HEARTBEATS

HEARTBEATS
First meet, introducing.



Kring…Kring…Kring…


Bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang. Para siswa-siswi yang berada di dalam kelas bersiap untuk merehatkan pikiran yang sudah seharian digunakan. Salah seorang siswa merapikan alat tulisnya untuk dimasukkan ke dalam tas. Namun anehnya setelah selesai ia tak kunjung bangkit dari tempat duduknya.


Siswa itu adalah Jenggala Lingga Batara, seorang siswa culun yang selalu menjadi sasaran penindasan di sekolah. Ia selalu pulang paling terakhir untuk menghindari siswa yang suka mengganggu nya, berakhir ia telat untuk bekerja part time.


Ya Lingga bekerja di umur yang belum bisa dikatakan dewasa, ia harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Tanpa keluarga dan tanpa orang tua.


Dirasa sekolah mulai sepi, Lingga berjalan melewati koridor dengan was-was, khawatir ia akan diganggu siswa nakal. Lingga tidak memperhatikan langkahnya sehingga tanpa sengaja ia menabrak seorang perempuan yang sedang membawa beberapa berkas.


“Eh eh kalau jalan yang bener, ini saya lagi jalan kok ditabrak.” Ucap sang perempuan.


Lingga yang menyadari itu pun segera memungut berkas berkas yang berjatuhan. Sambil mengucap kata maaf meskipun tak bersuara. Setelah selesai, ia menyerahkan berkas itu kepada pemiliknya. Tak lupa ia menyatukan kedua telapak tangan mengisyaratkan ia meminta maaf terhadap apa yang ia lakukan.


“Dia bisu?” Gumam perempuan itu, setelah tau Lingga sudah beranjak dari tempat itu.


“Aduh Jena, gaboleh gitu.” Ucapnya sambil menepuk-nepuk dahi.


Jena, Jena Kanigara. Siswi pindahan yang kini mendaftar di SMA Unggulan Mandala. Sekolah serupa yang ditempati Lingga.


...***


...


“Gimana tadi? Berkasnya udah kamu kumpulin ke sekolah?”


“Udah, yah.” Balas Jena.


Kini ia dan keluarganya sedang menikmati makan malam. Sedikit informasi mengenai keluarga Jena. Merupakan keluarga yang harmonis, kedua orang tua Jena melimpahkan kasih sayangnya kepada Jena sebanyak yang mereka bisa. Jena sangat bersyukur dilahirkan di keluarga ini.


Sedari kecil Jena sudah tinggal di Bandung, hingga suatu ketika Ayah Jena diharuskan pindah ke Jakarta karena masalah pekerjaan. Mengharuskan Jena meninggalkan sekolah, teman, dan rumah bagi Jena. Kini ia kembali melanjutkan kenangan yang ia lewatkan di kota kelahirannya.


"Kamu sudah bisa masuk mulai senin besok." Ucap sang Ayah, Raga.


"Keperluan sekolah udah lengkap semua, Jen?" Kali ini Ibu Jena yang bersuara, bertanya dengan nada yang lembut tanpa bentakan.


"Udah bun, tinggal seragamnya aja yang belum." Balas Jena diakhiri dengan senyum cantik di wajahnya.


Setelah selesai makan Jena pamit kepada kedua orang tuanya untuk kembali ke kamar.


Di kamar, Jena berusaha menghubungi sahabat kecilnya yang dulu selalu menemaninya. Namun saat ia pindah ke Jakarta, hubungan mereka sedikit meregang tanpa adanya komunikasi.


Jena berusaha mencarinya lewat media sosial berharap dapat menemukannya. Namun realita tak selalu sesuai dengan ekspektasi, pencarian sahabat masa kecil Jena berakhir sia-sia. Ia memutuskan untuk mencarinya besok pagi.


...***...


Lingga memiliki sebuah apartemen yang bisa dikatakan cukup mewah untuk ukuran remaja seperti Lingga. Tak heran siswa Mandala selalu menuduhnya mencuri untuk mendapatkan tempat tinggal seperti itu, yang jika dilogika 10 tahun Lingga bekerja belum tentu ia mendapatkan apartemen tersebut.


Di tengah perjalanan, Lingga melihat seseorang yang jatuh saat mengendarai sepeda. Lingga yang memiliki empati tinggi segera menolong orang tersebut. Tak disangka dunia sesempit itu. Orang yang ditolong Lingga adalah Jena, perempuan yang ia tabrak sore tadi di sekolah.


Melihat lutut Jena terluka, Lingga segera menuntunnya untuk duduk di pinggir jalan. "Kamu yang tadi nabrak aku kan?" Tanya Jena.


Lingga hanya mengangguk membalas pertanyaan Jena, sambil mengecek keadaan luka Jena apakah parah atau tidak.


Jena yang bingung karena susah berinteraksi dengan Lingga pun memutuskan untuk pulang. Supaya bisa mengobati luka di lututnya. Namun untuk berdiri saja susah dan hampir jatuh. Beruntung Lingga sigap untuk menangkap tubuh Jena.


Melihat itu, Lingga pun menaiki sepeda Jena dan menyuruh Jena naik di boncengan belakang. Jena paham maksud Lingga untuk naik ke sepeda. Namun Jena sedikit ragu karena ia belum kenal dengan Lingga dan tidak tahu apakah Lingga ada maksud buruk atau tidak. Melihat kesungguhan Lingga untuk menolong Jena membuat hati Jena tergerak dan memutuskan naik ke sepeda itu.


Lingga membawa Jena ke minimarket terdekat, membeli obat untuk luka Jena. Setelah selesai, ia menghampiri Jena yang duduk di depan minimarket menunggu Lingga keluar. Dengan telaten Lingga mengobati luka Jena berusaha agar Jena tidak merasakan sakit.


Meskipun begitu rasa sakit sedikit menyerang Jena, namun masih bisa ia tahan.


"Makasih ya, maaf ngerepotin."


Lagi lagi obrolan Jena hanya dibalas anggukan dari Lingga. Jena mengulurkan tangannya bermaksud ingin berkenalan. Lingga yang paham langsung menerima uluran tangan tersebut.


"Jena Kanigara."


"Nama kamu siapa?" Tanya Jena.


Lingga pun menuliskan namanya di telapak tangan agar Jena mengetahuinya.


'Jenggala Lingga Batara'


"Gala." Asing dengan panggilan tersebut, Lingga cukup kaget mendengarnya. Namun tak lama ia tersenyum merespon panggilan Jena.


"Oke Gala, sekarang kita teman."


...***...


Setelah mengantarkan Jena pulang, kini Lingga sedang merebahkan tubuhnya di kamarnya. Lingga sangat senang bisa bertemu dengan Jena. Berkenalan dengan Jena. Menjadi teman Jena. Melihat senyum Jena.


Baru kali ini ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia bukan seperti sampah yang patut disingkirkan. Lingga berpikir mungkin hidupnya akan sedikit berwarna karena kehadiran Jena.


"Jena Kanigara." Gumamnya.


Cantik, tuhan.