
Ryuto berjalan keluar dan berpapasan dengan Megumi yang sedang berjalan membawa makanan dan minuman.
“Ryuto kun...kenapa ?” Tanya Megumi.
Ryuto dia saja, dia melangkah ke arah pintu keluar rumah. Megumi yang melihat nya menjadi heran, kemudian berjalan menuju kamarnya dan masuk ke dalam. Dia melihat Ayano sedang menunduk sedih dan terlihat sangat menyesal sekali, Jirou duduk bersender di dinding agak jauh dari Ayano.
“Ada apa senpai ?” Tanya Megumi.
Jirou menceritakan semuanya, Megumi sempat kaget dan menoleh melihat Ayano yang menunduk, tapi kemudian Megumi mendekati Ayano, dia merangkul Ayano yang menunduk sedih.
“Sudah, tidak apa apa....biarkan Ryuto kun sendiri dulu, kamu melakukan semua ini demi dia juga kan...tapi kenapa kamu sampai sejauh itu demi dia ?” Tanya Megumi.
Ayano tidak menjawab apa apa, dia hanya menunduk, dia hanya menoleh melihat wajah Megumi yang merangkul dan tersenyum pada nya.
“I..ya, aku melakukan ini semua, karena aku melihat masa depan kita, terus terang saja, masa depan yang ku lihat sangat mengerikan. Aku dan Ryuto senpai tidak bertemu di sekolah, kita bertemu di basement paman ku....aku hidup bersama nya sampai berumur 20 tahun di basement, Jirou senpai, Keiko senpai, Megumi senpai dan Higeki senpai yang menyelamatkan aku dan Ryuto senpai kemudian membawa kita berdua keluar, tapi ketika keluar kondisi dunia sudah penuh dengan Ghist. Itulah sebabnya aku merubah semuanya.”
“Hmm.....menarik, Megumi, kamu sudah tahu rahasia mereka, aku mohon jangan beritahu Keiko dan Higeki di rumah ku nanti.” Celetuk Jirou.
“Eh...kenapa senpai ?” Tanya Megumi.
“Karena mereka orang biasa, berbeda dengan kita...kamu paham kan...kekuatan Ayano luar biasa dan Ryuto belum memakai semua kekuatan nya.” Ujar Jirou.
“Oh begitu....baiklah....” Balas Megumi.
“Ryuto senpai.....pasti benci dengan ku....hik...hik.” Ujar Ayano sambil menangis.
Megumi memeluk nya, sekarang Jirou dan Megumi mengerti alasan Ayano melakukan semua ini.
“Tenang saja Aya chan.....aku yakin dia tidak akan membencimu....” Balas Megumi.
*****
Sementara itu, di teras depan pintu utama, Ryuto duduk termenung sendirian, pikiran nya kacau, banyak hantu pria berpakaian jas hitam berjalan jalan menoleh padanya dan tersenyum, tapi dia tidak menggubris nya.
“Jadi selama ini yang menghidupi ku Aya chan ? pantas dia masuk ke apartemen ku seperti masuk ke rumah sendiri....” Gumam nya dalam hati.
Pikiran pikiran tentang dosen yang mengadopsi nya dan pikiran tetang Ayano silih berganti memenuhi benak nya. Dia sama sekali tidak mengerti harus bagaimana bersikap kepada Ayano, di satu sisi dia bersyukur karena Ayano memindahkan dia ke kota sejak berumur 13 tahun, tapi di satu sisi dia kesal karena Ayano membohonginya. Tiba tiba Chiyo berdiri di belakang nya,
“Ryuto kun....” Tegurnya.
Ryuto menoleh dan melihat Chiyo yang mengerikan berada di belakang nya, dia langsung melompat dan berdiri berbalik melihat Chiyo.
“Ada apa baba....” Balas Ryuto kesal karena di buat kaget.
“Mana grim satunya ?” Tanya Chiyo.
“Dia di dalam....” Jawab Ryuto.
Chiyo duduk dengan melipat seluruh kaki nya di lantai, kemudian tangan nya melambai memanggil Ryuto mendekat. Ryuto yang takut, memberanikan diri melangkah ke depan, Chiyo yang tubuhnya lebih tinggi dari Ryuto walau duduk, memegang pundak nya dan tersenyum.
“Jangan pernah biarkan teman perempuan mu tadi sendirian....sebab dia berbahaya kalau sendirian.” Ujar Chiyo.
“Apa maksudnya baba ?” Tanya Ryuto.
“Aku tidak mengerti....sama sekali tidak mengerti....” Ujar Ryuto di dalam hatinya.
Akhirnya Ryuto yang sudah agak sedikit tenang karena bertemu Chiyo walau dia tidak mengerti apa maksud perkataan Chiyo, kembali masuk ke dalam sebab hari sudah mulai sore. Dia langsung menuju ke kamar Megumi yang berada di belakang rumah yang dari penglihatan nya sudah hancur. Ryuto membuka pintunya,
“Senpai, kapan kita mau berangkat ke rumah mu ?” Tanya Ryuto.
