
Canva memerhatikan Moreo yang kini duduk tersandar di bangku paling sudut ruangan. Walau Kardi bisa dikalahkan, tetapi tetap saja lelaki berparas tampan itu mengalami luka lecet dan lebam di beberapa bagian.
"Mari aku bantu, Tuan," ucap Paman Hendri sambil mendekatkan es batu yang dibalut dengan sapu tangan.
"Biar saya saja, Paman," ucap Canva menawarkan diri.
"Anda mau apa, Non?" Moreo menahan tangan gadis itu, yang hampir mendekati bibirnya.
"Nggak usah bawel!" jawab Canva tegas, lalu menyingkirkan tangan Moreo.
"Tapi, yang luka ini," ucap Moreo menunjuk keningnya.
"Anda berkaca dulu, Tuan." Canva mengarahkan kamera ponselnya pada lelaki itu.
Moreo terdiam. Ia tidak tahu kalau bibirnya juga terluka, sampai mengeluarkan darah seperti itu.
Perlahan Canva meletakkan sapu tangan yang sudah diberi es batu tersebut. Walau ia terlihat tegas, tetapi tetap saja jantungnya berdenyut tidak beraturan, bahkan sudah sama persis seperti jantung manusia biasa. Sebuah perasaan yang berbeda dari biasanya, dari pertama ia bertemu dengan lelaki itu.
"Anda kenapa, Non? Apa aku terlihat sangat tampan?" tegur Moreo sambil tertawa kecil.
Canva terkesiap, spontan ia menampar pipi lelaki itu dengan keras.
"Akh!" Moreo meraba pipinya yang terasa panas akibat tangan halus milik gadis itu membekas di sana. "Kamu ...."
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Canva merasa tidak enak hati. Lalu, ia beranjak dari hadapan lelaki berhidung mancung itu.
Hendri Sunandar dan Indra hanya senyum-senyum melihat apa yang mereka lihat saat ini. Seperti sebuah tontonan menarik setelah kekacauan yang dibuat oleh Kardi. Iya, seperti kemarau berlalu setelah datang setitik hujan yang turun dari langit.
"Kerjakan saja sendiri," ujar Canva sambil merajuk.
"Bukannya Anda yang menawarkan diri? Tadi Paman Hendri ...."
"Diam!" bentak Canva. Wajahnya bersemu merah karena menahan malu, apalagi setelah Moreo membuatnya gugup.
Moreo tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bingung dengan tingkah gadis itu. Karena baru kali ini juga ia mendapatkan perlakuan yang aneh.
"Ini gadis memang gila aku rasa. Tadi dia begitu lembut merawat lukaku, tapi setelah itu dia malah menamparku," bisik Moreo dalam hati.
Akan tetapi, sejurus kemudian, garis di sudut bibirnya melengkung.
"Paman, saya pergi dulu," ucap Canva setelah menyerahkan beberapa lembar uang.
"Tunggu!" seru Moreo. Namun, gadis itu berlalu tanpa menanggapi.
"Jika Tuan ingin bertemu lagi dengan Non Canva, silakan datang ke sini setiap hari," ucap Paman Hendri.
"Teknik marketing yang bagus," kata Moreo sambil tertawa renyah.
Begitu juga dengan si pria berkumis tipis dan Indra, mereka ikut tertawa setelah mendengar penuturan pelanggan barunya.
Kemudian, Moreo beranjak dari tempat duduknya. Lalu, ia merogoh kantong celana, dan menyerahkan uang beberapa lembar.
"Ini terlalu banyak, Tuan," ucap Paman Hendri sambil mengerutkan dahinya.
"Paman simpan baik-baik, ya. Satu lagi, panggil saja nama saya Mo ... iya, nama saya Morgan," kata Morgan berbohong.
"Baiklah. Besok Tuan ... eh, maksud saya, Mas Morgan. Besok kami berikan makanan gratis."
Moreo tersenyum tipis. Setelah menepuk-tepuk pundak Indra, ia pun pergi meninggalkan warung mie tersebut.
"Ck! Aku harus fokus mencari gadis yang cocok agar aku bisa membawanya pulang, dan agar papi tak memaksaku menikah dengan ulat bulu itu," celetuk Moreo sambil terus menggoes sepedanya.
