Insecure!

Insecure!
10 Tahun Kemudian



Sepuluh tahun kemudian ....


"Canva, lari!" Shakira berteriak ketika petugas keamanan sudah hampir mencapai lokasi yang di mana seorang gadis cantik yakni, Canva Melody sedang asyik memetik gitar di tepi jalan raya.


Akan tetapi, Canva tidak menghiraukan peringatan dari sahabatnya. Di saat ia hendak menadahkan topi untuk meminta bayaran kepada para pengguna jalan raya, dua pria berseragam biru laut pun hampir menangkapnya.


Canva berlari sekencang mungkin, menghindari dua pria berseragam itu, yang tidak mau dikalahkan oleh seorang gadis seperti Canva. Namun, pas berbelok ke jalan di seberangnya, bunyi decitan dari ban yang bergesek dengan aspal terdengar keras, sehingga menarik perhatian para pengguna jalan tersebut.


"Astaga! Apa gadis itu tertabrak?" tanya seseorang sambil melongok keluar kaca jendela mobilnya. "Tuan! Periksalah gadis itu. Kalau dia sampai mati, kamu pasti akan mendapatkan masalah besar," sambungnya, menunjuk ke arah mobil hitam yang tadi menginjak rem secara mendadak.


"Kau turun. Periksa gadis itu!" titah Moreo pada sahabatnya yang duduk di belakang kemudi.


Angga tidak mau berdebat walau dia merasa takut untuk keluar dari mobil. Sebab, beberapa orang pria di luar sana sudah bersiap-siap menunggu, entah akan menghajarnya, entah hanya sekedar menyaksikan kecelakaan tersebut. Namun, Angga harus bertanggung jawab karena dia-lah yang mengendarai mobil tersebut.


"Mor ...."


"Hadapi sendiri," ucap pria berparas tampan, tetapi sangat angkuh, dan benar-benar dingin walaupun Angga adalah sahabatnya sendiri.


Jalan Sukirman tepatnya di pusat kota mulai terjadi kemacetan panjang. Karena, dua petugas yang mengejar Canva sejak tadi, tidak memperbolehkan orang-orang menyentuh korban.


"Tunggu sebentar. Kami akan memeriksa Nona ini," ujar si pria yang memiliki tai lalat di hidung.


"Kita letakkan di trotoar dulu gimana kira-kira?" tanya Angga menawarkan.


"Tidak usah, Tuan. Anda juga harus diperiksa setelah gadis ini ditangani," jawab si petugas.


"Iya, Pak. Tapi, akan lebih baik kita selesaikan di sana." Angga menunjuk ke arah trotoar lagi.


Akan tetapi, si petugas itu tetap ngeyel, sehingga menarik perhatian Moreo.


"Ada apa?"


"Teman Anda harus diperiksa dulu, Tuan," jawab si petugas yang ternyata bernama Jalal Alex.


"Selesaikan di pinggir karena kemacetan semakin panjang," ucap Moreo.


Tawar menawar, saling tuding pun makin parah. Sehingga Moreo menjadi emosi dan meraih tubuh gadis yang sudah tertabrak, lalu dimasukkan ke dalam mobilnya.


"Selesai! Nanti kita urus belakangan," ujar Moreo sambil melempar Id card ke arah petugas tersebut.


Akan tetapi, di saat kerumunan masih belum bubar juga, dan Moreo belum masuk ke dalam mobil, Canva pun mengambil kesempatan untuk melarikan diri secara diam-diam.


"Mana gadis itu?" tanya Angga ketika ia hendak menyalakan mesin mobil.


Moreo dengan cepat membuka pintu belakang. Benar saja, gadis itu sudah tidak berada di dalam mobil.


"Ck! Ternyata gadis itu penipu. Coba kau periksa, ada yang hilang?" tanya Moreo sambil mengedarkan pandangan ke segala arah, berharap bisa melihat ke mana larinya gadis tersebut.


Di saat yang bersamaan, Moreo pun mendapatkan ide, seperti sebuah lampu pijar yang mengelilingi kepalanya.


"Kenapa?" tanya Angga.


"Sudah saatnya," jawab Moreo sambil menjentikkan jemarinya yang putih bersih dan terawat.


"Aneh," gumam Angga. Menggeleng-geleng karena tidak paham apa maksud sahabatnya itu.


