I Will Change My Life

I Will Change My Life
PERGI



Hari-hari yang Aji lalui, masih sama seperti sebelumnya. Tapi, sekarang dia merasa harinya lebih seru. Karena sekarang dia sudah memiliki teman, juga sahabat yang selalu ada untuknya. Setiap hari Aji selalu dijemput Ketiga sahabatnya untuk pergi ke sekolah bersama. Dan begitu juga pulangnya, mereka juga pasti mengantar Aji sampai depan rumahnya dengan selamat.


Sampai saat Aji menginjak bangku SMA kelas sebelas, dia amat sangat terpukul. Atas kematian kakeknya, karena sangat kakek orang satu-satunya yang sangat berarti, dalam hidupnya. Mengingat ibu kandungnya sudah tidak memperdulikan nya.


Setelah selesai pemakaman, Aji masih stay di samping makam sangat kakek. Ketiga sahabatnya juga masih stay bersamanya.


Sabdo yang merasa iba dengan sahabatnya, menepuk pundak Aji, dan memberinya semangat. "Yang sabar, Ji. Gue yakin lo kuat, sekarang bukan saat untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Sekarang kita harus belajar ikhlas, juga kudu terus doain kak, supaya beliau bisa tenang di alam sana." kata Sabdo, sambil ikut jongkok di samping Aji.


Aji cuma menoleh sekilas, dan kembali menatap pusara yang bertuliskan nama sang kakek. Sedangkan Rizal mencibir perkataan Sabdo, "Tumben perkataan lo bijak, Do. Biasanya absurd," kata Rizal.


"Betul kata si Rizal, biasanya berantakan perkataan lo. Bukan cuma perkataannya aja sih yang absurd, idupnya juga absurd." kini Arif yang mengejek Sabdo, Rizal dan Arif pun tertawa.


Sedangkan yang di ejek merotasi matanya malas, "Gak lucu, gak usah ketawa. Juga sekarang bukan saatnya bercanda," sahut Sabdo.


Aji menatap ketiga sahabatnya, dia tau kalau mereka berusaha untuk menghiburnya. Sekilas dia ngembangin senyum manisnya, "Makasih ya, semua. Karena kalian selalu ada buat gue, disaat gue terpuruk. Semenjak gue kenal kalian, gue bisa ngerasain gimana rasanya dihargai seseorang selain kakek. Sekali lagi makasih ya," kata Aji.


Kata-kata Aji, sontak saja membuat ketiganya menatap kearahnya. "Ulu ulu bro gue jadi terharu. Kita semua ini sahabat, kan? jadi, gak usah bilang makasih atau pun maaf," sahut Sabdo, dan diikuti anggukan oleh Rizal juga Arif. Mereka setuju dengan apa yang Sabdo katakan.


"Mending sekarang kita balik, nanti kan masih harus nyiapin tahlilan untuk kakek." kata Arif memecahkan keheningan diantara keempatnya.


"Kuy lah pulang!!" sahut Sabdo juga Rizal.


Setelah itu, keempatnya mengantar Aji pulang kerumah mamanya.


AJI POV


𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘶, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪. 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶. 𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘧𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶. 𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘯𝘺𝘢, 𝘈𝘮𝘪𝘪𝘯.


Seusai dari pemakaman kakek, aku dan ketiga sahabatku melakukan persiapan untuk acara tahlilan nanti malam. Tak luput dari bantuan sanak saudara yang ikut andil dalam acara ini. Papa, bang Andi juga mama tiri ku juga ikut membantu.


Persiapannya selesai, tepat saat adzan maghrib berkumandang. Semua anggota keluarga menjalankan ibadah sholat maghrib berjema'ah, tak terkecuali aku dan ketiga sahabatku ini.


°


°


°


°


Setelah selesai sholat, acara tahlilan pun dimulai. Acaranya berjalan dengan lancar, juga berlangsung dengan khusyuk.


Seusai nya, semua orang pulang kerumahnya masing-masing. Tapi tidak dengan ketiga sahabatku, mereka masih stay menemaniku.


Setelah aku membuka suara, mereka bertiga langsung melihat kearah ku. "Kalau gue mah udah biasa, bro. Mereka gak bakal nyariin gue, lo kan tau ortu gue sibuk dengan dunianya sendiri." jawab Sabdo santai.


Aku pun mengangguk menanggapi penuturan Sabdo, dan setelah itu aku melihat kearah Arif juga Rizal. Seakan mengerti dengan apa yang tengah aku pikirkan, Arif pun menjawab. "Gue sama Rizal udah ijin tadi, buat jaga-jaga takut kita nginep disini. Siapa tau lo butuh temen?" sahutnya.


