Insecure!

Insecure!
Bersembunyilah!



"Bu Martini adalah tuan tanah yang memiliki beberapa bangunan dan kios-kios di sekitar daerah ini. Dari sini sampai ke sana, keluarga besarnya yang menguasai," terang Paman Hendri.


"Bagaimana dengan sewanya, Paman? Maksud saya, dibayar per hari, per bulan, atau ...."


"Per minggu, Anak Muda. Tapi selain itu, bagi para penyewa juga dikenakan upeti pada hari-hari tertentu," ungkap Paman Hendri.


"Hari-hari tertentu, maksudnya?"


"Misalnya di hari-hari besar, seperti merayakan hari raya atau ketika ada festival di wilayah ini."


"Oh iya, Paaman. Saya mengerti sekarang," ucap Moreo sambil manggut-manggut.


Lelaki berparas tampan itu kemudian memilih tempat duduk di bagian pojok belakang, dekat dengan jendela yang terbuka. Ia menyandarkan punggung sambil memerhatikan jalan sekitar. Bola matanya tidak berhenti membidik di segala sisi seperti mencari sesuatu.


"Apa Anda mencari aku, Tuan?" Tiba-tiba Canva melongok dari balik sekat pembatas ruangan yang terbuat dari anyaman rotan.


"Jangan terlalu percaya diri, Nona," jawab Moreo sedikit gugup. Karena, apa yang disebut oleh gadis itu adalah kenyataan yang sedang terlintas di benaknya.


"Hahaha. Anda sepertinya sedang berbohong," ujar Canva sambil mengipas-kipas wajah cantiknya dengan sobekan kertas tebal.


"Gadis gila yang suka berasumsi!" kata Moreo, menekan kalimatnya yang terakhir.


"Apa kalian mau makan mie?" tanya Paman Hendri, menyela percakapan sepasang muda mudi itu.


"Nanti saja, Paman. Saya tadi pagi sudah makan," sahut Moreo sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketnya.


"Anda merokok, Pak?" tanya Canva sambil membidik tembakau berbalut kertas cokelat di tangan Moreo.


"Selain gila, kau ternyata buta juga," jawab Moreo datar. "Nggak usah panggil tuan atau pak segala, karena aku bukan majikan kamu," lanjutnya.


Mendengar hal tersebut, Canva ingin marah, tetapi melihat lelaki itu cuek, ia tidak bisa berbuat banyak selain mengetatkan rahangnnya yang terlihat sempurna untuk ukuran wajah cantik seorang gadis.


Berselang beberapa menit kemudian, derap tegap beriringan terdengar melangkah ke arah kedai mie. Paman Henri mengintip dari jendela karena mengira ada beberapa pelanggan yang datang. Ternyata, mereka tak lain dan tak bukan adalah dua petugas yang masih berkeliling merazia para pedagang nakal.


Paman Henri mengambil biola milik Canva, lalu meletakkan ke bawah etalase. Sementara, Indra cepat-cepat menarik sepeda milik Moreo dan menggiringnya ke sebuah ruangan yang terdapat di belakang dapur.


"Ada apa?" tanya Moreo dan Canva serentak.


"Kalian bersembunyilah jika esok masih ingin mencari uang," jawab Paman Henrdri tergesa-gesa.


Canva melongok, memastikan siapa yang menuju ke kedai mie. Lalu menarik lengan Moreo, dan menyeretnya ke belakang yang di mana ia sering bersembunyi dari kejaran para petugas.


"Ada apa, Nona?" tanya Moreo sambil menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman gadis itu.


"Ada petugas," jawab Canva setengah berbisik, lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir Moreo.


Moreo pun membeku untuk sesaat, hingga kesadaran kembali, membuatnya menguak jemari gadis itu dari bibirnya.


Akan tetapi, Canva kembali mempertahan tangan di posisinya sambil mencetak lengkungan di bibir sensualnya. Lagi, Moreo menolak diperlakukan seperti itu, hingga tangan kekarnya melayang, nyaris mengenai pipi sang gadis sebelah kiri, jika saja gadis itu tidak mengelak dengan cepat.


"Jangan membantah jika besok kamu ingin tetap mencari uang di wilayah ini!" ujar Canva tegas.


Canva kemudian bangkit dari tempat mereka berjongkok tadi, lalu mencari tempat persembunyian yang lain. Otaknya segera berdiskusi untuk mencari cara agar bisa menguasai wilayah itu tanpa melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.


