
Hujan deras mengguyur kota Medan malam itu membuat Humaira telat sampai kerumah dikarenakan semua angkutan umum penuh oleh penumpang yang berlomba-lomba untuk masuk menghindari pakaian yang mereka kenakan basah.
Sementara Humaira yang tidak kebagian tempat duduk terpaksa berbagi dengan seorang laki-laki yang duduk di bangku tempel yg mengarahkan dirinya menghadap kearah pintu hingga membuat pakaian nya basah kuyup.
Sesampainya di rumah Humaira segera membersihkan tubuhnya dan memasak Mie instan untuk mengisi perutnya yang sudah kelaparan sedari tadi
Humaira tinggal sendiri di rumah dikarenakan Tante Kiara,Khansa dan juga Fadil pergi keluar kota untuk menghadiri pesta kerabat dekat Almarhum Om Ferdian yang merupakan Suami Tante Kiara.
"Alhamdulillah, setidaknya aku memiliki waktu sendiri,hingga bisa beristirahat menikmati waktu libur" gumam Humaira pada dirinya sendiri
Humaira yang tengah terlelap merasakan ada sesuatu yang menindih tubuhnya membuat Ia perlahan membuka matanya.
"Astaghfirullah Bg Fadil apa yang Abg lakukan"pekik Humaira mendorong tubuh Fadil yang berada di atas tubuhnya
Namun bukannya menjauh,Fadil justru semakin memperkuat pelukannya dan menciumi seluruh wajah Humaira dengan sesekali menggerayangi setiap inci tubuh Humaira
Humaira sekuat tenaga mencoba menjauh kan dirinya dari dekapan Fadil,Ia meraih Vas bunga yang terletak di atas meja kamarnya
dan memukulkan tepat kekepala Fadil hingga membuat nya meringis ke sakitan
"kurang ajar,aku akan membuatmu menyesali ini"ucap Fadil meraih tangan Humaira yang hendak berlari ke arah pintu
Fadil menarik tangan Humaira dengan kasar lalu mendorong tubuh nya keatas tempat tidur, Humaira terus memberontak membuat Fadil semakin kesal
Plak
Suara tamparan keras mengenai pipi Humaira membuat sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah
"Aku sudah lama ingin menikmati tubuhmu adikku sayang,tenang saja aku akan bertanggung jawab jika kau sampai mengandung anakku"ucap Fadil dengan nafsu yang memburu.
"Tidak sayang,aku sudah menunggu waktu untuk saat-saat seperti ini, mana mungkin aku sia-siakan sebaiknya kamu pasrah saja dan kita nikmati bersama-sama kau pasti akan ketagihan nantinya" rayu Fadil mendekati tubuh Humaira
Humaira mengelak dan menendang tepat kearah paha Fadil membuat Fadil terduduk kesakitan.
Hal itu digunakan Humaira untuk melarikan diri,namun saat hendak berlari tangan Fadil segera menangkap pergelangan kaki Humaira hingga membuatnya terjatuh dan membentur sudut tempat tidur membuat dahinya mengeluarkan darah
Humaira tidak memperdulikan rasa sakitnya Ia melepas genggaman tangan Fadil dengan sekuat tenaga,lalu berlari kearah pintu
Fadil yang masih merasakan sakit mencoba
untuk bangkit dan mengejar Humaira keadaan malam yang sunyi membuat Humaira sulit untuk meminta pertolongan
Ditambah para tetangga merupakan orang yang tidak acuh pada keluarga mereka.
Humaira terus berlari kearah jalan raya tanpa memperdulikan penampilan nya, bahkan Ia sampai melupakan bahwa dirinya sudah tidak mengenakan hijab
Disisi lain Zefran dan juga Darwin baru saja pulang dari club malam,sudah menjadi kebiasaan dua pria itu menghabiskan malam dengan para wanita-wanita cantik walaupun Zefran masih bisa membatasi dirinya berbeda dengan Darwin yang entah sudah berapa gadis yang dirusaknya.
"Hei Buaya, mau sampai kapan kau rusak anak gadis orang?ucap Zefran menatap wajah Darwin yg seperti baru menuntaskan hajat nya.
"Bukan aku yang memintanya bro,mereka aja yang mau menyerahkan nya dengan sukarela lagi pula semua yang aku tiduri itu sudah tidak bersegel"jawab Darwin enteng
"Terpapar penyakit HIV baru tau rasa Lo akibat suka gonta-ganti pasangan"
"Doa Lo buruk amat sama sahabat sendiri, harusnya Lo itu doakan sahabatnya itu yang baik-baik"
"Cih,sejak kapan kau jadi sahabatku?Hmm... baiklah kudoakan baik jalannya kau bertemu dengan Malaikat Maut"ucap Zefran dingin membuat Darwin mendengus kesal