
"Moreo, jangan bilang kamu akan menuntut gadis itu karena telah mencoba bermain-main dengan kamu, kan? Sudahlah, lupakan saja. Karena kemungkin dia hanya ingin menyelamatkan diri semata," ucap Angga mencoba menerka isi kepala sahabatnya itu. "Atau ... kamu berpikir untuk menjadikan gadis preman itu jadi kekasih?"
Moreo menoleh, lalu mengedikan kedua bahunya.
"Kalau bisa dua-duanya, kenapa tidak?" ujar Moreo sambil tertawa kecil.
Angga tak menyangka kalau sahabatnya itu benar-benar sudah kehilangan akal saat ini. Sebab, papi Moreo tentu saja tidak akan pernah menerima gadis yang berasal dari jalanan. Apalagi gadis yang tak sengaja ia tabrak tidak mempunyai sopan santun.
"Jangan mempermainkan orang lain, Mor. Karena dipermainkan itu tidaklah menyenangkan. Dia pasti akan dendam, lalu membunuh kamu dengan menggunakan hukum rimba," ujar Angga menasihati.
Akan tetapi, Moreo sepertinya tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh Angga. Ia tetap kekeuh dengan keinginannya untuk melakukan petualangan di luar sana. Bukan untuk mengejar gadis jalanan itu. Namun, Moreo tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Mungkin, bisa saja ia benar-benar jatuh cinta pada gadis yang belum ia kenali, dan wajah gadis tersebut juga belum hafal di mata kepalanya. Sebab, ketika ia menggendong Canva ke mobil, ia tidak memerhatikan dengan jelas.
***
Keesokan harinya, di kala gerimis menyapu bumi dan seisinya, Moreo pun berangkat ke sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Angga. Rumah tersebut berlokasi tidak jauh dari jalan raya pusat kota dan jangkauan terdekat dari wilayah tersebut adalah, depertemen store miliknya, kafe, dan khusus furnitur rumah tangga yang juga milik keluarga besarnya. Rumah itu
berukuran lebih kecil dari rumah yang dibangun oleh sang papi. Namun, ada yang lebih menarik. Tempat itu lebih tersembunyi dan akan mungkin sulit diketahui oleh orang-orang yang baru dikenali. Selain melakukan misi mencari seorang gadis, Moreo juga akan memindai daerah tersebut untuk memperluas perusahaan jika memungkinkan. Benar-benar ide brilian. Sekali dayung, dua pulau terlewati.
Penyamaran pun di mulai dari memantau jalan raya yang akan dijadikan tempat mangkal atau sekedar berjualan minuman ringan dan camilan. Namun, siapa yang akan menyangka, Moreo kembali dipertemukan dengan gadis itu. Gadis yang membuat kekacauan kemarin. Akan tetapi, karena ia belum mengenalnya, jadi Moreo mengambil sikap tak acuh.
"Apa yang akan kamu lakukan di sini?" tanya Angga.
"Seperti yang sudah aku katakan, aku akan mencoba menjadi penjual tisu terlebih dahulu," jawab Moreo santai.
"Panas, debu banyak beterbangan, dan itu bisa saja membuat kulit terbakar. Apa tidak akan kamu pikirkan lagi rencana konyol ini?"
"Sampai muntah pun kamu membujukku, aku tidak akan goyah, Bro," jawab Moreo sambil mengedarkan pandangan ke beberapa sisi jalan raya.
Angga menghela napas panjang, lalu berkata, "Baiklah kalau begitu. Jika kamu tidak kuat, hubungi aku."
Moreo tertawa nyaring. Ia cukup senang dengan perhatian yang diberikan oleh sahabatnya itu. Namun, itu bukan berarti ia mundur untuk menjalankan misinya mencari gadis biasa di antara jutaan gadis yang melewati jalanan ini. Persoalan restu dari sang papi, itu urusan belakangan. Yang terpenting bagi Moreo saat ini adalah, mencari teman terlebih dahulu, agar ia bisa hidup dengan aman tanpa adanya pengawal yang sudah disediakan oleh papinya.
"Ayo, kita kembali ke rumah dulu. Besok baru kamu jalankan keinginan yang konyol itu," kata Angga, mendahului Moreo menuju ke mobil yang diparkir agak jauh dari rambu jalan raya lampu merah yang berdiri kokoh di tempat tersebut.
