Insecure!

Insecure!
Lawang Yang Tidak Seimbang



Seorang pria bertubuh gempal dengan tato bunga mawar yang terlukis di pipi kanannya, tengah berkacak pinggang di depan pintu. Pria itu bernama Kardi yang berarti kemuliaan. Akan tetapi, prilaku dan sifat angkuhnya ingin menguasai berbagai penjuru, tak menggambarkan seperti nama yang ia sandang. Lebih tepatnya pemberian dari orang tuanya.


Canva mendengus kesal. Setiap melihat pria itu, ia merasa kehilangan semangat hidup. Bagaimana tidak, Kardi selalu berbuat semena-mena pada kedua pelayan warung mie itu, memalak hasil dari penjulana yang terjual tidak seberapa.


"Mana bagianku?" tanya Kardi sambil menampung, lalu menggoyangkan telapak tangannya.


"Belum ada, Di," jawab Paman Hendri Sunandar.


"Jangan berbohong, Bapak Tua!" bentak Kardi dengan mata yang melotot seperti hendak melompat dari sarangnya.


Moreo hanya memerhatikan gerak-gerik pria bertubuh gempal tersebut. Kemudian beralih pandang ke arah Hendri Sunandar dan Indra. Ia melihat kedua pelayan kedai baso menggigil ketakutan. Tak tega, tetapi ia masih menahan diri karena tidak ingin menimbulkan masalah karena ia masih baru, dan belum terlalu mengenal wilayah ini dengan baik.


"Cepat!" hardik Kardi yang sepertinya bersiap-siap akan merampas isi laci yang terdapat di belakang etalase.


"Mas, bisa bayar sekarang?" tanya Hendri Sunandar pada Moreo.


Lelaki yang memiliki tatapan setajam elang itu, mengangguk pelan, lalu merogoh kantong celananya. "Berapa, Paman?"


"Lima belas ribu saja," jawab Hendri Sunandar merasa tidak enak hati. Karena, ia biasanya menjual semangkuk baso hanya sepuluh ribu di kala itu.


Moreo paham apa yang tengah dihadapi oleh pelayan kedai itu. Sebelumnya ia sudah tahu harga normal semangkuk baso karena melihat harga yang tertera di kertas menu.


"Tolong sediakan makan siangku!" titah Kardi sambil duduk di seberang meja yang di mana Canva menikmati makanannya tadi.


Hendri Sunandar menoleh ke arah rekan kerjanya. Indra pun mengangguk, lalu bergegas mempersiapkan makan siang untuk pria bertubuh gempal itu.


Indra menyediakan semanguk kare, ikan bakar, dan sayur mayur. Tidak lupa nasi satu bakul berisi nasi yang jika ditakar berasnya sebanyak satu canting. Kerupuk kulit, es teh, dan juga tomat dua buah.


Kardi pun mulai menyantap hidangan tersebut, tanpa menghiraukan tatapan benci dari Canva. Sementara, Moreo masih tetap memerhatikan pria rakus itu sambil menyandarkan punggung ke bahu bangku dengan kaki yang saling menaut di antara lutut.


"Tambah!" seru Kardi setelah menyesap kuah kare di mangkuknya.


Hendri kembali melirik Indra, sebagai pertanda agar tetap menuruti permintaan Kardi.


Sebenarnya, masakan-masakan itu memang khusus dimasak untuk tukang palak. Karena warung tersebut hanyalah menjual aneka mie.


"Sebanyak itu Anda makan, apakah dibayar atau terhitung gratis?" tanya Moreo datar.


Kardi mendongak, lalu ia menyeringai menampakkan susunan gigi yang tak beraturan. Sementara, Canva, Paman Hendri, dan Indra, menunjukkan reaksi yang berbeda-beda karena menganggap Moreo akan habis dihajar oleh Kardi sebentar lagi.


"Kamu berani sekali berbicara padaku? Apa kamu tidak tahu siapa aku?" ujar Kardi sambil membusungkan dada.


"Tentu saja aku berbicara padamu. Apa kamu melihat orang lain makan dengan rakus seperti kamu?"


Baik Canva dan yang lainnya tersentak kaget mendengarkan ucapan dari lelaki yang jelas lebih kecil tubuhnya dibandingkan dengan Kardi.


"Ini mie-nya, Di. Silakan dinikmati," tawar Paman Hendri, berusaha mengalihkan suasana yang mulai menegang.


Akan tetapi, Kardi malah menepis mangkuk yang masih mengepulkan asap tipis tersebut. Sehingga isinya berserakan di lantai dan mangkuk yang terbuat dari kaca itu pecah berderai.


