
Ketidakberuntunganku masih terus berlanjut hingga hari ini.
Setibaku disekolah, muncul rumor tentang aku yang mengalahkan geng "Black Flames" seorang diri. Mengetahui hal itu, sama sekali tidak membuatku senang.
Tujuanku masuk ke SMK ini adalah untuk menjadi gadis feminim. Tapi apa ini? Kenapa banyak sekali masalah yang melibatkanku ke dalam perkelahian? Kalau begini sama saja tidak ada perubahan dalam diriku.
Hadeh..
Ngomong-ngomong aku ingin tahu siapa orang yang menyebarkan rumor tersebut.
----- Kelas 2 Bisnis dan Pemasaran (BDP) -----
Seorang lelaki sedang duduk di kursinya sambil meminum susu kotaknya.
Slurpppp (Suara seruput minuman)
[ Damian, Kelas 2 Bisnis dan Pemasaran (BDP) ]
"Black Flames sudah dikalahkan? Bagaimana dengan Gio?"
Tanya Damian sambil melanjutkan seruputnya.
"Iya, dikalahkan oleh anak yang mengalahkan Raefal waktu itu. Dari kabar yang kudengar katanya perkelahian mereka berakhir seri." Jelas salah seorang siswa laki-laki bertubuh pendek.
"Berarti belum bisa ditentukan ya. Sayang sekali." Tanya Damian.
Slurpppp (Suara seruput minuman)
"Sepertinya kau penasaran dengan siapa pemenangnya. Apa kau memihak cewek itu?"
"Siapa? Gio?"
"Bukan, Kaira."
Oh jadi namanya Kaira (Dalam hati Damian baru tahu)
"Entahlah, siapapun yang menang aku tidak peduli."
.
***
"Ohayou Kaira-chan~"
Seperti biasa setiap pagi Hardian selalu menyapaku. Tapi apa-apaaan dengan kata "Chan" itu. Apa semacam nama belakang dalam bahasa jepang?
"Pagi Har.."
"Apa yang terjadi diantara kamu dan Gio? Satu sekolah heboh membicarakan kalian berdua."
Terus terang, aku malas menjawab pertanyaannya.
"Sudahlah kau tidak perlu tahu."
"Hufftt, Kaira sekarang suka main rahasia-rahasiaan nih~"
Aku memilih mengabaikannya dan langsung tidur di mejaku.
"Apa Kaira semasa SMP dulu suka berkelahi ya?"
Terdengar suara familiar di telingaku. Aku bangun dari tidurku dan melihat Tania yang menanyakan hal itu.
"Enggak kok, memangnya aku kelihatan suka berkelahi?" Jawab aku dengan tampang yang mencoba meyakinkan mereka berdua.
Ia malah semakin mencurigakan. (Dalam hati Tania dan Hardian menatapku)
.
"Hei, kemarin kata temanku dari kelas fashion ada yang kena palak."
??
Aku menguping pembicaraan temanku yang sedang berdiri tidak jauh dari mejaku.
"Kena palak gimana? Di kelas Fashion memangnya ada preman?"
Temannya terlihat tidak percaya.
"Itu di gang Ceria 1, katanya pemalaknya seorang siswa SMA."
"Wah, berarti kita gak boleh lewat gang itu lagi dong."
"Katanya kita harus menyapanya dan membayar uang keamanan kalau mau lewat gang itu."
"Bisa-bisanya ada anak SMA yang masih kecil udah jadi preman-"
Sssshhhh..
Ia menaruh jari telunjuknya di mulut temannya tersebut saat melihat Raefal masuk ke kelas.
"Hampir saja kau keblablasan bego!"
"Ah santai sedikit ngapa sih?"
Yah itu bukan urusanku sih, toh aku datang ke sekolah bukan lewat gang itu, dan juga aku tidak mau lagi mencampuri urusan orang lain.
Tidak lama kemudian, guru pun masuk ke kelas dan memulai pelajaran.
.
.
***
----- Gang Ceria 1 -----
Cih..
Seorang preman tampak sedang mendidik kelima anak buahnya sambil membawa pemukul baseball. Mereka berlima hanya diam ketakutan.
"Sudah beberapa hari sejak aku menghukum kalian waktu itu, tapi hanya ini uang yang bisa kalian kumpulkan. Memangnya aku bisa makan dengan ini?"
"Maaf kak Jupi, Agak sulit untuk memalak anak-anak di gang sebelah karena jarang ada yang lewat sana."
