HEARTBEATS

HEARTBEATS
A Hope



Di pagi hari, seorang gadis berseragam putih abu-abu tengah mengayunkan kedua kakinya maju mundur. Dengan bersenandung kecil membuat suasana di sekitar terasa begitu tenang. Gadis itu adalah Jena, siswa pindahan yang baru masuk ke sekolah barunya.


Jena tidak lagi berangkat bersama Atlanta karena rumah mereka berbeda arah. Padahal Atlanta tidak masalah dengan hal itu, ia malah senang bisa berangkat bersama dengan Jena. Namun Jena tetaplah Jena, gadis dengan watak keras membuat Atlanta menuruti kemauannya .


Kini Jena sedang berada di Halte dekat rumahnya, menunggu bis datang yang akan membawanya menuju sekolah.


Kali ini bisnya tidak terlalu ramai. Jena duduk di dekat jendela sembari melihat indahnya kota di pagi hari.


Sesampainya di sekolah, Jena langsung melangkahkan kakinya menuju ke kelas dirinya belajar. Namun di tengah perjalanan ia melihat Atlanta yang terlihat sedang menunggu seseorang.


“Ata kok belum masuk?”


“Gue nungguin lo.” Melihat Jena datang Atlanta tersenyum tipis.


“Ngapain?”


“Ya gapapa, kita nggak bisa berangkat bareng jadi setidaknya kita ke kelas bareng.”


Aneh memang pemikiran Atlanta, namun ya sudahlah Jena tidak mempermasalahkan itu.


Saat istirahat tiba, Jena dikejutkan oleh Atlanta yang sudah nangkring di depan kelasnnya. “Ayo ke kantin!” Ajaknya.


“Ata maaf, aku ke kantin sama kamu nanti ya pas istirahat kedua.”


“Lo sekarang mau kemana?” Tanyanya dengan nada ketus.


“Aku mau ke taman belakang mau makan bekal sama temen ku.”


“Siapa?” Atlanta kesal, begitu pentingnya teman Jena daripada dirinya. Padahal ia sudah bersahabat bertahun-tahun dengan gadis itu, tapi kalah dengan teman Jena yang baru itu.


“Sama Gala.”


Mendengar nama itu ekspresi Atlanta menjadi keruh, ia tidak suka Jena berdekatan dengan Lingga. Bukan tanpa alasan, sejak mendengar nama Lingga kemarin Atlanta mengkhawatirkan Jena bila dekat dengan Lingga. Karena Lingga selalu menjadi sasaran bullying anak-anak nakal. Atlanta tidak mau jika Jena akan kena imbasnya.


“Jangan dekat-dekat dengannya!” Peringatnya.


“Kenapa? Dia baik kok.” Jena tetap dalam pendiriannya.


“Dibilangin nurut aja kenapa sih.”


“Nggak mau, udahlah aku mau kesana.” Ujarnya sambil melangkah berbalik arah.


“Terserah.”


...***


...


“Gala, aku boleh makan disini bareng kamu?” Jena menghampiri Lingga yang tengah menyantap bekal di tangannya.


Tentu Lingga kaget dengan kedatangan Jena, pasalnya kemarin ia Jena mengajaknya ke kantin bareng namun ia tolak. Ternyata Jena malah menghampirinya kesini.


Lingga mengangguk dan bergeser sedikit agar Jena bisa duduk dengan nyaman.


“Wahh kamu bawa nasi goreng, enak nggak?”


“Boleh aku mencobanya?” Pertanyaan Jena diangguki dengan semangat oleh Lingga. Ia pun menyendokkan sesuap nasi goreng dan menyuapi Jena.


Jujur Lingga tidak sengaja! Tangannya dengan reflek melakukannya. Tanpa sadar beberapa siswa yang biasa mengganggu Lingga melihat kejadian tersebut.


“GALA INI ENAK BANGET!!” Serunya dengan binar di matanya.


Lingga mengangguk dengan semangat dan senyum lebar.