Kakinya kembali terpancing saat kedua bola matanya menangkap punggung kekar milik lelaki itu di sela keremangan cahaya, dari balik tumpukan barang bekas yang terdapat di ruangan itu. Langkah yang awalnya pelan berubah menjadi cepat. Tidak ingin kehilangan jejak, Canva pun terus membuntuti lelaki tersebut yang terus berkeliling di ruangan yang tidak begitu luas.


Canva mengikuti Moreo dengan arah yang berlawanan, berharap dapat bertemu di satu titik. Namun, langkah lelaki itu yang begitu terampil tidak membiarkan sang gadis menemukan secepat itu. Keringat sebesar biji jagung mulai membasahi kening yang membuat dirinya memilih untuk beristirahat sejenak, mendaratkan bokong bahenolnya di lantai berdebu, sambil menunggu lelaki itu melewati tempat yang di mana ia duduk saat ini.


Derap Langkah kaki yang semakin mendekat membuat Canva bersiap-siap untuk mengagetkan lelaki itu. Tentunya akan menjadi sebuah permainan yang seru bagi dirinya.


Di saat lelaki itu samar menampakkan batang hidungnya di balik tumpukan barang-barang bekas, Canva langsung bangkit dari tempat duduk dan hendak mengagetkan lelaki tersebut yang kini sudah hampir mendekat. Akan tetapi, sebuah kardus berisi barang-barang bekas malah jatuh, dan terjun bebas dari rak yang berhasil mengalihkan atensinya. Canva terkejut bukan kepalang, sehingga membuat napasnya tiba-tiba terasa sesak karena ternyata benda itu jatuh tepat menimpa perut langsingnya dan di dalam kardus itu ternyata juga terdapat sebuah segel untuk pengusir mahkluk halus dan sejenisnya.


Moreo menghentikan langkah kaki, lalu membalikkan badan sambil menajamkan pedengaran.


"Suara apa tadi?" tanya Moreo pada dirinya sendiri.


"Tolong aku."


Suara Canva terdengar samar oleh Moreo walau berada di ruangan yang sama.


"Anda di mana, Nona, Neng, Mbak? Jangan bermain-main dalam keadaan seperti ini." Moreo terus melangkahkan kaki di sela tumpukan barang bekas.


"Tolong saya, Paman Hendri, atau siapa pun itu." Canva mencoba mengeraskan suaranya, tetapi sedetik kemudian, kesadarannya pun hilang. Ia pingsan di ruangan yang tidak cukup terang itu.


"Gadis gila itu pasti mencoba mengelabuiku," ujar Moreo sambil tersenyum tipis. "Awas saja, aku akan keluar diam-diam dari gudang ini," lanjutnya menyeringai, lalu meninggalkan ruangan tersebut tanpa mengatakan apa pun pada Canva.


Moreo melongok dari balik pintu, memastikan para petugas tadi sudah meninggalkan kedai mie tersebut.


"Kalian keluarlah. Sudah aman," kata Paman Hendri sambil mengacungkan jari jempol.


Karena melihat hanya Moreo sendirian, Paman Hendri pun melihat ke arah pintu belakang.


"Non Canva mana?"


"Dia lagi tiduran bersama para tikus," jawab Moreo dengan santainya.


"Oh. Apa sekarang Mas Morgan mau makan siang atau mau minum kopi dulu?" tanya Paman Hendri sambil menyengir kuda.


"Morgab saja, Paman. Tidak perlu pakai 'mas' segala," jawab Moreo, kemudian melangkah menuju bangku yang di mana tadi ia pilih.


Pandangan Hendri Sunandar terusik melihat pipi Moreo sebelah kanan. Ia menatap dengan saksama.


"Ada apa, Paman?" tanya Moreo sambil mengerutkan dahi.


"Mas Moreo, kenapa kulit Mas belang?" jawab Paman Hendri balik bertanya.


Moreo terdiam. Ia ingat tadi pagi tidak memakai alas cream penyamaran sebanyak tiga lapis yang biasa ia gunakan. Moreo bingung harus menanggapi pertanyaan pria berkumis tipis itu, seperti apa.


"Oh, ini. Paman, tadi muka saya terkena cat yang tumpah di gudang. Iya ... iya itu," ucap Moreo kemudian, membuat alasan yang entah dipercaya oleh si paman atau tidak. "Eh, kenapa gadis gila itu tidak keluar juga?" lanjutnya, mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya. Non Canva apa benaran tidur di ruangan tanpa jendela itu?"


Sontak, Moreo langsung berdiri karena ia ingat ruangan itu memang tidak ada celah untuk udara masuk ke dalam.