HOW TO BE A GOOD GIRL

HOW TO BE A GOOD GIRL
Ep.23 - Tetangga Sebelah (Selesai)



Aku tidak tahu akan jadi seperti apa pertarungan ini jika terus berlanjut. Meski aku sudah membujuknya, Giovanna tetap tidak bisa di ajak bicara baik-baik. Mungkin satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini memang hanya dengan kekerasan.


"Kau yang tidak tau apa-apa tentang diriku. Tidak usah sok menasehatiku!"


Giovanna mengatakan itu sambil berlari ke arahku dengan cepat.


Drap drap drap drap drap..


Cepat sekali! aku tidak bisa melihatnya!


Wushhh


Giovanna melepaskan tendangan kuat menggunakan kaki kanannya ke arah pelipis kepalaku.


??


Ia berhenti? Apa dia sengaja tidak mengenaiku?


"Kukira kau bisa menghindari tendanganku barusan. Tapi ternyata.."


"Jadi kau meremehkanku?"


"Hmm?"


Aku marah. Sangat marah. Sudah lama sekali aku tidak diremehkan seperti ini. Perasaan hina ini membuatku ingin menghajarnya habis-habisan.


Auranya berubah. (Dalam hati Giovanna)


Giovanna bergerak mundur beberapa langkah ke belakang untuk mengambil jarak dariku.


Dashhhh..


!!??


Aku maju dengan cepat ke hadapan Giovanna dalam sekejap.


"Rupanya kau juga cepat ya." Puji Giovanna pada diriku.


Aku melayangkan beberapa pukulan padanya.


Syut syut syut syut syut..


Kenapa tidak ada yang kena?


Giovanna berhasil menghindari semua pukulanku dan gilirannya yang menyerangku.


Ia menangkap dan menahan bahuku. Kemudian melompat dan..


Buakkk..


Palm Knee Kick dari Kickboxing?


Aku berhasil menahan serangan lututnya dengan kedua tanganku. Setelah itu aku mendorongnya mundur.


"Teknikmu itu cukup berbahaya."


"Apa kau ingin melihat yang lebih menarik lagi?"


"Tentu saja!"


Pertarungan ini sangat seru. Rasanya aku semakin bersemangat saat melawannya.


Kami berdua sama-sama maju saling berhadapan.


Aku melakukan tendangan depan padanya. (Ap Chagi)


Syutttt


Giovanna menghindar dengan melintas ke kiriku. Ia mengangkat tangannya sambil memutar pinggulnya, melepaskan tendangan sabit berputar ke arah tulang rusuk kananku. (Armada)


Wushhhh..


Hampir saja tendangannya mengenaiku.


Aku melanjutkan memberikan pukulan padanya.


tap tap tap tap tap..


Tetapi kali ini dia menangkis semua pukulanku.


"Seperti kata Claudia, gerakanmu terlalu mudah ditebak."


Giovanna membalas dengan memberikan kombinasi pukulan dan tendangan padaku.


Buk.. Bak.. Buk.. Bak.. Buk.. Bak..


Gawat! aku terpukul mundur!


Meski begitu aku masih dapat menahan beberapa pukulan dan tendangan darinya dengan kedua tanganku sebagai pelindung.


Staminaku telah mencapai batasnya. Bertarung melawan seluruh anggota "Black Flames" termasuk Claudia sudah membuatku sangat kelelahan.


"Nampaknya kau kelelahan Kaira."


"Ini baru pemanasan. Pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai."


Mendengar aku berkata begitu, Giovanna tersenyum.


"Kalau kau bisa menjatuhkanku sekali saja. Kuanggap kau menang dan aku akan melepaskan Daven."


"Kau harus tepati kata-katamu."


DASHHHHH!!!


??!!


Dengan kecepatan penuh aku sudah berada tepat di hadapan Giovanna.


Apa?! (Dalam hati Giovanna terkejut)


"Sudah berakhir."


Aku menurunkan tubuhku dan melakukan tendangan rendah dengan kaki kananku.


Dukk..


?!


Brukkk..


Giovanna setengah terjatuh setelah menerima serangan dadakan dariku.


Padahal tinggal sedikit lagi!


"Pfffttt"


Eh?


"Hahahahaha."


Kenapa dia tertawa?


"Kau benar-benar luar biasa. Aku tidak menyangka kalau kau bisa menandingiku dalam kecepatan."


"Tidak usah dipikirkan. Sesuai yang kukatakan barusan, Daven akan kami lepas."


Aku terheran dengan situasi saat ini. Bukannya tadi dia serius ingin menghukum Daven habis-habisan?


"Kau boleh membawanya pulang bertemu papanya."


"Terima kasih Gio, sudah membiarkan Daven pulang."


