I'M The Grim Reaper

I'M The Grim Reaper
Episode 6 (Rapist Killer part 2)



(Peringatan : Terdapat adegan kekerasan, kata-kata kasar, dan hal-hal lain yang sekiranya mengganggu pembaca, jika tidak nyaman, harap jangan dibaca!)


.


.


.


.


Saat itu, aku tidak sadar, bahwa hal ini membawaku ke bahaya yang lebih besar, dimana siapapun tidak akan menolongku, bahkan dia.


Ketika sadar, aku merasakan sekujur tubuhku sangat sakit, ketika melihat kondisi tubuhku sepertinya ada yang melukai bagian kaki dan tubuhku, sehingga muncul goresan darah yang masih segar. Hal terakhir yang kuingat ketika itu adalah saat dimana pria yang seharusnya kubunuh hari ini, lepas dari genggamanku.


("Cih, jika saja aku tidak meremehkannya dan berpikir lebih matang, keadaanku tidak akan mengenaskan seperti ini!") batinku geram terhadap kelalaianku sendiri


Namun yang kubingungkan adalah, dimana aku berada, dan kenapa tangan dan kakiku diikat. Ketika melihat kondisi sekitar, sepertinya ini sebuah ruangan dipenuhi benda-benda lama yang tua.


("Sepertinya, aku berada di ruang bawah tanah, tapi kemana tabletku?!") batinku seketika panik


Seperti dugaanku, sepertinya dia yang mengikatku tidak tahu aku memiliki senjata, tapi kedua tanganku diikat, bagaimana cara mengambilnya.


Aku berusaha melepas ikatanku, dan mengambil sabit itu, karena salah gerakan, sabitku malah jatuh dan memutar ke arah pojok. Saat itu ada sesuatu yang menahannya, ketika melihat dengan jelas, ternyata itu mayat wanita, dan bukan hanya satu, jika tidak salah ada ratusan mayat yang sudah membusuk. Ada yang tubuhnya ditelanjangi lalu dikuliti, ada yang kepalanya pecah dan isinya hancur, ada yang isi tubuhnya berceceran.


Melihat pemandangan itu, seketika aku merasa sangat mual, dan memalingkan wajahku sebentar, karena betapa horrornya pemandangan didepan.


Sekarang aku bingung karena sabitku terjatuh dari saku, sementara sekarang aku diculik orang gila yang bersiap untuk membunuhku.


Masih bingung dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba ada suara seseorang yang turun kebawah menggunakan tangga. Yang turun bukan hanya satu melainkan ada empat dan sepertinya jika aku tidak bertindak cepat, aku akan bernasib sama seperti para mayat itu.


Setelah mendekat, ternyata ia adalah laki-laki yang harus kubunuh hari ini. Ia mendekat ke arah keningku, lalu menjilat pipi lalu kerarah telingaku (yang membuatku merasa jijik), kemudian tersenyum sangat lebar, seakan-akan aku ini mangsanya.


"Wah, nona cantik sudah bangun, Selamat datang!!" katanya dengan senyum mengembang diwajahnya


("Dasar gila, aku bahkan belum melakukan apapun padamu!") batinku dengan geram dan dipenuhi amarah


"Awhh... apakah nona marah, jangan dong karena kesenangan baru dimulai!" katanya seketika dengan senyum


Saat itu ia menyiapkan sebuah peralatan, jika dilihat lebih dekat ternyata itu adalah gergaji mesin dan beberapa jarum juga pisau lancip yang siap digunakan untuk melukaiku. Ia juga dibantu orang-orang lain yang tidak kukenal sama sekali sehingga aku tidak dapat kabur dari mana-mana.


"Cih, sudah kuduga ada yang aneh darimu dari awal, dasar laki-laki J*L*NG!" kataku sambil berusaha melepaskan ikatan dilenganku


"Ahh......dasar K*P*R*T tidak bisa diajak bercanda, ya!!?" katanya mengerutkan dahinya ketika melihat perilaku memberontakku


Saat itu, ia mengambil pisau lancip itu dan mendekat kearahku. Semakin dekat, dan ia hampir mengarahkannya ke arah bola mataku. Dan sekarang ia menebaskannya


.


.


SYUTT...


.


.


.


Setetes darah segar mengalir dari pipi kananku, seketika itu aku merintih kesakitan, dan meronta-ronta untuk lepas dari ikatan.


CRACKK..


.


.


"AKKHHH!!!" teriakku untuk kedua kali


Sekarang ia mengarahkan pisaunya ke arah perutku dan membelahnya.(sampai pendarahan dalam) aku mengerang kesakitan dan seperti tadi hanya bisa meronta-ronta.