***


Semilir angin berembus dari arah barat, menerbangkan dedaunan yang sudah mulai mencokelat. Jalanan pun dipenuhi daun-daun, asap dari kendaraan roda dua mau pun roda empat yang mengalami masalah di mesinnya. Di trotoar pun juga mulai dipadati para pejalan kaki yang pulang dari tempat kerja masing-masing.


Di sebuah perusahaan berlantai lima belas tingkat, Moreo duduk di kursi kebesarannya sambil menopang dagu di belakang meja yang di mana di sana terdapat papan nama beserta jabatan yang diemban.


Moreo menghela napas panjang, lalu diembuskan perlahan. Kemudian dia berkata, " Aku ingin melakukan penyamaran."


"Untuk?" tanya Angga dengan kening yang menampilkan kerutan sejajar.


"Sudah saatnya mencari seorang gadis untuk pendamping. Kau tahu kalau aku akan dijodohkan dengan orang yang tidak aku sukai sama sekali?" jawab Moreo, memberi pertanyaan juga di akhir kalimatnya.


"Jadi, apa hubungannya dengan penyamaran yang akan kau lakukan?"


"Mencari gadis biasa yang tulus menerimaku apa adanya, bukan karena ada apanya," jawab Moreo sambil beranjak dari kursi kebesarannya.


Putra tunggal dari Yudas Haridiningrat—sang pengusaha ternama di Asia itu—melempar pandangan ke luar jendela. Ia memerhatikan suasana di bawah sana. Di sana para karyawannya sudah berangsur meninggalkan kantor satu per satu.


"Aku mau seperti gadis yang tertabrak pagi tadi," ungkap Moreo, melirik Angga yang kini sedang memerhatikan dirinya.


"Kau serius, Mor?"


Moreo menganggukkan kepalanya. Di sudut bibirnya yang merah tanpa polesan, tampak dua garis serentak membuat sebuah lengkungan.


"Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Angga serius.


"Kau apa gunanya di sini jika tidak ada manfaatnya?"


"Apa? Aku? Kau jangan becanda bedebah kecil!" Angga melotot karena merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Jika kau menolak, silakan angkat kaki dari sini," jawab Moreo datar, tetapi terasa menusuk gendang telinga.


"Akh! Kau mulai lagi ...."


"Tinggal pilih," potong Moreo.


Angga mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menghela napas dalam-dalam sebelum kembali berkata untuk menanggapi kegilaan putra tunggal pemilik beberapa perusahaan terbesar di Asia tersebut.


"Baiklah. Tapi, kalau Om Yudas tahu bagaimana?" tanya Angga terlihat frustasi.


"Papiku tidak akan tahu jika tidak kau bocorkan," jawab Moreo, lalu meraih tas yang berisi laptop. "Ayo, balik. Besok aku harus bersiap-siap melakukan misi besar ini," lanjutnya sambil menyeringai.


Tanpa berkata apa-apa, Angga pun mengikuti dari belakang. Namun, isi kepalanya saat ini terasa diaduk-aduk, dan ia kesulitan untuk berpikir apa yang akan dilakukan setelah ini.


"Apa kau kurang makan?" Moreo menghentikan langkah kakinya, tetapi tidak menoleh.


"Apa?"


"Sekarang kau sudah mulai tuli juga. Aku bertanya, apa kau kurang makan?"


"Oh, itu. Iya, aku belum makan," jawab Angga sambil menggaruk-garuk di bagian leher belakang.


"Pantas saja, kau seperti orang yang akan mati beberapa jam kemudian," ujar Moreo santai.


"Sial! Kau mendoakan aku mati!"


"Ya, sudah. Cepatlah berjalan kalau begitu."


Lagi, Angga menghempaskan napas kasar. Ia sangat jengkel pada sahabat sekaligus atasannya itu. Sejak pagi sampai sore ini, ada saja perkataan Moreo yang tidak mengenakkan telinga. Akan tetapi, walau kadang gondok, Angga tetap berusaha memahami sahabat yang sudah dikenalinya semenjak sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Biaya pendidikan dan biaya hidup keluarga Angga pun, juga ditanggung oleh Yudas Haridingrat, papi Moreo. Maka dari itu, Angga merasa berhutang budi pada keluarga kaya raya tersebut.


"Cari tahu gadis yang tertabrak pagi tadi."


Angga menghentikan langkah kakinya. Ia berpikir kalau sahabatnya itu akan membuat masalah baru.