I'M The Grim Reaper

I'M The Grim Reaper
Episode 2 (Deathly Job)



(*Peringatan : Terdapat adegan kekerasan, bagi yang tidak nyaman, jangan dibaca!)


masih dengan keadaan bingung dan panik karena tidak tahu apa harus dilakukan supaya aku dapat tidak terilhat di depan manusia. Sekarang aku hanya mengandalkan tablet yang Lucy berikan. Ketika melihat-lihat serta mencari-cari, akhirnya aku menemukan manual bekerja untuk malaikat maut.


Setelah mengscroll ke bawah cukup lama akhirnya aku menemukan 'Job Manual ' alias manual bekerja.


Ini dia, sambil membaca aku melihat ke daerah sekitar, jika ada manusia yang lewat. Setelah membaca keseluruhannya, sekarang aku mengerti bagaimana caranya agar tidak terlihat. Aku hanya perlu menutup wajahku dengan jubah yang diberikan Lucy.


("Oh, ternyata kegunaan jubah ini untuk menghilang ya, pantas saja designnya panjang sekali, mirip dengan hoodie panjang.") kataku dalam batin


Namun jika dilihat lagi, designnya sungguh luar biasa jika dibanding dengan pakaian manusia, jauh lebih modern jika kulihat. Setelah itu, aku akhirnya memakai hoodie dari jas panjang itu, lalu segera pergi dengan membawa tablet serta senjata sabit yang diberikan Lucy.


Ketika sampai di kota aku melihat keadaan sekitar, persis seperti kota besar disini sungguh ramai sekali. Kulihat ke samping kanan dan kiriku, untuk memastikan sepenuhnya jika orang-oramg tidak bisa melihatku.


Saatnya aku menjemput mereka, sambil melihat lagi daftar nama orang-orang, entah mengapa ketika melewati daerah ini mengingatkanku tentang sesuatu, tapi samar-samar dan belum terlihat sangat jelas di bayanganku.


("Duh pusing deh..........,sudahlah aku segera menjemput orang yang pertama,sebelum sesuatu akan terjadi.")


Saat itu aku membuka berkas orang pertama yang akan kujemput.


Daftar Nama Orang Yang akan Dijemput :


1.Sherlly Vanta


Umur : 24 tahun


Waktu penjemputan : Hari ini


Dosa : ???


Kriteria :


-


Mmm..aku penasaran kenapa dosanya masih tidak diketahui, mungkin itu informasi pribadi atau apalah itu, aku juga tidak terlalu peduli.Ketika mengetuk informasi itu, tiba-tiba ada sebuah jalur berwarna merah yang mengarahkan, seperti google map 3D. Jadi, kuikuti saja jalur itu sampai ke suatu rumah bertingkat yang panjang, seperti apartemen.


Aku baru tahu ada orang mati di apartemen. Maka dari itu, aku tetap mengikuti jalur tersebut, hingga sampai lantai 2 apartemen tersebut. Jalur itu berhenti di kamar 13, sampai di kamar tersebut aku segera saja menerobos dan membuka pintu tersebut. Ketika masuk, kamarnya terlihat sunyi seperti tidak ada yang tinggal di dalamnya. Kutelusuri setiap ujung ruangan dan memastikan jika orang itu masih hidup.


("Tunggu, bukannya pekerjaan kayak gini cuma buat membawa roh ya, kenapa malah memastikan orangnya masih hidup.") batinku dalam hati ketika sadar akan kekonyolanku.


Semua ruang sudah kuperiksa, sisa kamarnya,mungkin saja dia bunuh diri atau dibunuh atau semacamnya. Ketika masuk ke dalam kamar, nihil aku sama sekali tidak melihatnya. Apa mungkin dia sudah dimakamkan keluarga atau semacamnya, kalau begitu, kenapa petanya menuju ke arah sini. Bukankah lebih efesien jika jalur tersebut langsung membawaku ke kuburannya.


Saat itu aku hanya bingung, sekarang bagaimana jika aku pulang dengan tangan kosong di depan Lucy, pastinya ia akan langsung membuangku ke dalam neraka. Maka dari itu aku langsung saja berbalik untung menjemput yang lain saja, toh satu jiwa boleh terlewatkan bukan.


.


.


.


Saat itu tiba-tiba, entah mengapa di belakang terdengar sebuah suara pintu tertutup, ketika aku menengok ke arah belakang, kulihat seorang gadis justru melompat ke arahku dan berusaha mencekikku.


