
Giovanna merupakan wanita muda tomboy berwajah cantik, montok dengan tinggi rata-rata, berotot kencang dan kulit yang cerah. Ia juga memiliki rambut pirang pendek yang diikat ekor kuda. Giovanna dan gengnya "Black Flames" sama-sama mempunyai tatoo "Phoenix" yang terletak di sekitar leher mereka. Mencerminkan rasa "Percaya diri" pada setiap anggota gengnya.
Jadi.. aku bertemu dengan mereka hari ini dan telah terjadi sesuatu.
.
"Apa kau yakin bisa mengalahkan kami semua seorang diri?"
Set..
Giovanna melepaskan jaketnya. Ia meregangkan tubuhnya terlebih dahulu, lalu memasang kuda-kuda bertarung.
"Aku tak akan segan menyerangmu, Kaira! Tunjukkan padaku Taekwondomu! "
Ia ingin aku maju menghadapinya. Pelan-pelan ia melangkah mendekatiku dengan posisi siap menyerang.
"Gio Hentikan! Kau tidak harus menjadi orang jahat hanya untuk menghukum orang jahat. Jika kau begitu, berarti kau tidak ada bedanya dengan mereka."
Mendengar perkataanku barusan, Gio tidak terima dan malah semakin menjadi-jadi.
"Kau yang tidak tau apa-apa tentang diriku. Tidak usah sok menasehatiku!"
.
***
Semua ini berawal dari kejadian tadi pagi, saat aku berangkat ke sekolah.
Sesudah sarapan pagi, aku mengambil tasku dan segera berpamitan kepada kedua orang tuaku di dapur. Papaku sedang minum kopi sambil membaca koran hariannya. Sedangkan mama sedang mencuci piring setelah selesai masak.
"Pa, ma aku pergi dulu ya~"
Aku menghampiri mereka untuk salim sebelum pergi ke sekolah.
"Kaira mau papa yang antarin ke sekolah?"
"Gak perlu papa, aku bisa pergi sendiri kok hehe."
"Yaudah.. Kalau gitu hati-hati di jalan ya."
Setelah mengatakan itu, papa melanjutkan membaca koran hariannya.
"Kaira. Kamu bisa bantu mama sebentar?"
"Bantu apa ma?"
Aku melihat mama sedang membawa sebuah kotak makanan yang kemudian ia masukkan ke dalam tote bag.
*Note : Tote bag adalah tas jinjing yang berbentuk kantong dengan tali di atas untuk dibawa menjinjing. Kebanyakan tote bag berbahan dasar kain belacu.
"Kamu bisa tolong antarkan lauk ini untuk tetangga kita di sebelah? Kemarin pemilik rumahnya ada membantu papa perbaiki genteng rumah kita yang bocor, jadi mama mau kasih lauk ini sebagai balasan yang kemarin."
Oh jadi begitu.
"Oke ma~ Aku bisa bantu anterin kok. Dijamin aman dan terpercaya sampai ke tempat tujuan."
"Pasti sampai dong nak, kan rumahnya sebelahan."
"Hehe iya juga. Yaudah aku duluan ma."
"Hati-hati ya nak."
"Oke ma~"
Setelah salim dan berpamitan dengan papa dan mama. Aku segera keluar dari rumahku dan berjalan ke rumah sebelah.
Diluar ekspetasiku. Dari luar rumah ini tampak kumuh. Pagar besi yang penuh dengan karatan. Jendela yang penuh debu. Pintu kayunya juga kelihatan rapuh. Menurutku rumah ini sudah sangat tua.
Apa benar masih ada orang yang tinggal di rumah ini?
Aku berjalan masuk ke rumah itu melewati pagar besi yang sudah sedikit terbuka. Dilangit-langit rumah, terdapat banyak sekali sarang laba-laba yang menempel di pojokan dinding rumah.
Sesampai di depan pintu. Aku langsung mengetuk pintu dan menunggu pemilik rumah itu keluar.
Tuk tuk tuk tuk tuk..
.
.
Belum keluar juga. Apa pemiliknya lagi di luar?
Tuk tuk tuk tuk tuk..
Aku mencoba mengetuk pintu itu lagi.
Krietttt (Suara pintu terbuka)
Seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh mengintip keluar dari balik pintu. Dia lebih seperti melirikku, dan itu membuatku takut.
"A-anu lauknya kutaruh di depan pintu aja ya?"
Tubuhku kaku saat meletakkan lauk mama di depan pintu. Saat hendak pergi meninggalkan rumah ini, aku melihat ada anak kecil yang masuk melewati pagar.
"Papa aku sudah pulang."
