
Selesai Megumi bercerita, mereka mulai membantu Megumi membereskan barang barang untuk di bawa ke rumah Jirou. Ketika sedang berberes, Ryuto melihat ekor kucing di pinggang Megumi yang bercabang dan memiliki api berwarna biru di kedua ujungnya, orang biasa tidak bisa melihat ekor nya, karena penasaran dia menangkap salah satu ekor itu.
“Aw.....” Teriak Megumi sambil menarik ekornya lepas dari tangan Ryuto.
“Ah...maaf Megumi-san....ku pikir....” Balas Ryuto.
“Senpai mesum....huh...” Gumam Ayano sambil cemberut.
“Hahahaha....penasaran ya Ryuto.” Ujar Jirou tertawa.
“Bukan begitu, aku pikir ada sesuatu yang nyangkut di pinggang nya....maafkan aku Megumi-san.....” Ujar Ryuto.
“I..iya, tidak apa apa....” Balas Megumi.
“Wah berarti Megumi-senpai bisa jadi kucing raksasa dong....” Ujar Ayano.
“Um...tidak bisa, aku tidak bisa berkelahi, Chiyo-baba memang bercerita kalau aku yang menolong nya tapi aku tidak ingat sama sekali, aku tidak bisa menggunakan kekuatan nya...” Ujar Megumi.
“Oh begitu....” Balas Ayano.
“Maaf, aku hanya orang biasa yang kebetulan punya ekor hehe.” Balas Megumi.
Selesai membantu Megumi membereskan barang dan bersiap untuk pergi, Ryuto menoleh dan melihat hantu gadis tetangganya mengikuti dirinya.
“Lalu dia kita ajak juga ?” Tanya Ryuto sambil menunjuk kepada hantu gadis itu.
“Sebaiknya begitu, dia lebih aman bersama kita, lagipula kita harus membantu dia kembali ke tubuh nya...” Jawab Jirou.
“Hmm...gimana caranya senpai ?” Tanya Ryuto.
“Ya harus ke tempat tubuh nya berada dan menarik keluar roh di dalam nya.” Jawab Jirou.
“Repot juga ya....” Balas Ryuto.
“Sudahlah, kita ke rumah ku dulu, nanti kita pikirkan caranya...” Ujar Jirou.
Mereka keluar dari rumah Megumi, ketika mau keluar dari pagar, Chiyo-baba berlari mengejar mereka,
“Megu-chan, ijinkan aku ikut, kamu tidak bisa bertarung, aku tidak mau kamu kenapa napa sebab aku punya janji dengan orang tua mu.”
“Oh...tapi bagaimana caranya baba ?” Tanya Megumi.
Tiba tiba tubuh Chiyo mengeluarkan cahaya, wajahnya yang tua berubah menjadi seorang wanita cantik yang berambut hitam dan bergelombang, kemudian dia menjadi kecil dan hinggap di bahu Megumi.
“Dengan wujud ini, orang biasa tidak akan bisa melihat ku, aku akan terus berada di sini....” Ujar Chiyo.
“Oh ok baba, baiklah.....” Balas Megumi.
Begitu mereka melangkah keluar dari pagar, barulah wujud asli rumah Megumi yang di lihat Ryuto dan Ayano nampak, rumah yang menurut Jirou dan Megumi sendiri tampak bagus menjadi rumah tua yang bobrok dan hancur separuh. Ryuto dan Ayano tidak kaget karena sebelum nya mereka sudah melihat kondisi rumah yang sebenarnya, selama ini Chiyo yang menjaga dan mempertahankan rumah itu menggunakan ilusi nya, tapi ketika dia keluar, maka semuanya kembali ke wujud aslinya. Mereka berjalan menuju stasiun kereta yang dekat dari rumah Megumi, karena untuk mencapai kuil rumah Jirou, harus naik kereta.
Di dalam stasiun, mereka langsung naik kereta yang pas kebetulan tiba dan berangkat. Kereta dalam kondisi ramai dan berdesakan, sehingga mereka terpaksa berdiri dan hantu gadis yang bersama mereka melayang di atas yang lainnya. Ketika kereta sampai di stasiun berikutnya, banyak para penumpang yang keluar, sehingga hanya tersisa beberapa penumpang saja, termasuk Ryuto, Ayano, Jirou, Megumi dan hantu gadis itu. Untuk sampai ke kuil yang merupakan rumah Jirou, masih perlu melewati 2 stasiun lagi. Sebelum itu, mereka harus melewati terowongan pendek yang berada di bawah jalan layang di atasnya.
Tiba tiba saja, hantu gadis yang melayang itu turun dan langsung bersembunyi di belakang Ryuto. Mendadak kereta berhenti tepat di dalam terowongan,
“Ada apa ini ?” Tanya Megumi.