Sambil berusaha mencekikku ia bergumam sesuatu...


"Cepatlah mati,cepatlah mati, cepatlah mati!!!"


Aku yang sedang menahan cengkramannya yang kuat itu, masih berpikir agar aku bisa selamat.


("Kenapa orangnya masih hidup, bukannya seharusnya udah mati ya?!") tanyaku dalam hati


Namun tiba-tiba aku teringat akan sabit yang Lucy berikan mungkin aku bisa mengintimidasinya.


Dengan lengan satuku yang menahan tangannya, tanganku yang satu segera merogoh senjata itu dan memperbesar ukurannya. Karena sabit itu memanjang, badannya terlempar ke depan. Lalu saat dia terlempar aku gunakan waktu untuk berdiri dan mendekatinya.


Ketika dia sudah sadar, aku mengarahkan sabit panjang itu kearahnya dan berkata dengan nada mengancam...


"Jangan salah paham ya, aku tidak akan ragu-ragu untuk membunuhmu!"


Kupikir gadis tersebut akan merasa ketakutan, justru sebaliknya ia melihat kearahku dan...


SWOSHH...


Aku yang sontak kaget segera menghidari serangannya, ia mengerahkan sebuah pisau dapur yang sangat tajam. Dengan senyum mengembang dipipinya, ia malah justru berkata dengan santai...


Setelah berkata itu, ia meloncat kearahku dan mengarahkan pisau dapur itu kearahku...


TRENGG...


dengan secepat kilat aku memblokir serangannya menggunakan sabitku dan segera menghindar, tanpa kusadari sekarang ia melihat posisiku menghindar dan..


GEDEBRUKKK...


kakiku disenggolnya, seketika aku terjatuh dan tepat mengenai lututku, masih mengerang kesakitan aku melihat ia menggenggam pisaunya lebih kuat dan bersiap mengarahkannya kepadaku. Seketika itu juga aku mengelak dari tusukan pisaunya dan terdorong sampai di ujung ruangan.


Saat itu ia malah menunjukkan wajah senangnya seperti berhasil mendapat santapan yang enak. Ketika ia mengarahkan kembali pisaunya, aku mengarahkan kembali sabit tersebut untuk memblokir hantamannya.


TRENGGG.....


Karena sudah kelelahan,seketika aku mengeluarkan seluruh tenagaku dan mendorongnya dan tanpa kusadari, tanganku bergerak dan mengayunkan sabit ke arahnya dan....


SREETTT....


Saat itu, pertama kalinya aku melihat bahwa, ternyata aku lebih kejam daei dugaanku. Perempuan tadi, tubuhnya sudah terbelah menjadi dua, dan darahnya bercipratan di mana-mana. Ketika melihat pemandangan itu, seketika perutku mulai mual dan tubuhku tiba-tiba terasa berat. Seketika itu aku pingsan...


**Konfirmasi :


Sherlly Vanta


Umur \= 24 tahun


Waktu penjemputan \= Hari ini


Dosa \= Membunuh orang lain


Kriteria :


- Memiliki gangguan mental**


(Berhasil dibunuh)


.


.


.


.


.


.


.


Ketika sadar setelah beberapa jam, aku terbangun dan tersadar bahwa aku telah kembali ke neraka.


"Sudah puas tidurnya tuan putri!?" seketika ada suara yang memanggilku.


Ketika menengok kedepan, itu adalah Lucy dan sekarang sepertinya ia tampak bahagia.


"Seharusnya hari ini kamu masih bekerja, tapi karena kamu sudah membereskan dia dengan cepat, kuberi kamu waktu istirahat hari ini." jawabnya kembali


Aku yang kebingungan dan kecapekan hari ini, berani bertanya kepadanya...


"Jadi, tugasku untuk membunuh ya!?" tanyaku seketika marah kepadanya.


"Bukannya tugas malaikat maut hanya menjemput ya,kenapa aku malah berurusan dengan orang gila, HAH?!" saat itu dengan ekspresi geram kuluapkan semuanya kepadanya.


Seketika itu, ia berbalik ke arahku dengan cepat dan berkata..


"Jaga ucapanmu tuan putri, masih mending aku membebaskanmu, atau malah kamu lebih baik menderita daripada bekerja seperti ini!" katanya dengan mengancam.


Seketika aku hanya bungkam, entah apa yang merasukiku sehingga aku berani berkata di depan sang Iblis sendiri.


Bersambung....