Insecure!

Insecure!
Ala Gembel



Kemudian Moreo memutar sepeda, mencari tempat yang pengunjungnya tidak terlalu ramai. Tepat di lokasi yang tidak jauh dari jalan utama, ia pun menemukan sebuah kedai kecil yang menjual aneka mie.


"Selamat datang, Tuan. Silakan masuk," sambut pelayan dengan ramah.


Moreo tersenyum tipis. Ternyata bergaya ala gembel masih tetap ada orang yang bersikap baik padanya.


Ya, More hanya baru bertemu dengan satu orang, ia belum mencoba masuk ke restoran yang tadi, yang tentu saja kehadirannya akan ditolak mentah-mentah. Karena di pintu restoran tersebut ada beberapa kriteria yang dilarang masuk.


Sombong sekli!


Namanya juga hak seseorang, terserah saja apa yang akan dilakukan oleh si pemilik restoran tersebut.


Akan tetapi, untung saja Moreo tidak jadi ke restoran tersebut, kalau ia sempat masuk, penyamarannya pun mungkin akan terbongkar sebelum waktunya, dan diekspos oleh beberapa wartawan yang biasa nongkrong di sana. Lagi pula, selama ini Moreo tidak begitu memamerkan wajah tampannya di media, itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan, itu pun didukung penuh oleh sang ayah.


"Mau makan apa, Tuan?" tanya pelayan kedai sambil menyodorkan kertas menu yang ditulis menggunakan pena.


"Yang paling enak, Paman," jawab Moreo sambil menyunggingkan senyuman.


Pria berkumis itu sejenak terdiam, memerhatikan penampilan pelanggan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Paman tenang saja, aku punya uang, kok," ucap More, menyadari apa yang tengah dipikirkan oleh paman itu.


"Iya, Tuan. Bukan maksud menghina, tapi kami belum ada pelanggan dari pagi, dan kami juga butuh uang untuk membeli bahan baku untuk diolah," jawab pria itu dengan wajah tampak menyedihkan.


Moreo mengehela napas panjang. Ia cukup tersentuh dengan penuturan pria itu dan ia berniat untuk melebihkan uang di saat membayar makanannya nanti.


"Seperti biasa, Paman," ucap seorang gadis yang tidak disadari kehadirannya oleh Moreo.


"Siap, Nona Canva," sahut si paman sambil melangkahkan kakinya menuju etalase yang terdapat di bagian belakang ruangan itu.


Dua porsi mie dengan bumbu yang mengugah selera, plus suiran daging ayam yang dipanggang di perapian dengan suhu cukup tinggi.


"Pesanan datang." Si paman menenteng baki yang berisi dua mangkok mie.


Iya, Canva semenjak bolak balik hidup di dunia manusia dan di tanah keabadian, ia juga memakan apa yang dimakan oleh manusia biasa. Dan, itu cukup membuat dia senang.


Moreo menoleh ke arah meja yang di mana gadis itu duduk dengan santainya mengangkat sebelah kaki ke atas kursi.


"Hais, itu gadis tidak ada sopan santunnya sama sekali," umpat Moreo pelan.


"Apa yang kau lihat, Pak?" tanya Canva di saat ia menyadari kalau lelaki di seberang mejanya tengah memerhatikan.


"Jangan terlalu percaya diri, Nona," sahut Moreo tanpa melihat lagi ke arah gadis itu.


"Hum, sombong sekali Anda, Pak!" ketus Canva sambil menipiskan bibirnya.


Setelah berkata seperti itu, Canva kemudian ingin mengabaikan lelaki tersebut, dan memilih menyantap mie yang sudah terhidang di meja.


Moreo menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hati, ia merutuk karena merasa sial bertemu dengan gadis yang sama persis ketika bertemu di lampu merah, di saat kecelakaan kecil kemarin.


"Apakah dia orang yang sama?"


Lagi, Moreo menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal tersebut pun menarik perhatian Canva.


"Apa Anda terkena penyakit epilepsi?" ledek Canva.


"Kamu ...." Moreo menggantung kalimat. Rahangnya yang kokoh tampak mengeras. Namun, seketika itu ia urungkan membalas perkataan gadis tersebut.


"Hmmm ... lezat," ucap Canva sambil menyeruput mie itu dalam keadaan masih panas.


"Dasar gadis gila!" umpat Moreo.


Canva mendongak, ia menjulurkan lidah mengejek lelaki yang tidak dikenali itu. Kemudian setelah itu, ia kembali fokus pada mangkoknya yang masih berisi setengah.


