
Sudah terhitung seminggu berturut-turut Jena selalu bersama Lingga saat istirahat pertama. Sekedar makan bekal masing-masing dan tentunya dengan percakapan Jena yang dominan. Tak ingin sahabatnya merasa terasingkan, saat istirahat kedua Jena pergi ke kantin dengan Atlanta. Sesekali Atlanta memasak Jena untuk berangkat dan pulang bersama.
Kali ini Jena sedang berada di kelasnnya mendengarkan materi demi materi yang disampaikan guru pengajar. Sebelum bel sang guru memberikan tugas kepada para siswa-siswi.
“Sebelum saya akhiri ada beberapa tugas yang harus kalian kerjakan,”
“Saya akan bagi kelompok dan kalian mengerjakannya bersama-sama, paham?”
“Paham bu.” Jawab seluruh siswa.
“Oke kelompok pertama….”
“Kelompok ketiga yaitu Jena Kanigara, Kevano Belvan, dan Jenggala Lingga.”
Mendengar namanya disebut Jena mengedarkan pandangan melihat Kevano dan Lingga. Kevano membalas tatapan Jena dengan ekspresi ceria dan semangat. Ah sepertinya Jena harus mengatur jadwal kerja kelompok.
Setelah pelajaran berakhir seluruh siswa beranjak pergi meninggalkan sekolah. Kevano menghampiri meja Jena.
“Jenjen, kita kerkel kapan?”
“Kamu bisanya kapan?”
Kevano berdehem sembari meletakkan jarinya di dagu, seolah lelaki itu sedang berpikir keras. “Aku free terus sih.”
“Pulang sekolah bisa nggak?”
“Bisa! Bisa!” Jawab Kevano dengan semangat.
Jena beralih pada Lingga dan menghampirinya.
“Gala, kita kerja kelompok setelah pulang sekolah bisa nggak?”
Kevano heran dengan panggilan Jena terhadap Lingga, “Gala siapa?” Ucapnya dalam hati. Pasalnya panggilan laki-laki ‘pendiam’ itu Lingga dan para siswa juga tahunya Lingga bukan Gala. Kevano berpikir apakah Jena memilihi hubungan dengan Lingga.
Kembali pada Lingga, ia menjawab pertanyaan Jena dengan gelengan.
“Kenapa?” Tanya Jena.
Kevano menyaut dan menghampiri mereka, “dia kerja, Jen.”
“Oh maaf Gala, aku nggak tahu.” Lingga tersenyum tipis sembari mengangguk.
“Kalau weekend bisa? Nanti ambil jam sebelum atau sesudah kamu kerja.”
Lingga mengangguk dengan semangat membuat senyum cantik terbit di bibir Jena. Lingga yang melihat itu terpesona. Sial, Jena semakin hari semakin cantik dan menarik.
“Oke bagus, Kevan bisa kan? Harus bisa dong.”
“Iya Jenjen ku sayang.”
Perkataan Kevano itu ternyata mengundang cibiran pedas. “Ngomong apa lo? Cih.” Atlanta yang berniat memanggil Jena untuk pulang bersama tak sengaja mendengar ucapan Kevano. Membuat ia kesal dan tak suka.
“Mampus pawangnya datang.” Gumam Kevano sembari mendekati Lingga dan berlindung di balik badannya.
“Ata, nggak boleh gitu.” Ucapan Jena hanya dibalas lirikan oleh Atlanta.
“Oke nanti Kevan kamu bikin grup ya, nanti kita diskusiin disitu.”
Kevano hanya mengangkat jempol tangannya merespon ucapan Jena. Sebaliknya Jena justru terkekeh melihat Kevano yang terlihat sedikit takut pada Atlanta.
Jena lalu menarik tangan Atlanta agar segera meninggalkan kelasnya itu.
Kevano melihat Atlanta dan Jena meninggalkan dirinya dan Lingga buru-buru bernapas lega. Ia mengelus-elus dadanya diselingi cibiran-cibiran yang ditujukan untuk Atlanta. Sesekali ia melepaskan kekesalannya kepada Lingga seolah Lingga yang bersalah.
Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya, Kevano mengajak Lingga pulang dengan manarik tangan Lingga.
“Ayo pulang!”
Tubuh Lingga menolak tarikan Kevano dan berdiam di tempat.
“Mereka paca-ran?”
Bukannya menjawab pertanyaan Lingga,
Kevano heboh sendiri seolah ia baru saja menemukan keajaiban dunia. Ya memang keajaiban karena tidak pernah sekalipun dirinya mendengar atau melihat Lingga berbicara satu kata pun.
“DAEBAK…DAEBAK…YABAI!!! Seharusnya tadi gue rekam suara lo,”
“Gue kira lo bisu anjir! Eh sorry sorry.”
Lingga tak menanggapi ocehan Kevano. Ia hanya melihat kelakuan barbarly Kevano.
“Terus kalo selama ini lo bisa bicara kenapa diem terus?”
Lingga hanya mengedikkan bahu, dan berjalan keluar kelas. Meninggalkan Kevano dan segala rasa penasarannya.
“Eh woi tungguin gue!”
...****************...
...Kelompok 3 bos!...
Kevano
Udah ya grupnya
Gue diteror terus sama Jena
^^^me^^^
^^^Hahahaha makasih kevan^^^
^^^Oiya guys kita bagi tugas ya^^^
^^^Buat cari materi bab ini^^^
^^^Jadi nanti pas kerja kelompok nggak mikir bahan awalnya^^^
Kevano
Syap
Kalo bisa gue yang materinya dikit ya hehe
Gala
Oke
Jena meminta Kevano membuat grup sebenarnya memiliki maksud tertentu. Ia bisa saja membuatnya sendiri namun ia tidak memiliki nomor ponsel Lingga. Untuk memintanya pun sedikit tidak enak. Jadilah Kevano menjadi sasaran.
Kevano sendiri pun tidak memilikinya, namun saat pulang sekolah tadi ia meminta Lingga untuk memberikan nomor ponselnya. Memang mereka memiliki grup kelas, namun Lingga tidak pernah dimasukkan ke dalam grup tersebut. Membuat ia ketinggalan informasi apapun.
Jena memperhatikan layar ponselnya. Terlihat roomchat grup kelompok. Ia berniat ingin bertukar pesan dengan Lingga. Sungguh, ia ingin berteman dengannya.
...Gala...
^^^Gala^^^
^^^Ini jena, simpan nomor ku ya^^^
Berulang kali Jena mengetikkan pesan namun tak lama menghapusnya kembali. Akhirnya 2 baris pesan terkirim untuk Lingga.
Entah mengapa Jena menunggu balasan pesan dari Lingga. Sudah setengah jam ia menunggu pesannya belum juga dibaca. Padahal belum lama Lingga aktif di grup.
"Mungkin dia lagi kerja kali ya." Jena berbaring terlentang menatap langit-langit kamar seolah menerawang jauh.
"Hebat banget Gala, dia sekolah sambil kerja. Di kelas juga dia selalu dapat rangking. Pinter banget bagi waktunya."
Jena kagum akan sosok Lingga. Seorang lelaki yang katanya pecundang nyatanya dia lelaki yang hebat. Lelaki yang menyimpan banyak luka namun tak urung juga menyimpan harapan yang membara.
"Gala...Gala...Gala..." Tiga kata terakhir penutup malam sebelum Jena terlelap.
Meninggalkan satu pesan masuk yang tidak dia ketahui.
...Gala...
Oke Jena :)
Maaf baru pegang hp
Sudah tidur ya, selamat malam