
Raka berjalan menuju mobil dengan menggendong Anatasya yang semakin terlihat gusar, sepertinya obat yang ada di dalam tubuh Anatasya semakin menguasai dirinya.
"Raka...panas" rengek Anatasya didalam mobil mengeliat tak tentu arah.
dan Raka yang semakin khawatir dengan kondisi sang istri lansung melaju untuk kembali kerumahnya.
Setelah sampai didepan rumah, Raka segera memarkirkan mobil kemudian turun membawa Anatasya menuju kamar dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Umm,,,panas" rengek Anatasys lagi yang kini berusaha untuk melepas baju yang ia kenakan.
Sedangkan Raka yang sudah sangat panik, langsung menelpon dokter pribadi keluarganya dan menanyakan tindakan apa yang harus diambil ketika menghadapi orang yang berada dalam pengaruh obat peransang.
Mata Raka seketika membulat mendengar dokter pribadi keluarganya menjelaskan tindakan yang harus dia ambil sekarang ini, insting kelakiannya tiba-tiba muncul.
Paham akan tindakan yang akan dia ambil, Raka pun langsung mendekat ke arah Anatasya.
"Sepertinya malam ini, kau akan menjadi milikku seutuhnya Anatasya" seringai Raka sambil membuka dua kancing teratas pada kemejanya.
"Raka tubuhku panas, aku tidak kuat," ucap Anatasya memohon.
"Tenanglah, aku akan menghilangkan rasa panasnya" balas Raka membelai pipi Anatasya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Anatasya dengan mata yang sayu ketika melihat Raka membuka kancing bajunya.
"Mengobatimu" jawab Raka yang masih sibuk membuka kancing baju Anatasya hingga terlepas.
"Aku belum siap Ra.." belum selesai Anatasya berbicara Raka sudah terlebih dahulu mendekap tubuh Anatasya.
Anatasya tak mampu menolak dan anehnya lagi kenapa tubuhnya terasa nyaman ketika bersentuhan dengan tubuh Raka.
Rakapun memulai aksinya dengan ******* bibir seksi Anatasya dengan rakus dan penuh hasrat, setelah puas dibibir Raka pun berlanjut kearah leher hingga meninggalkan beberapa tanda kepemilikan disana.
Akhirnya Anatasya sudah mulai terpengaruh dengan permainan suaminya itu langsung membalas
apa yang dilakukan oleh suaminya yang sudah sangat hilang kendali itu.
Memang Anatasya sudah sejak lama mendambakan belaian Raka, namun dia tidak bisa untuk memberikan sesuatu hal yang berharga pada Raka karena takut jika suatu saat nanti Raka akan pergi meninggalkannya.
Raka yang masih lengkap berbalut pakaian dengan segera langsung melepaskan pakaiannya sendiri dan setelah itu Raka menatap Anatasya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu sangat menggoda," ucap Raka dengan nafas yang sudah sangat memburu karena menahan hasratnya.
Setelah itu Raka mulai mengarahkan senjatanya yang sudah siap tempur ke sasarannya sedangkan Anatasya dengan wajah takutnya langsung menahannya.
"Raka aku takut," ucap Anatasya lirih.
"Aku akan melakukannya dengan perlahan" bujuk Raka dengan wajah memerah karena sudah tidak bisa menahan gejolak nafsu yang ada pada dirinya.
Anatasya pun mengangguk dan mencoba memberikan kepercayaan lebih kepada Raka untuk melakukannya.
Raka melakukannya dengan perlahan tapi sulit baginya untuk menerobosnya karena masih terlalu sempit dan itu membuat Raka terlihat kesal dan akhirnya dengan terpaksa Raka langsung memaksa dengan dua kali hentakan hingga keluarlah cairan berwarna merah hingga membuat Anatasya berteriak histeris kesakitan karena ini adalah awal pertama jadi wajar saja Anatasya merasakan sakit yang teramat dalam.
Ruangan itupun dipenuhi dengan desahan dan erangan kedua insan yang diselubungi oleh kabut hasrat hingga sudah tak terasa hampir dua jam mereka bergulat dan akhirnya Raka tumbang di samping Anatasya yang sudah sangat lemas tak berdaya.
