
Situasi Raefal saat ini sangat tidak menguntungkan baginya. Ia telah terdesak oleh Jupiter dan tubuhnya sudah kelelahan.
Demi melindungi Naura, aku tidak akan kalah!
Dash..
??!!
Raefal dengan langkah cepat mendatangi Jupiter sambil mengarahkan pukulan lurus padanya. (Straight)
Meski sudah kelelahan tapi kecepatanmu tetap tidak menurun ya? (Dalam hati Jupiter)
Syutttt..
Jupiter berhasil menghindari pukulan lurus Raefal. Tetapi saat Jupiter mau menggenggam pemukul baseballnya dengan erat. Tiba-tiba..
Buk..
??!!
Tunggu..
Buk..
"Barusan apa yang dia lakukan? Aku tidak dapat melihatnya."
Buk..
I-ini?!
Buk..
Raefal melontarkan tinju cepat pada wajah Jupiter menggunakan tangan kirinya. (Jab)
Di-dia, apa daritadi sengaja mengalah saat melawanku? (Dalam hati Jupiter)
Buk buk buk buk buk..
"Urghhh.."
Kecepatannya terus meningkat?
Buk buk buk buk buk..
"Tu-"
Buk buk buk..
"Tunggu."
Buk buk buk..
"Tunggu seben-"
Buk buk buk..
Saking cepatnya Jab milik Raefal. Jupiter tidak diberi sedikit pun celah untuk menyerang balik.
"Apa kau mengerti? Inilah pelajaran yang kau dapat kalau kau berani mengusik Naura!"
BUGHHHH!!!
Raefal melakukan pukulan lurus sebagai serangan penutup diakhir. (Straight)
"Arghhh!!! Wajahku sial*n!"
Wajah Jupiter penuh memar akibat serangan beruntun Raefal.
"Masih mau lanjut?"
kenapa bisa begini? Apa level pro memang sehebat ini? (Dalam hati Jupiter)
"Berhenti!!"
Seketika kami berdua berhenti bertarung saat mendengar suara dari belakang kami.
"Kalau kau melanjutkannya lagi, aku akan melukai pacarmu!"
Rupanya Elvin memegang cutter kecil berwarna merah yang ia tujukan ke wajah Naura.
!!!??
Dengan emosi yang meledak-ledak, Raefal langsung berlari ke arah mereka berdua.
Apa dia tidak takut aku melukai pacarnya?
Tinggal seinci lagi cutter tersebut mengenai wajah Naura.
Krepp..
Raefal menahan ujung cutter itu dengan genggaman tangannya.
Meski pisau cutter tersebut sangat tajam dan melukai tangan Raefal hingga berdarah. Ia tetap menahannya demi melindungi Naura.
"Raefal! Tanganmu berdarah!"
Dia masih punya tenaga sebanyak ini?
Raefal mendorong Elvin mundur ke belakang sehingga Naura bisa lepas darinya. Setelah itu..
BUAKKKKK!!!
Brukkk..
Raefal mendaratkan pukulan kuat ke arah ulu hati Elvin, hingga dia kehilangan kesadaran.
"Raefal tanganmu?! Aku harus cepat-cepat ambil obat."
Naura tampak panik melihat kondisi tangan Raefal yang mengeluarkan banyak darah akibat menahan cutter barusan.
"Gapapa Ra, ini masih belum seberapa."
Raefal kembali menoleh ke arah Jupiter dan kembali memasang kuda-kuda Boxingnya.
"Kuakui sudah lama aku tidak bertemu lawan setangguh kau. Tapi jangan bermimpi kau bisa menang dariku."
Jupiter memegang erat tongkat baseballnya dan memasang pose pemain Batter dalam olahraga Baseball.
Apa yang sedang dia lakukan? (Bingung Raefal)
Raefal dengan cepat maju ke hadapannya. Ia melayangkan jab lagi padanya. Namun..
"Kena kau Raefal!"
BUAKK! (Suara terpukul)
Kecepatan, akurasi, kekuatan dan pengalaman bertarung. Jupiter mengerahkan semuanya dalam satu ayunan mematikan ke pundak Raefal.
??!!
A-aku lengah terhadap serangannya!?
"Selesai sudah."
Jupiter mengatakan itu sambil tersenyum jahat karena ia merasa telah menang dari Raefal.
"Lagi-lagi.."
Dengan terhuyung-huyung, Raefal tetap bangkit.
"Kau pikir kau sudah menang?"
"Kita mulai ronde ketiga."
"Lagi-lagi kau menganggap kita berada di atas ring."
Raefal dengan kuda Boxingnya, sedangkan Jupiter dengan pose Batter. Kini mereka berdua saling berhadapan.
Kali ini giliran Jupiter yang maju duluan menyerang Raefal.
Akan kukerahkan semua kemampuanku pada satu serangan ini! Sekali kena mampus kau! (Dalam hati Jupiter dengan percaya diri)
Saat tongkat baseball Jupiter hampir mengenai Raefal..
Swush..
Raefal mencondongkan tubuhnya ke arah kiri untuk menghindari tongkat baseball Jupiter.
