HOW TO BE A GOOD GIRL

HOW TO BE A GOOD GIRL
Ep.21 - Tetangga sebelah (2)



"Ketua, kami berhasil menangkap bocah yang suka merampas uang itu!"


"Kerja bagus! Tahan dia sampai kami tiba di sana."


"Baik ketua!"


Giovanna mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam jaket. Ia menoleh ke arahku.


"Kaira, sepertinya kita tidak perlu berkeliling lagi. Rupanya anak itu sudah ditangkap oleh teman-temanku."


Kenapa dia tega melakukan ini pada anak kecil?


"Selanjutnya apa yang akan kalian lakukan padanya?"


"Tentu saja menghukumnya agar dia tidak berani berbuat jahat lagi."


Aku benar-benar tidak menyangka kalau Giovanna adalah orang yang seperti ini. Awalnya aku mengira dia adalah ketua geng yang baik karena melindungi orang yang lemah dan mengalahkan orang jahat. Aku salut padanya. Tapi kali ini sedikit berbeda, dia sama sekali tidak pandang bulu saat berhadapan dengan orang jahat, meskipun itu adalah anak-anak.


"Kita harus berangkat sekarang ketua! Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan!"


Claudia merasakan adanya tetes air hujan yang mulai turun dari langit.


Tik tik tik tik tik..


Terdengar suara rintik hujan yang perlahan menderas.


Rupanya mereka berdua telah menyiapkan 3 buah payung untuk berjaga-jaga akan turun hujan, dan mereka meminjamkan payungnya padaku.


Kami bertiga segera mendatangi proyek bangunan, tempat anak itu ditangkap, melewati jalanan yang basah dan becek.


Splashh..


Cipratan air di tanah mengotori sepatuku.


Hei hei.. Pelan dikit dong jalannya! Airnya nyiprat ke sini nih!


.


Sesampainya disana, kami bertiga langsung disambut oleh anggota-anggota "Black Flames". Aku melirik ke sekitar mereka untuk mencari keberadaan Daven, namun aku tidak menemukannya.


"Salam ketua! Setelah kami beri cukup pelajaran, anak itu masih tidak mau memberitahu keberadaan uang yang dia ambil."


Salah satu anggota "Black Flames" melapor pada Giovanna.


"Mana orangnya? Orang jahat sepertinya harus dihukum! Biar aku yang lakukan sendiri!"


Giovanna mengatakan itu dengan suara lantang.


Apa dia serius mau menghabisi seorang anak yang bahkan belum tahu cara membedakan benar atau salah?


"Anu Gio.."


"Ya Kaira?" Giovanna menoleh ke arahku.


"Kau kenapa?" Claudia juga ikutan menoleh ke arahku.


"Apa lebih baik kita lepaskan saja anak itu?"


Akhirnya aku mengatakannya juga. Seketika aku jadi teringat dengan kejadian tadi pagi. Seorang ayah yang memyambut kepulangan anaknya dengan memberikan pelukan yang hangat, menunjukkan betapa besar kasih sayang pada anaknya. Saat ini, mungkin ia sedang khawatir karena Daven belum pulang ke rumah.


"Bicara apa kau Kai? Kita tidak boleh melepaskannya begitu saja."


Claudia menolak tegas perkataanku.


"Apa kau bercanda? Hahaha."


Sedangkan Giovanna malah mengira aku sedang bercanda dengannya.


Ditengah perbincangan kami, beberapa anggota "Black Flames" mengawal seorang anak laki-laki kemari.


Tidak salah lagi anak itu adalah Daven.


"Daven?"


"Kakak?"


Ia melihatku dan spontan memanggilku "Kakak".


"Kakak kan yang ngantarin lauk papa ke rumah."


"Kalian saling kenal?" Tanya Giovanna padaku.


"Ah- Rumahku bersebelahan dengan rumahnya, jadi kami bertetangga."


"Tetangga ya? Kalau begini akan jauh lebih mudah."


?!


Giovanna mendekati Daven, menarik tangannya dan menyeretnya ke pojokan gedung.


Ditengah hujan deras, Daven mengalami kedinginan karena berada di tempat yang basah dan lembab. Dia juga bersin beberapa kali sambil memeluk dirinya sendiri agar tidak kedinginan.


"Baiklah, kalau kau beritahu dimana kau sembunyikan uang yang kau rampas itu. Aku akan memulangkanmu sekarang juga."


Tatapan mata Giovanna sangat mengintimidasi. Auranya berubah menjadi menyeramkan.


