
2 hari sebelum kepulangan Arumi dan Dafa
“Klik”
suara pintu terbuka seorang dokter paruh baya masuk ke dalam kamar kedap suara itu. Ia berjalan mendekati Clara memeriksa denyut nadi dan mendengar suara detak jantungnya serta memeriksa tekanan darah gadis itu. Clara terlihat pucat akhir-akhir itu Ia ingin mengetahui kenapa dia tidak mau makan dan selalu muntah.
“dok memang aku sakit apa” Tanya Clara setelah diperiksa.
“tidak apa-apa, mungkin kamu kelelahan jadi perlu banyak istirahat” ucap Dokter itu padanya.
Clara tidak percaya dengan perkataan dokter itu karena sudah ketiga kalinya dia datang ke tempat itu untuk mengecek keadaan Clara. Clara juga paham bagaimana kondisinya sekarang seperti orang yang sedang hamil. Ia hanya perlu pernyataan dari dokter itu langsung.
Dokter wanita itu sedang menyimpan barang bawaannya didalam tas Clara mengambil stetoskop dokter itu dan melilitkannya pada leher si dokter. “dokter, saya tahu anda berbohong, katakan sejujurnya saya kenapa?” Tanya Clara sambil memperkencang stetoskop itu.
“itu, saya tidak bisa beritahu” dokter itu ketakutan ia berusaha melepas stetoskop itu dari lehernya tapi sia-sia Clara semakin menariknya.
“cepat katakan sebelum stetoskop ini mencekik leher anda” paksa Clara yang terlihat seperti psikopat berdarah dingin. “Anda …tidak sakit tapi hamil, tolong lepaskan ini” Clara terdiam ternyata prediksinya benar bahwa ia hamil dilepasinya dokter itu. Dokter wanita itu hendak keluar tapi kepalanya dipukul oleh Clara dengan nampan yang digunakan untuk mengantar makanan bagi dirinya.
Clara mengambil ponsel Dokter wanita itu dan menelpon penjaga yang ada diluar dengan sigap ia bersembunyi disamping pintu bersiap keluar dari sana. Penjaga yang menerima telepon langsung membuka pintu saat itu lah Clara menendang pinggang penjaga itu dengan keras sampai terjatuh. Penjaga lain mulai berlari ke arah kamar itu. Mereka melihat Clara yang berdiri didepan pintu .
Clara melihat sekeliling mencari sesuatu untuk bisa melawan mereka dilihatnya Guci berukuran sedang ia berlari mengambilnya dan melemparkan guci itu tepat mengenai salah satu penjaga. Ia berlari ke arah Dapur rumah itu mencoba mencari benda tajam untuk melawan.
Diambilnya secara acak sebilah pisau “jangan mendekat, kalau kalian mendekat aku tidak akan segan-segan untuk menusuk kalian” ucap Clara sambil menodongkan pisau dapur kea rah tiga penjaga.
“tenanglah, lepaskan pisau itu” seorang penjaga berusaha untuk mendekat. “jangan kemari” Clara melangkah mundur hingga mentok di dinding.
“aku akan benar-benar menusukmu” ucap Clara sekali lagi. “coba saja” kata penjaga tersebut yang tau bahwa wanita itu hanya menggeretak. Ia melihat tangan Clara bergetar dan langsung mengambil sebilah pisau itu. Dan membuangnya. Tangan Clara sekarang di pegang dengan kuat Ia tidak bisa menggerakan tangannya sampai terasa sakit. Mereka membawanya ke dalam kamar dengan posisi tangan diikat. Didudukan nya dia disebuah kursi.
“dengar, aku sedang hamil jangan perlakukan aku seperti ini” Clara berusaha untuk mencari simpati pada penjaga.
“kami tahu, Pak Anggara akan datang menemui kamu nanti” ucap penjaga itu meninggalkan dan mengunci kamar itu.
"apa kabar Clara?" -pak anggara menyunggingkan senyumnya.
"pak, aku mohon lepaskan saya"
"kamu akan saya bebaskan tapi, ada syaratnya"
"syarat?"
"iya, jika kamu mau meninggalkan Dafa, saya akan melepaskanmu"
"tidak!! saya dan Dafa saling mencintai" Arumi berteriak.
"kamu tidak tau diri!! ingin menaiki keluarga kami dengan cara picik" ayah Dafa benar-benar kesal.
"ya sudah, bagaimana kalau saya singkirkan kamu dan anak yang ada dikandungan untuk selamanya"
"jangan, lakukan itu apa salah anak ini" mata Clara berkaca-kaca menahan tangisnya.
"keputusan saya sudah bulat, kalau kamu mau hidup dan membesarkan anak itu pergi jauh dari kota ini dan jangan sampai Dafa jauh" Anggara meletakan uang didekat kaki Clara
Clara menangis merasakan ketidakberdayaannya.
