
Saat ini aku terjebak dalam ketidakberuntunganku. Aku harus bertarung melawan "Black Flames" demi seorang ayah yang sedang menunggu kepulangan anaknya.
"Gio, sebenarnya aku tidak mau melawan kalian."
Sebisa mungkin aku tidak ingin bertarung melawan mereka, terutama Giovanna. Karena akan sangat merepotkan kalau aku harus mengerahkan seluruh kemampuanku.
"Semuanya bersiaplah!"
Giovanna tampak mengabaikan perkataanku barusan, dan menyuruh seluruh anggotanya mengambil posisi siap untuk menyerangku.
"Kukira kita cocok dan bisa jadi teman, Kaira. Tapi sepertinya kita tidak bisa akrab."
Giovanna terlihat kecewa denganku.
Begitu pula denganku, aku juga kecewa dengannya.
"Black Flames! Majulah!"
!!!???
Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap..
Akhirnya tiba juga.
Semua anak-anak "Black Flames" mulai berlarian maju untuk menyerangku, kecuali Giovanna. Ia tetap berdiri di tempat seperti menunggu sesuatu.
Syut.. Syut.. Syut.. Syut.. Syut.. Syut..
Beberapa anak-anak "Black Flames" mulai melayangkan beberapa pukulan padaku namun pukulan mereka sangat lambat. Dengan mudah aku menghindari semua serangan mereka dan mengambil jarak.
Lumayan cepat juga dia bisa menghindari semua serangan anak-anak. (Dalam hati Claudia memujiku)
Set..
Salah satu anggota "Black Flames" muncul dari belakangku.
?!
Grab..
Kena kau! (Dalam hati perempuan itu.)
Ia berhasil menahan kedua lenganku dari belakang.
"Bagus! Sekarang kita serang dia bersamaan."
Saat mereka semua sudah sangat dekat denganku.
Aku mengangkat kedua kakiku dan menendang satu orang di depanku. Membuat orang yang menahan lenganku terdorong mundur ke belakang.
Ini kesempatanku untuk melepaskan diri. Aku sedikit menekuk lututku agar bisa melompat. Kemudian aku melompat ke udara, memberikan sebuah tendangan kuat lurus ke belakang. (Nama serangan itu adalah Eedan Dwi Chagi.)
BUKKK!!!!
"Arghhh.."
Setelah menerima tendanganku di perutnya. Ia melepasku.
Tetapi bukan berarti semua ini sudah berakhir.
Aku dengan cepat maju dan menerobos satu persatu anggota "Black Flames" yang menerjang ke arahku.
Bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk bukkk
Satu persatu mereka semua mulai tumbang olehku.
Ini diluar perkiraanku, dia sangat kuat. (Dalam hati Claudia)
Dia bisa melewati anak-anak. Sudah kuduga dia bukan petarung biasa. (Dalam hati Giovanna)
Bukkk!!
Aku berhasil menumbangkan orang terakhir. Kini yang tersisa hanya Claudia dan Giovanna.
"Aku memujimu karena bisa mengalahkan semua juniorku. Tapi aku tidak akan menahan diri lagi."
Claudia maju menghadapiku. Ia mendesah kesal dan mencurahkan isi hatinya padaku.
"Sejak pertama kali bertemu, aku tidak menyukaimu."
"Apa maksudmu Claudia?"
Aku tahu kalau dia cemburu dengan Giovanna yang terlalu memperhatikanku.
"Kau kira bisa berteman dengan Gio hanya karena kau kuat? Aku tidak akan membiarkan posisiku di rebut olehmu!"
Tuhkan, sudah kuduga dia cemburu.
"Aku tidak bermaksud-"
???!!!
Syut..
Claudia melayangkan tinjunya padaku.
Swushh..
Aku berhasil menghindari tinjunya dengan memiringkan kepalaku ke kanan.
Claudia merupakan petarung yang cerdik. Ia menemukan celah padaku dan melepaskan tendangan bawah untuk membuatku terjatuh.
Bukk.. (Suara tendangan)
Gawat keseimbanganku goyah!
Tap.. Hap.. Tap..
Aku menggunakan tanganku untuk melompat mundur dan mengambil posisi berdiri seperti semula.
Claudia tampak sedang menganalisa gerakanku selanjutnya. Setelah beberapa saat dia kembali menyerangku.
"Kau mencoba menganalisa gerakanku?" Tanya aku pada Claudia.
"Ternyata kau cukup pintar." Claudia memujiku.
"Tapi.."
!!??
Wushhh wushhh wushhh
Claudia melepaskan 3 kali tendangan beruntun padaku.
Hiatttt!!!
Syut syut syut..
Aku berhasil menghindari semua tendangannya.
Bughh!! (Suara tendangan)
Di-dia berputar dan menggunakan tendangan belakang?
Tendangannya tepat mengenai perutku.
