menguji latihan man-marking yang Gita dan Ayu lakukan.
“Oh, apa ini? Mau menjagaku?” tanya Eka dengan santai. Ayu tak memberi jawaban selain mengikuti tiap pergerakan Eka untuk coba meloloskan diri. Melihat jalur operannya dipotong, Dwi buru-buru mencari celah lain. Ia berlari ke sisi luar untuk menghindari Sonia dan Gita. Gita ternyata sudah menduga itu dan melancarkan sliding tackle.
“Ugh!” Dwi terjerembap dengan ekspresi terkejut. Pertama kalinya bola direbut darinya. Di pinggir lapangan, Rangga tertawa kecil.
“Keputusan tepat menyuruh mereka bertanding,” katanya sambil menyeringai yang membuat rekan setimnya bingung seolah ia senang adiknya dipecundangi seperti itu, tapi akhirnya mereka membiarkannya saja.
Kembali ke permainan, Gita tidak menunggu lama untuk memberikan umpan jauh yang diterima oleh Sonia. Tanpa halangan, ia berlari sampai ke area pertahanan musuh. Duo pertahanan katrol sudah menanti di sana.
“Tahan dia!”
“Ayo Catur! Tri!”
“Terus Sonia!”
Sahut-sahutan dukungan dari masing-masing tim membakar semangat mereka bertiga. Sambil melirik satu sama lain sekilas, Tri maju berhadapan dengan Sonia. Keduanya berebut bola sambil berusaha melepaskan diri dari tempelan masing-masing. Dari situ, perbedaan fisik terasa bagi Sonia.
Tri memiliki tubuh yang terasa tahan banting dan bisa dengan mudah mendorong Sonia beberapa kali dengan sapuan tangan saat berebut bola. Biar begitu, keuntungan tubuh yang lebih kecil dan lincah dimanfaatkan dengan baik olehnya. Sesaat sebelum Tri hendak melingkarkan dirinya untuk mencegah Sonia bergerak, Sonia meluncurkan tubuhnya di bawah Tri dan berlari meninggalkannya.
“Bagus Sonia!” Teman setim Sonia meluapkan kegembiraan. Meskipun begitu, satu orang tidak tersenyum sama sekali. Ia masih bersedekap sambil mendiamkan semuanya dengan satu ucapan.
“Belum selesai, masih ada bocah satu itu.”
Yang dikatakannya memang benar. Masih ada satu pemain bertahan di situ, yaitu Catur. Catur melihat kakak-kakaknya dibuat tak berkutik satu persatu. Setidaknya, ia tidak boleh meremehkan Sonia. Matanya tak lepas dari figur Sonia yang semakin mendekat dengannya.
Tidak akan kubiarkan kamu mempermalukan kami lebih dari ini!
Dengan pijakan kuat, Catur meninggalkan posnya dan jarak antara keduanya semakin berkurang hingga mereka nyaris bertabrakan. Sonia yang menyadari Catur tidak akan mundur, juga sudah menyiapkan teknik andalannya. Tepat sebelum kaki mereka beradu, Sonia mengunci bola di antara kedua kakinya dan menghindar ke samping. Namun, Catur belum selesai sampai di situ.
“Kena kamu!” sambil menjatuhkan tubuhnya, Catur menggunakan kaki kanannya untuk mencongkel bola dari Sonia. Ketika Sonia bersikeras untuk menahannya, Catur dengan paksa mengambilnya hingga Sonia kehilangan keseimbangan.
“Ah!”
“Good job Catur! Kemarikan!” teriak Eka sambil melambaikan tangannya.
Catur memberikan umpan lambung dengan suara yang keras ketika kakinya bertemu dengan bola. Di saat perhatian semua orang tertuju pada bola, Rian berteriak keras.
“AYU! Jaga Eka!” Baru saja Ayu mengembalikan fokusnya pada Eka, Eka sudah melesat seperti roket luncur meninggalkannya. Awalnya semua berpikir kalau tindakan Eka adalah bodoh, tapi bagi yang paham Eka sebenarnya sangat cerdik. Hanya dengan melihat ke arah mana bola ditendang, ia tinggal memposisikan dirinya untuk menerima bola. Ayu dengan sekuat tenaga mengejar dan akhirnya berhasil mencapai Eka. Namun, Eka melakukan hal yang tak terduga.
Ia melompat tepat saat Ayu mencapainya dan sambil memutar tubuhnya di udara, ia melepaskan tendangan first-time. Wati tidak sempat bergerak, sementara Risma berhasil membaca arah bola dan menangkapnya, tetapi bola tidak mau berhenti dan dengan paksa lepas dari tangannya dan masuk ke gawang.
“1-0!” Penonton bersorak dan bertepuk tangan sebagai apresiasi, sedangkan Rian mendengus kesal dan pemain Fireflies menjadi sunyi.
“Yeah! Gol!” Eka berjingkrak-jingkrak sendirian sebagai selebrasi sambil mengangkat jempol tinggi-tinggi pada adiknya di belakang, yang juga membalasnya dengan hal yang sama. Catur menoleh sekilas pada Sonia, lalu mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
“Maaf ya. Apa tadi kekencengan?” tanyanya dengan tulus. Sonia menggeleng, memegang tangannya, dan berdiri. Ia segera berlari kembali ke arah timnya. Sekembalinya ke sana, Ayu dan Gita menghampirinya. Begitu juga Wati yang tergopoh-gopoh. Keempatnya saling meminta maaf dan saling mengingatkan kalau mereka tidak salah.
Di sisi lapangan, Rian mengeluarkan sebatang Picky sambil menggigitnya dengan kencang dan menahan sisanya di mulut. Di luar penampilannya yang tampak berpikir keras, tapi sebenarnya pikirannya sangat tenang. Melihat Sonia yang berusaha meyakinkan teman-temannya sambil meracik strategi, ia jadi penasaran.
Nah, kita lihat apakah ucapan dan usahamu itu serius, Sonia.