I'M The Grim Reaper

I'M The Grim Reaper
Episode 7 ( Rapist Killer -End-)



(Peringatan : Terdapat adegan kekerasan, kata-kata kasar, dan hal-hal lain yang sekiranya mengganggu pembaca, jika tidak nyaman, harap jangan dibaca!)


.


.


.


.


Saat kembali ke neraka, aku melemparkan tubuh mereka kedalam api, setelah itu akan berurusan dengan jiwa mereka bersama Lucifer.


Kuakui memang hari ini adalah dimana aku malas untuk mengambil jiwa orang lain. Dari hasil kejadian hari ini, sepertinya aku belajar, meskipun mereka terlihat bodoh, ternyata mereka bisa sadis juga.


Setelah tubuh mereka kubuang semua, aku segera kembali ke neraka dan bertemu dengan Lucifer kembali.


("Hah..... hariku sudah separah ini, sebaiknya dia memberikanku informasi yang berguna!") gertakku dalam hati


Saat sampai di ruang takhtanya, tanpa basa-basi aku segera melompat kearahnya dan mengacungkan sabitku kearah wajahnya. Tepat seperti dugaanku, dia menghentikan sabitku hanya dengan menatapnya saja.


"Wah, kenapa tiba-tiba kamu menyerangku ya?" tanyanya dengan santai


"Ini hanya untuk mengetes saja, sekuat apa dirimu!"


"Lagian, jika kamu sekuat ini, kenapa bukan dirimu saja yang mengerjakan tugas ini?!"


"Juga, itu bentuk kesalku karena kamu tidak membantuku sama sekali, dasar iblis munafik!" kataku dengan geram


"Heh...tuan putri jangan meremehkanku ya, aku lebih tinggi daripada kalian makhluk rendahan!"


"Ingat, aku bisa saja menggantikan dirimu, dan langsung membuangmu ke lubang kegelapan!" katanya mengancam


"Cih, cuma digertak dikit aja marah, dasar iblis pms!" kataku mengejeknya


"Hei, siapa yang berkata kamu boleh seenaknya?!" katanya sambil mengacak-acak rambutku


Sadar akan tindakannya, pipinya memerah kemudian ia menjauh dariku untuk menghindari kesalahpahaman diantara kami berdua. Untuk melupakan kesalah pahaman, ia segera mengalihkan pembicaraan kami.


"Jadi... bagimana pekerjaanmu tadi?" tanyanya serius sekarang


"Lebih buruk daripada kematian seorang manusia!" jawabku cepat


"Ho..kalau begitu selamat ya, kamu tidak mati terbelah-belah atau semacamnya." jawabnya dengan tersenyum


Aku hanya bisa mengerutkan dahiku mendengarnya senang jika aku cepat mati.


Sebelum sempat lupa, aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya, setelah sekian jam aku penasaran di dunia manusia.


"Hei Luci, katanya jika aku sudah membunuh daftar hari ini, maka aku akan mendapatkan informasi tentang diriku?" tanyaku kepadanya


"Yah, kamu ingat ya, kupikir kamu akan melupakan hal itu dan fokus saja menjalankan tugas!" katanya sekarang kecewa


"Lagian, tidak semudah itu aku menepati janjimu." katanya tidak peduli


"Pastilah, aku akan terus mengingatnya, lagipula aku hanya seambang roh yang tidak memiliki ingatan sama sekali." kataku sambil menghembuskan nafas


Tentu saja, apa yang aku harapkan, selalu sial ketika hidup dan sekarang, malah bekerja sebagai seorang yang malaikat maut yang bahkan tidak bisa melakukannya dengan benar.


Dengan kecewa aku hanya menundukan kepalaku, dan bersiap untuk kembali ke dunia manusia.


"Sebenarnya sih, seharusnya aku berterima kasih...." kata Luci tiba-tiba yang membuat pandanganku berpaling


"Kuberi kamu informasi yang menurutmu akan cukup memuaskan!"


...


"Jika kulihat pada datamu, dulu kamu adalah gadis yang sangat ceria, namamu Violet Evallyn."


Mendengarkan fakta yang tidak bisa dipungkiri kembali, akhirnya aku bisa mengetahui nama asliku. Akhirnya aku bisa tenang menjalankan tugas, namun sebelum sempat kembali ke dunia manusia, Lucifer menyela dengan menambahkan beberapa informasi, yang membuatku terkejut bukan main.


"Ahh dan juga kematianmu ternyata tidak alami, itu artinya kemungkinan ada yang membunuhmu!"


