
“Selamat datang di rumah ku.....” Ujar Jirou kepada yang lain.
Mereka berdiri di depan gerbang kuil (torii), setelah itu mereka naik ke atas, karena posisi kuil berada di atas bukit. Ketika mereka sedang naik, Ryuto dan Ayano melihat di kanan kiri mereka, ada sepasang kaki berdiri. Kaki yang besar seperti milik raksasa yang terlihat hanya sampai sebatas paha dan tidak bisa di lihat bagian atas nya.
“Um...senpai.” Ujar Ryuto.
“Ah jangan khawatir, mereka adalah penjaga kuil ini, walau yang terlihat hanya kaki, tapi sebenarnya tubuh mereka di atas sangat besar.” Jirou langsung menjelaskan sebab dia tahu Ryuto pasti akan bertanya.
Mereka melihat hantu gadis bernama Touka itu berkeliling memutari kaki kaki itu dengan dengan riang walau wajahnya tetap datar di awasi oleh Chiyo. Melihat itu, Ryuto dan Ayano menjadi lega karena para penjaga itu sudah pasti tidak akan mengganggu mereka. Setelah sampai di halaman kuil yang berada di atas,
“Ah kalian sudah datang....” Sapa Keiko yang sedang menyapu dan membersihkan daun daun kering yang rontok di halaman.
“Keiko senpai....” Sapa Ryuto, Ayano dan Megumi.
“Higeki-kun ada di belakang....masuk aja....aku sedikit lagi selesai...” Balas Keiko.
“Sudah Kei, aku yang teruskan, kamu temani mereka masuk...” Jirou mengambil sapu dari tangan Keiko.
“Hehehe thanks Jirou....ayo masuk....”
Keiko langsung masuk ke dalam mengajak Ryuto, Ayano dan Megumi. Di rumah yang berada di belakang kuil, Hige sedang duduk bersila di teras, dia memangkas rambutnya menjadi botak dan berpakaian ala biksu. Ryuto dan Ayano bisa melihat ada tiga buah kepala mengambang di atas Hige yang sedang duduk bersila memejam kan mata. Ketika Hige membuka mata dan melihat Ryuto, Ayano, Megumi datang,
“Ryuto.....” Sapa Hige.
“Wow...baru dua hari di sini kamu sudah jadi biksu ?” Tanya Ryuto.
“Hahaha ini hanya untuk kamuflase saja, lagipula aku ingin menenangkan pikiran juga hati ku....” Jawab Hige.
“Kalian masuk lebih dulu, aku akan membuat makanan kecil dan minuman di belakang, Higeki-kun, bisa bantu aku ?” Tanya Keiko.
“Ah ya, baik senpai....” Jawab Hige.
Mereka langsung memutar ke bagian belakang rumah, sedangkan Ryuto, Ayano dan Megumi bersama hantu Touka dan Chiyo masuk ke dalam. Mereka masuk ke ruang tengah dan duduk di sofa,
“Aya-chan, yang melayang di kepala Hige tadi....” Ujar Ryuto.
“Iya, mungkin kedua orang tuanya dan kakak nya....” Balas Ayano.
“Oh kalian melihat nya ya ?” Tanya Megumi.
“Iya, aku melihat nya dengan jelas...” Jawab Ryuto.
“Aku juga, mereka diam saja hanya memandang Higeki-senpai. Megumi-senpai bisa melihatnya ?” Tambah Ayano.
“Wah aku tidak bisa, seperti yang Jirou-senpai bilang, aku bisa mendengar, merasakan tapi tidak bisa melihat mereka.” Jawab Megumi.
“Itu karena aku menutup indranya, Megu-chan tidak perlu melihat, aku selalu menjaganya.” Tambah Chiyo.
“Oh jadi begitu rupanya....” Balas Ryuto.
Tak lama kemudian, Keiko membawa makanan ringan dan minuman di bantu oleh Hige masuk ke dalam, setelah menghidangkan nya di meja, keduanya duduk bersama sama dengan yang lain,
“Ayo di makan dan di minum...ada yang mau aku katakan kepada kalian.” Ujar Keiko.
“Apa itu senpai ?” Tanya Ryuto.
“Apa yang sebenarnya terjadi di kota ini....” Jawab Keiko.
“Oh teori senpai yang senpai katakan di ruang club ya....” Balas Ayano.
“Benar, semua terjadi berawal dari 10 tahun yang lalu.” Ujar Keiko.
Menurut Keiko, 10 tahun yang lalu adalah di mana saatnya Ghist pertama kali muncul. Mereka menyebar ke lima titik yang paling angker di kota, kalau di tarik garis lurus yang menghubungkan lima titik angker itu di peta, maka garis garis itu akan membentuk sebuah pola seperti bintang dengan reruntuhan kuno di tengah kota yang sekarang di pugar menjadi museum sebagai pusatnya.
