HEARTBEATS

HEARTBEATS
Little Friend, Kara and Ata



Pagi menyapa, sinar sang surya menembus tirai tipis milik Jena. Merasa tidurnya terganggu ia pun bangun, melihat jam dan segera membersihkan diri ke kamar mandi.


Hari ini Jena berencana keliling komplek rumahnya untuk menyapa lingkungan baru.


Meski Jena lahir di kota ini, namun kali ini rumah yang ia tempati berbeda dengan rumah yang menemaninya dulu saat kecil.


Setelah selesai siap-siap, Jena turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya. Diawali dengan sapaan hangat dan kecupan di dahi Jena sudah menjadi rutinitas nya setiap hari.


Kini Jena telah berada di taman komplek perumahannya. Melihat taman ini ia teringat kejadian tadi malam. Dimana ia bertemu dengan Gala (as Lingga). Ia belum memiliki teman saat pindah kesini jadi tidak salah mengajak Lingga untuk berteman dengannya.


Puas berkeliling, Jena memutuskan untuk mengunjungi rumah lamanya. Ralat. Melihat, yang mungkin saat ini sudah ditinggali oleh orang baru. Ia juga memutuskan untuk ke rumah sahabat masa kecilnya, siapa tau dia masih berada disitu.


Memasuki komplek rumah lamanya, Jena sedikit merasa asing karena perubahan yang ada.


“Ternyata banyak yang berubah ya.” Gumamnya.


...***


...


Rumah berhalaman luas kini terganti dengan garasi yang ditempati kendaran si pemilik rumah. Halaman yang menjadi saksi bisu kebahagiaan Jena dengan hanya bermain bersama sahabat masa kecilnya.


Beralih kedepan, terlihat rumah minimalis dengan dominan tumbuhan hias berada di depannya. Masih mirip dengan dulu. Jena memutuskan untuk berkunjung ke rumah tersebut. Rumah sahabat masa kecilnya.


“Semoga dia masih disini.” Harapnya.


Jena memutuskan untuk menekan bel yang berada di luar pagar. Tak lama disusul wanita paruh baya dengan khas nya yang sangat Jena kenal.


“Cari siapa ya mbak?” Tanya nya heran, karena tidak mungkin dia teman anaknya. Orang anaknya sangat anti dengan perempuan.


Jena yang melihat itu pun berkaca-kaca, rasanya campur aduk. Antara senang, sedih, rindu bercampur menjadi satu. Kali ini rindunya terlepaskan.


“Bun…” Kata Jena lirih.


“Bun, ini Jena. Jena Kanigara yang dulu pernah gosongin masakan Bunda Ani.” Begitu pagar terbuka Jena langsung memeluk wanita paruh baya tersebut.


“Benar ini Jena, nak?” Pertanyaan itu dibalas anggukan oleh Jena.


“Ya Allah Jena, kamu kemana aja kok baru kesini?”


“Nggak nyangka kamu udah sebesar ini, tambah cantik lagi,”


“Ayo ayo masuk, kita ngobrol di dalam.” Lanjutnya.


Setelah puas melepas rindu, kedua perempuan berbeda usia tersebut kini saling bertukar cerita tentang beberapa tahun silam yang masing-masing tidak ketahui.


“Assalamualaikum, bun.” Seorang lelaki jakung memasuki rumah dengan seragamnya khas remaja SMA.


Dia melihat ada seorang perempuan yang terlihat sangat akrab dengan Bundanya pun merasa kesal.


“Pasti dia mau pdkt sama gue, makanya sekarang ngedeketin Bunda dulu. Cih.” Katanya dalam hati.


“Siapa?” Tanyanya dengan wajah datar dan kesal.


“Eh Anta, sini sini duduk dulu.” Suruh Bunda Ani pada anaknya yang baru saja pulang dari sekolah.


Tiba-tiba Jena menyaut, yang semakin membuat laki-laki bernama ‘Anta’ itu kesal.


“Ataaaaa, kamu nggak kenal aku?” Tanya Jena dengan nada sedikit centil. Hahaha.


“Siapa lo berani-beraninya panggil gue dengan sebutan itu?” Tanyanya dengan sarkas. Seolah sangat menentang siapapun memanggilnya dengan sebutan ‘Ata’ karena hanya satu perempuan yang boleh memanggilnya begitu.


Jena yang semula duduk di samping Bunda Ani ini beralih duduk di samping ‘Anta’ dan bergelendotan di tangannya.


“Ataaa, ini Kara tau. Jena Kanigara, masa gak kenal sih.”