Salah satu bawahannya menjelaskan tentang situasi disana.
"Itu hanya alasanmu saja."
Tap tap tap.. (Suara pemukul baseball)
Kemudian..
Swushhh..
??!!
"Hosh.. Hosh.. Hosh.."
Bawahannya tersebut berkeringat dingin.
Hampir saja pemukul baseball itu mengenai wajahnya dengan keras.
"Hah kalian ini.."
Jupiter mendesah.
"Mana Chitato rasa ayam bakar yang kuminta?"
"Ini Kak Jupi."
Bawahannya tersebut menyerahkan Chitato rasa ayam bakar padanya.
"Selama kalian bekerja dibawahku, apa pernah ada yang mengusik kalian?" Tanya Jupiter pada mereka.
"Minggu lalu, Elvin diusik sama anak Pengabdi Jakarta."
"Ada 2 orang, kalau tidak salah nama mereka Raefal dan Naura."
"Coba ceritakan apa yang terjadi!."
.
Elvin menceritakan semua kejadiannya yang dia alami minggu lalu pada Jupiter. Dan saat dia selesai memceritakan semuanya..
"Kau benar-benar bodoh Elvin. Kenapa kau lepas mereka berdua hanya karena mereka mengembalikan Chitatonya?"
Jupiter marah dan meraih kerah Elvin. Untungnya ia tidak jadi memukulnya.
"Maaf kak Jupi. Aku tidak berpikir panjang waktu itu."
"Sekarang kalian berlima dengar! Mulai sekarang kalian harus bawa anak yang bernama Raefal dan Naura itu ke hadapanku! Mereka harus diberi pelajaran karena sudah mencoba merebut Chitatoku."
Jupiter mengatakan itu dengan suara lantang kepada kelima bawahannya tersebut.
"SIAP KAK JUPI!!"
Mereka berlima menjawab serempak. Namun di dalam hati mereka.
"Kak Jupi sangat kekanakan sekali."
.
.
***
----- Kelas 1 Bisnis dan Pemasaran (BDP) -----
"Kasih tau dong apa yang terjadi diantara kalian berdua."
Sudah beberapa kali Tania dan Hardian membujukku untuk menceritakan apa yang terjadi diantara aku dan Gio. Namun aku tetap tidak mau menceritakannya pada mereka.
"Kalau gak cerita nanti kusebar nih rahasiamu tentang itu." Hardian mengancamku.
"Hei, jangan bilang soal-"
Aku tahu yang dia maksud tentang foto Adam waktu itu.
*Note : Lihat pada episode 10
"Tentang apa Har?" Tanya Tania penasaran dengan rahasiaku.
?
Hehe.. aku tahu cara mengcounter Hardian.
"Kalau gitu aku kasih tahu deh rahasia terbesar Hardian."
"Apa? Jangan Kai!"
Dia pasti paham maksud dari rahasia yang ingin kuberitahu adalah perasaannya pada Tania.
"Kalian berdua kenapa sih suka rahasia-rahasiaan mulu? Kasih tahu dong!"
"Hehehe gapapa kok Tan. Ini Kairanya aja yang gajelas hehe.."
Bangk* si Kutu buku ini!
"Ga ada rahasia apa-apa kok Tan."
"Jadi kenapa kamu bisa bermasalah dengan geng "Black Flames"? Cerita aja gapapa. Siapa tahu kami bisa bantu cariin solusi."
Mendengar Tania yang berkata begitu, aku tahu dia mengkhawatirkan diriku.
"Baiklah hanya untuk kalian berdua aja yang boleh tahu."
Srak.. Srak..
Aku merangkul pundak mereka berdua dan mulai berbisik, menceritakan semua kejadian yang terjadi kemarin.
.
"Owh aku paham garis besar dari ceritamu."
Kutu buku ini lagi-lagi sok merasa pintar.
"Tapi, apa ke depannya tidak akan menjadi masalah dengan Gio? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan mereka rencanakan selanjutnya."
Aku turut senang melihat Tania yang mencemaskan diriku.
"Tenang saja Tan. Gio bilang padaku kalau dia akan memberikan penjelasan kepada anak-anaknya agar bisa mengerti."
"Bagaimana dengan Claudia? Bukannya dia cemburu melihat kepedulian Gio terhadapmu?"
Sejujurnya aku juga masih merasa janggal dengan kejadian kemarin. Tapi sebisa mungkin aku tidak ingin terlalu memikirkannya.
"Aku cuma berharap dia tidak dendam padaku."