"Itu saja yang bisa kuberikan sekarang." katanya setelah membaca dataku


Jika nama, mungkin aku hanya akan mengingatnya, hal yang membuatku penasaran adalah kematianku sendiri. Apa yang terjadi semasa hidupku sehingga aku berakhir menjadi seperti ini. Dan tentunya tidak semudah itu mendapatkan informasi kembali dari Lucifer, dia kan iblisnya dikit-dikit perhitungan. Bukankah hampir sama seperti manusia yang dia siksa sendiri.


("Ck... iblis maupun manusia semuanya sama-sama membingungkan, lebih baik sekarang aku kembali mengerjakan tugasku.") batinku pasrah


Aku lupa, masih ada satu tugas lagi sebelum kembali mengunjungi dunia manusia. Aku harus membawa pergi roh manusia yang hampir membunuhku tadi. Meskipun sempat dendam kepada manusia itu, tapi kukurungkan niatku sepenuhnya, karena dia bakal dihukum selamanya atas perbuatannya yang tidak memiliki belas kasihan sama sekali kepada manusia lainnya.


Aku dan Lucifer kembali berjalan diantara dinding pembatas diantaraku san neraka itu sendiri. Meskipun sudah melewati dinding ini 2 kali, tetap saja perasaan horror terhadap penderitaan di neraka sekali lagi berhasil membuatku merinding.


Setelah sampai, aku melihat sebuah alat penyiksaan abad kuno, terlihat seperti peti mati tetapi di dalamnya terdapat duri setajam silet. (yang membuatku merinding untuk kedua kalinya) Dan didepannya terlihat beberapa iblis sedang merantai seseorang, ketika aku mendekat, sadar bahwa orang itu adalah Ben.


Setelah sadar dengan keadaan sekitar, ia melirik ke segala arah terutama kearahku. Melihatku kembali, wajahnya berubah menjadi tersenyum seperti orang gila.


"Wah-wah kenapa aku bisa di neraka ya!?" katanya sambil memandangku dengan tatapannya yang mengerikan


Agar tidak terlihat canggung akhirnya Luci membuka perbincangan dengan sapaan.


"Yap, salam kenal, Violet tolong perkenalkan dirinya kepadaku dong, penasaran nih kepada orang yang hampir membunuhmu tadi." jawabnya tanpa melihat perasaanku


"Cih, panggil saja Ben, dan faktanya dia memang membunuhku dengan keji hari ini." kataku masih agak kesal


"Wah, namamu Violet toh, kamu berani sekali membunuhku, padahal belum saja isi perutmu kusobek!" katanya dengan tersenyum


Mendengar kata, tersebut Luci malah tertawa lalu mendekat kearahnya.


"Kamu sama aja deh kaya wanita yang kemarin kita hadapi, cuma bedanya dia cerewet dan kamu lebih cerewet." katanya masih menahan tawa


"Apa yang perlu ditertawakan, dasar t*l*l." jawab Ben dengan santai


Mendengar jawabannya, tiba-tiba seluruh keadaan berubah, sama seperti kejadian perempuan yang kemarin hampir membunuhku, Luci sekali lagi mengeluarkan aura besarnya yang membuat semuanya merinding seketika.


"Wah, manusia menarik ya, ada yang pinter melawan, ada juga yang idi*t seperti kamu."


"Kudengar, gara-gara kamu Violet jadi kesusahan mengerjakan tugasnya, sebaiknya kamu menyesali perbuatanmu meskipun kamu akan menderita selamanya sih." kata Luci mengancamnya sambil tersenyum


"Kalo ngggak mau gimana, dasar b*nci!" jawabnya berani melawan


....


Aku menyaksikan dengan mata dan kepalaku sendiri, Luci mencekik lehernya dan melemparnya kedalam peti itu dan menutupnya dengan sangat kencang. Kulihat, banyak darah yang keluar dari peti itu, beserta dengan suara tangisan dan erangan meminta belas kasih dari dalam situ. Tidak puas dengan perbuatannya, Luci menendang kotak itu hingga jatuh ke dalam jurang, agar ia menderita selamanya di neraka.


Saat berpaling, ia tersenyum kepadaku yang alhasil membuatku merinding.


"Maaf ya Vi, dia ngeselin banget deh, makanya aku langsung habisi saja dia." katanya setelah emosinya sudah terkendali lagi


("Dasar, bilang aja lagi pms, udah gitu ditendang pula dari jurang, tipikal seorang iblis.") batinku emosi dalam hati


Bersambung....