Di balik etalase yang berisi jejeran mie beraneka bentuk, si paman dan rekannya memerhatikan kedua pelanggan yang sejak tadi seperti kucing dan anjing.


"Bisa jadi. Walau mereka terlihat seperti gelandangan, tapi coba perhatikan, bukankah wajah mereka sangat cocok menjadi selebriti?" Teman si paman menanggapi sambil menoleh ke arah Canva, lalu melihat ke arah Moreo.


"Iya. Sayangnya, yang jadi artis pasti kebanyakan dari kalangan orang-orang ber-uang."


Kedua pelayan kedai mie tersebut manggut-manggut. Entah dari mana ide itu muncul, mereka pun sepakat untuk memantau kedua pelanggannya sampai menemukan titik temu, walau dalam keadaan apa pun jua.


"Tapi ... apa pemuda itu akan kembali lagi ke sini, Paman?"


"Kita lihat saja nanti," jawab si paman sambil menyunggingkan senyuman.


Moreo mengangkat mangkoknya, lalu menyesap kuah mie itu hingga tandas. Ia belum pernah merasakan makanan selezat ini, walau di rumah megahnya terdapat berbagai jenis masakan yang diolah oleh koki handal, bukan dari kalangan asisten rumah tangga biasa.


"Kamu perhatikan dari cara dia memegang mangkok," tunjuk si paman dengan memberi kode menggunakan gerakan bola matanya.


"Memangnya kenapa, Paman?" tanya rekan kerja si paman karena memang tidak paham sama sekali.


"Aku menebak dia bukanlah orang sembarangan. Mungkin saja dia pernah kaya atau saat ini masih kaya, tapi pura-pura menjadi orang susah. Dan ... bisa jadi juga dia adalah polisi yang sedang menyamar," jawab si paman.


"Bisa jadi."


"Eh, Ndra. Kamu beri mereka hidangan penutup."


"Siap, Paman," ucap Indra, lalu melangkahkan kakinya ke meja samping, mengambil dua gelas minuman yang terbuat dari rempah-rempah pilihan.


"Terima kasih," ucap Canva setelah menerima satu gelas minuman dari Indra. "Dia jangan dikasih, Paman Indra," lanjutnya sambil melirik ke arah lelaki yang berada di seberang mejanya.


"Tapi, ini jatah dia," kata Indra tak enak hati karena Moreo melihat ke arahnya.


"Dia bukan pelanggan. Palingan besok tidak akan datang lagi ke mari," ujar Canva hendak merampas satu gelas lagi dari tangan Indra.


"Siapa bilang? Aku akan memilih kedai ini untuk mengisi perutku setiap hari. Kamu mau protes?" Moreo sedikit membeliakkan bola matanya, lalu meraih gelas yang ia ketahui kalau itu adalah bagiannya.


"Anda ...."


Moreo tertawa lebar ketika melihat mimik wajah gadis itu yang tampak tidak senang. Namun, di saat ia masih tertawa, Canva mengambil jeruk lemon, dan menyumpalkan ke mulut lelaki itu.


"Sialan! Dasar gadis gila!" rutuk Moreo sambil mengelap-lap lidahnya yang terasa kecut.


"Hahaha. Rasakan itu!" Canva terpingkal-pingkal sampai mata indahnya berair.


"Awas kamu!" teriak Moreo, kemudian ia mengejar gadis tersebut.


Karena kedai mie itu belum ada pengunjung lain, si paman yang ternyata bernama Hendri Sunandar, membiarkan sepasang muda mudi itu berlarian sambil mengejek satu sama lainnya.


"Paman ...."


"Biarkan saja, Ndra," ucap Paman Hendri Sunandar memotong kalimat rekan kerjanya.


"Tapi, Bu Sri Astuti akan memecat kita jika dia tahu."


"Tidak akan, Ndra. Kamu tenang saja," kata si paman sambil tertawa kecil, matanya tidak lepas melihat dua pelanggan yang mengingatkan kenangannya bersama Sri Astuti dahulu.


"Sudah, sudah. Aku tidak sanggup lagi." Canva berhenti sambil mengelap keringatnya yang mulai menetes.


Ternyata, di dunia manusia, Canva juga akan mengalami kondisi seperti manusia biasa. Kemampuannya pun juga akan terbatas, kecuali pada waktu-waktu tertentu, seperti saat bulan purnama penuh atau di saat malam yang dikeramatkan oleh manusia bumi.


Moreo pun juga setuju karena ia sendiri merasa lelah dan perutnya terasa sakit karena baru selesai makan.


"Kenapa berhenti?"


Moreo, Canva, dan kedua pelayan kedai serentak menoleh ke pintu depan.