Kemudian, Moreo menyusul dari belakang setelah ia memerhatikan gadis cantik yang memakai topi berlogo singa sedang mendendangkan lagu di saat kendaraan berhenti.
"Postur tubuhnya mirip dengan gadis gila itu. Apakah dia itu orang yang sama? Tapi, kenapa dia sampai ke sini juga? Apa dia memang mangkal di sini?" tanya Moreo pada dirinya sendiri.
Moreo mengedikan bahu, lalu mengabaikan gadis tersebut.
"Kamu sedang melihat apa?" tanya Angga di saat sahabatnya sudah duduk di bangku penumpang.
"Tidak ada. Jalan," titah Moreo dengan nada datar.
Mobil jenis sedan berwarna hitam itu berputar arah, kembali ke tempat semula yang di mana rumah sedikit mewah berdiri kokoh yang cukup berjarak dengan pemukimam penduduk.
"Aku rasa, mungkin aku akan membutuhkan waktu yang lama menetap di sini. Jika Papi tahu, kamu tinggal sebut kalau aku sedang menjalankan bisnis."
"Nah, kamu kadang-kadang bisa pintar juga," jawab Moreo sambil menjetikkan jemarinya.
Angga mendengus kesal. Sebab, selama ini ia mendampingi Moreo, ia yang lebih banyak bekerja. Sementara, putra tunggal Yudas Haridiningrat itu, hanya lebih banyak menghabiskan waktu bermain game. Jika melakukan meeting dan penandatanganan, barulah ia turun tangan.
Moreo seakan tidak memedulikan amanah yang sudah dititipkan oleh sang papi. Karena semenjak ia kecil, papinya selalu saja mencekoki pelarajan tentang bisnis. Dan, itu membuatnya merasa sangat bosan.
Berselang dua puluh lima menit perjalanan, Angga pun membelokkan mobil ke gang yang hanya bisa dilewati satu mobil saja. Lalu, meluncur ke halaman rumah yang di mana putra tunggal pemilik beberapa perusahaan itu, akan menghabiskan waktunya untuk beberapa waktu yang tidak bisa ditentukan.
Sanggupkah Moreo Haridiningrat tinggal di sana sendirian tanpa adanya seorang asisten rumah tangga yang membantu pekerjaan rumah?
"Aku balik dulu. Ingat, jika kamu membutuhkan apa-apa, hubungi aku secepatnya," ucap Angga penuh perhatian.
Moreo berdehem menanggapi. Kemudian, ia melangkahkan kaki masuk ke rumah tersebut.
Setelah memastikan sahabatnya menutup pintu, Angga pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan cukup khawatir. Karena, ia tahu kalau Moreo orangnya juga takut dengan kegelepan. Jika tiba-tiba listrik padam di daerah ini, apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu?
"Aku melupakan sesuatu," bisik Angga dalam hati, lalu memacu laju kendaraan setelah keluar dari pintu gerbang.
Selang beberapa menit kemudian, Josep kembali lagi. Ia menenteng sebuah alat yang terbungkus dengan kotak berwarna putih.
"Kenapa kamu datang lagi? Apa kamu tidak tega meninggalkan aku?" tanya Moreo sambil menyengir kuda.
"Hais! Ini," ucap Angga sambil menyerahkan kotak yang ia bawa.
"Apa ini?" tanya Moreo.
"Itu lampu," jawab Angga singkat.
"Oh. Iya, iya," ucap Moreo sambil manggut-manggut karena ia paham apa yang tengah dipikirkan oleh sahabatnya itu. "Thanks. Kamu benar-benar sahabat baikku."
"Jika kamu berhasil menjalankan misi berpura-pura miskin ini, jangan ada lagi misi-misi yang konyol, yang mungkin saja akan membahayakan keselamatan," ujar Angga sambil menghempaskan napas berat.
"Iya, bawel!" celetuk Moreo sambil menepuk pundak sahabatnya.
***
Prang!
Suara benda yang terbuat dari kaca, terdengar berbenturan dengan lantai. Di kegelapan, Moreo meraba-raba sesuatu. Keringat dinginnya mulai bercucuran.
"Astaga, aku lupa mengisi daya lampu itu," bisiknya dalam hati.
Moreo terus merangkak sehingga tak sengaja ia menekan pecahan kaca dengan lututnya.
"Akh, sial! Sial!" umpatnya di tengah-tengah ketakutan yang semakin ketara dirasakan.