
setelah dari kantin tadi, caca memilih ke taman belakang sekolah. Caca sedang memikirkan apa alasan yang akan dia jawab seandainya Devan menanyakan nya. Caca juga tidak mau melihat Devan yang akan selalu menanyakan alasan nya setiap mereka bertemu.
Tanpa Caca sadari, ada seseorang yang memperhatikan dia dari jauh. Dan orang tersebut memutuskan untuk mendekat
"ca" panggil orang yang sedari tadi menatap Caca
Caca pun sadar dari lamunannya, dan dia melihat siapa yang memanggil nya. Caca berpikir tidak akan ada yang mengikutinya. Dia cuman butuh waktu sendiri untuk memikirkan masalah yang selama ini iya kira sudah selesai. Dengan menyuruh Devan menjauh Caca kira semuanya akan selesai, ternyata dia salah. Dia dan Devan kembali di pertemukan di SMA dan Devan malah mempertanyakan alasan mengapa Caca menyuruh nya menjauh.
" ca" panggil Devan sekali lagi, dia hanya melihat Caca yang sedari tadi diam tanpa menjawab panggilan nya
" apa salah aku ca, kenapa kamu membenci aku seperti ini. Kalo kamu menginginkan aku menjauh. Itu sudah aku lakukan dari dulu, tapi apa gak boleh aku tau apa alasan itu. Aku sedih ca disaat kita baik-baik saja. Tapi sikap dan sifat kamu malah berubah. Apa ada orang lain yang menghasut kamu supaya benci sama aku. Tolong jawab yang jujur ca, jangan siksa aku seperti ini. Aku gak bisa lupain kamu. Katakan lah aku cowok bodoh yang masih mengharapkan seseorang yang gak pernah mengharapkan aku ada didekat nya. Jawab aku ca, apabila kamu bahagia sama yang lain. Aku akan relakan itu, tapi kamu tenang saja. Aku akan selalu menjaga kamu dari jauh walau aku gak bisa miliki kamu. Kamu pasti tau tentang perasaan aku kan ca. Apa ini alasan kamu, menyuruh aku menjauh karena aku punya perasaan ke kamu. Aku butuh alasan kamu ca, kenapa menyuruh ku menjauh. Tolong jawab dengan jujur ca" kata devan sambil menghembuskan nafas kasar.
Caca yang sedari tadi diam menunduk pun akhirnya memberanikan diri untuk menatap Devan. Caca menatap Devan dalam, mereka pun saling tatap dan setelah sadar. Caca pun menjawab pertanyaan Devan. Dan mereka tidak sadari kalo bel masuk sudah berbunyi.
"Sorry KA, bukan maksud aku mau menyakiti Kaka. Tapi yang aku mau Kaka bisa bahagia sama yang lain. Udah cukup aku nyakitin Kaka dulu dengan aku yang selalu memuji cowok lain ke Kaka. Maafin aku yang bersikap egois. Maafkan aku yang gak bisa bersikap dewasa. Maafkan aku yang tidak peka dengan perasaan Kaka. Jujur dulu memang aku menginginkan Kaka pergi, tapi setelah itu, aku ingin Kaka selalu ada di sampingku. Hari-hari yang biasa kita lewati bersama dulu. Seolah hilang dalam sekejap setelah aku mengatakan itu. Aku menyesal setelah menyuruh kamu menjauh. Aku kira penyesalan itu hanya sementara dan akan hilang begitu saja. Tetapi aku salah, bahkan penyesalan itu sampai sekarang. Kalo Kaka mau tau alasan itu. Maaf aku tidak bisa memberitahu nya. Gak seharusnya Kaka masih mempertahankan perasaan Kaka sama orang yang udah menyakiti Kaka. Gak seharusnya Kaka masih memohon sama aku tentang alasan itu. Kaka berhak bahagia, aku gak mau nyakitin orang seperti dulu lagi. Sekarang kita tidak bisa seperti dulu lagi ka, ada jarak yang benar-benar harus kita jaga. " kata Caca yang sudah menangis menyesal,setelah itu dia pergi dari hadapan Devan yang terdiam mencerna ucapan Caca tadi.