“Kamu pintar banget.”


Jena menyodorkan kotak makannya kepada Lingga. “Bunda aku bawain chicken teriyaki nih, kamu mau?”


Lingga menggeleng dan mempraktekkan isyarat seolah mengakatakan, “Jena saja yang makan.”


Jena mengangguk dan menikmati bekal yang dibawanya.


Taman belakang. Tempat dengan suasana sepi dan hampa. Tempat yang selalu Lingga kunjungi. Tempat yang menjadi saksi kesedihan dan luka Lingga.


Kini suasana hampa berubah menjadi suasana tenang dan ceria. Suasana yang bertahun-tahun lalu ingin sekali Lingga rasakan. Dan berkat gadis di depannya ia dapat merasakannya.


Taman belakang dipenuhi dengan celotehan Jena membahas hal-hal random. Meskipun Lingga hanya menjawab dengan gelengan ataupun anggukan, Jena tetap semangat untuk bercerita.


Menurut Jena, Lingga adalah pendengar yang baik. Tak ada barang sedetik pun Lingga mengalihkan pandangannya kepada Jena saat ia berbicara. Jena merasa dihargai meskipun hanya sesekali Lingga menanggapi.


Di tengah Jena bercerita, seorang lelaki menghampiri mereka dan menegur dengan nada dingin.


“Masih kawasan sekolah, kalau pacaran tau tempat.” Ujarnya dengan dingin dan wajah datar.


“Maaf kak, tapi kami tidak pacaran.”


“Maling mana ada yang ngaku.”


Jena sedikit kesal dengan balasan laki-laki di depannya itu. Padahal ia sudah menjelaskan dengan sopan karena tahu lelaki itu kakak kelasnnya.


“Kok nyolot sih.” Jena hanya berani ngomong dalan hati. Bisa berabe jika ia mengucapkan langsung di depannya. Ia tidak ingin kena masalah, apalagi ia termasuk murid baru.


“Kami memang hanya makan bersama kak, tidak lebih dari itu.”


“Bentar lagi bel, sana masuk kelas.” Setelah mengatakan itu laki-laki pemegang jabatan Ketua Osis itu kini meninggalkan Jena dan Lingga.


Dia adalah Jengkala Jati Biantara, siswa kelas XII yang sebentar lagi akan lengser jabatan. Kala memang terkenal dengan sifatnya yang keras dan dingin. Meskipun begitu prestasinya tidak bisa diremehkan. Ia sering kali meraih juara dalam bidang akademik maupun non akademik.


Kala memiliki seorang adik kembar bernama Janala Yasa Nayaka. Nala sangat berbanding terbalik dengan kakaknya, Kala. Jika Kala pintar dalam akademik maka Nala sebaliknya. Jika Kala suka berolahraga maka Nala tidak. Nala termasuk manusia mageran.


“Nyebelin banget sih.” Melihat Kala yang sudah beranjak pergi, Jena baru berani mengeluarkan kekesalannya sekarang.


Lingga yang melihat itupun hanya tersenyum. Ia tidak terlalu peduli dengan peringatan Kala. Justru ia malah kepikiran dengan omongan Jena.


“Apa bisa kita lebih dari ini, Jena?”


"Ayo Gala kita ke kelas." Ajakan Jena membuat Lingga tersadar akan lamunannya.


Tak ingin terlarut dalam pikirannya, Lingga mulai melangkah mengikuti Jena yang sudah berjalan di depannya.


Tentu Lingga akan menjaga jarak. Ia sadar diri, ia selalu menjadi bulan-bulanan siswa dan ia tidak ingin Jena terkena getahnya apabila dekat dengannya.


Meskipun begitu ada pikiran egois yang hinggap di otak Lingga. Suatu harapan yang ingin Lingga wujudkan selain kebahagiaan.


"*Jena, aku harap itu kamu."


"Aku mohon tuhan."


"Izinkan kali ini aku egois*."