Give Up

Give Up
08 - Marah



Selama di perjalanan aku memikirkan kata kata ku pada Rangga tadi. Apa tidak kelewatan ya? Maksud dia kan baik, tapi aku malah menanggapi nya seperti itu, aku jadi tidak enak.. Besok aku harus minta maaf pada nya.


Keesokan harinya...


Saat jam istirahat tiba, kami anak anak OSIS berkumpul di ruang OSIS untuk kembali merundingkan perlombaan yang akan di adakan lusa.


Hari ini aku jadi memperhatikan Rangga, tapi jangan berpikir yang bukan bukan. Aku memikirkan nya karena ekspresi di wajah nya berbeda dengan yang biasa nya. Wajah yang selalu tersenyum dan ramah itu hari ini tidak ada, di gantikan dengan wajah datar tanpa ekspresi. Anak anak pun sampai bertanya ada apa dengan nya. Apa dia marah karena kemarin ya?


Anak anak pun heran kenapa hari ini aku banyak diam menutup mulutku. Dan kenapa juga hari ini tiada perdebatan antara aku dan Rangga. Biasa nya ruangan OSIS selalu ramai dengan perdebatan antara aku dan Rangga.


Setelah kumpulan selesai dan semua kembali ke kelas masing masing, aku masih duduk di kursi ku dan memperhatikan Rangga yang masih membereskan buku buku nya. Bahkan dia tidak tanya kenapa aku masih di sini dan tidak ke kelas.


Dia selesai dengan buku buku nya dan berjalan ke luar melewati ku tanpa mengatakan apapun. Aku menahan lengan nya dan membuat nya berhenti.


"..Kenapa?" Tanya nya dingin.


"Hari ini kamu kenapa sih Ga? Ko beda? Kamu sakit?" Tanya ku masih memegang lengan nya.


"..Ga usah kepo deh" Ucap nya seraya menghempaskan tangan ku dari lengannya kemudian berlalu meninggalkan ku. Aku pun berdiri dan berjalan beberapa langkah di belakang nya karena kelas kami sama.


Bel berbunyi dan kami duduk di bangku kami masing masing dengan tertib. Tapi guru yang seharusnya mengajar hari ini berhalangan hadir dan kami hanya di perintahkan untuk melanjutkan tugas kelompok yang kemarin. Aku mengambil buku dan pulpen ku kemudian bergabung dengan teman teman satu kelompok ku.


Rangga yang biasa nya selalu menyisakan kursi di sebelah nya untuk ku kini malah memberikan nya pada Salsa yang baru saja masuk di kelompok ku karena ada kelompok yang di pecah dan di sebar pada kelompok lain. Tapi memang kenapa? Dia menyukai Salsa kan?


Selama diskusi berlangsung Rangga hanya memperhatikan dengan malas, ia hanya mengatakan iya atau tidak pada keputusan yang telah kami bicarakan. Enak sekali manusia ini, menjengkelkan!


"Kita pakai kalimat yang ini saja ya Han? Lebih mudah di mengerti" Saran Hera.


"Hm, terserah" Jawab Rangga dengan santai nya.


"Woi Ga! Kamu apa apaan sih?! Dari tadi loh ya, bisa nya cuma iya, engga, terserah. Ga bisa ngomong yang lain apa?!" Tanya ku kesal.


"Aku kan udah kasih materi nya, tinggal kalian rangkum" Jawab Rangga membuat ku semakin kesal.


"Aku yang nentuin tema nya tapi biasa aja tuh! Bantuin kek! Atau kalau ga mau, pura pura merhatiin juga ga papa!"


"Apaan sih? Aku juga mikir ko. Udah sana lanjutin kerajaan kamu, ga usah ngurusin orang"


"Ap-" Aku mengurungkan niatku untuk membalas kata kata nya dan berdebat dengan nya. Dia benar benar berbeda, dan biasa nya saat debat belum selesai namun aku sudah berhenti dia akan mengejek ku.


Aku kesal sekali, dia malah asik mengobrol dengan Salsa. Ingin rasanya ku sumpal buku ini ke mulut nya, benar benar membuat darah naik. Hingga pelajaran selesai dan kami kembali ke tempat kami masing masing. Lagi lagi aku melihat Rangga duduk berdua dengan Salsa di bangku nya, ini kan sedang belajar, ya walau belum ada guru nya sih.. Tapi kan tetap saja!


Dia tetap begitu hingga waktu pulang tiba, sudah lah, aku tidak peduli lagi. Aku membereskan barang ku dan pergi menuju parkiran. Aku duduk di motor dan membuka ponsel ku karena tadi sempat bergetar menandakan pesan masuk.


Aku memasukkan ponsel ku ke dalam saku dan memaki helm ku. Aku memandang ke sana dan ke mari mengamati parkiran, dan tak sengaja mata ku menangkap sosok menyebalkan yang seharusnya tidak ku lihat.


Dia masih saja memasang ekspresi seperti itu. Aku memperhatikan nya yang sedang menata rambut nya dan memasang helm di kepalanya. Lama lama aku merasa geram, dan akhirnya aku memutuskan untuk turun dari motor ku kemudian menghampirinya dan memukul helm di kepalanya.


Dia tidak menjawab dan menatap ku tajam.


"Apa sih? Bukan nya di jawab! Kamu marah?" Tanya ku menatap nya serius.


"..Marah kenapa?"


"Kamu kenapa? Gara gara kemarin? Iya?"


"Ngapain juga nanya nanya" Jawab nya membuat ku semakin geram.


"Ya habis aneh! Kamu kan biasa nya ramah, hari ini ko judes ga jelas?! Gara gara kemarin kan? Aku minta maaf!"


"Apa sih? Udah ah sana, aku mau pulang"


"Sebentar! Jawab dulu! Kamu marah? Kemarin mood aku lagi jelek, maka nya ngomong gitu! Aku minta maaf!" Ucap ku lagi lagi meminta maaf.


"..Udah deh, aku ga mau ngomongin hal hal pribadi"


"Yang ngomongin hal pribadi siapa? Aku kan cuma minta maaf karena kemarin udah kelewatan. Aku traktir kopi deh ya?" Tawar ku.


"Ga usah, males"


"Tuh kan, marah kan? Jangan gitu lah Ga, aku jadi ga enak.. Kamu mau apa deh? Jangan ngambek ngambek lagi tapi"


"Ge, ga usah sok akrab deh. Aku ga butuh apa apa"


What the..


"Ga! Ini aku udah baik loh ya berusaha minta maaf! Kamu mau nya apa? Mau aku curhat masalah aku sama kamu? Aku kan ga mau! Maksa sih! Udah deh ga usah kaya anak kecil ngambek ngambek kaya gitu"


"Terus urusan nya sama kamu apa? Toh semua lancar lancar aja kan?"


"Kenapa sih dari tadi jawab nya enteng banget?! Ayo deh aku traktir, nanti aku ceritain hal yang lain aja! Lusa kita lomba loh, masa ga akur kaya gini?"


"Apa maksudnya? Mengapa membicarakan hal pribadi dengan ku? Kita kan hanya partner kelas dan organisasi" Jawab Rangga seraya melepas helm nya.


"Dan untuk lomba, aku bisa bersikap profesional. Jadi tenang saja"


Aku benar benar kesal, sudah lah, aku tidak peduli lagi.


".. Terserah lah Ga" Ucap ku seraya berbalik dan kembali ke motor ku. Aku memasang kunci motor nya dan menjalankan motor ku menuju rumah.


Apa apaan tingkah nya itu?! Dia pikir dia siapa?! Menjengkelkan!!


BERSAMBUNG...