
Setelah itu, Ryuto dan Ayano keluar dari gedung sekolah untuk pulang ke rumah karena di haruskan oleh pihak sekolah. Jirou sudah menunggu di depan gerbang,
“Akhirnya keluar juga.....bagaimana ? mau langsung ke rumah ku ?” Tanya Jirou.
“Iya senpai....” Jawab Ayano.
“Ok senpai, tapi boleh tidak mampir ke apartemen ku dulu untuk mengambil pakaian ganti...” Balas Ryuto.
“Ah benar juga, kamu bicara begitu aku jadi ingat, tadi Kei minta aku ke rumah Megumi, dia bilang sama Kei kalau dia tidak masuk ke sekolah hari ini karena demam.” Balas Jirou.
“Oh ok, berarti habis dari apartemen ku, kita ke rumah nya saja....” Balas Ryuto.
“Benar senpai, aku juga setuju....” Tambah Ayano.
“Ok, di dekat aparemen mu ada convini store kan ?” Tanya Jirou.
“Ada senpai....” Jawab Ryuto.
“Aku tunggu di sana sekaligus beli beberapa barang untuk di bawa ke rumah Megumi...” Ujar Jirou.
“Baik senpai....” Balas Ryuto dan Ayano.
Mereka berjalan menuju ke arah apartemen Ryuto, di persimpangan jalan persis di lampu merah, Ryuto melihat seorang siswa smp yang sedang berdoa di tiang lampu lalu lintas. Di bawahnya ada sebuah buket bunga baru yang masih segar, sepertinya siswa itu menaruhnya di sana. Ryuto juga melihat, hantu gadis yang biasa dia lihat di sana berputar putar mengelilingi siswa smp yang sedang berdoa itu, wajahnya terlihat dia ingin bicara dengan nya. Ryuto yang melihat itu, langsung berlari menghampiri hantu gadis itu meninggalkan Jirou dan Ayano. Hantu gadis itu menoleh dan langsung menghampirinya dengan senyum yang mengerikan,
“To...long....sam..pai....kan....pa..da....Hiro...kun....aku...tidak...apa...apa....jangan...cemas....aku...sayang...dia....namaku....Nanase...Uie.....” Ujar hantu gadis itu dengan nada yang serak dan mengerikan.
Ryuto menunjuk ke arah siswa yang sedang berdoa itu dan menoleh kepada hantu gadis itu. Hantu itu mengangguk dan kembali berlari menuju siswa smp yang sedang berdoa itu kemudian memutarinya. Ryuto menghampiri siswa smp itu,
“Anoo....nama kamu Hiro kun ?” Tanya Ryuto.
Siswa itu menoleh dan melihat Ryuto di sebelah nya, dia mengamati Ryuto dan melihat tangan nya yang memakai sarung tangan sedang memegang nya.
“Um...onii san siapa ?” Tanya Hiro.
“Namaku Ryuto, aku mau menitipkan pesan dari Nanase Ui, dia bilang dia sekarang sudah tidak apa apa dan jangan cemas, dia juga bilang kalau dia sayang kamu...” Jawab Ryuto.
Mendengar nama hantu itu di sebut, wajah Hiro langsung berubah menjadi kaget dan sedih. Air matanya mulai menetes, dia berusaha membersihkan nya supaya tidak tampak dia menangis di depan Ryuto.
“Onii san....kenal Ui nee san ?” Tanya Hiro.
“Iya, aku kenal.....” Jawab Ryuto.
Hiro langsung memeluk Ryuto dan menangis tersedu sedu, sekarang Ryuto jadi tahu, siapa yang menaruh bunga dan dupa di tiang beberapa hari sekali. Hantu gadis itu tersenyum dan mengelilingi keduanya. Setelah itu,
“Aku juga sayang sama Ui nee san....kenapa dia cepat sekali pergi....aku kangen padanya.....” Teriak Hiro sambil menangis.
Hantu itu berhenti dan dia memeluk Hiro dari belakang walau tangan nya menembus tubuh Hiro,
“Hi...ro......hi...dup......aku....se..nang......se...lamat....ting..gal....Hi...ro....” Ujar hantu itu.
Tubuh hantu itu mengeluarkan cahaya dan berubah menjadi seorang gadis sma yang cantik, wajah nya terlihat tenang dan menoleh melihat Ryuto. Langsung saja Ryuto melepas sarung tangan nya dan memegang kepala hantu itu, sebuah sinar keluar dari atas dan menyinari hantu itu yang masih memeluk Hiro. Tiba tiba Hiro menoleh dan melepaskan pelukan nya dari Ryuto. Dia merasakan ada yang memeluk nya dari belakang,
“Nee san ?” Tanya nya.
Ryuto melihat ke atas, Ui sudah naik ke atas mengikuti sambil melihatnya dan melambaikan tangan nya. Ryuto juga melambai kecil melihatnya,
“Tunggu onii san.....hubungan onii san sama nee san apa ?” Tanya Hiro.
“Hanya teman.....sudah ya...” Jawab Ryuto.
Ryuto meninggalkan Hiro dan kembali ke Jirou juga Ayano yang menunggu nya dan melihat nya dari belakang, kemudian mereka melewati Hiro dan menyebrang jalan. Ketika sedang berjalan, Ryuto terlihat termenung, Ayano memperhatikan nya dan bertanya,
“Kenapa senpai ? kamu tidak mau hantu itu naik ke atas ya ?” Tanya Ayano.