Aku senang mendengar penuturan sahabat ku, mereka sangat peduli terhadapku. Tapi, aku juga takut. Mama tidak mengijinkan mereka, tau sendiri kan seperti apa mamaku.


Setelah beberapa saat, Mama datang dengan tatapan tajam sambil berkacak pinggang. Aku tau, beliau tidak suka akan keberadaan ketiga sahabatku ini. Sudah terlihat jelas dari tatapannya, bahkan mama juga tidak suka akan keberadaan ku. Tapi, aku harus memberanikan diri. "Ma, Teman-teman Aji boleh gak nginep disini?" tanyaku dengan segenap keberanian.


"Boleh, asal setelah acara tahlilan kakek kamu harus pergi dari rumah ini. Kamu kan bisa tinggal di rumah kos, atau apalah itu. Sambil kerja paruh waktu juga," pernyataan mama, bagaikan petir disiang bolong. Aku pun kaget dan mematung untuk beberapa saat, aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Bagaimana bisa? ibu kandung ku sendiri mengusir ku dari rumah, yang selama ini menjadi tempat ku bernaung dan menghabiskan waktu.


Teman-teman ku mengerti perasaanku, terlebih Sabdo yang saat ini tepat berada di sampingku. Dia menepuk pundak ku pelan, mungkin untuk menyemangati ku.


Sedangkan mamaku masih stay ditempatnya, "Bisa kan, Ji?" tambahnya.


Aku berusaha menetralkan emosi ku saat ini, sebelum aku menjawab pertanyaan mama.


"Iya ma, Aji akan ninggalin rumah ini. Kalau itu bisa ngebuat mama bahagia, Aji akan berusaha untuk menghidupi diri sendiri. Dan juga, Aji bakal buktiin sama mama. Kalau Aji Bisa sukses dengan atau tanpa mama, disisi Aji. Lagi pula, selama ini Aji gak pernah ngerasa punya keluarga. Cuman kakek satu-satunya orang yang sangat peduli sama Aji, dan satu hal lagi ma. Aji banyak ngucapin makasih, karena selama ini bisa di ijinin tinggal dan juga dikasih makan gratis. Makasih banyak ma," Jawabku. Aku menumpahkan semua unek-unek yang selama ini aku pendam. Rasanya lebih lega dari sebelumnya.


Mama hanya tersenyum miring kearah ku, seakan-akan dia meremehkan ku. "Semakin cepat semakin baik," jawabnya, Aku yakin mama mengusir ku saat ini juga.


Aku langsung pergi ke kamar, untuk membereskan semua barang-barang ku.


Ketiga temanku juga mengikuti dari belakang, aku tau mereka pasti bingung, "Mau ngapain Ji?" tanya Sabdo.


Aku tak menghiraukan pertanyaannya, aku langsung mengambil koper juga tasku. Ku masukkan semua barang-barang ku kedalamnya, meskipun mereka bingung. Mereka juga ikut membantu ku mengemas barang-barang.


Setelah selesai, Aku menarik koper keluar dari dalam kamar. Sedangkan Sabdo, Arif, juga Rizal ikut membawakan barang-barang ku yang lain. Aku juga tak lupa, membawa sebuah amplop berwarna coklat pemberian kakek. Sebelum beliau meninggal, beliau memberikan aku amplop tersebut.


Aku bermaksud pamit sama mama, "Ma, Aji pamit. Malam ini juga Aji akan pindah, semoga mama bahagia," kataku.


Mama tak menjawab sepatah katapun, aku pun berbalik untuk pergi. Tapi mama menghentikan langkah ku.


"Ji, tunggu. Ini uang untuk menyewa kamar kos, sisanya kamu nyari sendiri." beliau memberikan ku uang, ternyata mama masih punya hati. Meskipun selama ini beliau tak pernah menunjukkannya.


Aku pun berbalik dan menatap beliau dengan sendu, "Aji kira mama gak bakal peduli dengan Aji. Ternyata mama masih punya hati," jawabku.


"Udah, gak usah banyak omong. Ambil aja uangnya, setelah itu cepat pergi!!" Kata-kata mama emang bisa nusuk kayak pisau.


Aku pun mengambil uang tersebut, "Aji janji, setelah Aji dapet kerja. Dan punya uang, Aji bakal balikin uang mama ini." jawabku dengan penuh keyakinan.


Setelah itu, aku mengajak ketiga temanku untuk pergi.