Anak kecil itu berlari ke pria paruh baya itu yang rupanya adalah papanya.
"Wah anak papa sudah pulang~"
Pria paruh baya itu segera keluar dan memeluk anaknya.
Puk...
"Papa, hari ini benar-benar seru lho. Aku habis main kejar-kejaran dengan banyak orang. Asyik banget!"
"Wah, lain kali papa boleh ikut?"
"Kamu ini ada-ada aja, Daven."
Hubungan mereka berdua sebagai ayah dan anak sangat baik.
Pandanganku tertuju pada pakaian yang ia kenakan. Bajunya lusuh dan sepertinya terlalu besar untuk seukuran tubuhnya.
Syutt
Daven mengeluarkan sejumlah uang dari balik bajunya dan ia memberikan uang itu pada papanya.
"Ini untuk papa." Sambil tersenyum manis.
"Lho, dapat uang sebanyak itu dari mana dek?"
"Aku dapat ini semua dari teman-temanku."
"Yang bener kamu Ven? Kamu tidak berbuat jahat seperti mencuri kan?"
"Engga kok pa. Ini sumbangan dari teman-teman untuk membantu kita."
?
Aku merasakan kejanggalan pada perkataan anak itu. Apa itu mungkin teman-teman Daven menyumbangkan uang sebanyak itu padanya? Atau jangan-jangan dia-
Ah- sebentar lagi aku sudah mau terlambat masuk!
"Permisi pak, saya izin pamit dulu. Lauknya jangan lupa dimakan ya pak."
Bapak tersebut melihatku dan bertanya.
"Nama kamu siapa dek?"
Ia menanyakan namaku.
"Saya Kaira pak. Tetangga sebelah bapak."
"Oh, Kaira. Terima kasih banyak ya untuk lauknya."
Bapak tersebut membungkuk 90° memberi hormat padaku.
Aduh jadi ga enak sama bapaknya.
Setelah itu aku buru-buru pergi ke sekolah karena sudah terlambat.
***
----- Kelas 1 Bisnis dan Pemasaran -----
"Sekian kelas kita pada hari ini. Jangan lupa PR nya dikerjakan di rumah. Hati-hati di perjalanan pulang ya anak-anak."
Setelah mengatakan itu semua siswa mulai berhamburan meninggalkan kelas. Kecuali untuk siswa yang piket.
Kebetulan hari ini adalah jadwalku untuk piket kelas. Jadi setelah pelajaran usai, aku langsung mengambil sapu dan membersihkan kelas dari ujung ke ujung.
"Disini kau rupanya, Kaira."
Suara ini.. Gio!
Aku menoleh melihat Giovanna dan Claudia sedang berdiri di depan kelasku. Nampaknya mereka sedang menungguku.
"Kalian berdua belum pulang?" Tanya aku pada mereka.
"Kami menunggumu keluar." Kata Claudia dengan nada jengkel.
Aku masih bisa merasakan kecemburuan darinya sejak hari itu. Memang apa salahku?
"Ada apa ya Gio?"
"Karena kita baru berteman belum lama ini. Aku berencana ingin mengajakmu berkeliling di tempat sekitar sini."
Oh? Boleh juga tuh. Aku jadi bisa lebih mengenal lingkungan baru di sini.
"Oo, oke Gio. Aku selesain dulu ya piketku."
Setelah menerima ajakannya. Dengan cepat aku segera membereskan tugas piketku agar bisa cepat pulang.
"Oke siip, jadi kita mau jalan kemana nih?"
Aku bertanya tidak sabaran pada mereka.
"Apa kau biasanya bersemangat seperti ini?" Tanya Claudia padaku.
"Yap. Sebenarnya sudah lama aku ingin berkeliling di sekitar sini, tapi karena aku selalu pulang cepat, jadinya aku tidak punya waktu untuk berkeliling."
"Yang benar?"
Claudia membalas singkat, ia tampak tidak peduli dengan perkataanku barusan.
💢
Selamanya aku tidak akan berbicara denganmu lagi!
"Kau pasti akan menyukainya Kaira karena kau terlihat menyukai tantangan. Kita akan pergi ke gang sebelah untuk menangkap seorang anak yang akhir-akhir ini suka merampas uang anak-anak lain."
?
Aku sempat tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya barusan. Namun dari ceritanya mengingatkanku pada Daven, anak dari tetangga sebelah rumahku. Tapi itu tidak mungkin dia kan?
KRIIING KRIIING KRIIING
Terdengar suara ponsel Giovanna berbunyi.
"Ketua, kami berhasil menangkap bocah yang suka merampas uang itu!"
...!