“Tenang dulu.....duduk.” Jawab Jirou.
“Benar Ryuto kun, ada yang mau Ayano chan bicarakan pada mu....ayo senpai kita keluar.” Megumi berdiri dari duduk nya.
“Mau bicara apa lagi ?” Tanya Ryuto.
“Dengar saja dulu....ayo....” Jirou berdiri.
Keduanya keluar dari kamar dan membiarkan Ryuto bersama Ayano sendirian di dalam kamar. Ryuto dan Ayano terdiam, mereka duduk saling berjauhan seperti sedang musuhan. Karena sudah terlalu lama diam,
“Kamu mau bicara apa Aya chan......bukankah semua sudah jelas ?” Tanya Ryuto kesal.
“Maafkan aku senpai, aku tahu kamu marah....aku mohon dengarkan aku dulu, setelah ini kamu mau benci aku terserah kamu....”
Ayano menceritakan masa depan bersama Ryuto yang dia lihat. Dia menceritakan kalau dia tidak membunuh paman nya, Ryuto akan bersama dengan dirinya di dalam basement sampai berumur 20 tahun. Saat mereka keluar dunia sudah rusak dan hancur, hanya sedikit manusia yang selamat dan mengadakan perlawanan. Jirou, Keiko, Megumi dan Higeki adalah tentara manusia saat itu.
Setelah bergabung dengan mereka, Ryuto dan Ayano menikah setahun setelah keluar dari basement, tapi setelah itu, pasukan perlawanan di habisi oleh pasukan Ghist yang di pimpin oleh seorang pria berpakaian ksatria jaman dulu yang berlumuran darah dan diselimuti bayangan hitam yang pekat. Ryuto dan Ayano menang melawan pria itu tapi mereka akhirnya mati bersama dengan pria itu karena terluka parah.
Itulah sebabnya Ayano merubah masa depan yang dia lihat dengan membunuh paman nya, sebab dia yakin kalau Ryuto dan dirinya bersama sebelum nya, mereka pasti bisa mencari cara supaya masa depan itu tidak terjadi sebelum terlambat. Dia menguatkan hatinya untuk membunuh walau dia tahu itu salah. Mendengar cerita Ayano, Ryuto diam saja.
“Maaf senpai, aku baru bercerita sekarang......aku ingin semuanya berjalan alami apa adanya, tapi rupanya tidak bisa...” Ujar Ayano.
“Berarti kamu tahu penyebab terjadinya masa depan itu...” Balas Ryuto.
“Tidak, aku bergabung di club dan meminta Keiko senpai mengundang mu juga Higeki senpai masuk ke club karena penglihatan itu.” Ujar Ayano.
Ryuto terdiam dan berpikir, dia menoleh melihat Ayano yang terlihat canggung dan ketakutan berbicara dengannya. Dia menatap ke langit langit dan memejamkan mata, kemudian Ryuto berbalik dan menghadap Ayano.
“Maafkan aku, seharusnya aku berterima kasih pada mu tapi aku malah marah pada mu, tolong, lain kali katakan semuanya pada ku...seperti katamu kan, kita sama, jadi berbagilah dengan ku, jangan menanggung semuanya sendirian.” Ujar Ryuto sambil menunduk.
Setelah mendengar kata kata Ryuto, Ayano langsung melihat Ryuto yang menunduk di depan nya, air matanya mulai keluar, dia langsung membuka topeng nya karena air matanya terlalu deras, dia berusaha menghentikan nya dengan mengusap matanya.
“Te..terima kasih senpai....” Ujar nya sambil menahan tangisnya.
“Sekarang aku sudah mengerti, pasti mengerikan bisa melihat masa depan sendirian tanpa bisa bercerita, aku janji tidak akan meninggalkan mu sendirian, Aya chan.” Ujar Ryuto sambil tersenyum dan memegang kepalanya.
Ayano langsung teringat kata kata Ryuto sewaktu dia melihat masa depan ketika mereka di sekap di basement oleh paman nya. Ryuto juga mengucapkan hal yang sama kepadanya setelah dia di paksa melihat masa depan oleh paman nya dan kelelahan sampai pingsan. Masa depan yang di lihat nya mengerikan dan membuatnya gemetar, ketika dia merasa tidak ada yang menolong nya, Ryuto duduk di samping nya dan memegang kepalanya sambil mengucapkan hal yang sama persis dengan yang di ucapkan sekarang. Ayano langsung menerjang Ryuto dan memeluk nya sambil membenamkan wajahnya di dada Ryuto.
“Anooo....Aya chan.....” Ujar Ryuto yang sedikit bingung dan wajah nya menjadi merah.
“Biarkan aku seperti ini......senpai.....(suamiku).” Ujar Ayano senang.
“Mungkin ini ya yang di maksud oleh Chiyo baba tadi di luar....” Pikir Ryuto dalam hati.
Sementara itu, Megumi mengintip dari luar dan Jirou bersender di samping pintu sambil melipat tangan di dada dan tersenyum.