
AMARAH SALAH SASARAN
Arumi sekarang berada didalam taksi ia menuju Club malam yang dikatakan pelayan tadi. Ia bergegas turun setelah mobil berhenti. Ia mendorong pintu masuk dan melihat Dafa sedang terbaring disofa.
Arumi melangkah ke arah Dafa dan menepuk pipinya “Dafa bangun, hey bangun” ucapnya lembut . “kau benar-benar mabuk” Arumi melihat beberapa botol didekat Dafa dan juga satu botol ditangannya.
“cih, kamu kenapa begini sih” ucap Arumi yang menarik tangan kanan Dafa dan menaruhnya dipundaknya. Ia merogoh kantung Dafa dan mengambil kunci mobil disaku celana.
“biar saya bantu nyonya” ucap seorang pelayan laki-laki padanya.
“tidak apa-apa, biar aku saja” Arumi menolak secara halus permintaan pelayan itu.
Arumi memapah Dafa ke arah mobil dan membuka pintu dengan tangan kanannya dan membaringkan Dafa di kursi belakang.
“menyebalkan” ucap Arumi sambil menutup pintu mobil ia memandang Dafa sekilas “ada apa dengan laki-laki itu” ucapnya mulai melajukan mobil.
Sampainya di Apartement Arumi menurunkan Dafa memapahnya menaiki lift hingga sampai ke apartement. Arumi membuka kamar Dafa dan membaringkan tubuh pria itu. Melepaskan sepatu dan jaket yang dia gunakan.
“bodoh, kamu tau gak kalau kamu bodoh” Arumi mengomel sendiri.
“ngapain mabuk-mabukan sampai mau mati begini” ucapnya sambil melepas baju Dafa yang bau alkohol. Dafa terbangun ia melihat Arumi dengan tatapan yang begitu sedih.
“kenapa lihat-lihat gak suka aku omelin” ucap Arumi padanya. Dafa tidak menggubris yang dikatakan Arumi.
Ia menarik Arumi sampai jatuh di dadanya “ah.. Dafa lepasin” ucap Arumi pada Dafa yang langsung memeluknya erat.
“Clara, aku cinta sama kamu, tolong jangan bilang putus” Dafa berkata dengan lembut dan bernada sedih.
Arumi terdiam dengan posisi tubuhnya menindih Dafa dan merasakan pelukan itu melonggar ia bangkit berdiri.
“tolong jangan pergi” Dafa memegang tangan Arumi. Arumi kasihan pada Dafa yang seperti orang putus asa yang bodoh. Arumi berbaring di samping Dafa mereka sekarang berhadapan.
“bodoh” Arumi mengelus pipi Dafa sesaat
“jangan, tetap seperti ini” Dafa memegang tangan Arumi yang menempel di pipinya. Mereka tertidur bersama dengan posisi seperti itu.
Dafa terbangun dan membuka matanya pelan dilihatnya Arumi ada disampingnya dan juga tangan mereka yang saling bergandengan.
Arumi juga terbangun karena Dafa menarik tangannya “maaf” ucap Dafa bangkit berdiri “ada apa” Tanya Arumi pada Dafa.
“tidak ada apa-apa” jawab Dafa mengelak.
“jangan bohong, kamu bisa cerita padaku apa yang terjadi” Arumi berusaha untuk mendapat Jawaban.
“kenapa diam, kamu kemarin ketemu Clara kan” “buat apa kamu pengen tau” Dafa berusaha untuk tidak menjawab.
“aku Cuma pengen dengar aja apa yang buat kamu mabuk-mabuk sampai seperti itu”
“baiklah kalau kamu pengen tau, Clara memutuskan hubungan denganku, puas!!” Dafa memegang kepalanya yang sedikit pusing.
“kenapa?” Tanya Arumi penasaran. “ini semua gara-gara kamu, hubungan pernikahan konyol ini” Dafa meluapkan amarahnya pada Arumi.
“kok salah aku” Arumi berdiri mendekati Dafa
“salah karena kamu hadir di hubungan kami, salah karena aku menikahimu bukan Claraku” ucap Dafa dengan Nada kesal menatap wajah gadis itu.
“ok, fine” ucap Arumi yang tidak bisa berkata-kata dengan mata yang berkaca-kaca ia keluar dari kamar Dafa dan pergi ke kamar disebelahnya.
Arumi menutup pintu dengan kerasnya dan terduduk di depan pintu sambil memeluk lututnya.
