HEARTBEATS

HEARTBEATS
Jenggala, Jena, Atlanta



5 menit sebelum istirahat berakhir Jena memutuskan pergi ke toilet karena panggilan alam. Atlanta sempat menawarkan untuk mengantarnya takut Jena tersesat, tetapi perempuan itu menolak dengan alasan ia tahu letak toilet itu.


Jena berjalan sembari mengamati jalan yang ia lewati sembari menghafalkan. Memang sekolah ini tidak seluas sekolah elit di kawasan tersebut. Namun SMA Unggulan Mandala ini terkenal dengan sekolah Adiwiyata, dimana setiap sudutnya terdapat berbagai macam tanaman dan pohon. Itulah mengapa meskipun saat siang hari para siswa tidak merasakan panas malah merasa sejuk.


“Aduh kayanya kesasar nih,”


“Bodoh banget pake nolak tawaran Ata lagi.”


Jena kini bingung ia sedang berada dimana. Apalagi ada sesuatu yang ingin dikeluarkan namun dengan sekuat tenaga Jena menahannya.


“Eh itu kayaknya ada orang, tanya aja kali ya.”


Melihat ada seorang siswa yang duduk di bawah pohon, Jena berniat untuk tanya letak toilet.


“Eh ternyata Gala, kamu kok nggak masuk kelas? Kurang 3 menit lagi bel loh.” Orang yang ditemukan Jena ternyata Lingga yang sedang melakukan rutinitasnya setiap jam istirahat.


“Kamu nggak ke kantin?” Hanya gelengan yang Jena dapatkan. Tak apa! Ia mengerti.


Melihat benda yang dibawa Lingga Jena ber-oh ria, “ohh kamu bawa bekal.” Ucapnya sambil mengangguk-anggukan kepala.


“Kamu setiap istirahat disini sendirian?”


Lingga mengangguk sambil tersenyum.


“Kenapa nggak ke kantin?”


Lingga menggeleng, kini ia menundukkan kepala sambil mengingat nasipnya yang menyedihkan. Jena mengerti, ia menyimpulkan Lingga adalah orang yang pemalu untuk dekat dengan orang. Mungkin itu alasannya ia selalu sendiri.


“Emm…Gala, kalau kamu mau mulai besok ke kantin bareng aku sama Kevano. Gimana?”


Lingga sangat sangat senang dengan tawaran Jena, sekarang ia tidak sendirian.


Namun mengingat tatapan jijik para siswa kepadanya, ia mengurungkan niat untuk menerima tawaran Jena.


Gelengan pelan yang Jena dapatkan dan ucapan, “Terima kasih.” Tanpa suara Lingga ditujukan kepada Jena.


...***


...


Terlihat para siswa Mandala berlalu lalang menuju ke gerbang sekolah. Mereka berbondong-bondong menuju parkiran untuk mengambil kendaraan mereka masing-masing.


XII.A 1 kelas yang kini sepi, tersisa beberapa orang berada di kelas tersebut. Tak terkecuali Jena, ia sedang membereskan beberapa alat tulis usai ia gunakan saat jam pelajaran terakhir.


“Jena, lo nggak pulang?”


“Eh Kevan, iya ini mau pulang.”


“Bareng temen lo tadi?”


“Iya, ini dia lagi otw kesini.”


“Ohh kalo gitu gue duluan ya. Bye!”


“Iya Kev, hati-hati!” Kevano yang telah berjalan keluar kelas hanya mengacungkan jempolnya merespon ucapan Jena.


Saat Jena hendak keluar kelas, ia melihat Lingga masih duduk tenang di bangkunya dan hanya tersisa ia dan Lingga di kelas ini.


“Gala, kamu belum pulang?” Seperti biasa hanya gelengan yang Jena dapat.


“Kenapa? Ayo bareng aku ke gerbang.” Ajaknya. Jena tak masalah jika Lingga menolaknya, ia paham mungkin Lingga masih malu dengannya yang notabenya anak baru merangkap menjadi teman sekelas.


Tak disangka Lingga justru mengangguk dan berjalan ke arah Jena. Jena senang sekaligus terkejut, tapi itu baik! Akhirnya Lingga tidak sendirian lagi.


...Ataaaaaa...


^^^Ata, kamu masih lama?/


^^^


/Maaf Kara, Ata ada diskusi


sebentar buat kelompokan


/Kara gapapa nunggu?


/Ini juga mau selesai


^^^Gapapa, aku nunggu di parkiran ya/


^^^


^^^Sama temenku/


^^^


/Oteee


“Ayo Gala!”