Hooh? Jadi hanya segini kemampuanmu, Kaira. (Dalam hati Giovanna kecewa)
Meski perutku terasa sakit. Aku akan berusaha melawan balik!
"Apa benar begitu? Bagaimana dengan ini?"
Dash..
Dengan cepat aku mendekati Claudia untuk menyerangnya.
Kaira adalah petarung yang menggunakan bela diri Taekwondo. Aku harus waspada dengan kakinya. (Dalam hati Claudia)
Aku mengepalkan tangan kananku dan melakukan pukulan lurus padanya. (Straight)
Bukk!!
"Ughh.."
Aku berhasil mendaratkan pukulan Straight pada wajahnya.
Di-dia menggunakan tinju? (Dalam hati Claudia terkejut)
"Kemampuanku bukan hanya sebatas pada Taekwondo saja."
Tentu saja aku juga bisa melakukan tinju, karena selama ini aku sudah terbiasa bertarung dengan berbagai macam berandalan.
💢
"Kau tidak usah sombong dulu hanya karena berhasil memukulku sekali."
Claudia mengelap wajahnya dan kembali memasang kuda-kuda bertarung. Ia menganalisa gerakanku lagi.
Jika aku melakukan serangan dari atas, dia akan sulit menghindar karena aku sudah memojokkannya ke pinggir ruangan. (Dalam hati Claudia menganalisa pergerakanku)
Claudia mengambil beberapa langkah, kemudian melompat melepaskan tendangan ke arah kepalaku.
Hap.. Syutt..
Dia cukup pintar bisa memojokkanku ke pinggir ruangan. Membuat pergerakanku menjadi terbatas sehingga sulit untuk menghindar. Namun..
Swushhh..
A-apa? (Dalam hati Claudia terkejut)
Aku menurunkan tubuhku sedikit ke bawah untuk menghindari tendangannya. Kemudian aku melompat sambil memutar badan ke arah belakang 720°. Setelah itu aku mengarahkan kakiku ke atas, menyerang bagian kepalanya dengan segenap kekuatanku. (Nama serangan itu Balchagi 720°.)
BUGHHH!!!
Brakk.. (Suara terjatuh)
??!!
Claudia dikalahkan oleh Kaira? (Dalam hati Giovanna)
Balchagi 720°, aku tidak menyangka akan menggunakan gerakan itu untuk menghadapinya. Tapi aku akui kalau Claudia adalah petarung yang terampil.
"Padahal aku sudah menganalisa gerakanmu dengan cermat. Tapi kenapa aku masih kalah?"
Claudia mengatakan itu dengan mata yang berair, ia hampir menangis.
"Kau terlalu mudah terbawa emosi, karena hal itu membuatmu terburu-buru saat melawanku. Cobalah untuk lebih sabar dan tenang. Aku yakin kemampuan analisamu akan menjadi sangat hebat."
"Si*l!"
Claudia mencoba untuk bangun kembali.
Tap.. Hap..
Giovanna memapah dan membantunya berdiri.
"Kau sudah melakukan yang terbaik Claudia. Terima kasih untuk kerja keras kalian selama ini. Sisanya serahkan padaku."
"Ketua.. Maaf aku telah dikalahkan olehnya."
"Tidak masalah kalau kau telah dikalahkan, selanjutnya kau harus bangkit menjadi lebih kuat lagi."
"Terima kasih ketua."
Aku takjub melihat keloyalan Giovanna terhadap Claudia. Mereka memang sahabat sejati.
"Kaira, melihatmu yang cukup kuat. Aku berubah pikiran."
??!!
Apa maksudnya?
"Aku ingin kau masuk ke geng kami."
Giovanna mengajakku bergabung dengan "Black Flames"? Geng kelas Industri?
"Kami butuh orang kuat sepertimu untuk menolong orang lemah dan menghukum orang jahat. Apa kau mau bergabung dengan kami?"
.
.
"Maafkan aku Gio, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Tetapi kuharap kau bisa melepaskan Daven agar dia bisa pulang ke rumah."
"Aku tarik kata-kataku kembali."
Suasana disekitar mulai berubah.
"Apa kau yakin bisa mengalahkan kami semua seorang diri?"
Set..
Giovanna melepaskan jaketnya. Ia meregangkan tubuhnya terlebih dahulu, lalu memasang kuda-kuda bertarung.
"Aku tak akan segan menyerangmu, Kaira! Tunjukkan padaku Taekwondomu! "
Ia ingin aku maju menghadapinya. Pelan-pelan ia melangkah mendekatiku dengan posisi siap menyerang.
"Gio Hentikan! Kau tidak harus menjadi orang jahat hanya untuk menghukum orang jahat. Jika kau begitu, berarti kau tidak ada bedanya dengan mereka."
Mendengar perkataanku barusan, Gio tidak terima dan malah semakin menjadi-jadi.
"Kau yang tidak tau apa-apa tentang diriku. Tidak usah sok menasehatiku!"
.