“selalu aku yang salah” gumam Arumi menahan semua emosi yang ingin meledak setelah Dafa mengatakan hal itu. Ia berdiri dan pergi ke arah kamar mandi dan menghidupkan shower. Air membasahi tubuhnya mengalir bersama air matanya.
Dafa sedang duduk di pinggiran Kasur sambil merasa sedih dan kesal didengarnya suara deringan telepon seseorang. Dilihatnya tas Arumi yang kemungkinan telepon berasal dari dalam tas itu.
“tante Iren” ucap Dafa yang melihat nama yang tertera dilayar ponsel. Ia berjalan kearah kamar Arumi
“Arumi, tante Iren telepon” Dafa mengetuk pintu kamar Arumi tapi tidak ada jawaban. “Arumi?” Dafa membuka pintu karena Arumi tidak menjawab telepon.
Didengarnya suara air dari kamar mandi. “Arumi kamu sedang mandi” Tanya Dafa mengetuk pintu. Deringan telepon Arumi kembali terdengar Dafa mengangkat telepon itu
“ hallo tante”
“Dafa, Arumi ada”
“Arumi sedang mandi tante, ada yang ingin disampaikan” ucap Dafa.
“oh, baiklah nanti tante hubungin lagi saja”
Dafa melihat kamar mandi itu kenapa tidak ada suara sama sekali.
Ia dengan gugup dan sedikit tidak enak hati membuka pintu kamar mandi betapa terkejutnya Dafa melihat Arumi duduk di bawah shower dengna tubuh menggigil .
“Arumi, kamu kenapa” Tanya Dafa yang langsung mematikan Shower. Arumi membuka matanya yang terlihat merah ia menatap Dafa dengan wajah yang begitu sendu.
“aku gak salah, aku gak salah” ucap Arumi dengan bibirnya yang bergetar memandang Dafa dengan rasa takut.
“tidak, tidak aku minta maaf” Dafa mendekati Arumi dan berusaha untuk memegang pundak gadis itu.
“jangan sentuh aku, jangan” Arumi mundur sampai ketembok seperti bukan Arumi yang biasanya ekspresinya seperti orang yang ketakutan.
“Arumi, tenanglah” Dafa berusaha memeluk Arumi walau gadis itu terus mendorongnya hingga Arumi tenang.
“maaf Arumi aku tidak bermaksud menyalahkanmu” ucap Dafa dengan rasa yang amat sangat bersalah, Arumi pingsan dipelukan Dafa.
“Dafa menggendong Arumi ke atas Kasur dan membaringkan gadis itu. Baju Arumi sangat basah tapi Ia tidak bisa membiarkan Arumi seperti itu.
“aku harus apa sekarang” gumam Dafa berjalan mondar-mandir.
“bagaimana aku mengganti bajunya, ah tidak apa-apa dia istriku” ucapnya menyakinkan dirinya. Ia melepas baju Arumi satu persatu dan menutupnya dengan selimut.
“uh, aku tidak bisa menggantinya” ucap Dafa. “ia mematikan AC dan berusaha untuk menyadarkan Arumi. Pelan-pelan mata Arumi mulai terbuka dan tersadar.
“kamu sudah sadar” Tanya Dafa pada Arumi. “tidak apa-apa” Arumi berusaha untuk duduk dan memegang kepalanya.
“aaaa… jangan” Dafa menghentikan Arumi untuk duduk sambil mengalihkan pandangannya. Arumi melihat selimut yang membalut tubuhnya ia sadar dia tidak menggunakan baju.
“kamu melepaskan bajuku?” Arumi melihat Dafa.
“Maaf, aku terpaksa bajumu basah” Dafa merasa bersalah.
“ya, sudah. Tidak apa-apa .. kamu punya hak” ucap Arumi melihat Dafa lagi. “maaf soal tadi” raut wajah bersalah terlihat jelas diwajah Dafa.
“iya, tidak apa-apa, aku mau ganti baju kamu mau tetap disini” Arumi melirik Dafa memberi syarat untuk keluar.
“oh, aku akan keluar sekarang, permisi”
Dafa lupa memberi tahu bahwa tante Iren menelpon tadi “oh, iya tante Iren telepon” Ucap Dafa dari luar kamar.
Arumi terdiam “obatku tertinggal dirumah” ucap Arumi yang baru sadar akan kecerobohannya