"A-aku ti-tidak akan me-memberitahumu. Uang itu sa-sangat berharga untukku."


Nampaknya Daven telah mencapai batasnya. Matanya sudah setengah tertutup, ia hampir pingsan karena kedinginan.


Aku tidak kuat melihatnya diperlakukan seperti itu.


"Katakan dimana kau sembunyikan uangnya!"


Giovanna memaksanya lagi.


"Kau tau? Anak-anak lain mendapatkan uang dari hasil keringat orang tua mereka. Uang yang mereka hasilkan bukanlah sesuatu yang mudah di dapat, meski kau telah bekerja keras sekalipun. Makanya tidak seharusnya kau mengambil uang mereka."


"Aku- tak akan memberitahumu!"


Daven tetap bersikeras tidak mau memberitahu dimana uang itu dia sembunyikan.


Hffftttt..


Giovanna menghela nafas panjang, mengibas rambutnya dan mulai meregangkan tubuhnya.


Kretekk kretekk..


"Apa perlu aku sedikit keras padamu?"


Gio menarik kuat rambut Daven ke hadapannya.


"Arghhh.." Daven menjerit kesakitan.


"Kuberi kau satu kesempatan terakhir. Katakan dimana kau sembunyikan uangnya?"


Giovanna mengeratkan genggamannya pada rambut Daven.


"Aku melakukan ini demi papaku."


?!


"ARGHHH.."


Ia semakin kuat menarik rambut Daven hingga ia berteriak kesakitan.


"Jangan bercanda denganku. Kau kira ini lucu?!"


Aku tidak bisa membiarkan ini lebih lanjut! Kalau begini bisa-bisa Daven terluka.


"Sudah hentikan!!"


Aku mengatakan itu dengan keras membuat semua orang yang ada ditempat itu melihat ke arahku. Kini aku menjadi pusat perhatian mereka.


"Kenapa dengannya? Salah makan?"


"Dia kan orang yang di bawa ketua."


"Bikin kaget aja tuh cewek."


Aku mendengar beberapa orang mulai membicarakanku. Tetapi bukan itu yang terpenting sekarang!


Giovanna sedang menatapku tajam.


"Apa maksudmu Kaira?" Tanya Giovanna padaku dengan suara serius.


Apa dia marah dengan perkataanku barusan?


"Mungkin kau keberatan untuk melepasnya, tetapi ayahnya sedang menunggunya di rumah sekarang."


"Peduli apa aku soal itu?"


Ia membalas kata-kataku dengan kasar dan menusuk. Kalau boleh jujur, aku tersinggung dengan caranya merespon kata-kataku.


"Ayahnya sedang menunggunya pulang ke rumah. Apa kau tidak bisa memakluminya sedikit saja? Dia hanyalah anak kecil yang masih belum tahu apa-apa tentang baik dan jahat. Mana bole-"


Belum selesai bicara, kata-kataku dipotong oleh Giovanna.


"Kau.. Berisik sekali." Nada dan auranya berubah lagi.


Emosinya terpampang jelas di wajahnya. Ia menatapku tajam.


"Kaira.. Apa kau ingin berduel denganku?"


Du-duel dengan Giovanna? Aku tidak yakin tapi saat melihat perkelahiannya dengan Julien pada hari itu. Aku merasakan ketegangan padanya. Orang ini sangat kuat!


"Aku tidak ingin berduel denganmu!"


"Kalau begitu begini aja. Kalau kau bisa melewati kami-"


Dalam sekejap para anggota "Black Flames" berbaris dan mengambil posisi ke tempat mereka masing-masing.


"-dan membuatku terhibur dalam duel. Aku akan melepaskan anak ini."


Giovanna. Ia baru saja menantangku untuk melawannya.. Tidak bukan hanya dia seorang, melainkan melawan seluruh anggota "Black Flames".


Claudia juga ikut mengambil posisi berdiri disamping Giovanna.


"Ketua, apa kau yakin akan mengerahkan seluruh anak-anak hanya untuk menyerang satu orang? Ini bukan gaya kita." Tanya Claudia pada Giovanna dengan ragu-ragu.


"Hari ini kita akan menghukum 2 orang. Kalian semua bersiaplah!" Giovanna hanya mengatakan itu dengan suara lantang.


"SIAP KETUA!!"


Teriak seluruh anggota "Black Flames" dengan serempak.


Sekarang ini aku sedang ragu dengan diriku sendiri. Apakah aku sanggup mengalahkan mereka semua?