Insecure!

Insecure!
Kematian Awal dari Kebangkitan



Hujan pagi itu seperti mengisyaratkan sesuatu, yang di mana langit kelam menjadi kanvasnya. Dengen tetes-tetes air kehidupan saling memburu, kemudian menyapu perlahan tanah yang mulai retak seperti susunan labirin.


Canva Melody namanya, gadis cantik bermata sipit. Namun, bukan keturunan Tionghoa, tetapi asli gadis Indonesia. Ia berjalan menyusuri gang demi gang di pinggir kota, mencari kekasihnya yang pergi entah kemana.


"Mau ke mana, Nona Canva?" sapa seseorang.


"Eh, Bi Minah. Nggak ke mana-mana, Bi. Cuma lagi pengen jalan-jalan saja," jawab Canva pura-pura.


"Jalan-jalan, kok, di waktu hujan, Non? Nanti masuk angin, lho," tutur Bi Minah.


"Semoga tidak ya, Bu," ucap Canva, kemudian ia melanjutkan berjalan-jalan seperti orang yang tidak punya kerjaan.


Sepekan sudah berlalu, sejak undangan telah tersebar, tetapi calon pengantin pria belum juga muncul di permukaan. Canva patah hati, ia merasa telah ditipu mentah-mentah. Belum lagi menerima cercaan dari ayah dan ibunya. Malu terhadap orang-orang sekeliling, sudah pasti.


"Kenapa bisa jadi begini, Pak. Ibu malu pada tetangga-tetangga, ibu nggak mau dicibir seperti ini," ungkap Bu Mayra pada suaminya.


Canva kembali naik ke atas dipan, melingkarkan kedua tangan di lutut, kemudian ia menangis. Hati yang sakit akibat tiada kejelasan, ditambah lagi menyaksikan air mata mengalir dari kelopak mata ibunya yang sudah mulai keriput.


"Maafkan Canva, Bu," bisiknya dalam hati.


***


Keesokan harinya, hujan masih setia menemani. Langkah gontai dari kaki kecil milik Canva Melody, membuat genangan air beriak ke sana-kemari.


Tiba-tiba seorang pria menghadang, langkahnya pun terhenti. Canva menatap lekat pria yang sedang memperhatikannya. Tubuh tinggi semampai, berbalut kaos oblong putih dan mengenakan topi. Iya, itu adalah pria yang telah menghilang tanpa kabar.


"Canva, maafkan aku," ucapnya membuka pembicaraan.


"Aku juga minta maaf, karena telah salah sangka. Mari kita pulang, untuk mempersiapkan rencana yang sudah tersusun." Canva membalikkan badannya, mencoba mendahului.


"Tapi ...."


"Tapi apa, Megan?" tanya Canva langsung memotong ucapan lelaki berhidung mancung itu, calon suaminya.


"A-aku ... aku tidak mendapatkan restu dari mamaku karena menurut beliau, menantunya cuma Syifa. Intinya aku tidak boleh menikah atau memiliki istri dua," terang Megan, mencoba meyakinkan Canva.


"Kenapa tidak bilang dari awal? Kalau sudah begini, bagaimana caranya aku memberitahu ibu dan ayah, hah?"


"Maafkan." Cuma itu yang keluar dari bibir Megan.


Tanpa berucap apa-apa lagi, Canva langsung pergi meninggalkan calon suaminya itu, di tengah derasnya hujan.


Canva malang menangis lagi, karena mengingat pertemuan pertama dengan Megan saat pulang dari acara ulang tahun sahabatnya, itu juga disaat hujan turun menjamah bumi.


Suara gemuruh terdengar bersahutan, cahaya dari kilatan petir sesekali terlihat menyambar-nyambar.


Canva terus berjalan, tak menghiraukan suara panggilan dari orang-orang di tepi jalan yang sedang berteduh.


Tiba-tiba ....


Bruuug!


Tubuh Canva terlempar beberapa meter. Supir truk sudah berusaha memberi aba-aba dan klakson panjang, karena rem tiba-tiba tak berfungsi. Namun, Canva tidak mendengarnya.


Pandangannya mulai gelap, tak berapa lama tubuhnya mulai dingin dan kaku.