Apa?
Dengan sekuat tenaga, Raefal menggerakkan bahunya ke belakang, Memutar sedikit tubuh dan kakinya. Kemudian meluncurkan pukulan mematikan dengan tangan kirinya dari samping. Ia menargetkan dagunya. (Nama serangan itu Hook.)
Srettt.. BUAKKK!!
Serangan Hook Raefal berhasil mengenai dagunya dengan keras. Jupiter terdorong dan terjatuh ke samping.
"Urgh.."
Ia menjerit kesakitan memegang dagunya.
"Jangan pernah mengganggu Naura lagi dan Pulanglah!"
Raefal sedang terengah-engah, kemudian mengelap keringatnya.
"Lalu kau bocah Chitato! bawa mereka!"
Rupanya sedari tadi Elvin sudah sadar dan ia berencana kabur sendirian.
"Hehe.. Maafkan kami karena udah buat masalah. Lain kali kami ga bakal ganggu kalian lagi kok."
Nyali Elvin menciut seperti anak kecil yang ketahuan berbohong pada orang tuanya.
"Raefal.."
"Udah gapapa. Semuanya sudah selesai."
Raefal mendekati Naura dan memeluknya.
"Meski kau marah padaku tidak masalah, kau membenciku pun juga tidak masalah, bahkan jika kau ingin membuangku aku akan tetap melindungimu."
Raefal mengatakan itu dari hatinya yang terdalam. Naura yang merasakan ketulusan Raefal terhadapnya pun menangis haru. Ia bangga memiliki pacar sepertinya.
"Kalau begitu, kami keluar dulu ya."
Elvin menyeret mereka berempat keluar dari rumah Naura dengan terburu-buru.
"Tanganmu udah gapapa Fal?"
Naura memeriksa kondisi tangan Raefal yang masih belum dibalut perban.
"Udah gapapa kok ini."
"Hmm harus kita obati dulu lukamu."
.
.
***
Lho? Apa yang terjadi dirumah Naura?
Setibanya aku di rumah Naura. Aku dikejutkan dengan pemandangan ruang tamu yang berantakan, barang-barang yang berserakan dilantai dan beberapa pecahan kaca.
Saat itu, Naura dan Raefal muncul dihadapanku sambil membawa sapu dan sekop untuk membersihkan serpihan kaca.
"Kaira?"
"Naura? Raefal? Apa barusan telah terjadi sesuatu?" Tanya aku pada Kaira bingung.
"Anu.. Jadi.."
.
.
Naura menceritakan semua kejadian yang baru mereka berdua alami barusan.
Raefal, dalam hati aku iri melihatnya begitu loyal terhadap Naura. Ia pria yang baik juga setia. Demi melindungi orang yang ia cintai, ia tidak ragu untuk mengorbankan dirinya sendiri.
"Begitu ya ceritanya. Untung kau datang di waktu yang tepat untuk menolong Naura."
Aku memberikan sedikit pujian atas tindakan Raefal.
Tetapi nampaknya responnya masih kurang baik terhadapku. Ia membuang muka saat aku memujinya.
Anak ini! Mau sampai kapan ia marah padaku? Aku tarik kembali kata-kataku kalau dia pria yang baik.
"Jadi, apa hari ini kita jadi ke mall?" Tanya Naura padaku.
"Kurasa mungkin kita tunda dulu jalan-jalannya." Jawab aku.
Kejadian barusan pasti membuat Naura syok. Meski agak disayangkan karena aku sudah menghabiskan banyak waktu berdandan untuk tampil lebih feminim hari ini. Tetapi dengan kondisi Naura yang sekarang, lebih baik membiarkannya istirahat terlebih dulu.
"Bagaimana dengan Hardian dan Tania?"
"Aku bisa menghubungi mereka nanti. Aku yakin mereka akan mengerti."
Aku mencoba meyakinkan Naura bahwa semua akan baik-baik saja.
"Terima kasih Kaira."
"Sama-sama Naura."
"Apa aku pulang dulu ya? Toh aku cuma tamu yang tak diundang."
Raefal hendak pergi meninggalkan kami berdua dan pulang ke rumahnya.
"Hmm jadi kamu mau ikut kami jalan-jalan ke mall?"
Aku bertanya padanya sambil tersenyum. Aku harap dia tidak marah lagi padaku.
"Siapa bilang? Mana mau aku ikut dengan kalian."
Wajah merah begitu, masih bilang gamau ikut.
Hadeh..
"Oke kalau gamau-"
Belum selesai bicara tiba-tiba Raefal..
"Kalau kalian memaksa, mau gamau aku akan ikut."
Ia mengatakannya dengan malu-malu sambil melirik Naura.
"Oke deh kalau gitu nanti kita sama-sama atur kembali waktu jalan-jalannya. Sekarang kita bantu Naura bersih-bersih dulu."
Setelah membantu Naura membersihkan rumahnya. Aku dan Raefal pun langsung pulang ke rumah masing-masing.
Hari yang terasa begitu panjang pun selesai.