Mereka berjalan beriringan. Tak ada percakapan yang terlontar, hanya suara langkah kaki yang bersahut-sahutan. Suasana sekolah sudah sepi hanya ada beberapa anak ekskul sedang latihan rutin. Itulah mengapa Lingga berani menerima tawaran Jena.


“Gala, aku nunggu teman aku di parkiran.” Suara Jena memecah keheningan di antara mereka.


“Kamu pulang naik apa?”


“Kalau beg—”


“Siapa?” Ucapan Jena terpotong karena Atlanta yang tiba-tiba muncul di belakang Jena. Dengan ucapan ketus ia lontarkan untuk Lingga tak tertinggal tatapan kesal.


“Ngagetin aja sih,” ucap Jena sembari memukul lengan Atlanta.


“Dia Gala, teman sekelas aku.”


“Kenapa kamu yang jawab? Nggak bisa ngomong lo?” Sarkasnya. Atlanta adalah pria yang terkenal dengan watak kerasnya dan ucapan pedas saat berbicara.


Cubitan keras terasa di perut Atlanta. Ia melihat gadis di sampingnya melotot ke arahnya.


“Gala maaf ya, emang dia kalau ngomong gabisa difilter dikit. Jangan dimasukin hati.” Jena merasa tak enak hati walaupun bukan dia yang berbicara begitu. Ia takut Lingga sedih dengan ucapan sahabatnya itu.


“Ayo pulang!” Atlanta menarik Jena menuju motornya yang terparkir apik tak jauh dari pandangannya.


“Sampai jumpa besok Gala, bye!”


“Sekali lagi maafin omongan Atlanta ya.”


Terlihat Lingga mengangguk dan tersenyum kecil melihat tingkah laku Jena yang terlihat lucu di matanya.


Baru kali ini ia tidak merasa sedih mendengar ucapan sarkas yang ditujukan untuknya. Bagi Lingga ucapan-ucapan seperti itu seperti makanan sehari-hari yang biasa ia dapatkan. Dan baru kali ini ada yang membelanya.


Lingga senang. Sangat senang.


...***


...


“Dia siapa, Kara?”


Pertanyaan Atlanta tidak masuk di otak Jena. “Hah? Maksudnya?”


“ck, Gala tadi di parkiran.”


“Ya itu Ata tau namanya.”


“Di sekolah kita nggak ada yang namanya Gala, Kara.” Ujarnya gemas, mengapa Jena tidak mengerti-mengerti pertanyaan nya.


“Itu buktinya ada, orang dia sekelas sama aku.”


“Nama lengkapnya siapa?”


“Kamu kok kepo,”


Ingin sekali Atlanta mendorong Jena agar jatuh dari motornya. Kenapa gadis itu sekarang menyebalkan. Membuat emosinya naik saja. Tapi tak apa, Jena-nya tetap lucu dan menggemaskan.


“Jangan-jangan…” Jena menggantungkan ucapannya membuat lelaki di depannya bertambah kesal.


“Apa?” Tanyanya ngegas.


“Ata suka ya sama Lingga?”


Sepertinya rencana Atlanta tadi tidak begitu buruk. Bisa-bisanya Jena berpikiran seperti itu. Sebenarnya apa sih isi otak Jena itu.


“Najis banget.”


“Ya siapa tau.”


“Gue turunin juga lo di sini.”


“Jahat banget,” Dengan dramatis Jena pura-pura sedih dengan mengelap air mata di pipinya yang tak ada wujudnya.


“Kalau nggak salah namanya itu Jenggala Lingga siapa gitu.”


Atlanta sedikit tidak asing dengan nama tersebut.


“Kasihan tau, dia gapunya temen jadi aku inisiatif buat jadi temannya.”


“Gila kali lo, belum kenal sehari juga.”


“Dia baik loh, dia pernah nolongin aku pas jatuh di dekat supermarket komplek,”


“Kalau dia teman ku berarti teman kamu juga.”


“Dih nggak sudi.”


...***...


Jena, gadis yang akhir-akhir ini selalu hadir di pikiran Lingga. Gadis dengan senyum ceria. Gadis dengan tatapan tulus saat menatapnya. Gadis yang tak malu mau berdekatan dengannya.


Tuhan bolehkan kali ini Lingga egois?


Dia suka Jena. Suka suara Jena, tatapan Jena, sifat Jena, bahkan tingkah laku Jena.


Semua tentang Jena ia suka.


"Atlanta ya?" Gumamnya.


"Cuma teman kan?"