***
Hari pertama Moreo turun ke jalanan sebagai lelaki yang berprofesi sebagai penjaja tisu. Ia merasa biasa saja karena perjalanan yang ditempuh tidak begitu jauh dari kediamannya yang tersembunyi. Apalagi ini masih pagi, jadi cuaca masih bersahabat, membersamai seorang pangeran sepertinya.
"Lumayan," gumamnya dengan senyum manis terlukis di bibir tipis miliknya.
Sesampainya di dekat rambu-rambu lalu lintas yang di mana itu adalah jalan utama bersimpang lima, Moreo menepikan sepeda, dan menaruhnya di dekat pohon yang berdiri kokoh di pinggir jalan.
Kemudian, Moreo pun mengeluarkan beberapa pack tisu dari keranjang yang diletakkan di bagian bangku belakang sepadanya. Lalu, dengan santai ia pun berdiri di pinggir sambil menanti lampu rambu-rambu lalu lintas berubah ke warna merah.
Tidak berapa lama, hal yang ditunggu-tunggu pun tiba. Moreo bergegas menghampiri kendaraan yang mulai berhenti.
"Tisunya, Mbak," tawar Moreo sambil mengetuk kaca salah satu mobil yang dikendarai oleh seorang gadis.
"Maaf, Tampan. Stok tisu masih banyak," sahut gadis itu sambil membuka boxs dan menunjuk beberapa tumpuk tisu di dalamnya.
Moreo mengangguk pelan, lalu beralih mengetuk kaca mobil di belakang kendaraan si gadis. Akan tetapi, sampai lampu merah berubah menjadi orange, dan hijau, tetap saja tidak ada yang membeli. Bahkan, ada beberapa pengemudi yang mengambil sikap cuek walaupun Moreo sudah menawarkan dagangannya dengan ramah.
"Ternyata sulit juga berjualan seperti ini," keluh Moreo sambil mengipas-ngipas badannya dengan topi ala koboi yang ia kenakan sedari tadi.
Pandangan Moreo berhenti pada seorang wanita paruh baya yang tampak bersemangat menata dagangannya. Wanita itu menjual beberapa camilan dan juga tisu sepertinya. Tidak ada keluh yang tergores di wajah lelah wanita itu, membuat Moreo merasa tersentuh akan perjuangannya.
"Kasihan sekali dia," gumamnya pelan.
Berselang beberapa detik kemudian, lampu merah kembali menyala. Moreo dan para pedagang lainnya bergegas menghampiri kendaraan yang mulai berjalan pelan, dan tepat berhenti di garis pembatas.
Moreo hendak mengetuk kaca mobil, tetapi pandangannya tertarik pada seorang gadis yang membawa sebuah biola.
"Itu bukannya gadis yang kemaren?"
Belum sempat Moreo memerhatikan dengan saksama, petugas sudah meniup peluit peringatan. Bagaimana tidak, tempat tersebut adalah jalan yang sebenarnya tidak boleh dirusak keindahannya oleh para pedagang, dan pengamen jalanan, karena sudah ada tempat khusus yang disediakan untuk mereka. Akan tetapi sayangnya, sifat orang-orang di wilayah tersebut tidak jauh beda dengan orang-orang yang tinggal di berbagai belahan dunia, tak menghiraukan imbauan pemerintah setempat, selalu melawan jika ditertipkan.
Prit! Prit! Priiit!
Sekali lagi petugas keamanan lingkungan memberi peringatan. Moreo pun bergegas mengemasi dagangannya karena orang-orang yang seprofesi dengannya sudah lari tunggang langgang menghindari pengejaran para petugas.
"Mas ... hmmm ... Mas Morgan?"
"Iya, Paman Hendri. Apa kabarnya?"
"Hehehe. Baik, baik. Kamu berjualan ternyata," ucap Paman Hendri sambil melihat ke arah sepeda yang terparkir di halaman.
"Iya, begitulah. Tapi, ya ... seperti yang Paman lihat, tidak berjalan dengan baik. Saya sudah menebak akan jadi seperti ini." Moreo menghela napas panjang, lalu diembuskan perlahan.
"Bagaimana kalau Mas Morgan berjualan memakai kios saja?" tutur Paman Hendri memberi ide.
"Sepertinya itu akan lebih baik, Paman. Tapi, saya harus mendirikan kios di mana?"
"Nanti saya coba tanyakan pada Bu Martini," jawab Paman Hendri.
"Siapa Bu Martini?"
Pria paruh baya berkumis tipis itu, menganggukkan kepalanya.