I'M The Grim Reaper

I'M The Grim Reaper
Episode 5 (Rapist killer part 1)



Sudah beberapa menit kami duduk di bar itu, tidak menyangka bahwa laki-laki tersebut sangatlah cerewet, padahal baru akrab sedikit dia langsung menceritakan tentang informasi pribadinya dan mau mengajakku pergi menghadiri suatu pesta. Tentu saja aku langsung terlena dan berpikir bahwa dia itu idi*t yang salah masuk daftar.


Dan akhirnya aku beranggapan bahwa dia adalah orang polos yang tidak tahu bahaya didepannya.


Karena malas dengan yang namanya percakapan lawan bicara akhirnya aku menyelanya...


"Eh, maksudmu kita pergi ke pesta mana..B..B..be..n." kataku berusaha mengucapkan namanya dengan tepat.


Didalam hati sebenarnya aku juga agak tertawa dengan namanya, mirip pemain jaman dulu. Pasti Lucy akan senang karena aku akan membawa orang aneh ke neraka. Sebaiknya aku segera menyelesaikan ini dan mengajaknya ke suatu gang kecil agar aku segera membunuhnya, ternyata memang buang waktu saja.


"Mmm,oh aku akan pergi ke pesta temanku, pasti mereka terkejut jika aku membawa seorang gadis cantik sepertimu." Katanya dengan merayuku


("Untungnya aku tidak mengerti sama sekali tentang hal-hal yang dia bilang cantik, seksi, atau semacamnya.") kataku lega dalam hati


Setelah itu ia terus berbicara nonstop kembali tanpa melihat lawan bicaranya yang malas meladeni, jika ditanya aku cuma mengangguk dan menggelengkan kepala, karena malas menanggapi percakapannya.


Sudah beberapa jam berlalu kami masih di dalam bar tersebut, dan orang tadi masih saja berbicara, meskipun capek aku tetap harus mendengarkannya karena aku sedang bekerja. Karena tidak mendengarkan aku hanya melamun tentang kejadian 3 jam yang lalu sebelum menemukannya.


* Flashback 3 jam yang lalu


("Sumpah, kenapa sih hanya tertera nama dan umurnya saja, kenapa dosa dan kriterianya dirahasiakan?!") kataku pusing ketika melihat tabletku


Masih dengan geram akhirnya aku menyalakan GPS 3D tadi yang mengarahkanku ke orangnya. Di perjalanan tidak kusangka tabletku mengeluarkan suara dan warna aneh, disitu kulihat ada lambang menyerupai telepon genggam yang berdering di layarnya.


("Sebentar, kok ada yang menelponku, mmm.... kemungkinan ini Lucy?!) kataku bingung karena tidak tahu siapa yang memanggilku


Tanpa aba-aba seketika aku mengetuk lambang telepon berdering itu, saat itu muncullah wajahnya di layar proyektor 3D yang dihasilkan oleh tablet itu sendiri. Saat itu bukannya terkejut malah kecewa karena melihat wajah menyebalkannya lagi.


("Lama kelamaan jika berurusan dengannya lagi, aku bisa kena 'Social Phobia'!") kataku pasrah.


Setelah sinyalnya pas, akhirnya ia dan aku saling bertatap wajah beberapa saat. Seketika itu aku bukannya merasa mual, namun ada suatu sensasi yang tidak pernah kurasakan, seperti rasa rindu yang tidak pernah tersampaikan. Entah mengapa wajahku memerah. Namun suasana itu tidak berjalan lama ketika dia membuka topik pembicaraan.


"Hoh, kamu pasti kaget melihat wujudku yang baru!" katanya dengan wajah sinis.



#(Visual ketika Luci tersenyum dengan sinis)


("Wow, aku malah kaget karena di neraka aplikasinya jauh lebih maju daripada manusia, dasar sok percaya diri"!) batinku


"Oke, jadi aku menghubungimu karena aku takut keadaanmu sudah terbelah-belah atau semacamnya!"


("Set, dianya yang sakit jiwa kayaknya!") batinku geram kepadanya


"Langsung ke intinya, kenapa kamu menghubungiku?!" kataku sudah pusing


"Heh, tuan putri tidak bisa diajak bercanda."


"Sama seperti perempuan yang tadi pagi, sebaiknya kamu lebih berhati-hati!"


*Flashback selesai


("sibiiknyi kimi libih birhiti-hiti, apaan deh,sekarang Lucy mempermainkanku?!")


("Kenapa orang ini polos banget, nggak tahan aku pen nyelesain pekerjaan ini!") batinku nggak sabaran


.


.


.


.


BRAKK...


terdengar suara meja didobrak kencang dengan tangan, seketika itu dia bungkam.


"Jadi, katanya kita mau pergi ke pesta, ayo jangan tunda waktu lagi!" kataku kepadanya karena sudah tidak tahan


"Oh... kamu sudah tidak sabar ya, baiklah kita pergi sekarang?!" katanya masih kaget


Akhirnya kami keluar dari mall dan menuju ke pesta yang disebut Ben tadi. Sambil berjalan, aku menyiapkan sabitku, jika lewat gang sempit aku akan membelahnya disana. Namun seperti tahu isi pikiranku, dia melewati jalan yang ramai dan tidak melihat kearahku sama sekali. Ia berubah 180 derajat dari yang cerewet jadi hanya terdiam saja, dari yang akrab jadi menjauh.


Aku jadi makin curiga ketika dia ketawa cekikikan sendiri lalu mengambil Hpnya dan sepertinya menelpon seseorang. Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, namun sepertinya aku harus cepat membunuhnya. Tapi, disini sangat ramai jika membelahnya disini, maka aku tidak bisa membawa tubuhnya tanpa terlihat.


Setelah beberapa menit, akhirnya kami sampai dirumah seseorang, ia mengajakku masuk dan memeberikanku jamuan hangat. Aku sudah tidak percaya dengannya, jadi kutolak saja. Namun seketika aku tahu tindakannya ia hanya tertawa dan bergumam...


"Tangkap dia!!"


Saat itu muncullah seseorang dari belakangku, aku yang belum siap tidak bisa mengelak ia menahan kedua lenganku, sementara Ben maju kearahku dan menutup saluran pernapasanku dan tersenyum puas.


Seketika itu, seluruh ruangan menjadi gelap, pandanganku menjadi buram, aku pingsan di tempat.


"Selamat tidur, nona cantik!" katanya yang merupakan hal terakhir yang kudengar sebelum pingsan.


Bersambung....


#Trivia :


Sosial Phobia \= phobia terhadap pertemuan dengan orang lain sehingga penderita sebisa mungkin menghindari bertemu dengan orang lain.