"Canva? Canva ...!" Megan yang mengetahui kejadian itu langsung berteriak, ia menghambur dan memeluk tubuh calon istrinya yang sudah tak bernyawa.


"Sekali lagi, maafkan," ucap Megan dengan lirih.


Payung merah yang dulu menjadi saksi pertemuan, kini ia kembalikan pada Canva Melidy. Karena kedatangannya selalu ditolak oleh Bu Mayra, terpaksa Megan letakkan payung itu di atas pusara.


Akan tetapi, hari yang di mana Canva tertanam di dalam bumi, hari itu jugalah keajaiban berlaku. Canva yang diketahui adalah anak dari sepasang suami istri, sebenarnya dia bukanlah manusia. Canva itu adalah gadis dari tanah keabadian. Jika mata orang biasa melihatnya sudah mati, tetapi tidak bagi orang-orang yang memiliki mata batin.


Canva akan terlahir kembali, memberi kisah pada orang-orang yang ditemuinya.


***


Bulan kini tak lagi bersinar terang, meredup tertutup awan hitam.


Bintang pun seolah raib ditelan langit kelam, tak ada tanda-tanda kehidupan. Badai seakan mengusik ketenangan, menyapu kulit meremangkan bulu yang keluar dari tiap pori-pori. Seseorang bergidik menggit bibir karena ketakutan.


Selalu menghampiri setelah ada kata 'akhiri!'


Alisnya bertaut. Dalam benak berkecamuk, dalam hati didera berjuta pertanyaan. Haruskah membinasakan bayangan itu? Ataukah membiarkan dia datang dengan wujud aslinya?


Tangisan demi tangisan, mewarnai pemakaman.


Payung, baju, dan kacamata hitam tak ketinggalan. Nada sendu mulai bersahut-sahutan, mengisi acara, dalam kematian.


Dia, dia itu adalah Canva yang kini berdiri di hadapan makam. Walau ia bisa bangkit kembali, tapi tak mungkin baginya untuk muncul di depan orang-orang yang mengenalnya. Apa jadinya jika sampai itu terjadi?


Canva Melody menghela napas panjang, lalu ia meninggalkan makam yang kini sudah kosong melompong.


"Selamat tinggal masa lalu," gumamnya sambil menyeka air mata.


Hal yang perlu dilakukan Canva saat ini adalah, kembali ke tanah keabadian untuk melakukan penyempurnaan kulitnya yang sempat terkikis aspal. Canva bukanlah makhluk seperti peri atau pun vampir yang bisa langsung menyembuhkan diri. Ia unik dan berbeda dari penghuni tanah keabadian yang lain.


"Selamat datang kembali, Canva," sambut Alberto, kakak gadis dua alam itu.


"Ibu ke mana?" tanya Canva sambil memindai ke segala sisi istana di tanah keabadian.


"Ibu dan ayah sedang mengadakan rapat penting," jawab Alberto.


"Untuk masalah apa?"


"Kau beristirahatlah. Jangan dipikirkan urusan orang dewasa," jawab Alberto hendak meninggalkan sang adik.


"Memangnya, kita ini orang?" goda Canva sambil terkekeh.


"Iya, kita ini sejenis mahkluk yang diistimewakan." Alberto menghentikan langkahnya sebentar, lalu membalikkan tubuhnya. "Bagaimana petualangan di dunia manusia? Apa kau tidak kapok juga?"


"Aku ingin bebas. Aku harap ada ramuan yang benar-benar membuatku menjadi manusia seutuhnya," jawab Canva serius.


"Tidak ada dan tidak akan pernah ada," sahut Alberto, tak ingin memberi janji pada sang adik.


"Mungkin kau tahu sesuatu?" tanya Canva.


Alberto terdiam. Lalu, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kau beristirahatlah," ucapnya kemudian.


Canva mengembuskan napas berat. Ia yakin kalau Alberto sedang berusaha menutupi sesuatu. Lagian, apa yang tidak bisa dilakukan oleh tetua di kampung tanah keabadian itu. Hanya saja, mereka masih menerapkan aturan yang tidak ingin dilanggar. Sebagai mahkluk yang memiliki keistimewaan, para tetua pun menuliskan perjanjian di atas batu besar yang terletak di dekat telaga air mata dewi. Telaga tersebut dijaga oleh sepasang naga berwarna merah dan putih.