
Membicarakan masa kini, nampak seorang perempuan cantik sedang berdiri di depan cermin. Ia melihat pantulan bayangan dirinya berdiri persis seperti yang ia lakukan. Setiap pergerakan yang ia lakukan selalu diikuti bayangan di depannya.
Tok…Tok…Tok…
Suara itu menghentikan aktivitas sang perempuan. Ia berbalik dan membukakan pintu yang sebelumnya diketuk.
“Kamu jadi pergi?” Tanya seorang wanita paruh baya di balik ketukan pintu tadi.
“Jadi kok, ini udah siap tinggal berangkat.”
“Yaudah ayo kebawah, pamit sama ayah kamu.”
“Bentar, Jena ambil tas dulu.”
Jena bersiap-siap memasukkan barang-barang yang akan ia bawa. Sebelumnya ia mengecek ponselnya, apakah ada barang yang ketinggalan atau tidak.
Satu notifikasi pesan muncul di beranda ponsel Jena.
...Gala
...
Berangkat bareng?
Hah? Jena cengo membaca pesan tersebut. Apakah Lingga akan menjemputnya ke rumah? Atau bagaimana?
Daripada bingung dengan pikirannya sendiri. Jena pun membalas pesan tersebut.
...Gala
...
Berangkat bareng?
^^^Boleh
^^^
^^^Kamu kesini?
^^^
Tak menunggu lama, Lingga mengirimkan balasan kepada Jena.
...Gala
...
Iyaa
Jena memutuskan menunggu Lingga di teras rumahnya. Ditemani dengan kicauan burung-burung dan sinar matahari di pagi hari. Jena suka matahari, sama seperti Bundanya.
“Loh, Jena. Belum berangkat?” Bunda Joanna yang berniat menyiram tanaman terkejut melihat Jena masih duduk manis di teras rumah.
“Belum bun, masih nunggu temen.”
Tak berselang lama, terlihat Lingga berjalan ke arah rumah Jena. Yang Jena heran, lelaki itu hanya jalan kaki. Ah, maaf. Maksud Jena, mereka akan jalan kaki sampai ke tempat tujuan. Itu pasti tidak masuk akal.
Setelah pamit dengan Bunda Joanna, mereka berangkat takutnya Kevano telah menunggu lama.
“Lingga, ini kita jalan kaki?” Tanya Jena di selang jalannya.
Lingga hanya tersenyum dan melanjutkan jalannya.
Ternyata pikiran Jena salah. Lingga mengajaknya untuk menaiki bus. Mereka hanya berjalan kaki ke halte dekat rumah Jena.
“Mana mungkin saya tega membiarkan mu berjalan, Jena.” Ucap Lingga seraya menduduki bangku di halte tersebut.
Tak menunggu waktu lama bus yang mereka nanti telah nampak di depan mata. Lingga sudah memperkirakan sebelum ia berangkat. Berapa waktu ia sampai di rumah Jena. Berapa lama mereka jalan menuju halte. Dan jam keberangkatan bus di wilayah tersebut.
Semua sudah Lingga siapkan.
“Mau dengar?” Jena menawari sebelah sisi earphone pada Lingga.
Lingga mengangguk dan tersenyum
Ocean and Engine — NIKI sebuah lagu mengalun indah di masing-masing telinga Jena dan Lingga. Terlihat mereka begitu menikmati alunan indah itu.
Setelah lagu habis, Lingga mengeluarkan sebuah walkman yang cantik. Bukan, ini bukan bagian dari rencana Lingga. Ia tidak terpikirkan sampai sejauh ini.
Lingga memang selalu membawa walkwan miliknya, sekedar menikmati alunan lagu di kala ia kesepian.
“Mau coba, Jena?”
“Wow, boleh boleh!!!” Seru Jena dengan semangat kala melihat benda yang dipegang Lingga.
“Lingga, selera musik kamu bagus banget.”
“Coldplay, saya suka karyanya.”
Walkman milik Lingga hanya berisi lagu-lagu karya band asal British itu, Coldplay.
...***...
Terdengar lonceng berbunyi kala pintu sebuah café terbuka. Sosok lelaki dengan seorang perempuan terlihat berjalan beriringan. Mereka menuju sebuah meja yang telah terisi satu orang lelaki.
“Kalian lama banget.” Gerutu Kevano kepada Jena dan Lingga yang baru saja datang.
“Maaf ya, Kevan. Kamu udah nunggu lama?”
“Nggak juga sih baru 3 menit dateng. Hehe.”
Sebuah pukulan kecil terasa di lengan kanan Kevano.
“Aku kira udah lama.”
“Btw, kalian kok bisa barengan?”
“Berangkat bareng.” Jawaban Lingga menimbulkan berbagai pertanyaan di pikiran Kevano.
Ingin meluncurkan berbagai pertanyaan namun terhenti ketika Lingga sibuk menyiapkan proyek kerja kelompok mereka.
Dua orang lelaki dan satu orang perempuan terlarut dalam tugas mereka masing-masing. Beberapa kali mereka diskusi tentang materi yang kurang dimengerti.
"Lingga, ini gimana sih gue nggak ngerti anjir."
Berharap mendapatkan balasan dari Lingga, namun kenyataannya hanya lirikan yang Kevano dapatkan.
Lingga sibuk dengan tulisan dan coretannya. Tidak peduli dengan gerutuan Kevano kepadanya.
"Sini Kevan, aku ajari." Jena mengambil alih kertas di hadapan Kevano.
Namun tak disangka, Lingga mengambil kertas tersebut dan menyelesaikan coretan-coretan Kevano yang tak beraturan.
Hanya beberapa menit Lingga telah menyelesaikan kertas Kevano dan mengembalikan ke pemiliknya.
"Anjir, Lingga. Gue tanya caranya bukan hasilnya." Ocehan Kevano kembali terdengar memenuhi meja tersebut.
Diselingi dengan tawa Jena suasana hari itu terasa lebih berwarna. Lingga baru merasakan hal itu. Dan ia suka.
2,5 jam telah berlalu. Hanya tinggal beberapa hal yang belum mereka selesaikan. Jika hari ini tidak dapat terselesaikan, mereka berniat mengerjakannya besok saat di sekolah.
“Jen, nggak mau gantian ngetiknya?” Tawar Kevano.
“Nggak usah, Kevan. Aku masih bisa kok.”
Kevano yang tidak ada kerjaan berniat ingin menjahili Lingga. Namun saat tangannya ingin bergerak, ia melihat tatapan Lingga yang intens kepada Jena.
“Yang dilihat materinya kali, bukan Jena.” Sindiran itu Kevano tujukan untuk Lingga.
Lingga yang merasa Kevano menyindirnya pun meliriknya datar. “Objeknya terlalu indah buat diabaikan.”