Insecure!

Insecure!
Penyamaran Moreo



Jangan berharap kejadian selanjutnya seperti drama-drama yang ditayangkan di televisi swasta. Hadir seorang gadis memberikan pertolongan dengan membawa segenggam cahaya di telapak tangan. Itu tidak mungkin!


Napas Moreo mulai tidak beraturan, rasa sesak di dada makin ia rasakan. Baru satu hari menjalankan misi, ia sudah mendapatkan cobaan seperti ini.


"Ya Tuhan, apa aku tidak boleh berpura-pura miskin?" gumam Moreo di kegelapan sambil memegang dadanya.


Pura-pura miskin? Tentu saja itu belum sepenuhnya. Sebab, jika ia ingin benar-benar menjalani kehidupan seperti layaknya lelaki yang susah di luar sana, Moreo tidak mungkin tinggal di rumah yang masih tergolong mewah bagi orang biasa.


"Akh!" Kerongkongan Moreo tercekat, napasnya pun sudah sulit untuk dihela. Akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.


***


Suara kicauan burung terdengar merdu di rerantingan pohon yang terletak di samping rumah. Kialuan cahaya menelusup lewat ventilasi udara, tetapi tak menghangatkan tubuh Moreo yang semenjak tadi malam tergolek di lantai tanpa beralaskan tikar. Sementara, lututnya tampak membekas darah yang sudah mengering akibat tusukan dari pecahan kaca.


Ponsel berdering nyaring dari arah kamar, Moreo pun berusaha membuka mata perlahan. Tulang terasa dingin, membuat dirinya enggan beranjak. Akan tetapi, demi kesehatan yang mungkin saja akan tambah memburuk, ia pun bangkit dari lantai, dan berjalan terseok-seok menuju kasur empuk beralaskan seprai putih motif matahari.


"Ah, sialan!" umpatnya sambil mengempaskan tubuh ke kasur.


Benda kotak persegi panjang itu kembali berdering. Moreo meraihnya, lalu melihat nama yang tertera di layar.


"Hum," gumamnya setelah menggeser layar ke tombol berwarna hijau.


"Kau aman?" tanya Angga dari seberang sana.


"Iya," sahut Moreo sekenanya.


"Benarkah? Tapi ... kenapa kau bersuara serak?" tanya Angga lagi untuk memastikan.


"Baru bangun."


"Oh. Aku kira kau sudah mulai menjajakan diri di lampu merah," ujar Angga berseloroh.


"Bedebah!" bentak Moreo, tetapi sedetik kemudian ia meringis karena merasakan perih di bagian lututnya.


"Hahaha. Aku tutup dulu. Mau siap-siap bertempur mengerjakan pekerjaan yang kau biarkan berlumut," ujar Angga menyindir.


Tanpa berbasa-basi, Moreo pun memutuskan sambungan telepon. Hal tersebut dilakukan agar bisa membalas rasa jengkel di hatinya. Karena, ia paham betul kalau Angga paling benci mengakhiri percakapan tanpa ada kata pamit darinya.


"Hahaha. Satu kosong," cicit Moreo sambil menarik tangan dengan telapak yang terkepal. "Ah, sialan!" lanjutnya karena luka di lututnya benar-benar membuatnya tidak nyaman.


Kemudian, Moreo menarik selimut sampai batas lehernya. Ia memutuskan untuk beristirahat hari ini. Esok atau lusa, barulah ia menjalankan apa yang sudah disusun dengan matang. Tinggal pergi ke jalanan, lalu menjajakan tisu yang sudah dibeli oleh Angga berbal-bal.


Hanya beberapa menit ia tertidur, Moreo kembali terjaga karena mendengarkan ponselnya kembali berdering.


"Ck! Bedebah itu kenapa berisik saja dari tadi?" umpat Moreo, lalu meraih ponselnya dengan malas.


"Selamat siang, Sayang." Suara merdu seorang gadis berhasil membuat mata Moreo terbuka lebar.


"Akh! Kenapa juga tidak aku periksa terlebih dahulu?" Moreo menyesal karena ternyata ia sudah menerima telepon dari gadis yang selalu mengejar-ngejarnya. "Ya, halo."


"Lho, kok, jawabannya begitu amat? Kamu sedang bekerja, Sayang?"


Yuna Fredica adalah anak dari manajer Rudi yang bekerja di salah satu cabang perusahaan milik ayah Moreo. Ia bukan gadis yang diinginkan Moreo karena Yuna gadis manja yang suka menghambur-hamburkan uang hanya untuk berburu barang branded buatan Italia. Apalagi Yuna tidak menjaga sikapnya sebagai seorang gadis, itu membuat Moreo benar-benar tidak tertarik padanya.