“Oh bukan itu, hanya saja, setiap hari dia menyapa ku walau wajahnya mengerikan dan sepertinya ingin bicara dengan ku, selama ini aku berpura pura tidak melihat nya.....rasanya kurang enak saja...” Jawab Ryuto.
“Hah...bicara apa kamu, karena kamu sekarang dia bisa naik ke atas dan mungkin bisa bereinkarnasi....dia ingin bicara sama adik nya yang sedih.....hanya itu ganjalan nya....” Balas Jirou.
“Jirou senpai benar, kamu sudah membantu dia senpai, seharusnya kamu bangga.” Tambah Ayano.
“Terima kasih senpai....Aya chan....” Balas Ryuto.
*****
Mereka terus berjalan sampai ke apartemen. Ryuto dan Ayano langsung berlari ke apartemen dan naik ke atas, sementara Jirou menunggu di convini store yang berada di ujung jalan. Setelah itu, Ryuto dan Ayano pergi ke convini store, kemudian bersama Jirou pergi ke halte bis. Ketika bis datang, ketiganya naik. Di dalam bis, Ryuto melihat tidak semua penumpang nya adalah manusia, ada beberapa penumpang hantu yang menoleh dan melihat dirinya sambil tersenyum. Tapi tidak ada yang berani menatap Ryuto lama lama karena Ayano yang berada di sebelah Ryuto menatap mereka dengan tajam.
“Huh....” Ujar Ayano.
“Kenapa ?” Tanya Ryuto.
“Tidak apa apa....” Jawab Ayano.
Pintu bis di tutup, bis mulai berjalan berangkat menuju titik pemberhentian selanjutnya. Setelah melewati dua titik pemberhentian, di pemberhentian ketiga, mereka turun di halte yang berada di kawasan pertokoan dan perumahan. Jirou yang sudah tahu letak rumah Megumi berjalan lebih dulu di depan, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang berada di paling ujung dan hanya sendirian. Rumah itu besar dengan model rumah jaman dulu, ada bekas papan nama di depan gerbang nya. Melihat rumah itu, Ryuto dan Ayano yang baru pertama kali ke rumah megumi tertegun.
“Um...senpai...tidak salah nih ?” Tanya Ryuto.
“Tidak, di sini memang rumah nya....kenapa...” Jawab Jirou.
“Megumi senpai....tinggal di rumah seperti ini ?” Tanya Ayano.
“Iya, ini rumah peninggalan keluarganya, dia tinggal sendirian di sini bersama seorang pelayan yang sudah tua.”
Mendengar jawaban Jirou, Ryuto dan Ayano saling menoleh satu sama lain, mereka bingung karena rumah yang ada di penglihatan mereka, walau besar dan sepertinya luas dengan design antik rumah jaman dulu (khas jepang), rumah itu sudah hancur separuh, kusam, bekas terbakar dan seperti sudah lama tidak di huni. Rumah itu seperti di hancurkan ketika perang, karena terlihat bekas peluru di dinding pagar nya.
“Kalian kenapa ?” Tanya Jirou.
“Um....senpai memang tidak lihat kalau rumah ini rumah yang sudah hancur ?” Tanya Ryuto.
“Hah bicara apa kamu....rumah ini walau rumah lama dan ada beberapa hantu di dalam tapi masih bagus kok.....aneh...” Jawab Jirou.
Ryuto dan Ayano akhirnya terdiam, mereka sadar kalau yang melihat kondisi rumah itu sebenarnya hanyalah mereka. Akhirnya Jirou membuka pagar nya dan masuk ke dalam. Di dalam Ryuto dan Ayano melihat rumput yang tinggi dan lebat sudah memenuhi halaman dan tumbuh di sela sela batu, selain itu mereka juga melihat beberapa hantu pria yang memakai jas hitam berdiri seperti sedang berjaga di halaman dan sepertinya Jirou juga melihat para hantu itu sebab dia menyapa nya ketika berjalan masuk. Jirou masuk ke dalam dan menekan bel nya, Ryuto dan Ayano berdiri di belakang. “Greegek...” Pintu utama rumah terbuka. Seorang nenek yang memakai kimono dan bertubuh bungkuk membukakan pintu.
“Halo Chiyo baba (nenek Chiyo), kita kesini mau menjenguk Megumi..dia ada di dalam ?” Sapa Jirou yang sepertinya sudah kenal dengan nenek di depan nya.
“Oh ya, silahkan masuk....Megumi chan ada di kamarnya.” Balas nenek itu sambil tersenyum ramah.
“Oi ayo kita masuk.....kalian kenapa ?” Tanya Jirou yang menoleh ke belakang.
Ryuto dan Ayano tertegun, wajah keduanya pucat dengan mulut menganga, karena nenek di depan Jirou yang mereka lihat memiliki tubuh separuh laba laba dan memiliki 8 kaki, yang paling mengerikan adalah ke 8 kakinya ternyata adalah tangan manusia yang menapak ke tanah. Wajah nenek itu yang terlihat pucat sambil tersenyum mengerikan.