Tidak puas dengan aksinya ia mengambil sesuatu di meja. Sebatang lemon yang sudah dipotong setengah, kemudian menetaskannya ke arah luka-lukaku, yang membuatku semakin meronta-ronta kesakitan. Jika asam dicampur dengan darah, maka lukanya akan membusuk dengan menyakitkan. (Melihatku menderita, wajahnya tersenyum lebar)


Setelah menyiksaku menggunakan pisau, ia mengambil beberapa jarum, lalu mendekat lagi kearahku, entah apa yang akan ia lakukan jika aku tidak cepat, maka aku akan berakhir seperti serakan mayat disana.


Tanpa bantuan dan apapun, aku hanya bisa terdiam dan menyaksikan betapa horrornya aku akan dilukai perlahan-lahan hingga mati.


Ia menggenggam satu dari jarumnya dan mengarah ke urat nadi tanganku..


SETT!!


Aku menyaksikan dengan horrornya, tanganku ditusuk berkali-kali dengan jarum itu, aku mengerang kesakitan, dengan satu jarum ditancapkan di urat nadiku, masih ada 12 jarum lagi yang akan menancap di tanganku.


Darah segar menetes dari kedua urat nadi tanganku. Dengan diriku yang kesakitan menahan keseluruh rasa sakit ini, aku tidak bisa melakukan apapun selain mengerang. Dalam kesakitanku ini, akhirnya satu-satunya cara hanyalah menutup kedua mataku dan memohon apapun agar bisa bebas dari ikatan ini.


.


.


.


.


Ketika menutup mata, yang kulihat hanyalah kegelapan, di dalamnya sangat sunyi dan sangat tenang, entah mengapa rasanya terlihat familier bagiku.


("Apakah ini kehidupanku yang dulu,tunggu apakah aku sudah mati!?") batinku penasaran


Masih saja termenung, karena tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa menunduk di dalam kegelapan, tanpa bantuan siapa-siapa.


.


.


.


.


"Hei! kamu memiliki potensi yang lebih dalam dirimu, tau!" tiba-tiba kata seseorang


Kupikir itu adalah Luci, ternyata itu sebuah cahaya yang berbentuk seorang pria tinggi, yang tidak kukenal sama sekali. Entah mengapa, setelah mendengar cahaya itu, aku jadi semakin kuat dan bukannya lemah.


("Siapa dia, mengapa ia muncul di ruang kepalaku, apakah ia orang yang dulu kukenal?!") batinku


Pertanyaan-pertanyaan itu kusimpan dulu, sekarang ada bahaya di depan mataku, aku tidak akan menyerah, apapun demi mengetahui jati diriku.


Ketika membuka mata, tiba-tiba aku mengingat seluruh kemampuan yang mengalir dalam diriku. Jika dineraka, aku bisa beregenerasi, bisa saja aku dapat melakukannya, lalu dengan sabitnya, sepertinya aku mengerti.


Saat itu, ia mengerahkan gergaji mesin itu, untuk membunuhku. Disaat itu juga aku mendapatkan sabitku, sabit yang tadinya tergeletak tiba-tiba muncul ditanganku, seketika, tali tersebut lepas, dan sabitku berubah memanjang,sekarang tangkai tanjamnya memanjang sehingga berubah mematikan.


Pria tadi beserta yang lainnya mematung, menyaksikan luka di sekujur tubuhku menghilang satu per satu, dan sekarang sedang membawa senjata yang bahkan lebih berbahaya dari jarum yang ia tanamkan di tanganku.


"Si..si..ap..a k..a...u?!"" kata pria itu gemetaran


"Kematianmu!" jawabku dengan nada mengancam


SYUTT!!!!


Tanpa sadar aku memanjangkan sabitku dan membelah tubuh menjadi 2 dari kepala sampai kaki.


Darah segar keluar dari mana-mana, orang lain dibelakangnya menatap dengan horror aku membelahnya. Dan sepertinya, aku sudah terlanjur dendam, dan berakhir membunuh mereka semua.


Nama : Benjamin. F


Umur : 20


Waktu penjemputan : Hari ini


Dosa : Membunuh


Kriteria :


Memiliki kelainan Necrophobia


(Berhasil dibunuh)


Aku sampai lupa mencari tabletku, dan mencarinya kemana-mana dirumah itu, dan akhirnya ketemu di salah satu kamarnya. Saat melihat kamarnya, aku melihat kembali serangkaian mayat yang membusuk, ada yang tergeletak di lantai, dan ada yang terletak di kasur.


Karena baunya sangat menyengat, aku segera mengambil tabletku lalu kembali ke neraka, sambil menyeret kelima mayat itu agar dapat dibuang di api neraka terdalam.


Bonus :



#(Visual senjata V)


*Necrophobia : adalah kelainan, yang suka melakukan hubungan s*ks dengan mayat.