"Aku sudah memberikan sesuatu yang paling berharga pada tubuhku sekarang" ucap Anatasya dalam hati dengan keadaan yang didekap oleh Raka
Raka yang merasa bersalah karena telah membuat Anatasya kesakitanpun berusaha untuk memberikan Anatasya rasa nyaman pada pelukannya.
Setelah itu karena sama sama merasa lemah akhirnya mereka tertidur dengan Raka yang mendekap tubuh Anatasya yang sama sama tanpa mengenakan apapun untuk menutupi tubuh mereka.
Pagi harinya Anatasya terbangun dan dia melihat Raka yang masih terlelap disampingnya...kemudian Anatasya mengambil ponselnya yang telah menunjukkan jam 5.30 pagi.
Anatasya melihat kearah Raka, dia menepis rambut yang mencoba menghalangi wajah Raka, wajah yang telah merenggut kesuciannya tadi malam.
Diusapnya lembut pipi Raka yang terlihat sangat tampan pada saat tertidur, pantas saja banyak wanita yang menyukainya fikir Anatasya yang mulai terhanyut akan suasana dan perasaannya.
"Aku tau kalau aku itu sangat tampan," ucap Raka tiba-tiba dengan mata yang terpejam sehingga membuat Anatasya langsung menjauhkan tangannya.
"Sejak kapan kau bangun?" tanya Anatasya terkejut.
"Sejak kau belum bangun tadi" jawab Raka yang kini melingkarkan lengannya di pinggang Anatasya dan mendekatkan tubuhnya hingga jarak mereka yang sangat dekat.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Anatasya dengan perasaan canggung.
Raka terlihat tidak berniat untuk menjawab pertanyaan istrinya dia lebih memilih untuk ******* bibir yang menjadi candunya saat ini.
Anatasya yang terlihat tidak menolakpun mulai membuka mulutnya untuk memberi akses lidah Raka bermain didalam sana.
Ciuman tersebut berakhir ketika Anatasya hampir kehabisan nafas, di dorongnya pelan tubuh Raka untuk menghentikan aktivitas mereka berdua.
"Raka kau ingin membunuhku ya," ucapnya sambil mengatur nafas.
"Tapi kau terlihat menikmatinya" balas Raka menggoda.
Anatasya pun memalingkan wajahnya karena malu tapi tiba-tiba dia teringat harus segera bersiap-siap untuk pergi kuliah.
"Raka..." panggil Anatasya
"Hmm" balas Raka yang masih setengah mengantuk.
"Aku mau mandi," ucap Anatasya.
"Mandilah sana atau mau aku temani" balas Raka kembali menggoda.
"Rakaaaa...badan aku sakit semua, gimana aku harus pergi ke kamar mandi kalau kamu gak mau gendong aku" rengek Anatasya dengan manja sehingga membuat Raka yang melihatnya merasa gemas.
Rakapun segera bangkit dan mengulurkan tangannya untuk menggendong Anatasya dan Anatasya yang melihat Raka mengulurkan tangannya terlihat sangat senang karena Raka mau menuruti apa yang dia mau.
"Raka turunin aku disini" pinta Anatasya.
"Tidak ingin aku temani mandi" goda Raka.
"Ih dasar mesum" ledek Anatasya.
dan Raka langsung menurunkan Anatasya, Anatasya pun perlahan-lahan melangkah dan Raka hanya terdiam menatap Anatasya menahan sakit.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Raka dan Anatasya yang sudah selesai bersiap-siap langsung melangkah menuju dapur untuk sarapan.
Raka dan Anatasyapun duduk dan menyantap makanan yang sudah disiapakan oleh juru masaknya.
Selesai sarapan Raka dan Alira langsung berangkat ketempat yang akan mereka tuju masing-masing. Anatasya yang pergi ke kampus dan Raka seperti biasa pergi ke perusahaannya.
"Kamu bisa berjalan sendiri?" tanya Raka di saat Anatasya sudah keluar dan berdiri disamping mobilnya.
"Bisa gak bisa, harus bisa" jawab Anatasya mencoba menyeimbangkan tubuhnya.
"Syukurlah" kata Raka dan setelah itu langsung melaju menuju perusahaannya.
Bersambung...