I Love You Mr Arrogant

I Love You Mr Arrogant
Episode 6 Masa Lalu



Didalam sebuah mobil, Raka dan Anatasya terlihat mendiami satu sama lain. Raka sibuk berkutik dengan ponselnya sedangkan gadis di sebelahnya tak henti-hentinya menggerutu dalam hati.


Setibanya di Kampus,


"Oh iya...sebelum aku keluar aku mau buat satu perjanjian dan aku harap kamu mau kamu bisa menyetujuinya," ucap Anatasya sehingga membuat Raka menoleh kearahnya.


"Apa itu?" tanya Raka.


"Kita harus menyembunyikan pernikahan kita kepada sahabat-sahabatku. Kita juga tidak boleh saling kenal jika bertemu dimanapun ketika aku sedang bersama mereka oke. Bagaimana, setuju?" menyodorkan telunjuk jarinya kepada Raka.


"Tidak masalah, aku setuju dan cepatlah keluar aku harus segera pergi ke kantor" usir Raka tidak menghiraukan Anatasya.


Anatasya yang cemberut langsung keluar dan membanting keras pintu mobil Raka.


"Dasar menyebalkan" umpat Anatasya langsung pergi menuju kelasnya.


Sedangkan Raka, hanya tersenyum ketika melihat ekspresi menggemaskan Anatasya ketika sedang kesal. Entah kenapa, Raka baru-baru memiliki kegiatan menyenangkan yaitu mengerjai istrinya sendiri.


Thomas yang melirik dari balik kaca juga ikut merasa senang karena sulit sekali baginya untuk melihat wajah Raka tersenyum seperti ini semenjak kepergian Sarah.


Raka pun segera melaju ke perusahaannya karena hari ini akan ada rapat penting dengan para dewan direksi.


Perusahaan Sanjaya Group


"Bagaimana kabar Bram di Singapura?" tanya Raka kepada asisten setianya yaitu Thomas.


"Tuan Bram baik-baik saja bos. Dia sangat telaten dalam menghandel proyek disana" jelas Thomas.


"Baguslah" ujar Raka merasa tenang.


Ponsel Raka tiba-tiba berdering karena takut merupakan panggilan penting, Raka meraih ponselnya untuk mengecek siapa yang sedang menelponnya.


"Sarah," ucap Raka dengan pelan tidak percaya.


Raka mengisyaratkan Thomas agar keluar dari ruangannya karena Raka tidak senang siapapun tau tentang masalah pribadinya sendiri.


Panggilan telpon yang masuk ke ponsel Raka masih berbunyi namun Raka masih tidak terlihat berniat untuk menerimanya.


Raka terlihat berfikir, apakah dia harus menerima atau menolak panggilan dari Sarah tersebut.


Dan pada akhirnya Raka memutuskan untuk menolak dan langsung mematikan ponselnya.


Saat ini Raka merasa masih belum siap untuk menganggap bahwa perasaannya baik-baik saja semenjak Sarah meninggalkannya 3 tahun lalu. Oleh karena itu, Raka tidak ingin memancing perasaanya kembali karena bagaimanapum juga dia telah memiliki istri.


Flashback On...


Sarah adalah gadis pertama yang dapat membuat Raka jatuh cinta. Sarah berasal dari keluarga sederhana dan karena kesederhanaannyalah yang membuat Raka jatuh cinta kepadanya.


Raka dan Sarah memulai hubungan sejak duduk dibangku kelas 1 sekolah menengah atas.


Hubungan mereka berjalan baik hingga selesai kuliah. Sampai Raka memiliki rencana untuk melamar Sarah jika dia sudah dengan baik menghandle perusahaan papanya.


Setelah sukses menghandle perusahaan papanya, Raka pun perlahan membangun rumah mewah yang nantinya akan ia tempati bersama Sarah ketika sudah menikah kelak.


Hingga tepat waktunya hubungan mereka berakhir,


"Mari kita putus," ucap Sarah yang sontak membuat sang kekasih membulatkan matanya tidak percaya.


"Sarah, kau pasti bercandakan" balas Raka yang tiba-tiba tertawa.


"Aku serius Raka, aku tidak ingin menikah denganmu. Aku mohon kamu bisa menerima keputusaanku ini" pinta Sarah melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Raka dan langsung berlari meninggalkan Raka sendirian di taman.


Pada malam harinya, Raka pergi ke tempat dimana Sarah menyewa rumah untuk ia tempati. Berniat untuk meminta alasan kenapa Sarah berkeinginan ingin mengakhiri hubungan mereka sendiri.


5 jam sudah Raka berdiri menunggu Sarah agae berbaik hati untuk menemuinya.


"Mas siapa?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Saya pacarnya Sarah dan apakah Sarah sedang keluar?" Raka kembali bertanya.


"Wah...memangnya Sarah gak ngasih tau ya. Kalau sejak tadi sore dia udah gak lagi tinggal disini" jelas wanita paruh baya tersebut.


"Terus Sarahnya kemana buk?" Raka terlihat semakin gelisah.