Ryuto melihat sekeliling, seluruh penumpang di dalam kereta kecuali mereka tertidur, tiba tiba lampu di dalam kereta mati, Ryuto membuka sebelah sarung tangan nya dan mengeluarkan sabitnya, sementara Ayano langsung mencabut katana nya. Lampu kembali menyala, di depan mereka terlihat seorang pria besar dengan tubuh yang gempal, memakai pakaian seperti petani dengan kepala di tutup karung jerami yang di lubangi di bagian matanya, tapi di dalam lubang nya tidak terlihat ada apa apa hanya ada kegelapan yang dalam. Tubuh pria besar itu di selimuti bayangan hitam kemerahan yang mengerikan, tangan nya memegang sebuah parang panjang yang berwarna merah darah dan masih meneteskan darah.
Pria itu diam saja, dia hanya berdiri di depan mereka persis di tengah gerbong. Tiba tiba, “Ctar.” Sebuah cambuk bayangan melilit leher hantu gadis yang berada di belakang Ryuto. Jirou menoleh dan berbalik, dia melihat di belakang seorang wanita dengan wajah tak terlihat karena tertutup rambutnya yang panjang sampai ke kaki berwarna hitam, memakai pakaian putih lurus seperti pakaian pasien rumah sakit dan tangan nya menjadi cambuk yang melilit leher hantu gadis itu. Seluruh tubuh wanita itu juga di selimuti oleh bayangan hitam kemerahan.
“Kurang ajar....ada 2.....hati hati semuanya....” Teriak Jirou.
“Aku urus yang di belakang....” Ujar Chiyo.
Chiyo melompat dari pundak Megumi dan membesar menjadi wanita bertubuh laba laba dengan tangan manusia sebagai kaki laba labanya. Chiyo langsung menggunakan kaki nya yang berbentuk tangan untuk mencengkram cambuk dan memutuskan nya sehingga hantu gadis itu terbebas. “Drap...drap...drap...” Pria besar di depan mereka mulai berjalan maju mengangkat parang nya,
“Siap siap Aya-chan....” Teriak Ryuto.
“Iya senpai....” Balas Ayano.
Tiba tiba saja, Jirou yang sudah berubah menerjang maju dan langsung menerkam pria besar itu dengan kedua cakarnya, dia menangkap tangan pria itu yang sedang mengangkat parang nya.
“Ryuto....” Teriak Jirou.
Ryuto langsung berlari, kedua sabitnya sudah siap di kedua tangan nya, dia langsung melompat ke belakang pria itu dan menusukkan sabitnya dari belakang. Kepala pria itu langsung berputar kencang dan seluruh tubuhnya bergetar, tiba tiba pria itu menghilang dan mengabu. Sementara di belakang Chiyo masih menangkis serangan rambut dan cambuk tangan wanita di belakang yang tidak terlihat wajah nya. Ayano melompat dan hinggap di punggung Chiyo kemudian dia bersalto ke depan sambil mengayunkan katana nya dan menebas putus leher wanita itu. Langsung saja wanita itu menghilang dan mengabu.
Lampu kembali mati dan mereka melihat kereta sudah berjalan melewati terowongan dan para penumpang masih sama seperti sebelum mereka tertidur seperti tidak terjadi apa apa.
“Apa yang sebenarnya terjadi ?” Tanya Ryuto.
“Ghist menyerang kita....sepertinya mereka mengincar hantu gadis ini...” Jawab Jirou sambil menunjuk hantu gadis di depan nya yang ketakutan.
“Siapa sih sebenarnya hantu gadis ini Ryuto kun ?” Tanya Megumi.
“Um...dia anak smp yang tinggal di sebelah apartemen ku, boleh di bilang dia tetangga ku...” Jawab Ryuto.
“Sepertinya kita harus cepat kembalikan dia ke tubuhnya, aku khawatir tubuhnya kenapa napa, kamu tahu tidak di bawa kemana tubuh nya ?” Tanya Jirou.
“Aku tidak tahu....tapi coba aku tanyakan Ena nee-san.....” Jawab Ryuto.
“Siapa itu Ena nee-san ?” Tanya Megumi.
“Tetangga kita, iya kan senpai....” Jawab Ayano sambil merangkul lengan Ryuto.
“Iya.....tetangga di apartemen....aku kirim pesan kepada nya...”
Ryuto mengeluarkan smartphone nya, dia mengirimkan pesan kepada smartphone Ena yang tinggal di sebelah nya. “Dling.” Ryuto sudah mendapat jawaban dari Ena, ketika dia membuka pesannya, isinya,
“Loh...Touka-chan ada di rumah nya kok, dia tidak di rumah sakit, dia baik baik saja, baru tadi pagi aku bertemu dengan nya yang masih mau berangkat sekolah karena ada pelajaran tambahan.”
“Hah....dia ada di rumah bahkan bersekolah lagi....nih lihat...” Ujar Ryuto sambil memperlihatkan pesannya kepada Jirou, Ayano dan Megumi.
“Hmmm.....berarti yang ada di dalam tubuhnya, bukan roh jahat, tapi roh lain....kita kerumah ku dulu, besok kita ke sekolah nya, tahu tidak dia sekolah di mana ?” Tanya Jirou.
“Sekolah nya aku tahu, sebab aku juga dulu sekolah di sana....” Balas Ryuto.
Akhirnya setelah melewati dua stasiun, mereka turun di stasiun berikutnya, setelah keluar stasiun, mereka berjalan menuju kuil yang berada tidak jauh dari stasiun.