“Beneran lo Kara? Kara sahabat kecil gue?” Seolah tak percaya dia memegang kedua pipi Jena untuk memastikan apakah benar perempuan di depannya itu orang yang diharapkan atau bukan.


Dengan polosnya Jena mengangguk lucu, membuat siapa yang melihatnya merasa gemas. “Iya tau, kesel ihhh Ata gak ngenalin Kara.”


Detik berikutnya Jena langsung didekap laki-laki di depannya dengan erat, hingga membuatnya kehabisan napas.


“Kara, kara, kara, karaaaaaa. Gue kangen banget sama lo.”


“Oh maaf, tapi Ata kangen banget sama Kara,”


“Kok kara baru kesini?” Tanyanya kesal dengan wajah cemberut yang menurut Jena itu sangat lucu.


Dia Atlanta van Ganendra, sahabat masa kecil Jena Kanigara. Seseorang yang selalu setiap waktu menemani Jena. Entah sedih atau senang. Seseorang yang sangat berharga bagi Jena setelah keluarganya.


...***...


*Terlihat dua bocah berbeda gender kini saling menatap. Sang lelaki menatap dengan sinis. Sebaliknya sang perempuan menatap bocah lelaki di depannya dengan penasaran.


Jena kecil yang bersembunyi di balik kaki Ayahnya kini melangkah ke depan, mengulurkan tangan kepada lelaki seusianya. Atlanta kecil menatap uluran tangan itu, dengan malas-malas ia menerima uluran tangan Jena.


"Nama aku Jena Kanigara, nama kamu siapa?" Dengan tampang polosnya Jena mengenalkan dirinya dengan bangga di hadapan Atlanta.


"Atlanta." Ucap Atlanta dengan malas. Menurutnya terlalu ribet berurusan dengan anak perempuan.


"Ata, nama kamu Ata?" Terlalu susah menyebutkan namanya, Jena memanggil nama dengan apa yang terakhir ia dengar.


"A-tlan-ta." Katanya dengan penuh penekanan. Namun bocah perempuan itu lagi-lagi memanggilnya 'Ata'.


Hari-hari berikutnya Atlanta selalu diikuti oleh Jena. Kemanapun Atlanta pergi Jena selalu ikut. Tak terkecuali toilet.


"Ataa,"


"Ata mau kemana? Jena ikut dong." Serunya dan berlari mengikuti langkah Atlanta.


"Awas aku mau pipis."


"Gamau, Jena ikut." Jena yang pikirannya masih polos menghalau Atlanta untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Kara, minggir." Ucap Atlanta dengan dingin.


Jena yang mendengar panggilan itu pun bergeming. Memberikan kesempatan Atlanta untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Kala?" Gumam Jena*.


Flashback off


"Nggak nyangka Kara nya Ata udah segede ini."


Disini, di danau belakang rumah Atlanta. Tempat mereka dulu selalu menghabiskan waktu sepulang dari sekolah. Tempat bersejarah yang menyimpan memori-memori indah yang saat ini hanya bisa dikenang.


"Emangnya cuma Ata doang bisa gede, Kara juga bisa." Ucapnya dengan bangga.


"Tapi masih tinggian Ata daripada Kara,"


"Kara kan pendek." Lanjut Atlanta.


"Ata gaboleh gitu ya, itu namanya body shamming."


Tawa Atlanta keluar lepas. Tawa yang Jena rindukan, Tawa yang indah. Tawa yang beberapa tahun terakhir hilang digantikan ekspresi datar.


"Setelah sekian lama seorang Jena Kanigara bisa menyebutkan 'Kara' dengan jelas." Kata Atlanta sedikit berteriak dan menatap ke langit senja.


"Enak aja, dari dulu udah bisa ya." Sanggahnya.


"Apaan orang dulu kamu selalu bilang 'Kala' bukan 'Kara'."


"Ya lagian kamu ngasih nama panggilan aneh-aneh, kan lebih gampang dipanggil Jena."


"Biarin, biar kamu gabisa ngomong nya,"


"Lucu tau pas denger kamu ngomong 'Kala...Kala...' gitu."


Tepukan kecil mendarat di pundak Atlanta. Ya siapa lagi pelakunya kalau bukan Jena. "Ngeselin banget sih." Katanya merajuk.


Atlanta mengalihkan pandangannya pada objek cantik di sampingnya, seolah pemandangan senja kalah indah dengan rupa perempuan di sebelahnya.


"Lo belum berubah ya."