I Love You Mr Arrogant

I Love You Mr Arrogant
Episode 17 Jahat



Hampir setengah jam Raka menunggu namun Anatasya belum juga nongol...


Akhirnya Raka mengirim pesan kepada Anatasya.


"Kamu dimana...? Aku lagi nungguin nih buat pulang bareng...


Anatasya membaca pesan Raka dan segera membalasnya.


"Ngga usah nungguin aku...karna aku ada janji sama Dinda sepulang kerja" balas Anatasya cepat.


Raka membaca pesan Anatasya dan mengekerutkan dahinya.


"Jangan lama-lama, kalau tak ingin aku samperin nanti" ancam Raka...


"Iyah...iyah" tambah Anatasya.


"Kenakan jaket, kemeja yang kamu gunakan tidak layak untuk dikenakan" balas Raka kembali.


"Cih mode menyebalkannya kambuh lagi" gumam Anatasya pelan dan melanjutkan langkahnya bersama Dinda kesebuah tempat.


Setibanya mereka disebuah tempat makan bergaya ala jepang, Anatasya dan Dindapun langsung memesan makanan berdasarkan selera mereka masing-masing.


"Tumben kesini," ucap Anatasya heran sebab biasanya Dinda tidak suka ketika makan dengan ruangan yang cukup tertutup.


"Kamu akan tau nanti, kenapa aku mau makan disini" balas Dinda mengedipkan sebelah matanya.


dan tak lama kemudian, terdengar hentakan kaki yang semakin mendekat. Awalnya Anatasya berfikir itu adalah suara hentakan kaki dari pelayan yang hendak mengantarkan makanan mereka. Namun Anatasya salah karena sumber langkah tersebut adalah berasal dari Bram.


"Kenapa Kak Bram disini...ini pasti kerjaan Dinda" gumam Anatasya dalam hati sambil melayangkan tatapan tajam kearah Dinda yang tak hirau akan aura menakutkan sahabatnya tersebut.


"Wah...selamat datang Kak Bram...silakan duduk" Dinda mempersilakan dengan Ramah.


Bram tersenyum dan langsung memilih duduk bersebelahan dengan Anatasya yang terlihat kaku ketika mengetahui kedatangan Bram yang tak terduga.


Hingga makanan yang mereka pesanpun tiba...keheningan dan kebisuan menyelimuti diri Anatasya dan Bram. Mereka terlihat canggung jika teringat kejadian beberapa hari lalu ketika Anatasya menampar pipi Bram karena emosi yang tak dapat ia tahan.


Anatasya sedikitpun tak berniat ingin minta maaf karena baginya perbuatan Bram yang sangat keterlaluan dan Bram memang pantas mendapatkan tamparan tersebut.


"Tas...Kak Bram...aku ke toilet dulu ya" izin Dinda dan kini hanya tersisa Bram dan Anatasya berduaan.


Bram melihat wajah Anatasya sekilas...lidahnya terasa kaku untuk memulai bicara apalagi melihat Anatasya yang sama sekali tidak menoleh kearahnya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Bram memberanikan diri.


"Jauh lebih baik dari yang dibayangkan" balas Anatasya sambil melahap makanannya.


"Maafkan aku atas kejadian itu biarpun aku benar-benar tidak melakukannya," ucap Bram.


"Aku sedang tidak ingin membahasanya" balas Anatasya tegas.


"Aku sangat mencintaimu Anatasya...beri aku satu kesempatan lagi" mohon Bram meraih lengan Anatasya berusaha menyakinkan.


"Kak Bram...maaf aku tidak bisa" menepis tangan Bram dengan kasar.


"Anatasya beri aku kesempatan lagi, aku janji akan buktiin sama kamu bahwa aku memang gak bersalah atas kejadian malam itu," ucap Bram meninggikan nada suaranya.


"Sudahlah Kak...kita lupakan saja kejadian


"Bagaimana kabarmu?" tanya Bram memberanikan diri.


"Jauh lebih baik dari yang dibayangkan" balas Anatasya sambil melahap makanannya.


"Maafkan aku atas kejadian itu biarpun aku benar-benar tidak melakukannya," ucap Bram.


"Aku sedang tidak ingin membahasanya" balas Anatasya tegas.


"Aku sangat mencintaimu Anatasya...beri aku satu kesempatan lagi" mohon Bram meraih lengan Anatasya berusaha menyakinkan.


"Kak Bram...maaf aku tidak bisa" menepis tangan Bram dengan kasar.


"Anatasya beri aku kesempatan lagi, aku janji akan buktiin sama kamu bahwa aku memang gak bersalah atas kejadian malam itu," ucap Bram meninggikan nada suaranya.


"Sudahlah Kak...kita lupakan saja kejadian malam itu...dan lupakan segala kedekatan kita" balas Anatasya tak kalah tinggi lalu meraih ponselnya ingin pergi karena Dinda juga tak kunjung datang dari toilet.


"Pulang" jawab Anatasya ketus.


dan ketika Anatasya hendak beranjak pergi, Bram menarik lengan Anatasya paksa hingga membuat Anatasya terjatuh didekapannya.


"Anatasya aku mencintaimu," ucap Bram mempererat dekapannya sedangkan Anatasya yang terkejut berusaha melepaskan dirinya dan pada saat Anatasya mendongakkan wajahnya keatas lalu tiba-tiba Bram mencium bibirnya.


Anatasya yang sudah terselimut oleh emosipun berhasil lepas dari dekapan Bram dan tak lupa juga...


Plakk...


Dinda yang melihat kejadian didepannya pun hanya terbelalak tidak percaya dan mulai timbul rasa bersalah, apalagi melihat wajah Anatasya yang sudah sangat murka.


Anatasya lansung berlalu setelah menampar wajah Bram Dia tidak menghiraukan ucapan Dinda karena dia juga sudah sangat kesal terhadap sahabatnya tersebut.


"Apa yang Kak Bram lakuin sih?" tanya Dinda kesal.


"Maaf aku kelepasan..." jawab Bram memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Anatasya...


Jam menunjukkan pukul 5 sore dan Anatasya baru tiba dikediamannya sedangkan Raka sedari tadi sudah sangat kesal karena istrinya tak kunjung pulang padahal Anatasya sudah cukup lama pergi bersama sahabatnya tersebut.


Namun, ketika mendengar suara mobil terparkir dengan sigap Raka keluar dan menghampiri Anatasya yang terlihat sangat murung apalagi mengingat dirinya dicium oleh Bram dan apa yang akan terjadi nantinya jika Raka mengetahuinya.


Anatasya menaiki anak tangga sedangkan Raka berdiri didepan pintu kamar menunggu kemunculan sang istri.


Melihat Raka dihapannya saat ini membuat Anatasya berusaha bertingkah seperti biasa saja dan menganggap tidak ada yang terjadi tadinya.


"Jam berapa sekarang" Raka menatap Anatasya posesif.


"Maaf...lagian jalan macet banget sih" berusaha menghindari tatapan sang suami.


"Mandilah segera dan setelah itu pergi makan...aku harus keruangan kerja menyelesaikan beberapa berkas" perintah Raka lalu menuruni tangga menuju ruangan kerja.


"Wajah dingin yang sangat tampan...tapi kenapa sangat menyebalkan dimataku," ucap Anatasya menatap punggung suaminya yang kini telah menghilang...


Tak terhitung sudah beberapa panggilan yang Dinda lakukan untuk menghubungi Anatasya. Namun, satupun panggilan Dinda tersebut tak ada yang direspon.


"Pasti Anatasya marah banget nih...aduh aku harus gimana sekarang" Dinda berjalan mondar mandir dikamarnya dengan perasaan sangat bersalah.


Disisi lain...Anatasya yang baru selesai membersihkan diri langsung turun menuju dapur untuk makan malam sedangkan Raka yang baru keluar dari ruangan kerjanya melangkah melewati Anatasya untuk pergi menonton televisi.


"Dicuekin lagikan" umpat Anatasya pelan sambil melahap makanan dengan wajah kesal.


Setelah selesai makan malam, Anatasya melangkah menghampiri Raka yang tengah fokus kelayar televisi dan dengan sikap yang sedikit manja Anatasya berbaring dipangkuan Raka.


Raka yang terlihat biasa saja membuat Anatasya sedikit kesal.


"Raka..." panggil Anatasya


"Hmm..." Raka masih tidak menoleh kearah Anatasya.


Anatasya mengusap pelan paha Raka lalu kembali memanggilnya.


"Ada apa Anatasya...ingin menggoda ya," ucap Raka yang sudah tidak tahan dengan godaan istrinya itu.


"Lagian sih...mata kamu terus aja fokus sama televisi" balasnya cemberut.


"Iya iya..." Raka mulai menyerah dengan kecerewetan Anatasya.


"Raka...gimana nih boleh gak aku ikut camping" mohon Anatasya.


"Tidak..." jawab Raka ketus."


"Raka..." rengek Anatasya menarik narik baju Raka.


"Anatasya...kalau tidak ya tidak...jangan ngebantah...atau nanti aku kasih tau hubungan kita dikantor" ancam Raka yang langsung membuat Anatasya bangkit menahan marah.


"Jahat..." teriak Anatasya dan beranjak pergi menuju kamar...


Raka menghela nafas panjang melihat istrinya lagi dan lagi marah. Dia sudah tidak tau harus memberikan alasan apa untuk kembali membujuk sang istri...


Bersambung...