
Menyambut pagi yang cerah diawali dengan keterkejutan Jena melihat pesan Lingga. Ia mengira bahwa Lingga orang yang sangat kaku. Ternyata Lingga bisa perhatian juga. Lingga adalah lelaki manis dan mungkin sedikit pemalu.
Setelah membalas pesan Lingga ala kadarnya, Jena langsung bergegas untuk mandi dan siap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah siap ia langsung turun ke bawah untuk sarapan bersama kedua orang tuanya.
Hari ini Jena tidak berangkat bersama Atlanta. Ia akan menaiki bus untuk ke sekolah. Jena duduk di tempat biasanya, dekat jendela. Bus yang Jena naiki berhenti di halte untuk mengangkut orang lain yang ingin naik juga.
Jena merasa ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Ia menengok, dan terpampang jelas wajah berseri Lingga disertai dengan senyuman.
“Pagi, Gala.” Sapanya.
Lingga mengangguk dan tersenyum lebar.
“Kamu sering naik bus?” Tanya Jena dijawab gelengan oleh Lingga.
Sebenarnya tempat tinggal Lingga tak jauh dari sekolah. Hanya beberapa meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Namun beberapa hari kemarin, Lingga melihat Jena yang sering menunggu di halte. Ia kira Jena sedang menunggu jemputan ternyata gadis ayu itu sedang menunggu bus yang datan untuk mengantarnya pulang.
Mulai hari itu Lingga selalu berangkat naik bus, namun saat itu ia tidak menemukan Jena. Ternyata Jena berangkat dan pulang bersama Atlanta.
Jena dan Lingga berjalan beriringan memasuki gerbang sekolah. Para siswa menatap heran, tidak biasanya ‘si cupu’ memiliki teman. Hampir tidak pernah Lingga berbicara, berdekatan, atau sampai memiliki teman selama sekolah di sini.
Tak biasa juga Lingga berangkat di jam-jam idealnya para murid berangkat sekolah. Lingga selalu berangkat pagi untuk menghindari tatapan-tatapan seperti ini.
Namun kali ini ia tidak mempermasalahkan?
Sebuah tangan menarik Jena menjauhi Lingga dan berjalan menuju kelas. Dia Atlanta, ia menatap tidak suka pada Lingga. Ia takut jika murid-murid nakal yang biasa menindas Lingga akan menindas Jena juga karena dekat dengan Lingga. Atlanta tidak mau itu terjadi.
“Ata kok tarik-tarik, lepas!” Jena memberontak di cekalan Atlanta namun kekuatannya tidak sepadan dengan Atlanta jadi sia-sia saja.
“Gue udah bilang jangan deket-deket dia.”
“Kenapa sih? Gala tuh baik orangnya.”
“Lo nggak tau, Jena.” Jikalau Atlanta memanggil Jena bukan dengan sebutan ‘Kara’ berarti ia tidak main-main.
“Kalau gitu jelasin kenapa aku nggak boleh dekat sama Gala?”
“Kasih aku alasan!” Jena terlanjur kesal dengan Atlanta tak sadar jika suaranya sedikit kencang saat berbicara dengannya.
Atlanta yang tersulut emosi menaikkan nada bicaranya satu oktav. “Dia tuh bahan bullying anak-anak. Dia cowo pecundang.”
Jena tidak menyangka Atlanta bisa berbicara seperti itu. Bukan, bukan karena bentakan Atlanta tapi tiga kata terakhir yang Atlanta ucapkan. Selama berteman dengan Lingga, dia sangat sangat sangat tidak pantas disebut pecundang. Lingga terlalu baik.
Dengan tatapan kecewa Jena meninggalkan Atlanta yang sedang mengontrol emosi. Terlihat Atlanta mematung setelah kepergian Jena. Lingga ternyata mengikuti mereka berdua dan pastinya mendengar apa yang diucapkan oleh Atlanta.
...***...
“Lingga, Lingga. Lo tuh cowo cupu nggak usah berharap bisa deket sama Jena.” Seorang siswa dengan kancing seragam yang terbuka setengah sedang menyesap rokok.
“Harusnya tuh, lo sadar diri. Punya apa lo? Ngomong aja nggak bisa. Sama kita aja nggak berani ngelawan.”
Ruangan sempit, remang-remang, pengap mendeskripsikan tempat yang kini Lingga pijaki. Bersama lima lelaki badboy yang hampir setiap hari selalu merundung Lingga.
Kondisi Lingga saat ini tidak enak dipandang. Badan penuh luka lebam disebabkan pukulan dari kelima lelaki tersebut. Lingga dianggap menjadi samsak. Pelampiasan apabila— orang yang paling disegani dari kelima orang tersebut — sedang tersulut emosi.
Entah Lingga salah atau tidak ia menjadi sasaran.
“Mimpi lo ketinggian.”
“HAHAHAHA.” Terdengar gelak tawa di seluruh ujung ruangan.
Tawa mereka terhenti ketika pintu gudang didobrak kasar. Muncul seorang perempuan cantik dengan amarah di wajahnya. Perempuan itu Jena dia datang untuk membantu Lingga. Tidak hanya sendiri, ia tak seberani itu. Ia datang dengan Kevano.
“Anjing kalian.” Umpat Jena
Kevano yang mendengar itu menutup mulutnya dengan tidak percaya. Seorang Jena mengumpat?
Jena langsung berlali ke arah Lingga yang terkapar lemah. Ia membopong dengan sedikit kesusahan.
“Cewe, Lingganya mau dibawa kemana? Dia masih ada urusan sama gue.”
“Nggak peduli.”
Kelima orang tersebut berniat menghalangi jalan Jena untuk membawa Lingga pergi. Namun Jena menendang ************ ‘bos’ mereka membuatnya jatuh terduduk.
Keempat orang tersebut langsung menolong dan berniat menghajar Jena.
“Biarin mereka pergi, lain kali aja kita bermain-main sama mereka. Terutama Jena.” Ucap bos tersebut.
Jena langsung membawa Lingga ke uks dibantu Kevano tentunya. Saat di uks, Kevano kembali ke kelas berniat meminta izin kepada guru pengajar agar Jena dan Lingga tidak perlu kembali ke kelas. Jena mengobati Lingga dengan hati-hati.
“Seharusnya kamu tidak usah ikut campur, Jena.” Pergerakan Jena terhenti ketika sebuah tangan memengang tangannya.
“Kamu teman aku Gala, sudah seharusnya kita tolong menolong,”
“Pasti selama ini kamu kesakitan.”
Lingga menunduk dan melepaskan tangan Jena
“Teman ya?”