HEARTBEATS

HEARTBEATS
Jealousy



...Happy Reading...


..._________________...


Senin, hari yang ditunggu-tunggu oleh Jena. Karena hari ini adalah hari pertama ia masuk ke sekolah barunya. Dengan tempat baru, suasana baru, dan teman baru. Ia begitu tidak sabar untuk segera sampai di sekolahnya.


Kini Jena sedang melakukan rutinitas setiap paginya, yaitu sarapan bersama kedua orang tuanya. Ditengah kegiatannya, terdengar suara bel rumah berbunyi. Sang pemilik rumah heran, tidak biasanya ada tamu pagi-pagi buta gini.


Berselang itu Jena pergi ke depan untuk membukakan pintu. Tampak terkejut melihat siapa yang bertamu saat ini.


“Ata, kok kamu kesini?” Correct! Tamu itu adalah Atlanta, sang pria berwajah kaku dan datar.


“Mau jemput Kara biar bisa berangkat sekolah bareng.”


Terdengar sahutan dari dalam rumah, “Jena, kok tamunya gak disuruh masuk?” Joanna—Ibunda Jena, menghampiri Jena dan sang tamu untuk dipersilahkan masuk.


Melihat Bunda Joa, Atlanta langsung menyalimi sang empu. “Tante, Ata kangen.”


Pernyataan Atlanta itu membuat wanita paruh baya terkejut dan langsung memeluk Atlanta.


“Ya ampun! Ini Ata anak Bunda itu?”


Atlanta terkekeh mendengar itu, dalam hati ia memikirkan sifat Bunda Joanna yang tak jauh beda dari terakhir ketemu.


“Iya tante, ini Ata.”


“Mas! Mas Jovan, putraku udah pulang. Sini.” Serunya pada sang suami, Jovan.


Setelah adegan haru tadi, kini Atlanta berada di meja makan keluarga Jena dengan paksaan Bunda Joa tentunya. Padahal Atlanta sudah sarapan tadi di rumah, tapi menurutnya tidak enak menolak wanita yang ia sayangi itu.


...***


...


“Kara, kamu masuk kelas mana?”


Doa sejoli kini sedang duduk di atas kuda besi dengan seragam yang melekat di tubuh masing-masing untuk berangkat ke sekolah.


Sebenarnya Bunda Joa sedikit tidak rela karena belum puas melepas rindu dengan Atlanta. Namun apa boleh buat, timingnya sedang tidak pas. Anaknya harus ke sekolah untuk menuntut ilmu.


“XI.A1, kalau Ata?”


“Yahhh kita nggak sekelas, Ata di kelas XI.A4.” Nada yang dikeluarkan Atlanta sedikit sedih bercampur kesal.


“Gapapa Ata, nanti pas istirahat kan kita bisa ketemu.”


“Oke! Setiap istirahat aku ke kelas Kara ya, kita ke kantin bareng!”


“Siap bos!” Jena membalas dengan semangat sembari mengangkat tangan bergaya hormat.


Atlanta yang melihat itu di spion pun mengeluarkan tawanya. Tawa yang selama ini ia pendam hanya untuk Kara seorang.


Sesampainya di SMA Unggulan Mandala, kedua sejoli itu langsung dihadiahi tatapan kaget. Lantaran, tidak pernah Atlanta membonceng seorang perempuan apalagi berdekatan dengan makhluk berjenis itu.


Bukan hal aneh karena Atlanta termasuk jajaran most wanted di sekolah tersebut. Padahal buat Atlanta sendiri ia tidak suka menyandang gelar itu. Baginya semua orang sama tidak ada yang dibeda-bedakan.


“Fans Ata banyak juga ya, sampai minder aku deket-deket kamu.”


“Gausah dipedulikan, nggak penting.” Atlanta menarik Jena untuk diantar ke kelasnya. Pasti Jena belum tahu tata letak sekolah ini. Jadi ia berinisiatif untuk mengantarnya. Sekalipun Jena tidak memintanya.


Di balik itu, ada seseorang yang selalu memperhatikan mereka berdua, dari awal masuk gerbang sampai berjalan menuju ke kelas. Seorang itu menghela napas nya dengan kasar.


“Dia udah punya pacar?” Tanyanya dalam hati.


Risau. Apalagi cowo yang bersama Jena begitu sempurna beda dengan dirinya yang pecundang.


“Kamu siapa Lingga? Kamu cuma pecundang, berbeda jauh dengannya.” Tanyanya pada diri sendiri.


Ya. Dia Lingga, lelaki yang berharap setitik kebahagiaan hinggap di hidupnya.


...***


...


Bel istirahat berbunyi, membangunkan semangat para siswa-siswi yang jenuh akan pelajaran. Mereka berbondong-bondong menuju kanting, mengistirahatkan pikiran dan mengisi perut masing-masing. Sama halnya dengan Jena kini ia berada di depan kelasnya untuk menunggu Atlanta.


“Eh Jena, nggak ke kantin?” Seorang lelaki menyapa Jena yang tampak menunggu seseorang. Ia sebagai teman sekelas berniat mengajaknya ke kantin barangkali Jena belum tahu dimana letak kantin tersebut.


“Emm lagi nunggu temen aku.”


“Nggak bareng gue? Gue juga mau kesana, kali aja lo gatau tempatnya.”


“Eh makasih tawarannya, tapi temen aku mau kesini.”


“Oh yaudah gue tungguin deh, biar lo nggak kesepian.” Katanya dengan cengiran.


Tak menunggu waktu lama, terlihat Atlanta berjalan di koridor dengan langkah tegapnya. Jangan lupakan tatapan datar tertuju pada seorang pria yang sedang mengajak Jena-nya berbincang.


Tanpa ba-bi-bu, Atlanta langsung menarik tangan Jena pelan. “Ayo! Ngapain ngobrol sama orang gajelas.”


Jena tersentak kaget dan mengikuti langkah Atlanta, sambil menengok ke belakang dan terlihat Kevano mengikutinya.


Jena merasa hawa di kantin ini sedikit ngeri, ya, bagaimana tidak. Sejak pertama kali duduk di bangku kantin, tatapan jatam Atlanta tak lepas ditujukan untuk Kevano. Kevano sendiri tidak menyadari hal itu, malah dengan santainya mengeluarkan candaan kepada Jena.


“Lo siapa? Ngapain ikut kita disini? Nggak punya temen lo?” Ujaran dingin dan sarkas itu Atlanta keluarkan untuk Kevano.


“Kenalin gue Kevano Belvan Anura, teman sekelasnya Jena.” Ucap Kevano dengan semangat sembari mengulurkan tangannya.


Jena yang mendengar ucapan Atlanta langsung menyenggolnya dan berbisik, “Ata nggak boleh gitu, dia temannya Kara.”


“Cih.” Kevano merasa kehadirannya tidak disambut baik oleh lelaki di depannya pun menarik uluran tangan itu dengan senyum terpaksa.


“Ata nggak suka Kara dekat dengan laki-laki selain Ata.”