Sungguh, Moreo saat ini benar-benar terpancing. Rahangnya yang kokoh tampak mengetat, bunyi gemeletuk dari gerahamnya terdengar, dan telapak tangannya sudah mengepal dengan sempurna.


"Kamu berani padaku?" tanya Kardi sambil tertawa lepas.


"Aku tidak pernah takut pada siapa pun!" jawab Moreo menambah volume suara.


"Hahaha! Kamu terlalu bermulut besar anak muda!" teriak Kardi dengan lantang.


"Mari kita ke luar," ajak Moreo karena ia tidak ingin membuat kekacauan di warung tersebut.


Kemudian, Moreo mendahului pria bertubuh gempal itu keluar. Namun, tetap saja Kardi menertawainya.


"Nona Canva, biasakah Non menengahi mereka?" tanya Paman Hendri, terlihat cemas.


"Saya, Paman?"


Paman Hendri Sunandar pun menganggukkan kepalanya.


"Apa yang harus saya lakukan, Paman?"


"Tolong bicara baik-baik pada mereka. Paman takut ... iya, takut sekali kalau pemuda itu akan berakhir di rumah sakit," jawab Hendri khawatir..


"Tapi, saya juga takut, Paman. Maafkan saya," ucap Canva sambil mengembuskan napas berat.


Moreo mulai bersiap memasang kuda-kuda, sedangkan Kardi berjalan santai sambil menanggalkan jaket lusuh yang ia kenakan.


"Aku harap kamu tidak akan menyesali kecerobohanmu itu, si Mulut Besar!" ujar Kardi, kembali tertawa terbahak-bahak.


"Kamu berdoa saja agar malaikat maut tidak ikut serta di pertarungan receh seperti ini," jawab Moreo mengejek.


"Bedebah!" Kardi mengarahkan tinju ke wajah Moreo, tetapi dengan sigap lelali yang berpura-pura miskin itu, menghindar.


Kardi pun menjadi emosi, seketika itu, lengkungan di bibirnya juga mulai kembali ke bentuk semula.


"Apa kita bermain dulu?" tanya Moreo, masih dengan nada ejekkan.


Kardi kembali menyerang lelaki berparas tampan itu. Namun, serangannya tersebut tidak berarti sama sekali bagi Moreo. Dengan mudah ia menghindari, sehingga Kardi hanya memukul, dan menendang udara.


"Anak sialan!" teriak Kardi.


"Aku tidak pernah membawa kesialan bagi orang tuaku. Mungkin kamu. Dan ... mungkin ibumu sudah menyesal karena telah melahirkan bajingan gila seperti kamu. Hahaha!"


Karena dari tadi serangannya terus meleset, Kardi pun meraih kayu yang tertancap di depan kedai tersebut. Ia menyerang membabi buta.


Brug!


Satu pukulannya mengenai kening Moreo, sehingga mengeluarkan darah dari luka yang baru saja sudah dibuat oleh Kardi.


Moreo meringis. Walau ia memiliki ilmu bela diri yang cukup mempuni, tetapi tetap saja ada sifat manja tertanam di jiwanya. Moreo tak menerima hal itu, baginya tergores sedikit saja, membuatnya tidak merasa nyaman sama sekali.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya Canva yang mengintip dari balik punggung Hendri Sunandar.


Moreo tidak menanggapi. Setelah ia mengusap-usap keningnya, ia pun membalas apa yang sudah ia terima dari pria semena-mena itu. Tak membuat keringat membanjiri tubuh, Kardi pun berhasil dilumpuhkan.


"Ingatlah hari ini bajingan tengik! Jika kamu berani mengganggu warung mie terlezat ini, aku pastikan esoknya kamu tak lagi bisa menghirup udara dengan bebas," ancam Moreo sambil memelintir tangan Kardi ke belakang.


"Akh! Lepaskan aku," pinta Kardi sambil menahan rasa sakit.


"Berjanjilah."


"Iya, iya! Aku berjanji tidak akan mengganggu Pak Hendri dan warung ini lagi," jawab Kardi.


Kemudian, Moreo membebaskan pria bertubuh gempal itu. Setelah memastikan pria tersebut pergi dari lokasi warung baso, ia pun kembali meringis sambil memegangi keningnya.


"Mari saya bantu, Tuan," ucap Hendri Sunandar sambil memegang lengan Moreo.


Dari belakang, Canva membuntuti. Tadinya ia berniat akan segera pergi setelah keributan itu selesai. Akan tetapi, ada sesuatu rasa yang sudah menahan langkah kaki, meninggalkan lelaki yang sukses membuat ia jengkel setengah mati. Namun, itu tidak dilakukannya.