Akan tetapi, bagi Yudas Haridiningrat—ayah Moreo—Yuna Fredica adalah gadis yang sangat cocok untuk putranya. Selain cantik, Yudas juga memiliki hubungan baik dengan manajer Rudi.


"Ayolah, Sayang. Kita sesekali keluar jalan-jalan, yuk," ajak Yuna penuh harap.


"Aku sibuk," sahut Moreo, lalu memutuskan sambungan telepon, dan menonaktifkan benda kotak persegi panjang itu.


"Halo ...."


Yuna kesal, ia menghambur ke atas ranjangnya yang berbentuk lingkaran tersebut.


"Moreo! Kamu selalu saja bersikap dingin terhadapku. Padahal, kamu juga mencintai aku, kan?" Yuna dengan percaya diri bercuap-cuap sendiri di kamar.


***


Kembali ke kediaman Moreo yang baru. Lelaki berparas tampan, nyaris sempurna, dan memiliki tubuh atletis itu, beranjak dari tempat tidur. Ia meraih handuk ingin segera mandi karena perutnya sudah mulai keroncongan.


"Ya Tuhan, apa aku kuat menjalani ini semu?" gumam Moreo sambil mengisi buthub.


Tanpa disadarai, sudah berlalu beberapa menit pengisian tempat berendam itu, air yang sudah distel suhunya pun meluah.


"Kan, kan. Ngisi bak mandi saja aku tidak becus!" ucapnya mengumpat diri sendiri.


Kemudian, Moreo mengurangi isi buthub tersebut. Setelah menuangkan beberapa tetes sabun cair beraroma apel hijau, ia pun segera merendamkan tubuh indahnya. Sambil mengusap-usap permukaan kulit, Moreo juga membersihkan bekas luka di lututnya.


Menghabiskan waktu lebih kurang lima belas menit, lelaki yang berpura-pura miskin itu, meraih handuk setelah membilas bersih tubuhnya. Lalu, ia berjalan ke depan cermin yang masih terletak di kamar mandi tersebut, mengambil pisau cukur.


"Padahal baru satu malam aku di sini, tapi sudah mulai tidak bisa mengurus diri."


Cukup lebai, tetapi yang namanya orang kaya, pastilah apa-apa para asisten rumah tangga yang mengurus segalanya. Apalagi Moreo adalah anak sematawayang dari keluarga kaya itu, jelas ia akan mendapatkan perhatian khusus.


Moreo kembali meletakkan pisau cukur itu. Ia mengurungkan niat untuk membersihkan wajah agar penyamaran nantinya bisa totalitas. Tidak lupa ia memoleskan cream khusus untuk membuatnya terlihat dekil.


"Semangat!" ujar Moreo menyemangati dirinya sendiri. Kemudian, ia membuka lemari, mencari pakaian yang cocok dipakai oleh para gelandangan. Namun, ia tidak menemukan yang cocok. "Hum ... baiklah kalau begitu," lanjutnya sambil meraih baju kaos oblong berwarna cokelat muda, lalu sengaja ia gunting di bagian bahu, dan lengan. Untuk celana, ia memilih celana berbahan dasar drill sebatas betis.


Setelah bolak-balik berputar di depan cermin, Moreo pun merasa penampilannya saat ini sudah mirip seperti seorang gembel.


"Hahaha. Akhirnya kostum hari ini sukses dan akan aku peragakan sebentar lagi," ujarnya terlihat girang.


Kemudian, Moreo pergi ke garasi mobil untuk mengambil kendaraannya yang akan dipakainya untuk beroperasi sebagai tukang penjual tisu dan makanan, serta minuman non alkohol.


"Delicious! Ah, bukan. Amazing. Ya, ini lebih cocok untuk ditunggangi," ucap Moreo sambil mengeluarkan sepeda dari garasi tersebut.


Kendaraan roda dua tanpa mesin atau pun menggunakan tenaga listrik, mulai dikayuh oleh Moreo. Bibir seksinya tidak berhenti tersenyum di saat kakinya dengan lihai menggoes pedal yang terhubung dengan rantai.


Tujuan Moreo saat ini adalah mencari restoran cepat saji yang berada di daerah tersebut. Setelah melewati persimpangan, Moreo pun melihat tempat yang ia cari. Namun, restoran itu tampak sangat ramai, membuat Moreo kembali mengurungkan niatnya.