“10 tahun yang lalu.....saat dosen itu datang ke rumah dan mengajak papa mama pergi....” Gumam Megumi.
“Lalu keluarga ku di bunuh saat aku berumur 8 tahun, berarti satu tahun kemudian...yaitu 9 tahun yang lalu.” Tambah Ryuto.
“Keluarga ku di bunuh paman ku juga di tahun yang sama dengan Ryuto-senpai dan dia mulai meneliti ku...” Tambah Ayano.
“Ya, setelah itu Ghist mulai menyebar ke seluruh kota bahkan dunia tanpa sepengetahuan kita, keluarga ku, aku, Yae-aneki, Jirou....dan terakhir Higeki-kun juga keluarganya, menjadi korban.” Tambah Keiko.
Semuanya terdiam, ternyata semua kejadian yang mereka alami berhubungan satu sama lain.
“Lalu, rencana kita apa senpai ?” Tanya Ryuto.
“Selama libur musim panas ini, aku dan Jirou berencana untuk mendatangi lima tempat terangker di kota ini, tempat berkumpulnya para ghist dan roh jahat, kita harus selidiki ada apa di sana dan apa rencana mereka sebelum terlambat.” Jawab Keiko.
“Aku setuju, sebab aku juga ingin tahu....” Tambah Ayano.
Ryuto menoleh melihat Ayano, dia mengerti karena di masa depan, Ayano melihat kota sudah hancur dan di penuhi oleh Ghist seperti yang dia ceritakan di rumah Megumi sebelum nya.
“Baiklah, aku juga....walau aku masih berjuang mengatasi ketakutan ku...” Tambah Ryuto.
Mendengar ucapan Ryuto, Ayano langsung menoleh, dia tersenyum dan merebahkan kepalanya di pundak Ryuto sehingga mengundang perhatian Hige dan Keiko.
“Woaaah Ryuto, kamu sama Ayano-chan nempel sekali...kalian pacaran ya ?” Tanya Hige.
“Eh...um....tidak.....” Jawab Ryuto.
“Hehehe jangan iri senpai, Megu-senpai nganggur tuh....” Balas Ayano.
“Huh enak saja....maaf Higeki-kun, aku tidak minat....” Balas Megumi yang bergeser ke arah Ayano.
“Eh...aku tidak mengatakan apa apa....” Balas Hige.
Mereka semua tertawa, setelah itu, Jirou masuk ke dalam, dia langsung duduk di sebelah Keiko,
“Sebelum itu, tadi di kereta kita sudah bahas kan, kita tolong dia dulu....” Ujar Jirou sambil menunjuk hantu Touka yang sedang melayang di atas mereka.
“Ah benar juga....di dekat sana juga ada satu spot misteri yang akan kita selidiki juga nantinya, bisa sekalian....” Tambah Keiko.
“Baik, dua hari lagi kita berangkat, besok, aku akan melatih Ryuto mengatasi ketakutan nya dan Ayano berkelahi tangan kosong......Megumi kalau mau ikut juga boleh, kamu juga gendut...” Ujar Jirou.
“Iya senpai....” Balas Hige.
“Tapi apa dia aman di sini ?” Tanya Ryuto sambil menunjuk hantu Touka di atas nya.
“Di sini aman, kalian lihat penjaga kan, tidak ada roh jahat dan ghist yang bisa masuk ke sini....” Ujar Jirou.
“Kalau begitu baiklah, aku megerti.” Balas Ryuto.
“Mohon latih kita senpai....” Tambah Ayano.
“Aku pass....” Ujar Megumi.
“Oi gendut, jangan coba coba lari ya, kamu harus kuruskan badan...” Tambah Jirou.
“Iya...iya...senpai...huuuh...”
Semuanya tertawa lagi, setelah itu mereka mulai berbincang bincang. Ketika malam harinya, Jirou menunjukkan kamar untuk Ryuto yang bersama dengan Hige dan dirinya, sedangkan Ayano bersama dengan Megumi dan Keiko. Setelah merapihkan barang bawaan mereka di kamar, Ryuto merasa dirinya menggigil dan merinding, dia menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa siapa dan tidak ada yang mengawasinya.
“Kenapa tiba tiba....mungkin perasaan ku saja....beberapa hari ini aku mengalami hal hal mengerikan....hii....” Pikirnya.
Perasaan Ryuto tidak salah, di kamar yang berada di sebrang nya, Ayano yang sedang berbaring, membuka topeng nya dan membuka mata ketiganya sambil tersenyum lebar, dia menutupi seluruh tubuhnya sampai ke kepalanya dengan selimut.
“Hehehehehe...Ryuto-san....suami ku...ada di sana...dengan begini aku seperti sedang tidur di sebelah nya hehehe....” Ujarnya di dalam hati dengan senyuman lebar.