Aku hanya bisa mengucapkan itu padanya karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Mengenai Claudia dan anak-anak lain tidak usah kau pikirkan juga. Aku bisa menjelaskan semua pada mereka."


"Ah iya.. Tapi sepertinya aku terlalu berlebihan ya."


"Haha.. Mereka pasti akan mengerti kalau aku yang bilang. Sudahlah lebih baik kau antar anak itu pulang."


"Kakak?"


Daven datang menghampiriku dan Giovanna. Dari ekspresi wajahnya, sepertinya dia masih takut dengan Giovanna. Tetapi aku yakin, dari pengalaman yang dia alami ini, dia tidak akan berani untuk merampas uang anak lain lagi.


"Daven, ayo kita pulang."


"Kalau kau berani merampas uang anak lain lagi. Kau benar-benar akan kuhukum lebih keras lagi. Apa kau paham?"


Giovanna mengatakan itu dengan tatapan mengintimidasi ke Daven.


"Baik kak. Aku janji gak bakal merampas uang anak lain lagi."


Sejujurnya aku juga salut dengan Daven, walau cara yang dia gunakan salah tapi dia melakukan itu demi membantu keuangan papanya. Belajarlah yang benar nak. Dengan begitu suatu saat kau akan dapat pekerjaan dan bisa menghasilkan banyak uang untuk papamu.


"Kami duluan ya Giovanna, maaf sudah memukul kalian."


"Tidak masalah."


Aku dan Daven pun meninggalkan tempat tersebut. Aku mengantar Daven pulang ke rumahnya. Disana papanya menyambut Daven sambil menangis karena mengkhawatirkannya.


"Daven kemana aja tadi?"


"Tadi Daven habis ditolong sama kakak."


Loh? Jangan bilang-bilang dong!


"Kakak nolong Daven waktu diganggu sama teman-teman Daven tadi. Sampai teman-teman Daven gak ganggu Daven lagi."


Owh, jadi dia tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hampir saja aku menyekap mulutnya.


"Owh begitu ya nak. Terima kasih banyak ya Kaira. Kamu sudah menjaga anak saya."


Bapak itu membungkuk lagi, berterima kasih padaku.


"Aduh, jangan begitu pak, saya jadi tidak enak dengan bapak. Kebetulan saja saya ketemu Daven saat perjalanan pulang tadi."


"Daven, bilang makasih sama kak Kaira."


"Makasih kak Kaira."


"Sama-sama Daven."


Setelah mengatakan itu, aku langsung pamit pulang ke rumah untuk istirahat karena badanku sudah sangat kelelahan.


.


.


***


----- Gang kecil di sekitar SMK Pengabdi Jakarta -----


"Hahaha jadi begitu sayang, aku dulu pernah jadi preman terkuat waktu SMP." Kata seorang siswa laki-laki berseragam SMK Pengabdi Jakarta.


"Ah yang benar? Paling kamu cuma omong besar doang yang~" Kata pacarnya sambil mencubit pelan siswa laki-laki itu.


Ouchh~


"Iya dong masa aku bohong sama kamu-"


Seketika siswa laki-laki itu terdiam saat melihat sesosok pria berdiri di depannya. Pria itu tampak tinggi, gagah dan berotot dengan mata cokelat dan rambut hitam. Selain itu dia juga memiliki tatoo di kedua lengannya. Dia adalah preman yang sesungguhnya.


"Ah? Sayang mau balik arah?"


"Iya kita balik aja yuk!"


"Hoi kalian.."


Panggil preman itu sambil mendekati mereka berdua yang tampak ketakutan.


"Kalau lewat sini harusnya sapa dulu dong."


Preman itu mengatakan itu dengan wajah menyeramkan dan bernada tinggi. Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah siswa laki-laki tersebut.


"Kau tahu namaku?"


"Maaf kak, saya tidak tahu."


BUGHHH!!!


"Urghhh.."


??!!!


Preman itu memukul keras perut siswa laki-laki itu.


"SAYANG??!!"


Pacar siswa laki-laki itu berteriak panik.


Plakkk!! (Suara tamparan)


"Aaaaaaaaa."


"Diam kau brengs*k! Aku sedang mendidiknya."


Preman itu tidak pandang bulu. Ia juga kasar terhadap perempuan. Benar-benar orang yang kejam.


"Kalian ingat baik-baik mulai sekarang. Jika kalian melewati gang ini, kalian harus menyapaku dan membayar sejumlah uang keamanan."


"Memangnya nama kakak siapa-"


BUGHHH!!!


"ARRGGHHH!!"


Ini pukulan kedua oleh preman tersebut. Kali ini pacarnya tidak berani bersuara sedikit pun.


"Jangan bertanya sebelum aku selesai bicara."


Preman itu menarik kembali tangannya dari perut siswa laki-laki itu. Kemudian ia menyuruh mereka memanggilnya..


"Kak Jupiter."