"Saya juga kurang tau karena dia juga seperti sedang terburu-buru," balasnya.


Hari-hari ia jalani dengan kekosongan, menghibur dirinya dengan segala kesibukan yang ada dikantor. Kedua orang tuanya juga sempat khawatir dengan kondisi Raka.


Dia terus berusaha agar dapat melupakan Sarah, tapi hatinya terlalu sulit untuk menerima semua ini. Malam selalu menjadi suasana yang paling mencengkam pada dirinya karena sosok Sarah yang selalu hadir dipikirannya.


Inilah penyebab utama pembentuk Raka menjadi sosok pria yang dingin, kaku, dan angkuh***


Sepulang Anatasya dari kampus, wajahnya terlihat pucat dan tidak bertenaga.


"Baguslah pria sialan itu belum pulang," ucap Anatasya yang melihat-lihat sekitar.


Setelah berada di dalam kamar dengan jalan yang mulai sempoyongan Anatasya menjatuhkan tubuhnya di kasur yang empuk itu.


Tubuhnya terasa lembas dan kepalanya sangat begitu sakit. Untuk melepas sepatunya saja dia terlihat sudah tidak bertenaga.


Tok...tok...suara dari balik pintu


"Masuk" teriaknya serak.


"Nona apakah mau saya bawakan makanan?" tanya seorang pelayan.


"Tidak perlu, aku sedang tidak berselera" tolak Anatasya.


"Tapi Non ini sudah waktunya makan malam, saya takut nanti Tuan Raka akan memarahi saya" bujuk pelayan tersebut.


"Jangan hiraukan Tuan kalian, dia juga tidak pernah peduli dengan keadaanku. Cepatlah keluar aku harus istirahat" usirnya karena lelah meladeni pelayan rewel tersebut. Setelah pelayan tersebut pergi akhirnya Anatasya bisa terlelap.


"Selamat datang Tuan" sapa beberapa pelayan ketika Raka memasuki rumahnya.


"Anatasya sudah pulang?" tanya Raka kepada salah satu pelayan.


"Sudah Tuan" jawabnya sambil menundukkan kepala.


"Dia sudah makan" tanya Raka kembali.


"Maaf Tuan, saya sudah berusaha untuk membujuknya Nona Anatasya supaya mau makan. Tapi dia selalu menolak dan wajahnya terlihat sangat pucat Tuan," jelas Pelayan tersebut.


Mendengar pengaduan pelayan tersebut membuat Raka bergegas pergi menuju kamarnya. Ketika berada di dalam kamar dia mendapati Anatasya yang terlihat terbarig dengan posisi membelakanginya.


Raka mendekati Anatasya dan seketika dia kaget disaat melihat banyak keringat di wajah Anatasya dan uap nafas Anatasya yang terasa sangat panas.


Akhirnya Raka meraba pipi dan kening Anatasya dengan tangannya dan dia yakin kalau Anatasya sedang demam karna suhu tubuhnya sangat panas.


Dengan segera Raka meminta para pelayan untuk mengambil baskom yang berisi air air dingin yang nanti akan digunakan untuk mengompres Anatasya.


Raka terlihat khawatir dan sedikit bersalah karena sudah terlalu keras kepada Anatasya beberapa hari ini.


Anatasya membuka perlahan matanya ketika dahinya terasa dingin dan dia melihat Raka berada disampingnya yang sedang sibuk mengompres dahinya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Anatasya dengan suara serak.


"Mengobati kambing" jawab Raka singkat namun menusuk.


"Maksud kamu apa ngatain aku kambing" kesal Anatasya hingga membuat kompres nya terjatuh.


"Tenanglah, aku hanya bercanda" Raka mencoba mengompres kembali dahi Anatasya.


Karena kesal Anatasya langsung menepis tangan Raka sehingga air yang berada di baskom berceceran diatas lantai dan membuat emosi Raka langsung meledak.


"Anatasyaaa..!" teriak Raka menatap tajam Anatasya.


Anatasya semakin kesal mendengar Raka membentaknya. Oleh karena itu, dia langsung berdiri dan melangkah menghampiri pintu, tapi belum sempat Anatasya meraih ganggang pintu tangan Raka sudah melingkar diperutnya dari arah belakang dan dengan segera Raka langsung mengangkat Anatasya lalu membawanya menuju tempat tidur.


"Bisakah sedikit saja hargai aku sebagai suamimu," ucap Raka menatap tajam istrinya.


"Kau juga tidak menghargaiku, kau selalu bersikap cuek ketika berada di depan ku" balas Anatasya terus terang...


Raka yang sedang menatap Anatasya tidak bisa berkata apa-apa karna dia masih bingung dengan dirinya sendiri apakah memang dirinya seperti itu di mata Anatasya.


"Kenapa diam?" tanya Anatasya lagi.


"Sudahlah...aku minta maaf" Raka terlihat menyerah dan kembali mengompres dahi Anatasya yang ikut menurut karena telah sukses membuat es balok didepannya ini meminta maaf langsung kepadanya.


Bersambung...