Caca pun pergi dari hadapan Devan untuk ke toilet. Sesampai nya di toilet pun caca hanya menangis. Dia ingin sekali dekat dengan Devan seperti dulu. Tapi itu tidak mungkin kalo dia tidak mau sakit hati. Caca juga harus menjaga jarak dengan Devan saat ini. Walaupun devan sekarang lagi mencoba buat dekat lagi dengan Caca seperti dulu. Walaupun Caca hanya menganggap Devan sebagai Kaka.
" kenapa kita harus seperti ini, andai dulu aku bisa bersikap dewasa. Semua gak akan seperti ini. Kenapa harus sesakit ini mencintaimu KA. Kenapa harus selalu aku yang mengalah. Kenapa takdir seolah-olah tak ingin kita bersama. Aku mengalah karena aku tak ingin menyakiti orang disekitar ku. Aku tidak bisa bersikap egois. Aku hanya ingin orang- orang disekitar ku bahagia. Walaupun aku harus menyakiti mu dan menyakiti diri ku sendiri. Aku tidak bisa melihat orang disekitar ku sedih. Kalo aku bersikap egois sekarang pun akan malah banyak yang merasa tersakiti oleh ku. Maafkan aku yang selalu menyakiti mu. Lebih baik aku mengalah dan tidak menyakiti orang-orang disekitar ku. Walaupun aku harus menyakiti mu lagi dan diri ku sendiri." batin Caca
Caca melihat dirinya dicermin. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia menginginkan Devan. Dia sayang sama Devan, dia juga gak mau Devan menjauh. Dia juga gak bisa bersikap egois.
Caca pun menghapus air mata nya. Setelah itu dia keluar dari toilet. dan tidak lama kemudian bel pulang pun berbunyi
kring,,kring
Caca memutuskan untuk keparkiran, dia akan chat Tasya untuk membawa tas nya keparkiran. Baru Caca ingin menelpon Tasya, tiba- tiba handphone nya bergetar. Dan ternyata Tasya yang menelponnya.
Drttt,,,Drttt
" hallo" kata Caca
" lu dimana ca" kata Tasya diseberang sana
" keparkiran sekarang, sekalian tolongin bawa tas gue" kata Caca
" iya" balas Tasya, setelah itu langsung mematikan telpon nya .
" sendirian aja ca, yang lain mana" kata darma
" masih dikelas" jawab Caca
" lu bolos ca, kok gak bawa tas" kata Dimas
"kepo" kata Caca
tidak lama kemudian Tasya dan yang lain nya pun datang mereka pun berbincang bincang sebentar. Sampai akhir nya ada yang datang menghampiri mereka
"hai Devan" kata orang itu, Devan yang merasa nama nya dipanggil pun menoleh kesamping, dia memegang melihat orang yang baru saja datang.
" Lo ngapain disini, kan sekolah lu jauh" kata dimas
" emang nya gue gak boleh ya kesini" kata orang itu
" bukanya gak boleh, tapi kan itu jauh. Biasa nya kan Devan yang kesana" kata darma
" gue gak mau ngerepotin Devan terus. Sekali-kali gue yang kesini nyamperin dia" kata orang itu
" gue duluan" kata Devan yang sedari tadi diam, dan langsung menarik tangan orang yang tadi dengan lembut
setelah kepergian Devan, mereka pun masih sama- sama terdiam. Sampai akhirnya Saras pun bertanya.
" dia siapa nya KA devan" kata Saras
"dia itu"
" biar Devan aja yang menjelaskan nanti" kata Rizal yang sedari tadi diam dan langsung memotong ucapan Dimas
Rizal tidak mau Devan seperti dulu lagi. Dia tidak mau Devan semakin dijauhi sama orang yang dia cintai. Rizal memotong ucapan dimas karena biar Devan sendiri yang bercerita. Rizal juga ingin Devan berkata jujur apabila nanti ditanya sama mereka. Rizal tidak ingin devan seperti dulu lagi. Dia ingin Devan bahagia, dengan kehadiran Caca dulu devan bisa melupakan kesedihannya, tapi setelah Caca menyuruh nya menjauh Devan malah hancur. Rizal dan Devan sudah berteman sejak kecil. Jadi Rizal tau apa saja tentang Devan. Bagaimana sedih nya Devan sebelum caca datang, dan bagaimana hancur nya Devan disaat Caca menyuruh nya menjauh.
Setelah Rizal berkata begitu dia memutuskan untuk pamit. Yang lain nya pun juga begitu. mereka pun meninggalkan parkiran dan memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing