
Fania duduk di tepi ranjang memandangi Humaira dengan penuh rasa kasihan, Fania segera ke apartemen Zefran saat Darwin datang menjemput nya dan memberi tahukan tentang keadaan Humaira.
Fania sudah menganggap Humaira seperti adiknya sendiri, bahkan karena dukungan dari Humaira kini Fania sudah menutup auratnya dengan mengenakan hijab dan berpakaian syar'i seperti Humaira.
perlahan Humaira membuka matanya ia kembali teringat kejadian yang baru menimpa dirinya kemarin malam, Maira segara bangun dan memeriksa seluruh tubuhnya bayang-bayang Fadil membuat nya merasa ketakutan
Maira memeluk kedua lututnya, bahunya bergetar hatinya semakin perih.Sebulir bening hangat mengalir dari ujung matanya.
Fania yang baru saja kembali membawa sarapan untuk Humaira segera meletakkan ke atas meja dan menghampiri Humaira yang sedang menangis sesenggukan
"Ya Allah Maira" ucap Fania langsung memeluk tubuh Humaira memberikan ketenangan
sesaat keheningan terjadi hanya Isak tangis yang terdengar memenuhi ruangan
Fania melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Humairah yang sudah dipenuhi oleh lelehan air mata
"Tenanglah Humaira, sekarang kamu sudah aman, ada aku disini"ucap Fania tersenyum
"Kak Fania"lirih Humaira
"Ya, jangan takut Humaira disini kamu sudah aman, ada aku yang akan selalu menemani kamu"
"Terimakasih kak,sudah menolong Maira"ucap Humaira dengan suara rendah
"Jangan berterima kasih padaku Maira,tapi berterima kasihlah kepada pak Zefran karena dia yang menolong mu kemarin malam" balas Fania lembut
Maira terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Fania,Ia kembali mengingat kejadian kemarin dan benar saja Maira baru teringat bahwa Ia di tolong oleh seorang pria yang wajahnya tertutupi oleh cahaya lampu yang membuat Humaira sulit mengenalinya.
"Astaghfirullah,apa aku keluar menggunakan baju ini? dan juga kemana hijabku?" ucap Humaira memeriksa kembali dirinya.
Fania mengambil sebuah paper bag yang terletak di atas meja dan memberikan nya kepada Humaira
"Pakailah,ini disiapkan oleh pelayan pak Zefran untuk kamu gunakan, sekarang kamu bersih-bersih,aku akan menunggu disini setelah itu kita baru turun dan bertemu pak Zefran'' ucap Fania
Humaira meraih paper bag itu dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri,Ia memakai pakaian yang sudah di sediakan Zefran padanya dengan warna hijab yang senada
Fania yang melihat penampilan Humaira tidak bisa menahan tawanya, bagaimana tidak pakaian yang digunakan Humaira menyapu lantai bahkan lengan bajunya menutupi tangan Humaira seluruh nya
Humaira sudah sama persis seperti orang-orangan sawah.
"Ya Allah,apa di mata pak Zefran kamu sebesar itu"ucap Fania dengan tawanya
"Lucu ya kak? mau gimana lagi Humaira tidak punya pilihan selain menggunakan nya tapi syukur Alhamdulillah setidaknya bisa menutupi seluruh tubuh Humaira"jawab Humaira dengan menatap Fania yang akhirnya mengundang tawa keduanya
Zefran yang sedari tadi menunggu Fania turun bersama dengan Humaira menutup koran yang sedang dibacanya.
Ia berniat menghampiri Humaira namun langkah nya terhenti melihat Fania dan juga Humaira turun berjalan menuju kearah nya.
sepasang mata Zefran tertuju pada wajah Humaira yang sudah terlihat lebih segar dan juga cantik, dadanya berdetak lebih cepat setiap Humaira berada didekatnya
Zefran mencoba menetralkan degup jantungnya ia tidak ingin terlihat gugup didepan Humaira
"apa kamu sudah merasa baikan"Tanya Zefran pada Humaira
"Alhamdulillah sudah pak, terimakasih sudah menolong saya kemarin dan soal biaya pengobatan saya dan juga baju yang saya kenakan ini,Bapak bisa momotong gaji saya saat gajian nanti"jawab Humaira menunduk merasa tak enak hati
Darwin yang baru saja kembali dari dapur tertawa melihat penampilan Humaira
"Astaga,jadi baju itu untuk Humaira?
apakah ukuran nya memang sebesar itu Tuan? Tanya Darwin pada Zefran
'Tapi sangat cocok untukmu,kau jadi terlihat seperti orang-orangan sawah Maira' ucap Darwin tertawa geli, namun sejurus kemudian ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangan nya saat Zefran menatap tajam kearah Nya.
"Ah,maaf Maira aku tidak bermaksud mengejek,aku hanya merasa bahwa kau itu sangat lucu"ucap Darwin
Humaira mengangguk pelan,ia tidak merasa sakit hati sedikit pun dengan perkataan Darwin padanya