Humaira Ku

Humaira Ku
BAB 4



"Humaira" sahut Maira tak kalah ramah.


"Oke,aku tinggal ya ini ada beberapa lagi yg harus di selesaikan,nanti kalau kamu kurang ngerti tanya ke aku aja" ucap Fania meninggalkan Humaira sendiri


Setelah bekerja seharian penuh, Humaira tiba di rumah dengan meletakkan tasnya dan langsung bergegas untuk mandi.


Humaira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur nya seraya menatap nanar langit-langit kamarnya,Ia merasa tubuhnya sangat lelah karena disuguhkan pekerjaan yg menumpuk di hari pertamanya bekerja


perlahan Humaira memejamkan matanya dan tertidur dengan lelap.


Adzan subuh berkumandang membuat Humaira terbangun dari tidurnya,Ia segera menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan melaksanakan shalat subuh tidak lupa Humaira menyempatkan diri untuk membaca Alquran dan melancarkan sedikit hafalannya.


"Tok...tok...tok....Tante sarapan nya udah siap"ucap Humaira mengetuk pintu Tante Kiara


Khansa dan juga Fadil sudah menunggu di meja makan, tanpa memperdulikan Humaira yg sibuk menata makanan dimeja.


Bagi mereka Humaira hanyalah seorang anak yg harus tau berbalas Budi dengan apa yg sudah di berikan padanya sedari kecil dengan melayani dan menyanggupi kebutuhan keluarga.


"Apa hanya ini yg bisa kau masak?"Tanya Tante Kiara melihat beberapa masakan yg telah disediakan oleh Humaira.


"Maaf Tante, Humaira tidak sempat belanja karena pulang malam terus,waktu libur juga belum ada sebelum masa training selesai"balas Humaira menjelaskan


"Kan bisa menitipkan uang belanja sama Khansa,apa kamu tidak percaya padanya?Hardik Tante Kiara


"Bukan begitu Tante,hanya saja kemarin Maira udah ngasih uang belanja sama Khansa cuma uangnya digunakan Khansa untuk yg lain" ucap Humaira menatap Khansa berharap Khansa akan jujur pada Ibunya.


"Astaghfirullah... Tidak Tante, Maira ngga bohong"Ucap Humaira membela diri


plak


Suara tamparan mengenai wajah mulus Humaira yg seketika berubah merah diiringi dengan air matanya yang mengalir.


"Berani kamu berbohong padaku hah?


Aku udah sangat muak membesarkan anak yang tidak tahu diri seperti kamu, kalau bukan karena kebaikan hatiku mungkin sekarang kamu sudah menjadi gelandangan duluaran sana,pergi dari hadapan ku sekarang juga" ucap Tante Kiara dengan amarah yg sudah memuncak


Humaira mengusap air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya, berulang kali Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. namun dadanya begitu sesak,hatinya sakit mengingat semua kata-kata yg dilontarkan padanya.


Selama ini Humaira sudah berusaha melakukan yg terbaik walau tidak pernah dihargai,Ia selalu mengalah dengan keinginan nya sendiri semua Ia lakukan dengan harapan Tantenya akan menyayangi nya.


Humaira berjalan menuju ruangan nya tanpa menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasi nya dari jauh.


Zefran menuju ruangannya dan segera membuka laptop dimeja kerjanya, berhubung Darwin belum datang Zefran merasa leluasa memperhatikan Humaira dari layar laptopnya.


sudah menjadi rutinitas Zefran setiap pagi mendengar lantunan ayat suci Alquran yg dibacakan oleh Humaira dengan merdunya diruang kerjanya.


Namun ada yg berbeda hari ini,Zefran merasa Humaira sedang menangis dikarenakan suaranya yg sedikit serak, Zefran menatap lekat wajah Humaira dari jauh dan benar saja beberapa kali Humaira menyeka air matanya yang terus mengalir di sudut matanya.