I Will Change My Life

I Will Change My Life
KEMBALI



Seperti inikah namanya keluarga? sebelumnya, aku belum pernah, merasakan yang namanya kasih sayang. Aku juga sudah lupa rasanya belaian kasih seorang ibu, selama ini, Aku hanya menginginkan mereka menyayangiku, memperhatikanku, juga menganggap kehadiranku ini penting. Tapi, semua itu hanya angan ku saja. Selama ini, mereka hanya sibuk dengan Ego mereka masing-masing.


Terkadang aku berfikir, apa sebaiknya aku ini lenyap dari dunia ini? sehingga, orang-orang di sekitarku bisa terbebas dari beban sepertiku ini.


Tapi, tuhan berkehendak lain. Mungkin, masih ada harapan untukku, dikemudian hari aku bisa bahagia, layaknya orang-orang normal lainnya.


Untuk saat ini, aku akan menggunakan waktu ini dengan baik. Dimana, aku bisa merasakan hangatnya kasih sayang sebuah keluarga.


Aku berharap, waktu bisa berhenti sampai disini saja. Supaya aku senantiasa merasakan kasih sayang dari yang namanya keluarga.


Tapi tidak, aku tidak bisa menghentikan waktu. Waktu berjalan sangat cepat, sehingga aku hanya bisa merasakan perasaan hangat ini, hanya sebentar saja.


Ya Robb!! aku tau, Kau pasti punya rencana sendiri untuk hidupku. Tapi aku mohon, jangan beri aku cobaan, yang tak sanggup aku lewati. Dan berilah aku kekuatan ya Robb.


AJI.


Melihat sang anak yang tengah melamun, beliau pun menegur, "Kok melamun nak? apa masakan mama kurang enak?" tanya sang mama sambung.


"Ehh, enggak kok mah. Aji cuman terharu saja, selama ini Aji gak pernah mau, kalau disuruh main kesini," jawabnya menyesal.


Kedua orang tuanya tersenyum, "Mulai sekarang, Aji harus sering main kesini. Atau, tinggal saja disini. Biar mama ada temannya," pinta sang mama.


"Kalau Aji tinggal disini, siapa yang akan jagain kakek. Kasian kakek kalau ditinggal sendiri," dia menjawab dengan ragu.


"Iya juga. Di Sana kan ada mama mu," timpal sang Papa.


"Iya, tapi mama sudah berubah Pah. Mama gak kayak dulu lagi, semenjak kalian pisah, mama berubah. Gampang emosi dan gak peduli lagi sama Aji juga kakek, Mama cuman mentingin dirinya sendiri," Aji menceritan semuanya pada Papanya.


Mendengar penuturan dari sang Anak, Papa Aji merasa iba dengan kondisi anaknya, beliau menghampirinya, dan menepuk-nepuk pundak sang Anak. "Maaf nak, mungkin kalau Papa dan mama tak berpisah. Kamu juga kakak tidak akan seperti sekarang, maafin papa. Papa sudah gagal mempertahankan keluarga ini," beliau pun terlihat meneteskan beberapa bulir air mata.


"Sudah lah pa, bukan salah papa juga. Lagian itu cuman masa lalu. Kita harus menerima kenyataan, dan memperbaiki kesahan kita. Supaya, dimasa depan kita tak terjerumus dalam kesalahan yang sama," ujar Aji.


"Denger tuh pa!! anakmu saja bisa sebijak itu. Masak papanya tidak bisa bersikap bijak," sahut mama tiri Aji.


"Ternyata anak papa sudah dewasa, bisa berpikir sebijak itu. Beda sama yang satunya," Sang papa melirik Andi, yang dari tadi hanya menyimak saja.


"Lahh!! kok malah bawa-bawa Andi sih pa, Andi gak tau apa-apa lohh!!" sahut Andi kesal.


"Kalau gak tau apa-apa, makan aja kak," sahut mamanya sambil terkekeh kecil.


" Iya, Andi diem. Kalian lanjutin aja, tapi jangan salain Andi, kalau nanti kalian pas mau makan, makanannya abis." kata Andi.


Mama papanya hanya bisa tertawa melihat kelakuan putra sulungnya itu, karena sifat dan sikapnya, tidak mencerminkan bahwa dirinya lebih dewasa dari Aji sang adik.


Mereka pun melanjutkan makan siang keluarga yang harmonis itu. Sesekali dari mereka melemparkan candaan.


 


Akhir pekan yang sangat menyenangkan, Aji menghabiskan Akhir pekannya, bersama papa, kakak, juga mama sambungnya.


Mereka bersenang-senang bersama, meskipun cuman sebentar, tapi Aji sangat menikmati *quality time* nya bersama keluarga, yang selama ini dia hindari.


Dia kini kembali ke kehidupan biasanya, kembali ke rumah yang menurutnya neraka.


Dia bertahan, hanya demi sang kakek yang sangat dia sayangi.


Dia menjalankan aktivitasnya seperti biasa, melakukan pekerjaan rumah, sebelum berangkat sekolah. Setelah semua selesai, dia langsung berangkat ke sekolah, bersama teman-temannya.


"Ji, Nanti ikut kita main gak bareng kita?" tanya Sabdo.


"Entahlah, aku pengen ikut. tapi aku takut mama marah," jawab Aji ragu.


"Yahh!! gimana dong? gimana kalau kamu bilang sama mama mu, buat ngerjain tugas kelompok? pasti mama mu bakal ngijinin," Sabdo memberikan ide.


Mendengar pernyataan Sabdo, Arif langsung mentoyor kepala Sabdo. "Gak usah ngajarin Aji gak bener, dasar!!" kata Arif setelah mentoyor kepala Sabdo.


"Aww!! sakit tau. Gak usah ditoyor juga my kepala, kamu pikir my kepala ini apa? main toyor aja," kata Sabdo meringis karena toyoran Arif.


"Abisnya, kamu ngajarin anak orang buat bohong sama emmaknya sendiri. Terlalu," jawab Arif.


"Cukup idup kamu aja yang ancur, gak usah ngajak yang lain juga," timpal Rizal.


"Suek banget ente Zal, ane anak baik-baik tau. Mana ada idup ane ancur," sahut Sabdo kesal.


"Anak baik-baik katanya, baik dari mana? ngluyur malem. Pr jarang ngerjain, suka bolos kalau disuruh ngaji. juga tukang boong, apa namanya kalau bukan ancur?" ujar Rizal.


"Serah anda saja, yang penting anda bahagia, saya pun bahagia," jawab Sabdo.


"Wiis!! kata-katanya dramatis Do, dari mana kamu belajar? pasti nonton drakor? ayo ngaku!!" kini Arif yang membuka suara.


"Enggak juga, Cuman gak sengaja denger, pas embak nonton drakor," jawabnya.


Aji yang dari tadi hanya diam, kini membuka suara, "Kalian, kalau ketemu pasti ribut, udah gak usah ribut lagi. Bentar lagi guru masuk," ujar Aji.


"Baik bos!!" jawab ketiganya kompak.


Mereka pun kembali ketempat duduk masing-masing. Dan akhirnya guru yang mengajar mereka pun masuk kelas.


**Yuhuuu... Author bakal tunjukin visual mereka, jangan lupa berkedip yak 😂😂.


Garing yak? entahlah. Author lanjut ok


Ini Ajinya**



Dan ini Sabdo;



Ini Rizal;



Ini Arif;



Dan ini kakaknya Aji, Andi;



Selamat menikmati 😂😂😂