Besok paginya Clara diantar kembali ke rumahnya. Saat masuk kamar ia duduk dan mengambil sebuah foto yang terbingkai foto pria dan wanita yang tersenyum.
"Maaf Dafa ini demi anak kita" ia mengelus perutnya yang masih rata. Ia memutuskan untuk mandi dibawah shower ia terbayang wajah Dafa dan masa-masa mereka bersama air matanya mengalir bersama dengan air yang keluar dari shower.
Hari di saat Dafa sudah pulang Ia berusaha menghubungi Dafa. Beberapa diteleponnya nomor itu tak ada jawaban "angkat dong Dafa" gumamnya gelisah menunggu jawaban. Hallo Clara, ini clara kan?" Suara yang dirindukan membuat nya menangis tapi ia berusaha untuk menahan supaya tidak terdengar oleh Dafa
“iya ini aku” jawab Clara “apa kau baik-baik saja” Tanya Dafa.
“iya aku baik-baik saja”-Clara
“aku kangen kamu Clara” ucap Dafa senang “aku juga kangen kamu” Clara menjawab setelah terdiam sesaat ia menahan tangisnya begitu besar rindunya pada Dafa.
“kamu dimana ayo kita bertemu”-Dafa.
“iya, tapi kita bertemu diluar saja tempat pertama kali kita jadian Di restoran X jam satu siang ”
“baiklah aku jemput ya”
"Untuk terakhir kalinya aku ingin bersama Dafa" gumamnya sambil bersiap-siap memilih baju yang dia pakai. Memoleskan make up diwajahnya dan mengembangkan senyum dibibirnya.
Dilihatnya Dafa sudah ada disana ia melangkah mendekati meja dan Dafa langsung memeluknya "Clara aku kangen ksmu" ucap Dafa. Clara ingin membalas pelukan Dafa. "Aku juga Dafa" ucapnya dalam hati. Ia ingin memberitahu Dafa direstoran itu tapi Ia masih merindukan Dafa. ia ingin membust kencan perpisahan dengan Dafa. Waktu semakin berlalu Clara mulai takut apa dia bisa mengatakan itu.
Akhirnya dia mengatakan semuanya. Rasa sakit menusuk dalam dadanya seperti ada yang mengiris hatinya ia memukul Dadanya sesak sambil berjalan menyusuri jalan. "Ini tidak adil untukku" gumam nya.
Hujan mulai mengguyur kota Clara berjalan ditengah hujan. Sebuah mobil berhenti disampingnya.
"Hey kamu basah ayo ikut aku" Arumi menepuk pundak Clara hingga ia menoleh dilihatnya gadis itu menangis Ia kasihan "ayo aku antar pulang " ucap Arumi memayungi Clara. Arumi baru saja pulang dari mengunjungi rumah keluarganya.
Diberikannya jaket untuk Clara "kenakan ini nanti kamu sakit" Arumi memakaikan jaket dan mengusap wajah Pucat Clara. Clara memandang Arumi. Mereka berdua tidak saling mengenal . "Kamu kenapa menangis" tanya Arumi pada Clara dan tak ada jawaban. "dimana rumah mu" "belok kiri nomor 7" ucapnya .
Mobil berhenti Clara membuka pintu mobil "terimakasih" ucap Clara mengembalikan jaket Arumi "tunggu ini payung pakailah" Arumi memberi payung"tidak aku akan berlari" Clara langsung keluar dan berlari kerumahnya ..
"Ayo jalan pak" ucap Arumi pada Pak Delta.
"Nyonya kasihan pada gadis itu" tanya pak Delta.
"Iya, dia seperti sedang putus asa" ucapnya.
Ia mengotak atik ponselnya mencoba menghubungi Dafa tapi tidak diangkat. "Sudah sampai Nyonya"
"Oh ya,terimakasih pak delta" ucap Arumi turun dari mobil. Ia pergi ke apartemen mereka dan dilihatnya rumah itu masih gelap.
"DAFA belum pulang dari tadi siang" Arumi bingung Dafa tidak bisa dihubungi. Ia duduk disofa menunggu teleponnya .. tapi tidak ada jawaban Arumi berjalan mondar mandir sampai ada suara dari seberang "hallo, ini saya pelayan club, apa pria yag punya handphone ini suamimu" tanya pelayan itu. "Iya, dia dimana sekarang" tanya Arumi panik. "Dia mabuk dan juga berisik disini tolong jemput dia" ucap pelayan itu terdengar sekilas suara Dafa ada didekatnya.
"Aku akan menjemputnya, dimana tempatnya" Arumi melihat jam yang melingkar ditangannya menunjukkan jam 10 malam.
Ia bergegas mengambil tas dan memasang jaket kemudian mengenakan sepatunya.